Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1
Brak!
Suara gebrakkan pada meja ruang tamu membuat semua kepala menunduk, pria paruh baya bersetelan jas kantor menatap tajam cowok yang duduk di single sofa berseberangan dengan sofa tempatnya duduk.
"Papa nggak mau tau, kamu harus putus dengan gadis itu dan terima perjodohan ini!"
Pria paruh baya itu beranjak dari sofa, menatap dua orang di depannya dengan sorot mata menahan emosi, lalu pergi meninggalkan dua orang itu menaiki tangga rumahnya. Keputusannya sudah bulat, dan ia tidak menerima bantahan.
Cowok berkaos hitam polos itu meraih jaket cokelat miliknya yang disampirkan di sandaran sofa, lalu beranjak. Kedua tangannya terkepal menahan emosi yang siap meluap kapan saja.
"Alvin."
Langkah cowok bersorot mata tajam itu terhenti, ia berbalik menatap wanita cantik yang kini berjalan mendekatinya.
"Untuk sekali ini saja, tolong turuti kemauan Papa kamu ya, sayang?"
Kening Alvin berkerut. "Kenapa?" tanyanya.
Wanita itu menunduk. "Maaf, Alvin, Mama nggak bisa bantuin kamu untuk saat ini. Mama nggak berani bantah Papa kamu."
Tatapan elang Alvin meredup saat melihat wanita terhebat dalam hidupnya itu menunduk merasa bersalah, kedua tangan besar cowok itu terulur menyentuh pundak sang Mama.
"Mama." Wanita itu mendongak, membuat Alvin langsung menggeleng. "Jangan sedih, Alvin nggak suka lihat Mama sedih."
Rita, wanita yang sangat Alvin sayangi, dengan tatapan teduh menatap putra tunggalnya yang kini sudah beranjak dewasa. Ia tahu, putra kesayangannya itu pasti terbebani dengan keputusan suaminya.
"Alvin akan urus semuanya, Mama jangan khawatir," ucap Alvin meyakinkan sang Mama.
Rita menghela napas, lalu mengangguk pelan. "Tapi kamu mau pergi ke bandara jemput dia, kan?"
Sorot mata Alvin langsung berubah datar, cowok itu mengenakan jaket cokelatnya seraya mengangguk pelan, lalu meraih tangan Rita dan mengecupnya.
"Alvin berangkat, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam"
Rita menatap punggung putranya nanar, ia merasa bersalah karena tidak bisa membela putranya dalam kondisi ini.
"Maaf, Alvin, Papamu sudah bertekat menjodohkan kamu dengan putri temannya, Mama nggak bisa berbuat banyak."
...☆☆☆...
Alvin merapikan rambut setelah melepas helm fullface miliknya, cowok jangkung itu memerhatikan sekitar, masih duduk di atas motor putih miliknya.
Tring!
Perhatian Alvin teralih pada ponsel yang ada di genggamannya, tampak sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak terdaftar di ponsel Alvin, tapi ia tahu pemilik nomor itu.
Kak Alvin, aku udah di luar.
Alvin membaca pesan itu, lalu mengetikkan balasan.
Gw di tempat parkir
Oke! Aku ke sana!
Cowok itu memasukkan ponselnya ke saku celana, menunggu orang yang tadi mengirim pesan padanya. Sampai sorot mata tajamnya menangkap sosok cewek bersurai hitam panjang berjalan mendekat dengan senyuman lebar.
"Sore, Kak Alvin!" sapa cewek itu, antusias.
"Naik," ujar Alvin datar, lalu memakai helm.
"Kok bawa motor, sih? Koper aku gimana?"
Alvin melirik cewek itu. "Tinggalin aja biar nggak ribet," jawabnya tidak peduli.
Kedua mata bulat cewek itu melebar. "Jangan dong! Ini barang-barang aku!"
"Naik atau gue tinggal?"
Cewek berkulit putih dengan tinggi rata-rata itu langsung diam, menatap boncengan motor Alvin yang tinggi.
"Iya, aku naik." Dengan berat hati menarik koper birunya, lalu meletakkan koper berukuran sedang itu di belakang tubuh Alvin.
"Bentar, aku naiknya pelan-pelan biar nggak jatuh."
"Lo jatuh pun gue nggak peduli."
...☆☆☆...
"Assalamu'alaikum, Tante Ritaaaaa!"
Rita sedang menyirami bunga-bunga di halaman rumah saat mendengar suara melengking yang lama sekali tidak ia dengar, wanita itu menoleh, senyum lebarnya langsung mengembang.
"Wa'alaikumsalam, Michelle."
Cewek dengan jaket bulu warna merah muda itu berhambur memeluk Rita, tersenyum sangat lebar dan bahagia karena ini pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya.
"Michelle kangen banget sama Tante." Cewek itu menarik tubuhnya. "Gimana kabar Tante Rita?"
Michelle Eveline, remaja 16 tahun yang menghabiskan masa kecilnya di Negeri Kincir Angin setelah keluarganya pindah saat ia berusia delapan tahun. Setelah delapan tahun berlalu, cewek yang akrab disapa Michelle ini akhirnya bisa kembali menginjakkan kaki di tanah kelahirannya, dan mendapat izin untuk menetap di negara ini.
Michelle sangat senang saat Papanya menawarkan untuk kembali ke Indonesia karena ia memang sangat rindu semua hal tentang negara ini. Selain itu, Michelle pindah karena ingin menemui seseorang yang akan menjadi miliknya di masa depan, kedua orang tua mereka telah menjodohkan mereka berdua sejak kecil.
Ya, Alvin Erlangga. Teman kecil Michelle yang telah ia anggap seperti Kakak sendiri. Seperti mimpi saat Papa Michelle memberitahu kalau ia dan Alvin telah dijodohkan dan akan menikah di masa depan.
"Tante baik, kamu sendiri? Kamu tambah cantik deh," puji Rita, membuat Michelle tersenyum malu.
"Ma, Alvin izin keluar."
Atensi Rita dan Michelle teralih saat mendengar suara berat Alvin, cowok itu masih memasang wajah dingin tidak bersahabat, membuat Michelle merasa sedikit kecewa karena Alvin tidak menyambut kedatangannya dengan ramah.
"Mau ke mana?" tanya Rita.
Alvin meraih tangan Rita, lalu mencium punggung tangan wanita itu. "Ada janji."
"Sama dia?"
Alvin tidak menjawab namun Michelle melihatnya mengangguk, cowok itu pergi begitu saja naik motor putihnya.
Michelle menatapnya lesu, Alvin tampak tidak senang dengan kehadirannya. Alvin yang Michelle lihat sekarang sangat berbeda dengan Alvin yang dulu berteman dengannya, apa Alvin melupakan momen masa kecil mereka?
"Kak Alvin mau ke mana?"
Rita sempat terkejut mendengar pertanyaan Michelle, tapi dengan cepat wanita itu mengondisikan ekspresinya. "Ayo masuk, Michel, Tante udah masak banyak buat kamu."
Michelle tahu Rita sedang mengalihkan pembicaraan, ia juga tidak bertanya lagi karena takut mengganggu privasi. Lagipula Michelle belum punya hak sejauh itu untuk terus bertanya sedang apa dan di mana Alvin sekarang. Tapi bukan berarti Michelle tidak boleh mencari tahu sendiri.