Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.
Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.
Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
"Baru aja gue peringatin," desis Meyra, duduk di sebelah Michelle yang kini berisik sendiri meneriaki nama Alvin saat cowok itu bermain di lapangan.
Meyra bersyukur karena Lena sudah pergi beberapa menit yang lalu sebelum Michelle menariknya masuk dan menonton di sisi lapangan, kalau Lena masih ada di lapangan ini, sudah dipastikan tindakan Michelle ini namanya bunuh diri di kandang singa padahal tahu singa itu belum makan setahun dan siap menerkamnya.
Meyra melihat ke seberang sana, pada Nara yang tadi sempat melihat Michelle saat cewek itu meneriaki dan menyemangati Alvin. Nara tampak tidak peduli karena mungkin sudah terbiasa, Alvin populer dan punya banyak penggemar, tidak jarang banyak yang menunggu cowok itu berlatih untuk memberi semangat seperti yang Michelle lakukan sekarang.
Sekarang Meyra semakin mengerti kenapa Nara mendapat julukan pacar tersabar selain cewek terberuntung. Menjadi pacar seorang yang populer dan punya banyak penggemar harus punya kesabaran lebih, apalagi saat menghadapi para penggemar Alvin yang tidak suka padanya, yang tentu saja tidak sedikit.
Meyra menoleh pada Michelle saat cewek itu kembali berteriak, kini Meyra malah menatap prihatin pada cewek itu. Meyra tidak bisa membayangkan berapa kali Michelle harus patah hati dan tersakiti jika cewek itu tetap ngotot ingin mendekati Alvin, Michelle bukan Nara yang sangat sabar.
"Michelle."
Michelle yang merasa pundaknya ditepuk lantas menoleh, satu alisnya terangkat.
"Ayo pulang," ajak Meyra.
Ekspresi semangat Michelle langsung berubah. "Padahal gue mau balik bareng Kak Alvin," ucapnya lesu.
Meyra menghela napas. "Tapi, Michel—"
"Iya, gue harus jauhin Kak Alvin sementara waktu, kan? Oke, ayo pulang. Lo udah dijemput?" Michelle beranjak sambil memakai ranselnya di punggung.
Meyra menatap Michelle yang merapikan rok dan seragamnya. "Lo pulang bareng gue aja ya?"
"Eh, nggak usah!" cegah Michelle langsung.
Tidak ada yang tahu kalau Michelle tinggal di rumah Alvin, bahkan Meyra yang kini dekat dengannya pun tidak tahu. Lagipula Michelle tidak ingin kebenaran itu diketahui teman sekolahnya, apalagi soal perjodohan.
"Kenapa?"
"Gu-gue... Udah pesen taksi, baru aja, iya, hehehe."
"Tapi bareng gue kan lebih enak, hemat waktu. Gue juga pengen tau di mana lo tinggal, biar bisa main."
"Jangan! Eh, maksudnya, gue nggak bisa bawa temen ke rumah." Michelle merutuki lidahnya yang tidak pandai berbohong setelah mengatakan kalimat itu.
Meyra menatap Michelle ragu, tapi untungnya cewek itu mengangguk percaya, membuat Michelle bisa menghela napas lega.
"Tapi kapan-kapan lo harus kasih tau di mana rumah lo, biar gue bisa main, oke?"
Michelle mengangguk ragu sambil tersenyum paksa. Ia tidak yakin kapan-kapannya itu kapan, tapi yang pasti bukan rumah Alvin yang akan Michelle tunjukkan pada Meyra.
"Ayo, jemputan gue udah dateng."
.
.
.
.
.
"Duluan ya, Michelle Cantikkk!"
Michelle melambaikan tangan pada Meyra yang sudah berada di dalam mobil, kaca mobil hitam itu tertutup saat mobil mulai memasuki jalan raya dan bergerak menjauh.
Michelle menghela napas lega, untungnya sifat kepo dan banyak tanya Meyra tidak sedang kumat tadi, ia tidak perlu repot dan pusing mencari jawaban kalau Meyra terus bertanya tentang di mana Michelle tinggal.
