NovelToon NovelToon
Takdir Kejam Sang Duda

Takdir Kejam Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Balas Dendam
Popularitas:655
Nilai: 5
Nama Author: Giarty gia

"Dia sudah mati. Menangis sampai darah pun tidak akan mengembalikannya."

Di usia sebelas tahun, Freya Anindita kehilangan segalanya dalam kecelakaan maut. Di malam yang kelam itu, Galen Danendra menariknya dengan kejam dari jasad sang papa, lalu mengurungnya dalam sangkar emas atas nama wasiat dan harta peninggalan.

Tujuh tahun berlalu, takdir kembali mempermainkan mereka dengan cara yang lebih kejam. Istri Galen tewas dalam kecelakaan tragis saat hendak menjemput Freya pulang sekolah—sebuah fakta yang sama sekali tidak diketahui oleh Freya.

kini, menghadapi Galen yang telah menjelma menjadi seorang duda yang penuh dendam, Freya yang duduk di bangku kelas 3 SMA harus menelan pil pahit. Ia dituduh sebagai pembawa sial sejak kecil.

Di antara jerat rasa bersalah yang dipaksakan dan tatapan benci Galen yang kian mengintimidasi, mampukah Freya lolos dari takdir kejam sang duda?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Giarty gia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Bara Dalam Sunyi

***

Lengkingan bel sekolah berbunyi nyaring sebanyak tiga kali, memutus atmosfer kaku dari sisa pelajaran Matematika yang menguras otak dikelas XII IPA 1. 

Dalam sekejap, sorak-sorai kebebasan terdengar bergemuruh dari berbagai penjuru kelas saat para murid berhamburan keluar koridor. Tujuan mereka semua hanya satu: kantin utama SMA Pelita Bangsa yang terletak di paviliun tengah.

Di sudut kantin yang cukup teduh dibawah rindangnya pohon beringin, Freya, Rendy, dan Sella duduk melingkari sebuah meja kayu panjang. Di depan mereka masing-masing, sudah tersaji semangkuk soto ayam hangat yang kuah kuningnya masih mengepulkan uap panas yang menggugah selera. 

Aroma gurih kaldu ayam, taburan seledri, dan bawang goreng seketika menusuk indra penciuman, membuat perut mereka yang sempat melilit karena rumus limit tak hingga kini menuntut untuk segera diisi.

"Aduh, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan setelah lolos dari pembantaian Pak Bambang," Gurau Sella, langsung mengaduk soto ayamnya dengan antusias sebelum menyendok kuahnya yang segar.

Freya terkekeh pelan, mengambil sebotol kecap manis dan menuangkannya sedikit ke dalam mangkuk soto miliknya. Gadis remaja itu tampak sangat menawan di bawah bias cahaya matahari siang. Kulitnya yang bersih dan rambut hitamnya yang terurai bebas membuat beberapa pasang mata murid laki-laki dari kelas lain diam-diam mencuri pandang ke arah sudut meja mereka.

Setelah menuangkan kecap, jemari lentik Freya beralih meraih sebuah mangkuk kecil berisi sambal cabai rawit merah yang pekat di tengah meja. Dengan wajah tanpa dosa, Freya menyendok sambal tersebut dalam porsi yang cukup banyak—sendok kedua yang penuh—dan bersiap untuk menuangkannya ke dalam kuah sotonya agar berwarna merah membara.

Namun, tepat sebelum sendok berisi sambal itu mendarat di atas kuahnya, sebuah gerakan cepat menahan pergerakannya.

Tangan kekar Rendy yang hangat tiba-tiba bergerak maju, dengan lembut namun pasti mencengkram pergelangan tangan mungil Freya di udara. Rendy menggelengkan kepalanya pelan, menatap lurus kedalam sepasang mata bulat Freya dengan pandangan yang intens, teduh, dan penuh dengan nada melarang yang lembut.

"Cukup, Frey. Jangan ditambah lagi sambalnya”. Ucap Rendy, suaranya terdengar rendah, sangat manis namun memiliki ketegasan yang sarat akan perhatian.

Freya seketika menghentikan gerakannya, menatap sendok sambalnya yang tertahan di udara, lalu menoleh menatap wajah tampan Rendy dengan bibir ranum yang mendadak merengut cemberut karena kesal. 

"Ih, Rendy! Lepaskan tanganku. Aku baru taruh satu sendok kecil tadi. Kuah soto itu kalau tidak pedas rasanya kurang mantap tahu!". Protes Freya dengan nada cemprengnya yang menggemaskan, mencoba menarik pergelangan tangannya namun Rendy tetap menahannya dengan lembut.

"Satu sendok tadi sudah lebih dari cukup untuk ukuran perutmu, Cantik”. Balas Rendy dengan seulas senyum tipisnya yang teramat menawan, perlahan mengambil alih sendok sambal dari jemari Freya lalu mengembalikan mangkuk sambal itu ke tengah meja, menjauhkannya dari jangkauan Freya.

Rendy memajukan sedikit tubuh atletisnya di atas meja, menatap mata bulat Freya dengan tatapan so sweet yang begitu dalam hingga sanggup membuat jantung gadis mana pun langsung meleleh di tempat. 

