Bagi Aira, bekerja di kafe itu hal biasa. Sampai ada Arjun-cowok keturunan India yang selalu datang jam sama, pesan minum sama, dan punya senyum yang bikin hati salah tingkah. Di lehernya selalu ada benang merah, katanya itu tanda ikatan. Dan suatu hari, dia mau ikat tali itu juga di tangan Aira, bilang kalau dia udah nggak mau cari ke mana-mana lagi. Cukup Aira aja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Arjun tetap datang jam empat sore, duduk di meja nomor tujuh, dan memesan teh tarik dengan pesanan yang sama persis. Bedanya sekarang, obrolan kami jadi sedikit lebih panjang dan lebih terbuka. Nggak cuma soal pesanan atau cuaca, tapi mulai masuk ke hal-hal lain yang menurutku menarik banget.
Sore itu, kafe lumayan sepi. Hanya ada beberapa pengunjung di sudut ruangan. Aku sedang membereskan piring kosong di meja sebelah, saat melihat Arjun sedang menulis sesuatu di buku catatan kecil miliknya. Tangannya bergerak luwes, membentuk huruf-huruf yang melengkung indah, sama persis seperti yang pernah kulihat di sampul buku puisi miliknya dulu.
Penasaranku muncul lagi. Aku berjalan mendekat sambil membawa cangkir kosong.
"Kamu lagi nulis apa sih? Hurufnya bentuknya unik banget, kayak lukisan kecil-kecil," tanyaku sambil menaruh cangkir di nampan.
Arjun langsung menutup bukunya sedikit, lalu menatapku sambil tersenyum senang, seolah sudah menunggu pertanyaan itu keluar dari mulutku.
"Ini huruf Devanagari, Aira. Huruf yang dipakai buat menulis bahasa Hindi. Kamu tahu nggak? Di budaya kami, menulis itu dianggap hal yang suci. Setiap goresan punya aturan, setiap bunyi punya makna. Nggak boleh sembarangan ditulis, apalagi kalau itu nama seseorang," jawabnya antusias.
Dia lalu membuka kembali halaman itu, lalu mengambil pulpennya.
"Kalau boleh tahu... arti nama kamu itu apa? Aira?" tanyanya tiba-tiba.
Aira menggeleng pelan. "Aku nggak tahu pasti sih. Orang tua aku kasih nama itu, ya udah aku pakai aja sampai sekarang. Biasanya orang bilang artinya cuma 'angin' atau 'udara', gitu aja."
Arjun tersenyum menggeleng. "Nggak sesederhana itu pasti. Di India, kami percaya nama itu pengaruhnya besar banget sama sifat dan jalan hidup pemiliknya. Dan kebetulan... nama kamu itu ada artinya juga lho di bahasa kami."
Dia menunjuk kertas kosong di depannya, lalu menatapku meminta izin. "Boleh aku tulis nama kamu pakai huruf ini? Biar kamu lihat, seberapa indah bentuknya."
Aku mengangguk setuju, lalu duduk sebentar di kursi seberangnya karena memang lagi nggak ada kerjaan.
Dengan teliti dan pelan, tangan Arjun bergerak membentuk beberapa lengkungan cantik di atas kertas putih itu. Tak lama, terbentuklah susunan huruf yang cantik sekali, terlihat anggun dan rapi.
"Ini tulisan nama kamu: Aira," ucapnya sambil menunjuk tulisan itu. "Di bahasa kami, nama ini artinya 'yang dihormati', 'wanita yang kuat', atau 'cahaya yang lembut'. Keren kan? Pas banget sama kamu yang tenang tapi kokoh gini."
Wajahku terasa agak panas mendengarnya. "Ah, bisa aja kamu. Cuma nama doang kan?"
Arjun kembali menulis, kali ini namanya sendiri. "Nggak bisa dibilang cuma nama doang. Lihat nama aku, Arjun. Di cerita-cerita kuno India, Arjun itu nama seorang pahlawan. Dia itu orangnya setia, bijaksana, dan selalu berusaha melakukan hal yang benar. Jadi sejak kecil, kakek dan orang tua aku selalu ingatkan: 'Namamu Arjun, jadi harus jadi orang yang bisa diandalkan, jangan penakut, dan jaga selalu kebenaran'. Nah, itu jadi pegangan aku sampai sekarang."
Dia menatapku lekat-lekat, matanya serius tapi tetap lembut.
"Di keluarga kami, ada kebiasaan. Kalau kita sudah tahu arti nama seseorang, berarti kita sudah tahu sedikit doa yang diselipkan orang tuanya. Jadi kita harus lebih menghargai orang itu, karena namanya itu hadiah paling pertama dan paling indah dari orang tuanya."
Aku menatap kedua tulisan itu di atas kertas. Tulisan Aira dan Arjun, bersebelahan, bentuknya indah dan rapi. Ada rasa hangat yang merayap di dada. Selama ini aku cuma menganggap nama itu sekadar panggilan, tapi ternyata di pandangan Arjun, nama itu sesuatu yang berharga banget.
"Jadi... setiap kali kamu panggil nama aku, kamu ingat arti itu ya?" tanyaku pelan, masih menatap tulisan itu.
"Iya dong," jawab Arjun santai sambil menutup bukunya. "Makanya aku lebih suka panggil nama, daripada panggil 'mbak', 'dek', atau apalah. Karena di balik satu nama, ada harapan dan cerita hidup orang itu. Di India, kami bilang: 'Nama adalah jembatan menuju hati seseorang'. Kalau kita menghargai namanya, berarti kita mulai menghargai orangnya."
Aku tersenyum lebar. Hari ini aku belajar hal baru lagi dari dia. Hal kecil yang ternyata maknanya luas banget.
"Kamu ini... kok tahu ya banyak hal unik gitu? Tiap ngomong aja selalu ada aja hal baru yang aku pelajari," kataku sambil berdiri karena ada pelanggan baru masuk.
Arjun terkekeh pelan. "Bukan aku yang pintar, Aira. Cuma aku rajin dengerin cerita kakek aku aja. Dia selalu bilang, budaya itu bukan cuma buat dipakai, tapi buat diceritakan dan dibagi ke orang lain. Siapa tau ada yang suka dan tertarik, kayak kamu sekarang."
Aku berjalan kembali ke meja kasir dengan senyum yang nggak mau hilang. Di meja tujuh itu, Arjun masih duduk tenang sambil menyeruput tehnya, sesekali menatap keluar jendela.
Hari itu aku sadar satu hal lagi: Arjun nggak cuma bawa kebiasaan dari budayanya, tapi juga bawa kelembutan cara pandang yang jarang aku temuin di orang lain. Dan rasa penasaranku padanya, perlahan berubah jadi rasa ingin tahu yang makin besar.
Apa lagi ya cerita indah yang bakal dia bagikan besok?