NovelToon NovelToon
SANGHYANG RASA

SANGHYANG RASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Galuh pravitasari

Malam itu, kampung Cikabuyutan hangus di bakar jadi abu.

Prajurit Kadipaten Ciaruteun datang.
Membakar rumah. Membunuh orang tua.
Atas perintah satu nama: Adipati Rangga sasmita
Mereka membalas dengan cara nya sendiri.

Istana bilang mereka penjahat.
Rakyat bilang mereka harapan.

Karena mulai malam ini...
Dua buronan akan merampok orang kaya.
Dan membagi-bagikannya ke orang miskin.

Satu anak panah untuk keadilan.
Satu tusukan pisau untuk membongkar kebusukan.

Ini bukan balas dendam.
Ini revolusi.

Dan apinya... baru saja mulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 : PETUNJUK MISTERIUS

Pertarungan sudah berlangsung cukup lama. Keringat mulai membasahi dahi kedua orang yang berhadapan. Bukan semata mata tenaga yang dikeluarkan, melainkan ketegangan hati yang semakin memuncak.

Bayu tetap memegang teguh prinsipnya. Ia hanya mengelak dan memutar badan menghindari setiap ayunan keris. Namun ia pun mulai merasakan batas kesabarannya. Tubuhnya lelah harus terus bergerak tanpa hentu. Di dalam hatinya timbul rasa heran yang mendalam: mengapa kesalahpahaman ini sulit sekali diluruskan hanya dengan kata-kata?

Di sisi lain, Putri Larasati pun mulai merasa gelisah. Setiap serangan yang ia lancarkan seolah menyerang ke ruang kosong. Tidak pernah mengenai sasaran sedikit pun. Bukan karena gerakannya lambat, melainkan karena pemuda di hadapannya memiliki perhitungan dan kelincahan yang luar biasa — namun tetap tidak pernah membalas atau berusaha melukai.

Hal ini justru membuatnya makin bingung dan sedikit kehilangan kendali emosi. Baginya, sikap seperti itu terasa seperti meremehkan kemampuannya sendiri. Napasnya mulai terengah. Matanya menyala penuh rasa penasaran yang bercampur kesal.

“Mengapa kau terus bersembunyi dan tidak mau bertarung dengan sungguh-sungguh?” bentak Larasati, suaranya sedikit terangkat karena emosi yang mendidih.

“Jika kau merasa benar, tunjukkanlah keberanianmu. Jangan hanya berputar dan.menghindar seperti tikus yang terjebak!”

Bayu baru saja hendak membuka mulut untuk menjawab. Tiba-tiba sebuah suara lantang, berat namun tenang memecah seluruh keributan di sepanjang jalan pasar itu. Suara itu terdengar jelas meski tidak berteriak berlebihan. Seolah membawa getaran yang menjalar ke telinga setiap orang yang mendengarnya.

“LARASATIIII!”

Seketika itu juga, segala gerakan berhenti. Orang-orang yang berbisik, yang menunjuk, yang menahan napas karena ketegangan — semuanya terdiam seketika.

Larasati sendiri langsung menarik langkahnya mundur dengan cepat. Ia menghentikan ayunan kerisnya tepat di udara. Lalu menoleh ke arah sumber suara dengan pandangan terkejut dan sedikit hormat.

Dari celah kerumunan yang perlahan membuka jalan, tampak sesosok lelaki tua berjalan mendekat. Usianya diperkirakan sudah melampaui tujuh puluh tahun. Namun postur tubuhnya tetap tegak, bahunya lebar. Setiap langkahnya melangkah dengan pasti seolah tidak tergoyahkan oleh beban apa pun.

Ia mengenakan pakaian berwarna cokelat tua sederhana. Tidak ada hiasan emas atau perhiasan mencolok. Namun dari raut wajah, tatapan mata, dan cara ia berjalan, terpancar wibawa yang mendalam. Membuat siapa pun yang melihatnya langsung merasa segan dan menghormati tanpa perlu diperintahkan.

Rambut dan janggutnya sudah memutih seluruhnya. Namun matanya masih terang dan tajam, seolah bisa menembus ke dalam hati dan melihat kebenaran yang tersembunyi.

Ia berhenti di tengah antara Larasati dan Bayu. Lalu mengangkat satu tangannya perlahan. Gerakan itu sederhana, hanya sebuah isyarat tangan yang tenang. Namun kekuatan pengaruhnya sedemikian rupa sehingga kedua orang yang sedang bertarung merasa ada kekuatan tak terlihat yang menahan mereka agar tidak bisa bergerak lagi.

Lelaki tua itu menoleh sebentar ke arah Larasati. Matanya lembut namun tetap tegas.

“Sudah cukup, cucuku. Tidak perlu dilanjutkan lagi.”

“Pertarungan ini tidak akan menyelesaikan apa pun selain menambah lelah dan salah paham.”

Larasati menundukkan kepalanya dalam-dalam. Tangannya yang masih menggenggam gagang keris perlahan melemah.

