NovelToon NovelToon
Istri Figuran Sang Pewaris

Istri Figuran Sang Pewaris

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu / Figuran / Tamat
Popularitas:23.6k
Nilai: 5
Nama Author: lala_syalala

Demi menyelamatkan nyawa sang adik yang mempunyai penyakit jantung bawaan, Alina Savina seorang figuran terpaksa menerima tawaran gila dari Leon Gennadi Alexander.

Leon, aktor mega bintang sekaligus pewaris tunggal imperium bisnis Alexander Group, membutuhkan istri instan demi menghindari perjodohan kolosal keluarganya.

Sebuah kecelakaan tak sengaja di basement apartemen membawa keduanya ke meja pernikahan kontrak yang rahasia, dingin, dan penuh batasan ketat.

Di balik dinding kaca penthouse yang megah, sandiwara pernikahan satu tahun dimulai.

Sanggupkah mereka menjaga hati agar tetap logis, ataukah skenario takdir akan meruntuhkan dinding keangkuhan yang telah mereka bangun?

JANGAN LUPA KEPOIN CERITANYA YAAAAA

FOLLOW IG @LALA_SYALALA13
SUBSCRIBE YT @NOVELLALAAA

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eksekusi Penyiksaan Terselubung

Alina menatap jemari Leon yang sedang membalutkan kain kasa baru di atas lukanya dengan sangat rapi dan cekatan. Dia menelan ludah, menimbang-nimbang apakah harus membocorkan nama Clarissa Olivia.

Namun, teringat akan janjinya untuk menyelesaikan masalah pekerjaannya sendiri tanpa memanfaatkan kekuasaan Leon, Alina memilih untuk menyimpannya.

"Itu... hanya ketidakpatuhan lawan mainku saat adegan emosional." jawab Alina pelan, mempertahankan narasi profesionalnya.

"Dia terlalu mendalami peran sebagai majikan yang marah hingga tidak sengaja menyenggol cangkir teh." ucap Alina dengan penuh alasan.

Leon mengikat ujung perban dengan simpul yang rapi, lalu melepaskan genggaman tangannya. Dia mendongak, menatap Alina dengan pandangan penuh selidik yang seolah mampu menembus jauh ke dalam jiwa gadis itu.

"Lawan mainmu... atau seseorang yang punya dendam pribadi padamu?" tebak Leon tepat sasaran, membuat mata Alina sedikit membelalak kaget.

Leon terkekeh sinis, lalu berdiri dari tepi ranjang. Dia membersihkan sisa-sisa perban lama dan mengembalikan kotak obat ke tempatnya.

"Kamu terlalu polos untuk industri yang kejam ini, Alina." kata Leon sembari memunggungi Alina, membenahi lengan kemeja hitamnya.

"Kamu pikir dengan diam dan menanggung luka ini sendiri, orang itu akan berhenti? Di dunia perak ini, sekali kamu menunjukkan kelemahanmu maka orang-orang akan terus menginjakmu sampai kamu runtuh." serunya dengan dingin.

Leon berbalik, menatap Alina yang masih terduduk kaku di atas ranjang besarnya.

"Tidurlah. Tempatmu di sebelah kiri kasur ini," ucap Leon singkat, berjalan menuju ruang kerjanya yang tersambung di dalam kamar utama tersebut.

"Mulai malam ini, ingatlah satu hal yaitu kamu berada di kamar tempat milik seorang Alexander. Jika seseorang di luar sana berani menyentuhmu atau melukaimu lagi hingga merusak aset yang sudah kubayar... aku sendiri yang akan menghancurkan karier orang itu, siapa pun dia." tegasnya dengan penuh ancaman.

Klik.

Pintu ruang kerja tertutup rapat dengan suara yang halus, meninggalkan Alina sendirian di dalam Kamar Utama yang megah dan sunyi. Alina menyentuh balutan perban baru di tangan kirinya yang tak lagi terasa sepedih tadi.

