Reuni kelas yang seharusnya menjadi malam penuh tawa berubah menjadi titik balik kehidupan.
Di hadapan murid-muridnya, Mo Yuan mengungkapkan rahasia yang terdengar mustahil—ia berasal dari dunia kultivasi dan akan segera kembali ke sana. Tak seorang pun mempercayainya, hingga semuanya benar-benar terjadi.
Dalam sekejap, Qin Shang dan seluruh teman sekelasnya terlempar ke dunia yang dipenuhi para kultivator, iblis, dan berbagai bahaya yang belum pernah mereka bayangkan.
Di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mereka harus memulai kehidupan baru dan menapaki jalan kultivasi dari titik nol. Namun, semakin jauh melangkah, semakin banyak rahasia yang tersembunyi di balik perpindahan mereka ke dunia ini.
Akankah Qin Shang mampu mengubah takdirnya, atau justru tenggelam di tengah kerasnya persaingan menuju keabadian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TEMOLLA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Lin Yan mengangguk kepada Gu Yang dan Wen Ren. Pandangannya lebih lama tertuju pada Wen Ren saat bertanya, "Cepat sekali selesai kerjanya?"
Wen Ren tersenyum. "Hari ini teman-teman sekelasku mulai bekerja, jadi aku sengaja mengambil cuti setengah hari. Tapi aku sudah meminta orang lain menggantikanku, jadi pekerjaan tidak akan terganggu."
Lin Yan mengernyit. "Poin kontribusi harus digunakan sehemat mungkin. Sebaiknya lebih banyak ditukar dengan Sup Peningkat Darah. Semakin cepat kamu menembus tahap ketiga Alam Peningkatan Darah, semakin besar peluangmu menerobos ke Alam Penempaan Tulang."
"Oh ya, aku masih punya sedikit uang yang tidak terpakai. Bagikan kepada mereka sebagai biaya hidup untuk bulan pertama. Anggap saja ini sedikit perhatian dariku sebagai senior."
"Baik, Guru!"
Wen Ren langsung mengiyakan dengan penuh semangat. Ia memang senang jika mendapat tugas yang membuatnya menjadi pusat perhatian.
Sementara itu, Gu Yang menghampiri teman-teman sekelasnya.
"Ketua Kelas!"
"Ketua Kelas! Kamu ditempatkan di bagian apa? Enak nggak kerjanya?"
Begitu melihat Gu Yang, banyak orang langsung mengerubunginya sambil melontarkan berbagai pertanyaan.
"Kak Gu! Tanganku! Tanganku putus!"
Zhen De berlari menghampiri Gu Yang dengan mata memerah.
Melihat lengan Zhen De yang terbalut kain dan darahnya masih terus merembes keluar, wajah Gu Yang langsung berubah dingin.
"Siapa yang melakukan ini?"
Semua orang terdiam.
Zhen De mengangkat dagunya ke arah punggung Lin Yan yang berjalan di depan. Tatapannya dipenuhi kebencian.
"Kak Lin?"
Kemurkaan di wajah Gu Yang seketika lenyap. Ia mengernyit lalu bertanya, "Sebenarnya apa yang terjadi?"
Zhen De pun menceritakan semuanya secara singkat.
Setelah mendengarnya, Gu Yang mendengus dingin lalu berkata lantang, "Kak Lin memang pantas memukulmu! Dalam keadaan seperti ini kalian masih sempat bertengkar sesama sendiri. Ini bukan lagi Bumi. Kalau tidak paham aturan, mati sendiri tidak masalah, tapi jangan menyeret orang lain!"
Wajah Zhen De langsung menggelap.
Selama ini ia selalu menjadi pengikut setia Gu Yang. Sebenarnya ia tidak berharap Gu Yang membalaskan dendamnya. Ia hanya ingin menanyakan apakah di tempat ini ada cara untuk menumbuhkan kembali anggota tubuh yang putus. Tak disangka, yang ia terima justru omelan habis-habisan.
Lin Yan juga mendengar teguran Gu Yang dari belakang. Alisnya sedikit berkerut.
Melihat itu, Wen Ren segera berkata, "Guru, biar aku yang urus."
Ia langsung berjalan menghampiri Zhen De dan berkata dengan nada dingin, "Zhen De, kenapa? Guruku memutuskan satu lenganmu, lalu kamu tidak terima?"
"T-tidak... bukan begitu..."
Wajah Zhen De semakin pucat. Ia buru-buru menyangkal.
Wen Ren berkata dingin, "Guruku memberikan sedikit uang kepada semua orang untuk biaya hidup. Tapi karena kamu masih menyimpan rasa tidak puas terhadap beliau, uang itu tidak perlu diberikan kepadamu."
"Ada uang juga?"
"Ini poin kontribusi? Bisa dipakai membeli Sup Peningkat Darah?"
Wen Ren mendengus.
"Jangan bermimpi. Bahkan aku dan guruku sendiri masih kekurangan poin kontribusi. Mana mungkin ada bagian untuk kalian? Ini cuma uang yang dipakai di dunia biasa. Bisa digunakan untuk menyewa rumah di Kota Tianyuan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari."
