Putri Aurelia dari Kerajaan Oakhaven menghabiskan seluruh hidupnya seperti burung di dalam sangkar emas, terisolasi di menara kaca istana yang megah. Namun, kedamaian semu itu berakhir ketika ia menginjak usia dua puluh satu tahun. Demi menyelamatkan kerajaannya yang mulai runtuh dan menghentikan perang tiga dekade yang berdarah, Aurelia terpaksa menjadi tumbal politik. Ia harus bertunangan dengan Pangeran Cassian dari Kerajaan Valenica di Utara—seorang panglima perang yang dikenal kejam, dingin, dan dijuluki "monster medan perang."
Pertemuan pertama mereka di Aula Agung langsung memicu percikan ketegangan. Alih-alih tunduk pada intimidasi sang Pangeran yang memiliki tatapan sepekat badai, Aurelia justru menyambutnya dengan keberanian dan lidah yang tajam. Keteguhan hati Aurelia justru memikat rasa ingin tahu Cassian, yang terbiasa menghadapi kepatuhan yang membosankan.
Di balik kemegahan rencana pernikahan mereka, bahaya besar sedang mengintai. Aurelia tidak hanya harus beradaptasi dengan calon suaminya yang penuh teka-teki, tetapi ia juga harus belajar bertahan hidup di tengah dinding istana yang dipenuhi intrik politik, racun, dan pengkhianatan. Ini adalah kisah tentang dua jiwa dari dunia yang bertolak belakang, yang harus memilih antara saling menghancurkan atau bersatu demi menyelamatkan sebuah kekaisaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Septianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : Sandiwara dibalik Kabut Barat
Hari yang paling dinanti—sekaligus paling ditakuti—oleh dua kerajaan yang bertetangga itu akhirnya tiba juga. Katedral Langit, sebuah rumah ibadah agung berspesifikasi arsitektur kuno yang berdiri megah di puncak tebing tertinggi kota Frosthelm, telah dipenuhi oleh ribuan lilin putih beraroma pinus. Cahaya dari lilin-lilin tersebut memantulkan kerlip magis pada dinding-dinding kristal es yang dipahat dengan detail rumit. Atap katedral ini terbuat dari kaca transparan tebal, memperlihatkan langit Utara yang abu-abu keperakan bergulung pelan, seolah-olah para dewa kuno yang bersemayam di langit sedang ikut turun untuk menyaksikan penyatuan dua jiwa ini.
Aurelia berdiri mematung di depan cermin besar di dalam ruang persiapan pengantin wanita. Napasnya teratur, meski jantungnya bertalu kencang. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya adalah sebuah mahakarya hibrida dua budaya: sutra putih lembut dari dataran Oakhaven yang dilapisi brokat rajutan perak tebal khas Valenica. Jubah panjang yang menjuntai di belakangnya disulam dengan benang khusus yang berkilau menyerupai butiran salju segar yang diterpa cahaya. Elena, pelayan setianya yang menolak ditinggalkan di Selatan, dengan tangan bergetar menyematkan tiara safir biru tua di atas rambut pirang keperakan Aurelia yang dibiarkan terurai bergelombang bebas.
"Anda sangat cantik Nona," bisik Elena, matanya berkaca-kaca menahan haru sekaligus cemas. "Tetapi, apakah Anda benar-benar yakin dengan semua ini? Setelah semua yang terjadi dengan Lady Kara, tempat ini terasa begitu berbahaya bagi Anda."
Aurelia menyentuh permukaan dingin tiara di kepalanya, menatap dalam-dalam pada pantulan matanya sendiri di cermin. Sinar matanya kini memancarkan ketegasan yang matang, bukan lagi kepasrahan seorang gadis menara. "Aku tidak lagi punya pilihan untuk mundur, Elena. Tetapi sekarang, ini bukan lagi sekadar tentang pelarian dari kejaran pamanku. Ini tentang mengklaim tempatku, tentang masa depan yang akan kubangun dengan tanganku sendiri."
Pintu kayu ek ruang persiapan terbuka dengan dentum pelan. Raja Valerius sendiri yang masuk ke dalam ruangan untuk menuntun Aurelia menuju altar—sebuah tanda penghormatan tertinggi di Utara yang belum pernah diberikan kepada orang asing sepanjang sejarah klan mereka. Sang Raja purba itu menatap Aurelia dari ujung kepala hingga kaki, lalu mengangguk penuh kepuasan yang jarang ia perlihatkan. "Kau terlihat seperti seorang ratu sejati dari Utara, Bocah. Mari kita melangkah keluar dan tunjukkan pada dunia bahwa serigala dan mawar bisa berjalan beriringan tanpa harus saling menghancurkan."
Ketika pintu aula utama katedral terbuka lebar, musik organ yang megah, berat, dan menggelegar seketika memenuhi setiap sudut ruangan, menggetarkan dada siapa pun yang mendengarnya. Aurelia melangkah masuk, membiarkan jubah peraknya menyapu karpet beludru merah pekat. Di ujung altar, berjarak puluhan langkah di depannya, berdiri Pangeran Cassian.