Di antara rasa takut akan batasan yang kian terkikis dan kemurkaan dingin sang tiran, ada sebuah getaran asing di dalam dadanya yang kini mulai mempertanyakan yaitu apakah keberadaannya di kamar ini hanyalah sebuah perlindungan bisnis, ataukah awal dari sebuah jerat yang tak akan pernah bisa dia lepaskan lagi?

...****************...

Matahari pagi menyelinap malu-malu di balik kabut tipis kawasan Jagakarsa. Udara dingin sisa hujan semalam masih terasa menggigit kulit, namun atmosfer di lokasi syuting rumah megah itu sudah memanas sejak pukul tujuh pagi.

Di Kamar Utama penthouse semalam, Alina hampir tidak bisa memejamkan mata. Berada di ruangan yang sama dengan Leon ya meski pria itu tidur di sisi kasur yang jauh membuat seluruh sarafnya tetap siaga.

Namun pagi ini dia sudah ada di lokasi syuting, rasa lelah itu harus ditimbun dalam-dalam. Dengan tangan kiri yang terbungkus perban tahan air yang dilapisi kosmetik penutup warna kulit, Alina melangkah ke set syuting area kolam renang belakang.

Area kolam renang itu berada di bagian luar rumah, dikelilingi oleh pilar-pilar batu alam dan pepohonan rimbun. Air kolam yang berwarna biru jernih tampak begitu tenang, namun menyembunyikan hawa dingin yang menusuk.

"Scene 12, Take 1!" teriak asisten sutradara melalui megafon.

"Alina, posisimu di tepi kolam. Clarissa datang dari arah teras, dialog marah, lalu dorong Alina ke kolam! Paham?" ujar sang asisten lagi.

"Paham, Kak." jawab Alina mantap, berdiri tegak mengenakan seragam pelayannya yang tipis.

Clarissa melangkah masuk ke set dengan gaun sutra berwarna fuchsia. Wajah cantiknya tertekur penuh keangkuhan.

Begitu melihat Alina berdiri di tepi kolam, senyum licik yang sangat samar terukir di bibirnya. Semalam dia mendengar bahwa luka bakar di tangan Alina tidak membuat gadis itu mundur, dan itu semakin membakar rasa dengkinya.

"Kamera... Action!" teriak sang sutradara.

Clarissa berjalan cepat menghampiri Alina, wajahnya berubah merah padam memancarkan emosi antagonisnya.

"Kamu pelayan tidak tahu diri! Sudah kubilang jangan pernah menyentuh barang-barang di kamarku!"

"Saya hanya membersihkan mejanya, Nyonya..." ucap Alina sesuai naskah, suaranya bergetar dengan tepat.

"Bicara lagi kamu?!" teriak Clarissa.

Tanpa memberi jeda, Clarissa mendorong bahu Alina dengan sangat keras dan jauh lebih keras daripada yang diinstruksikan dalam pengarahan.

BYURRR!

Tubuh ramping Alina jatuh terhempas ke dalam air kolam renang yang dinginnya seperti es. Air membubung tinggi, membasahi seluruh pakaian dan rambutnya.

Alina tenggelam sejenak sebelum kepalanya muncul kembali ke permukaan, meraup udara dengan napas terengah-engah.

Kain bajunya yang basah kuyup menempel kaku di kulitnya, membuat hawa dingin langsung menusuk hingga ke tulang.

"CUT!" teriak sutradara dari balik monitor.

"Bagus, tapi... tunggu dulu. Clarissa, ekspresi murkamu pas mendorong agak terlalu cepat. Jarinya belum menyentuh bahu tapi Alina sudah jatuh duluan di kamera dua. Kita ulang!" seru sang sutradara lagi.

Alina menggigil hebat saat memanjat keluar dari kolam renang. Naya langsung berlari membawa handuk besar, menyelimuti tubuh sahabatnya yang gemetaran.

"Al, kamu gak apa-apa? Airnya dingin banget itu!" tanya Naya dengan penuh kekhawatiran.