Meski bukan poin kontribusi, semua orang tetap segera mengerubunginya.
Wen Ren membuka kantong uangnya. Di dalamnya terdapat koin emas berbentuk cangkang kerang.
"Masing-masing dapat satu. Aku akan membagikannya. Kalau ada yang belum kebagian, bilang saja."
Ia pun membagikan koin-koin itu satu per satu.
Namun, ketika sampai di depan Qin Shang dan Lu Chen, alisnya langsung berkerut.
Di sisi lain, Zhen De yang tahu dirinya tidak akan mendapat bagian sempat menyimpan kekesalan terhadap Wen Ren.
Namun, saat melihat Wen Ren berhenti di depan Qin Shang dan Lu Chen, ia seolah teringat sesuatu. Ia segera menghampiri Wen Ren sambil tersenyum menjilat.
"Kak Wen Ren, menurutku Qin Shang dan Lu Chen juga tidak perlu diberi. Waktu Ketua Kelas meminta semua orang berbagi Sup Peningkat Darah, mereka berdua menolak. Mereka sudah lama tidak menganggap diri sebagai bagian dari Kelas 11."
Sejak awal Wen Ren memang tidak menyukai Qin Shang dan Lu Chen, terutama Qin Shang. Ia hanya sedang mencari alasan agar tidak perlu memberikan uang kepada mereka.
Begitu mendengar ucapan Zhen De, Wen Ren langsung melemparkan dua keping koin emas kepadanya.
"Kalau mereka memang tidak menganggap diri sebagai bagian dari Kelas 11, berarti mereka tidak berhak menerima uang ini. Anggap saja sebagai hadiah untukmu."
"Terima kasih, Kak Wen Ren! Terima kasih, Kak Wen Ren!"
Zhen De begitu gembira hingga untuk sementara melupakan rasa sakit akibat lengannya yang putus.
"Bah!"
Lu Chen sudah tidak bisa menahan diri lagi dan langsung memaki.
"Wen Ren, siapa yang sudi dengan dua keping uang recehmu itu? Kuberitahu, Qin Shang sudah lama mencapai Alam Peningkatan Darah. Dia sama sekali tidak membutuhkan uangmu!"
Wen Ren mencibir.
"Lu Chen, yang tersisa darimu memang cuma mulut busuk itu. Kalau Qin Shang benar sudah mencapai Alam Peningkatan Darah, kenapa dia baru datang ke Divisi Urusan Administrasi sekarang?"
Setelah berkata demikian, Wen Ren memandang Qin Shang dengan tatapan menghakimi.
"Qin Shang, demi hubungan kita sebagai teman sekelas, aku akan memberimu kesempatan terakhir. Katakan yang sebenarnya. Dulu di asrama, apakah kamulah yang mencuri barangku? Kalau kamu mengaku, satu keping koin emas ini masih bisa kupertimbangkan untuk kuberikan."
Qin Shang menatap Wen Ren seolah sedang melihat orang bodoh.
"Qin Shang, Lin Kai, kalian berdua kemari. Biarkan ketiga Diaken memeriksa tingkat kultivasi kalian."
Pada saat itu, suara Lin Yan terdengar memanggil dari depan.
Qin Shang segera melangkah menembus kerumunan, melewati Wen Ren yang masih sibuk membagikan uang.
Wen Ren terpaku. Ia menatap Qin Shang dengan wajah penuh ketidakpercayaan.
Teman-teman sekelas yang lain pun memandang Qin Shang dengan keterkejutan yang sama.
Bahkan Gu Yang ikut tercengang. Ia sama sekali tidak menyangka Qin Shang dan Lin Kai berhasil mencapai Alam Peningkatan Darah tepat pada hari terakhir.
Padahal, nama mereka berdua sama sekali tidak ada dalam daftar yang telah ia buat.
Terlebih lagi, Qin Shang masih memiliki masalah Hipoglikemia.
"Yang satu terlalu licik, yang satu lagi terlalu keras kepala. Susah sekali diatur..."
gumam Gu Yang dalam hati.
Qin Shang dan Lin Kai berjalan menghampiri Diaken Lan.
Saat itu, di samping Diaken Lan telah berdiri dua Diaken penguji lainnya.
Diaken Lan mengulurkan tangan, lalu memegang pergelangan tangan mereka satu per satu untuk memeriksa denyut nadi.
Ia pun mengangguk.
"Qi dan darah kalian sudah meningkat, kokoh, dan stabil. Tidak salah lagi, kalian memang telah memasuki Alam Peningkatan Darah tahap pertama."
"Qi dan darah mereka memang sudah meningkat. Aku juga bisa menjadi saksi."
Diaken kedua ikut melakukan pemeriksaan dengan meremas lengan mereka.
Sementara itu, Diaken ketiga adalah seorang pria tua berambut putih. Meski usianya telah lanjut, wajahnya masih tampak muda.
Ia memegang lengan Qin Shang dan Lin Kai untuk memeriksa kondisi mereka.
Tak lama kemudian, tatapannya tertuju pada Qin Shang dengan sedikit keterkejutan.