Aurelia sempat menahan napasnya sejenak. Cassian tampil luar biasa memukau sekaligus mengintimidasi. Pria itu mengenakan jubah kebesaran Panglima Tertinggi berwarna hitam legam beraksen perak murni, lengkap dengan medali-medali kehormatan militer yang tersemat rapi di dadanya. Rambut hitamnya yang biasanya berantakan kini disisir rapi, menampilkan garis wajahnya yang tegas dan tampan. Sepasang mata abu-abunya yang sewarna badai menatap Aurelia tanpa berkedip sedikit pun sejak langkah pertama sang Putri. Ada kilat kepemilikan yang intens, protektif, dan penuh kekaguman yang tak bisa lagi disembunyikan dari balik tatapan sang Pangeran.
Ketika Raja Valerius menyerahkan tangan kanan Aurelia kepada Cassian di hadapan altar, Cassian langsung menggenggam jemari mungil itu dengan erat, menyalurkan kehangatan instan yang mengusir rasa ngilu akibat udara dingin katedral.
Pendeta Agung Utara melangkah maju ke tengah altar, mengangkat sebuah cawan perak besar yang berisi air suci dari mata air pegunungan terdalam. "Di bawah saksikan Langit yang membeku dan Bumi yang kokoh, apakah kalian, Cassian dari Valenica dan Aurelia dari Oakhaven, bersumpah untuk mengikat jiwa dalam suka maupun duka? Bersumpah untuk saling mengasah pedang demi melindungi satu sama lain, dan berbagi takhta ini hingga ajal menjemput?"
Cassian memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus tepat ke dalam manik mata safir Aurelia dengan keyakinan penuh. "Aku bersumpah. Darahku adalah darahnya, jiwaku adalah jiwanya, dan pedangku adalah perisai abadi bagi hidupnya."
Aurelia menarik napas dalam-dalam, memantapkan suaranya agar menggema dengan jernih di seluruh ruangan tanpa ada secercah pun keraguan. "Aku bersumpah. Jantungku adalah jantungnya, pikiranku adalah sekutunya, dan hidupku didedikasikan untuk berdiri tegak di sampingnya."
"Dengan sumpah kuno yang telah diucapkan, maka dengan ini kalian resmi menjadi satu darah dan satu takhta," ucap Pendeta Agung sembari memercikkan air suci ke atas tangan mereka yang saling bertautan.
Cassian tidak membuang waktu. Ia memangkas jarak yang tersisa di antara mereka, tangan kokohnya yang hangat bergerak menyentuh rahang Aurelia, mendongakkan wajah istrinya perlahan sebelum mendaratkan sebuah ciuman yang dalam, hangat, dan penuh penekanan di bibir Aurelia. Itu bukan sekadar kecupan formalitas demi kepuasan para penonton; ada hasrat yang selama ini tertahan, janji perlindungan yang tulus, dan penyatuan komitmen yang sakral di dalamnya. Sorak-sorai bergemuruh dari para bangsawan Utara, memecah keheningan katedral yang sakral dengan tepuk tangan yang meriah.
Namun, momen kemenangan dan kedamaian itu hanya sempat bertahan selama beberapa detik singkat.
BRAKKKK!
Pintu gerbang besar katedral yang terbuat dari kayu berlapis besi mendadak didobrak kasar dari luar hingga engselnya retak. Seorang prajurit pengintai Valenica dengan zirah yang hancur, tergores dalam, dan berlumuran darah segar terjatuh tersungkur di ambang pintu. Napasnya memburu, putus-putus, dan wajahnya dipenuhi kepanikan yang luar biasa.
"Lapor... Yang Mulia Raja! Pangeran!" teriak prajurit itu dengan sisa tenaga terakhirnya, membuat seluruh aula katedral seketika berubah menjadi hening mencekam bagai kuburan. "Pasukan gabungan Oakhaven di bawah komando langsung Duke Valerius... mereka telah mengkhianati perjanjian! Mereka melintasi perbatasan bawah dalam jumlah besar, membantai seluruh pos penjaga kita tanpa ampun, dan kini bergerak cepat menuju Frosthelm dengan mengibarkan spanduk perang hitam!"
Bisikan histeris dan teriakan panik langsung meledak di antara para undangan wanita dan bangsawan tua. Duke Valerius tidak lagi bermain secara halus di balik bayangan konspirasi; dia telah meluncurkan kudeta militer terbuka dan menyatakan perang total terhadap Valenica demi merebut keponakannya kembali—atau memastikan Aurelia mati agar takhta Oakhaven jatuh sepenuhnya ke tangannya.
Aurelia menegang, tubuhnya bergetar ringan karena syok mendengar kabar tentang tanah airnya, tangannya mencengkeram jubah hitam Cassian dengan sangat erat. Namun, Cassian sama sekali tidak menunjukan ekpresi apa apa, dia hanya terdiam terpaku menatap kekosongan.
•*•*
*•*
*•*
*•*
*•*
ehh iya kalo ada waktuu mampir jugaa yaa ke novel kuu "Tak Semua Tangis Memiliki suara"