Meski terus didera sulitnya hidup, Faris tak pernah lupa dengan mimpinya yang ingin jadi insinyur. Ketika dia difitnah dan dipenjara karena sebuah insiden, saat itulah sistem muncul untuk membantunya mengejar profesi impian.
DING!
"Selamat datang di sistem profesi terhebat!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 5 - Sistem Profesi Terhebat
Faris perlahan mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini dia selalu menjadi orang yang menerima nasib. Dihina karena miskin, dipermainkan karena lemah, hingga akhirnya dijebak masuk penjara. Untuk pertama kalinya, Faris merasa dirinya tidak ingin terus menjadi korban.
Layar biru di hadapannya kembali berkedip.
[Ding!]
[Mendeteksi tekad pengguna meningkat.]
[Sinkronisasi dengan Sistem Profesi Terhebat bertambah.]
[Sinkronisasi saat ini: 8%.]
Faris mengangkat sebelah alis. "Sinkronisasi?"
[Semakin tinggi sinkronisasi, semakin banyak fungsi sistem yang dapat digunakan.]
"Kenapa baru sekarang kau bilang?"
[Pengguna baru sekarang bertanya.]
Faris memijat pelipisnya. "Kalau aku tidak bertanya, apa kau memang tidak akan menjelaskan?"
[Benar.]
"Kamu ini benar-benar sistem yang menyebalkan."
[Terima kasih.]
"Itu juga bukan pujian."
[Sistem sedang belajar membedakan pujian dan keluhan pengguna.]
Faris mengembuskan napas panjang. "Aku menyerah."
[Pengguna menyerah terlalu cepat.]
"Aku menyerah berdebat denganmu, bukan menyerah hidup."
[Data diperbarui.]
Entah kenapa, percakapan itu membuat sudut bibir Faris sedikit terangkat. Mungkin karena selama beberapa hari terakhir, hanya sistem inilah yang benar-benar "menemaninya" berbicara.
Beberapa saat kemudian layar di depannya berubah.Tulisan-tulisan sebelumnya menghilang, digantikan oleh sebuah tampilan baru yang jauh lebih besar.
Di bagian atas tertulis:
\=\=\=\=\= TOKO SISTEM \=\=\=\=\=
Mata Faris membelalak. "Apa lagi ini?"
[Fitur Toko Sistem berhasil dibuka.]
Di bawahnya muncul berbagai kategori.
Keahlian.
Cetak Biru.
Material.
Properti.
Dana.
Peralatan.
Faris menatap layar itu tanpa berkedip. "Semua ini... bisa dibeli?"
[Benar.]
Tangannya refleks mencoba menyentuh layar tersebut. Anehnya, setiap kali jarinya menyentuh salah satu kategori, daftar baru langsung muncul. Kategori pertama adalah Keahlian.
Daftar panjang memenuhi pandangannya.
Keahlian Pertukangan Dasar — 10 Poin.
Keahlian Pengelasan Dasar — 15 Poin.
Mata Analisis Struktur Lv.1 — 100 Poin.
Desain Mekanik Tingkat Menengah — 1.000 Poin.
Penguasaan CAD Profesional — 5.000 Poin.
Pemahaman Material Komposit — 12.000 Poin.
Semakin ke bawah, harga yang tertera semakin membuat Faris menelan ludah. Puluhan ribu. Ratusan ribu. Bahkan jutaan poin.
"Ini... mahal sekali."
[Harga menyesuaikan nilai teknologi.]
Faris lalu membuka kategori berikutnya. Kali ini napasnya benar-benar tertahan.
Dana Tunai Rp100.000.000 — 300.000 Poin.
Dana Tunai Rp1.000.000.000 — 2.500.000 Poin.
"Apa?" Ia mengucek matanya. "Lima... lima ratus..."
Faris kembali membaca. "Tidak... seratus juta."
Ia menoleh ke layar. "Kamu bercanda?"
[Sistem tidak memiliki fungsi bercanda.]
"Seratus juta rupiah benar-benar bisa dibeli?"
[Benar.]
Faris langsung membayangkan ibunya. Dengan uang sebanyak itu, dia bisa membawa sang ibu berobat ke rumah sakit terbaik.
Rumah mereka bisa diperbaiki. Ia bahkan bisa kuliah. Tangannya gemetar.
"Kalau begitu... aku tinggal membelinya saja."
Beberapa detik berlalu. Lalu muncul sebuah tulisan.
[Poin pengguna saat ini: 5.]
[Poin yang dibutuhkan: 300.000.]
[Kekurangan poin: 299.995.]
Ruangan kembali sunyi. Faris menghela napas panjang.
"Baiklah."
Ia mengangguk pelan. "Aku memang terlalu berharap."
[Pengguna terlalu miskin.]
Faris langsung melotot. "Itu penghinaan, kan?"
[Itu fakta.]
"Kamu benar-benar tidak punya empati."
[Empati bukan bagian dari modul sistem.]
Faris menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Aku baru kenal kamu satu hari, tapi rasanya ingin kubuang."
[Sistem tidak dapat dibuang.]
Dengan rasa penasaran yang semakin besar, Faris membuka kategori berikutnya. Kali ini adalah Properti. Matanya langsung membulat.
Rumah Tipe Sederhana — 800.000 Poin.
Rumah Mewah — 5.000.000 Poin.
Workshop Pertukangan Modern — 12.000.000 Poin.
Pabrik Furnitur Otomatis — 60.000.000 Poin.
"Luar biasa..."