“Kakek… mengapa Kakek ada di sini?”

Sebelum lelaki tua itu menjawab, tatapan matanya beralih perlahan ke arah Bayu. Pandangannya mengamati sosok pemuda itu dari atas kepala hingga ujung kaki. Tidak dengan tatapan curiga, seolah sedang mengenali sesuatu yang sudah lama hilang dan kini muncul kembali.

Matanya kemudian berhenti di bagian punggung Bayu. Tepat di tempat di mana busur kayu tersembunyi di balik punggungnya. Ia menatapnya cukup lama, seolah membaca rahasia yang tersimpan di balik ukiran kayu itu.

Setelah itu, pandangannya bergerak menyamping ke arah Karta yang masih berdiri kaku sambil memegang gagang pisau di pinggangnya. Sekali lagi, matanya menyipit, mencatat setiap detail yang terlihat. Tidak ada ekspresi terkejut berlebihan, hanya rasa kenangan yang samar namun terasa nyata.

Kemudian, dengan gerakan lambat dan penuh makna, lelaki tua itu mengangkat tangan kanannya dan menyentuh gagang keris panjang yang terselip di pinggangnya. Ia membuka sedikit kain penutupnya, memperlihatkan bagian atas gagang senjata itu.

Terukir di sana sebuah motif ukiran — bentuk daun pakis yang melengkung, dengan urat-uratnya yang rapi dan simetris.

Bayu merasakan detak jantungnya berdegup lebih cepat. Matanya melebar, tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Ukiran itu persis sama — bentuk, arah lengkungan, hingga lekuk halusnya — sama persis dengan ukiran yang tertera di gagang busur peninggalan leluhur yang ia bawa di punggung.

Bahkan Karta yang hanya melihat sekilas pun merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Hingga ia secara naluriah merapatkan gagang pisaunya lebih erat ke pinggangnya.

Lelaki tua itu tidak mengucapkan sepatah kata pun soal hal itu. Ia hanya mengusap ukiran itu perlahan dengan ujung jarinya. Lalu mengangkat wajahnya kembali menatap Bayu. Di balik tatapan tajamnya itu, kini terselip senyum tipis yang penuh arti — seolah berkata, “Aku mengerti segalanya, dan kamu pun kini mulai mengerti.”

Ia menganggukkan kepalanya satu kali, lambat namun tegas, sebagai tanda pengakuan diam-diam. Senyum itu tidak hilang dari bibirnya. Namun ia segera membalikkan badannya menghadap Larasati lagi, seolah tidak ingin memberi waktu bagi mereka untuk bertanya lebih lanjut.

“Mari kita pergi dari sini, Larasati. Urusan ini bukan tempatnya diselesaikan di tengah keramaian pasar.”

Larasati menunduk dalam, lalu mengikuti langkah kakeknya tanpa banyak protes. Meski di balik tatapannya masih tersisa rasa penasaran yang besar.

Sebelum benar-benar menjauh, lelaki tua itu menoleh sekali lagi ke belakang. Ia melirik sekilas ke arah Bayu dan Karta, lalu melambaikan tangan kecil sebagai tanda pamit yang rahasia.

Dalam sekejap saja, keduanya menghilang menyusuri celah jalan yang lebih sempit. Meninggalkan Bayu dan Karta yang masih berdiri terpaku di tempatnya seolah terpatri ke tanah.

Kerumunan orang perlahan mulai bubar kembali. Mereka merasa pertarungan itu sudah usai tanpa hasil yang jelas. Namun Bayu dan Karta tidak beranjak sedikit pun.

Bayu masih memikirkan ukiran yang baru saja dilihatnya. Jantungnya berdebar kencang dengan perasaan campur aduk antara takjub, heran, dan sedikit harapan. Siapakah lelaki tua itu? Mengapa ukiran senjatanya sama persis dengan miliknya? Dan apakah ia tahu rahasia di balik busur serta kekuatan yang mereka bawa?

Karta pun mendekat perlahan. Suaranya berbisik pelan seolah takut mengganggu keheningan yang menyelimuti mereka.

“Kang… apakah tadi aku tidak salah lihat? Ukirannya… sama kan?”

Bayu mengangguk perlahan. Matanya masih menatap ke arah di mana kedua sosok itu menghilang.

“Ya, Karta. Sama persis. Tidak ada salahnya.”

“Ini bukan kebetulan semata. Ada benang merah yang menghubungkan kita dengan mereka.”

“Dan lelaki tua itu seolah sudah tahu segalanya sejak awal.”

Mereka berdua masih berdiri di sana, di tengah riuhnya kehidupan kota yang terus berjalan. Namun hati dan pikiran mereka kini telah dibawa masuk ke dalam teka-teki baru yang lebih besar dan penuh misteri — sebuah petunjuk yang diberikan secara diam-diam, membuka jalan bagi perjalanan dan misi yang sesungguhnya belum dimulai sepenuhnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!