"Aku... aku gak apa-apa, Nay." bisik Alina dengan bibir yang mulai membiru.

Namun, itu barulah permulaan dari neraka kecil yang diciptakan Clarissa.

Pada cobaan kedua (Take 2), Clarissa beralasan dia lupa dialognya tepat sebelum mendorong Alina, membuat adegan dihentikan saat Alina sudah terlanjur basah kuyup dan harus disiram air lagi agar kontinuitas visual tetap sama.

Pada cobaan ketiga (Take 3), Clarissa mengeluh bayangan kamera menutupi wajah cantiknya, sehingga adegan diceburkan harus diulang kembali dari awal.

Cobaan keempat, kelima, hingga keenam... Clarissa selalu menemukan alasan-alasan kecil yang terkesan profesional untuk membuat sutradara menggelengkan kepala dan berteriak 'Retake'.

Sekali waktu dia merasa dorongannya kurang bertenaga, di waktu lain dia mengaku sedikit terpeleset sehingga ritme aktingnya rusak.

Sutradara yang mengejar target visual sempurna dan tidak ingin menyinggung sang aktris utama, hanya bisa menuruti kemauan Clarissa tanpa menyadari bahwa itu adalah eksekusi penyiksaan terselubung.

"Scene 12, Take 9!" teriak asisten sutradara lagi.

Alina sudah berdiri di tepi kolam untuk yang kesembilan kalinya. Tubuhnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Bibirnya yang tadinya dipoles lipstik merah alami kini sudah pucat pasi kebiruan.

Matanya membengkak merah, bukan karena akting, melainkan karena rasa dingin ekstrem yang menggerogoti pertahanan fisiknya. Tangan kirinya yang terluka terasa ngilu dan berdenyut hebat akibat terlalu lama terendam air dingin.

.

.

Cerita Belum Selesai.....

1
Mira Hastati
bagus
Rarik Srihastuty
walaupun dipaksa tamat, setidaknya ada akhir yg bahagia. digantung sedikit 🤭
Rarik Srihastuty: padahal bagus lho ceritanya 🥲
total 1 replies
Manis
kenapa d paksa tamat sih😭
Lala_Syalala: maaf ya kak karena ending yang kurang pas, ini karena ada beberapa hal yang membuat aku harus cut cerita sampai di sini, semoga bisa buat tema cerita seperti ini dengan lebih baik lagi ya kakk,,, mohon selalu support author yaaa🙏🙏
total 1 replies
Akhmad Soimun
aku boleh kan kecewa?
Lala_Syalala: boleh kak,,, author juga sebenernya kecewa karena harus menamatkan cerita ini, tapi jujur ada beberapa hal yang buat aku harus menyelesaikannya kak🙏🙏😔😔
total 1 replies
Akhmad Soimun
akhir yg aneh
Rarik Srihastuty
lanjut
Silvia
lanjut💪💪
partini
good story
Akhmad Soimun
gantian kamu yg sakit ,Leon😁
Asni Mariati
romantis nyee😍😍😍
Mamah'e Andhika Rizky
💝💝💝💝💝💝
Rarik Srihastuty
tembok tinggi yang dibangun Leon pelan2 telah roboh
Mamah'e Andhika Rizky
👍👍👍👍lanjut thor.....
Rarik Srihastuty
gimana Clarissa enak kan ditendang dari pemeran utama dan sekaligus ditendang dari dunia hiburan 😂😂😂
DiTA
keren Leon...jangan lama lama up nya Thor
Silvia
lanjut💪💪
Mamah'e Andhika Rizky
seru bgt ....lanjut kk 💝💝💝💝
Rarik Srihastuty
saatnya Clarissa dapat balasan yng setimpal, ayo lanjut thor
Euis Amalia
datang saat yg tepat... bikin baper aja nihhh🤣👍🙏
Kalila Betung
dikit kali Thor kurang....!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!