Ia tidak menyangka sistem bahkan menyediakan bangunan. Kategori berikutnya lebih mengejutkan lagi.
Laboratorium Teknik.
Pusat Penelitian Material.
Bengkel Robotika.
Pabrik Baja.
Bahkan ada beberapa item yang masih terkunci. Tulisan di sampingnya hanya berbunyi:
Level pengguna belum mencukupi.
Faris menelan ludah. "Kalau semua ini benar... Berarti suatu hari aku benar-benar bisa memiliki semuanya?"
[Benar.]
"Tapi dengan syarat aku punya poin."
[Benar.]
Faris menarik napas panjang. "Kalau begitu... Bagaimana caranya mendapatkan poin sebanyak itu?"
Layar biru kembali berubah. Kali ini hanya muncul beberapa baris tulisan sederhana.
\=\=\=\=\= Cara Memperoleh Poin \=\=\=\=\=
• Merancang teknologi baru.
• Memperbaiki desain yang tidak efisien.
• Menyelesaikan proyek teknik.
• Mengembangkan inovasi.
• Memecahkan masalah menggunakan ilmu teknik.
• Menyelesaikan tantangan sistem.
Faris membaca seluruh daftar itu perlahan. "Khusus yang berhubungan dengan pekerjaan insinyur..."
[Benar.]
"Kalau aku bertarung?"
[Tidak mendapat poin.]
"Kalau aku menang judi?"
[Tidak mendapat poin.]
"Aku juga tidak berjudi."
[Bagus.]
"Kalau aku tidur?"
[Tidak mendapat poin.]
"Kasihan sekali hidupku."
[Pengguna disarankan bangun dan bekerja.]
Faris mendecakkan lidah. "Seandainya aku bisa memukulmu..."
[Kalimat itu sudah diucapkan dua kali.]
"Aku serius."
[Sistem juga serius.]
Faris kembali membaca daftar tersebut. "Kalau membuat lemari seperti tadi?"
[Mendapat poin.]
"Berapa?"
[Sedikit.]
"Sedikit itu berapa?"
[Lima poin.]
Faris langsung mengingat hadiah yang baru diterimanya. "Ternyata benar."
Ia lalu bertanya lagi. "Kalau aku membuat lemari yang lebih rumit?"
[Hadiah bertambah.]
"Kalau aku membuat desain yang belum pernah ada?"
[Hadiah bertambah banyak.]
"Kalau aku membuat mesin?"
[Tergantung tingkat kesulitan.]
"Kalau jembatan?"
[Lebih tinggi.]
"Kalau gedung pencakar langit?"
[Jauh lebih tinggi.]
Mata Faris perlahan berbinar. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memahami cara kerja sistem. Sistem ini tidak akan membuatnya kaya secara instan. Tidak akan membuatnya menjadi kuat dalam semalam.
Semua hadiah harus diperoleh melalui kemampuan sebagai seorang insinyur. Justru itu yang membuatnya tertarik. Karena hasilnya terasa pantas.
"Tunggu."
Faris kembali bertanya. "Kalau aku semakin hebat sebagai insinyur... Apa ada level?"
Layar kembali berkedip.
Profesi: Insinyur.
Level: 1.
Pengalaman: 5/100.
"Maksudnya?"
[Setiap proyek teknik memberikan pengalaman.]
[Semakin sulit proyek, semakin besar pengalaman.]
[Naik level akan membuka kemampuan baru.]
"Jadi aku benar-benar harus belajar."
[Benar.]
Untuk pertama kalinya, Faris mengangguk tanpa membantah. Ia justru menyukai sistem seperti ini. Tidak ada jalan pintas. Tidak ada hadiah cuma-cuma. Semuanya diperoleh dari kerja keras. Persis seperti filosofi yang selalu dia pegang.
Malam semakin larut. Sebagian besar tahanan sudah tertidur. Namun Faris masih duduk sambil memikirkan workshop yang akan kembali dibuka esok pagi. Ia mengingat ucapan Pak Adi.
"Aku ingin kamu membuat satu lagi."
Awalnya ia hanya menganggap itu pekerjaan biasa. Kini pikirannya berubah. Workshop itu bukan lagi sekadar kegiatan pembinaan. Tempat itu adalah ladang poin. Tempat meningkatkan levelnya sebagai insinyur.
Kalau dia terus membuat furnitur yang lebih baik, dirinya akan mendapatkan poin. Kalau dia berani menciptakan desain baru, hadiahnya akan semakin besar. Kalau suatu hari nanti ia mampu merancang mesin atau bangunan, jumlah poin yang diperoleh pasti jauh lebih banyak.
Faris perlahan mengepalkan tangannya. "Aku mengerti sekarang."
[Pengguna akhirnya memahami tujuan sistem.]
"Aku akan mulai dari lemari. Lalu meja, kursi, rak dan semua yang ada di workshop. Setelah itu... Aku akan menjadi insinyur terbaik."
[Target pengguna tercatat.]
[Sistem akan mendukung sepenuhnya.]
Faris tersenyum tipis. Ia memang masih berada di balik jeruji besi. Namanya masih belum bersih. Ibunya masih belum diketahui keadaannya. Namun ia tidak lagi merasa putus asa.
Karena mulai malam itu, setiap papan kayu, setiap paku, setiap baut, dan setiap rancangan yang dia buat bukan lagi sekadar pekerjaan. Semuanya adalah satu langkah kecil menuju mimpinya. Suatu hari nanti, langkah-langkah kecil itu akan membawanya keluar dari kegelapan menuju puncak sebagai seorang Insinyur Terhebat.