Raven Alvaro dikenal sebagai Don Mafia paling kejam yang tak pernah memberi ampun pada pengkhianat. Dengan tangan berlumuran darah, ia membangun kekuasaannya di atas ketakutan dan kesetiaan mutlak. Bagi Raven, belas kasihan hanyalah kelemahan yang dapat menghancurkan seorang pemimpin.
Segalanya berubah ketika Aurora Valentia tanpa sengaja masuk ke dalam dunia gelap yang selama ini tersembunyi. Pertemuan mereka memicu rangkaian rahasia, pengkhianatan, dan perang antar keluarga mafia yang telah lama menunggu untuk meledak.
Di tengah hujan peluru dan lautan darah, Raven harus memilih antara mempertahankan takhta yang telah ia rebut dengan nyawa banyak orang atau mempertaruhkan segalanya demi wanita yang perlahan mencairkan hati beku sang Don. Namun, di dunia mafia, cinta memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada kematian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daneen_Nis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 - Serangan Di Mansion
Suara tembakan menggema tanpa henti di seluruh area mansion.
Dor! Dor! Dor!
Ledakan granat membuat jendela-jendela bergetar. Asap mulai memenuhi halaman depan, sementara para penjaga Raven membalas serangan dari balik dinding dan kendaraan lapis baja.
Aurora berdiri membeku di ruang tamu.
Ini pertama kalinya ia melihat perang bersenjata dari jarak sedekat ini.
"Tolong ikut kami, Nona!" teriak salah seorang penjaga.
Aurora menggeleng.
"Masih ada yang terluka!"
"Keselamatan Anda lebih penting."
"Tidak!"
Di luar, dua anak buah Raven jatuh bersimbah darah. Salah satunya masih bergerak sambil memegangi perutnya yang terus mengeluarkan darah.
Tanpa memikirkan bahaya, Aurora berlari keluar.
"Nona!"
Para penjaga berusaha menghentikannya, tetapi Aurora sudah lebih dulu berlutut di samping pria yang terluka.
"Ambilkan kain bersih!"
Tak ada yang bergerak.
Aurora berteriak lebih keras.
"Cepat! Kalau tidak dia akan kehabisan darah!"
Salah satu penjaga akhirnya memberikan jaketnya.
Aurora langsung menekan luka tembak itu sekuat tenaga.
"Tarik napas... jangan tutup matamu."
Pria itu mengangguk lemah.
Sementara itu, di gerbang utama, Raven berdiri di balik sebuah mobil antipeluru.
Tatapannya menyapu medan pertempuran.
"Berapa jumlah mereka?"
Leo yang bahunya masih diperban berdiri di sampingnya.
"Empat puluh orang."
"Pemimpin mereka?"
"Belum terlihat."
Raven mengisi ulang pistolnya.
"Kalau begitu paksa dia keluar."
Tanpa menunggu jawaban, Raven melangkah maju.
Dor!
Satu peluru mengenai dahi seorang penyerang.
Dor!
Penyerang kedua roboh setelah peluru menembus dadanya.
Pergerakan Raven begitu cepat dan presisi. Setiap peluru yang ia lepaskan selalu mengenai sasaran.
Tak heran jika namanya menjadi legenda di dunia mafia.
Di sisi lain halaman, seorang penembak jitu musuh mengincar Raven dari atas gedung kosong.
"Target terkunci..."
Jarinya mulai menarik pelatuk.
Namun tepat saat itu...
"Awas!"
Aurora yang sedang membantu korban melihat kilatan cahaya dari arah gedung.
Tanpa berpikir panjang, ia berteriak sekencang mungkin.
Raven langsung menoleh.
Refleksnya luar biasa cepat.
Ia menjatuhkan tubuh ke samping.
Dor!
Peluru hanya menggores lengan kirinya.
Raven segera membalas arah tembakan.
Dor!
Penembak jitu itu langsung terjatuh dari atap.
Leo mendekati Raven.
"Anda terluka."
"Hanya goresan."
Tatapan Raven beralih kepada Aurora yang masih berlutut menolong anak buahnya.
Untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Wanita itu bisa saja bersembunyi.
Namun ia justru mempertaruhkan nyawanya demi menyelamatkan orang lain.
"Evakuasi semua yang terluka!" perintah Raven.
Pertempuran berlangsung hampir tiga puluh menit.
Sedikit demi sedikit pasukan musuh mulai terdesak.
Mereka akhirnya mundur meninggalkan belasan mayat.
Suasana kembali sunyi.
Yang tersisa hanyalah asap mesiu dan aroma darah.
Aurora berdiri perlahan.
Tangannya dipenuhi darah para korban.
Raven berjalan menghampirinya.
"Kau menyelamatkan lima orang."
"Aku hanya melakukan pekerjaanku."
"Kau juga menyelamatkan nyawaku."
Aurora menatap luka di lengan Raven.
"Itu karena aku tidak ingin melihat seseorang mati di depanku."
"Bahkan aku?"
Aurora terdiam.
Beberapa detik kemudian ia menghela napas.
"Aku membenci apa yang kau lakukan."
"Tapi?"
"Tidak berarti aku ingin melihatmu terbunuh."
Jawaban itu membuat Raven terdiam.
Belum pernah ada orang yang berbicara sejujur itu di hadapannya.
Anak buahnya selalu takut.
Musuhnya selalu membencinya.
Namun Aurora berbeda.
Ia berani menentangnya tanpa menyembunyikan rasa takut.
"Tuan."
Seorang penjaga datang membawa sebuah kotak hitam.
"Kami menemukan ini di salah satu mobil musuh."
Raven membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah kartu bergambar ular emas.
Tatapan Raven langsung berubah dingin.
"Vittorio..."
Leo mengepalkan tangan.
"Dia mulai menyatakan perang secara terbuka."
Raven menutup kotak itu.
"Kalau begitu peranglah yang akan dia dapat."
Malam kembali turun.
Setelah semua korban dirawat, Aurora akhirnya kembali ke kamarnya.
Saat hendak menutup pintu balkon, ia melihat Raven berdiri sendirian di taman belakang.
Pria itu sedang memandangi makam kecil yang tersembunyi di balik pepohonan.
Tidak ada pengawal.
Tidak ada senjata di tangannya.
Hanya kesunyian.
Aurora memperhatikan dari kejauhan.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari pria yang selama ini dianggapnya monster.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, Raven perlahan menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
Dan kali ini, Raven tidak terlihat marah.
Tatapannya justru dipenuhi kesedihan yang selama ini berhasil ia sembunyikan dari seluruh dunia.