"Belum pulang, Michelle?"
Michelle terkejut sampai refleks bergeser, seorang cowok berjaket bomber duduk di sampingnya dengan senyuman tipis.
"Gue kira siapa, Raf," ujar Michelle sambil menghela napas. "Iya nih, jemputan gue belum dateng. Lo sendiri kenapa masih di sekolah?" jawabnya.
"Mau pulang, terus lihat lo di sini, jadi samperin dulu,"
Michelle terkekeh. "Ngapain? Udah pulang sana, habis ini taksi gue juga datang,"
Raffa manggut-manggut. Michelle kira cowok itu akan pamit pulang dulu, tapi ternyata Raffa malah bergeming di tempatnya.
"Bareng gue aja gimana?" tanya Raffa tiba-tiba.
Michelle menoleh. "Ah, nggak usah Raf, bentar lagi taksi gue dateng."
"Entar kesorean, Chel, udah sepi banget nih."
Michelle menggeleng. "Gue nggak mau ngerepotin, Raf. Gue denger rumah lo jauh, harusnya lo pulang duluan biar nggak kemalaman," jawab Michelle yang sebenarnya alasan, entah kenapa Michelle mulai tidak nyaman.
Raffa malah tersenyum, sialnya senyum itu terlihat sangat manis dan tulus hingga membuat Michelle tertegun. Michelle baru tertarik dari lamunannya saat mendengar suara sepeda motor berhenti di dekat halte.
Michelle tahu siapa pengendara motor itu bahkan sebelum kaca helm fullfacenya dibuka.
"Dibilang jangan di halte sendirian sampe sore malah ngeyel," ujar cowok berjaket hitam itu. "Naik."
Michelle mendelik. "Merem lo? Gua nggak sendirian!"
Raffa menoleh terkejut saat mendengar jawaban Michelle, pasalnya ia sangat kenal dengan cowok yang masih duduk di atas motor hitam itu.
Devis sempat melirik Raffa yang berdiri di samping Michelle sebelum perhatiannya kembali pada cewek berkuncir kuda itu.
"Lo tau kan berdua sama orang asing di tempat sepi itu bahaya?" tanya Devis.
"Siapa yang lo bilang orang asing? Raffa? Heh, dia temen sekelas gue! Lo lebih asing ya daripada Raffa!" Michelle berkacak pinggang.
Tepat setelah Michelle menyelesaikan kalimatnya, sebuah taksi berhenti di sisi jalan, membuat tiga remaja itu menoleh.
"Taksi lo, Al?" tanya Raffa.
Tatapan kesal Michelle berubah begitu cewek itu menoleh pada Raffa. "Iya nih, gue duluan ya?" pamitnya dengan nada lebih lembut, membuat Devis mendelik.
Michelle tersenyum pada Raffa sebelum meninggalkan halte, tapi senyumnya luntur begitu ia melewati Devis. Ketara sekali sorot kesal pada mata biru itu.
Kaca kiri taksi itu terbuka. "Dengan Mbak Michelle?" tanya supir taksi.
"Iya, saya Michelle," jawab Michelle, lalu masuk ke dalam taksi. "Gue duluan, Raf!"
Raffa tersenyum saat Michelle melambaikan tangan padanya, lalu senyumnya begitu cepat berubah setelah taksi yang ditumpangi Michelle menjauh.
Atensi Raffa baru teralih saat mendengar suara deheman, Devis masih duduk di atas motornya sambil menatap Raffa datar.
"Mau bersaing secara kalem atau secara sehat?" tanya Devis langsung.
Raffa hanya diam, entah karena pura-pura tidak mengerti atau memang tidak mengerti dengan apa yang Kakak kelasnya itu tanyakan.
Devis berdecak. "Kalau secara kalem sih gue oke aja, kalau ngajak secara sehat juga gue jabanin, kita olahraga. Atur waktu sama tempat aja, lama juga gue nggak mukul orang," ujar cowok itu, lalu menarik ujung bibirnya.