"Aku tidak mau ya, melihat mata indahmu itu menangis kesakitan lagi di UKS hanya karena keras kepala menuruti lidahmu. Kuah soto yang kuning ini sudah manis kok... sama seperti yang sedang menatapku sekarang."

"Uhuk! Uhuk!". Sella yang sedang asyik mengunyah soto seketika tersedak hebat mendengar gombalan maut yang meluncur mulus dari mulut Rendy. 

Gadis berambut pendek itu buru-buru meminum es teh manisnya sampai tandas, lalu menepuk dadanya sembari tertawa heboh.

"Duh, tolong ya, Rendy Sebastian! Kalau mau menyuapi Freya dengan gula, tolong sediakan insulin untukku!". Goda Sella sembari tertawa jahil, menyenggol lengan Freya yang kini wajahnya sudah berubah menjadi merah padam seputih tomat matang akibat gombalan Rendy di depan umum.

"Tapi kali ini gue seratus persen setuju dengan Rendy, Frey!". Lanjut Sella, merubah raut wajahnya menjadi sedikit serius namun tetap santai. "Lo itu punya riwayat penyakit asam lambung, Freya Anindita. Ingat gak Lo, bulan lalu perut Lo melilit sampai pingsan di kelas hanya karena nekat makan keripik setan level lima? Jangan cari penyakit deh, nanti kalau lambung Lo luka lagi bagaimana?".

Mendapat pembelaan ganda dari Sella dan Rendy, Freya hanya bisa menghembuskan napas panjang dengan pasrah. Bahunya merosot turun. Meskipun bibirnya masih merengut cemberut menatap mangkuk sotonya yang kurang merah, di dalam lubuk hati kecilnya, sebuah letupan kehangatan yang luar biasa manis menjalar deras memenuhi rongga dadanya. 

Perhatian Rendy yang begitu tulus dan detail tentang kesehatannya terasa seperti oase yang menyejukkan batinnya yang selama ini selalu dihantui oleh ketakutan dirumah Danendra.

"Iya, iya... aku menurut. Tidak pakai sambal lagi". Gumam Freya lirih dengan sisa cemberutnya, akhirnya meraih sendok dan mulai mengaduk sotonya yang berwarna kuning standar.

Melihat kepatuhan Freya yang terpaksa namun manis tersebut, seulas senyum kemenangan yang teramat lebar dan bahagia terukir di wajah tampan Rendy. Cowok populer itu tampak sangat senang karena berhasil melindungi gadis yang ia sukai. Rendy meraih sebuah kerupuk putih dari dalam kaleng di meja, membukanya, lalu meletakkannya di atas piring kecil Freya dengan gerakan yang sangat perhatian.

"Anak pintar. Dimakan kerupuknya ya, biar sotonya tetap ramai meskipun tidak pedas”. Tutur Rendy lembut, melayangkan kedipan mata jahil yang sukses membuat Freya menundukkan kepala dalam-dalam demi menyembunyikan senyum malunya yang tak lagi bisa ia tahan.

Namun, di tengah-tengah interaksi manis, penuh tawa, dan perhatian romantis yang tercipta di sudut meja mereka, atmosfer di sekeliling kantin utama sekolah mendadak berubah menjadi riuh oleh kasak-kusuk. 

Lagi-lagi, suara bisik-bisik dari puluhan murid lain yang sedang mengantri makanan menggema, saling bersahutan menatap ke arah kedekatan Freya dan Rendy.

"Eh, lihat deh... Rendy perhatian banget ya sama Freya? Sampai melarang makan sambal segala, romantis banget!". Bisik seorang siswi kelas XI dari meja seberang.

"Iya, ya ampun! Tatapan mata Rendy ke Freya itu lho, dalam banget! Fix sih ini mah mereka berdua pacaran, cuma belum di-publish saja!". Sahut temannya dengan wajah gemas.

"Gila, beruntung banget ya jadi Freya. Sudah pintar, cantik, pacarannya sama cowok se-cool Rendy pula. Pasangan paling serasi tahun ini di sekolah kita!". Timpal seorang siswa dari tim futsal ikut memberikan komentar kagum melihat kebersamaan mereka.

Suara desas-desus penuh kekaguman dari seisi kantin itu terus berdengung, mengunci posisi Freya dan Rendy sebagai pusat perhatian utama di siang yang terik itu. 

Freya mencoba mengabaikan bisikan-bisikan tersebut sembari menyuap soto ayamnya dengan perlahan. Ia membiarkan kehangatan masa remaja yang indah ini memeluk jiwanya sejenak, merasakan sedikit ketenangan yang teramat langka.

***

Sementara itu, dilantai 40 gedung pencakar langit Danendra Group, pintu ruang rapat eksekutif yang kedap suara akhirnya terbuka. 

Setelah membubarkan rapat direksi beberapa jam lalu, Galen Danendra terpaksa harus kembali memimpin jalannya diskusi darurat mengenai laporan keuangan kuartal kedua yang sempat tertunda.

Wajah tampan milik sang CEO muda berusia dua puluh sembilan tahun itu tampak terlihat lelah. Guratan ketegangan tercetak jelas di keningnya yang berkerut dalam. Setelan kemeja formal berwarna biru navy yang melekat di tubuh tegapnya kini tampak sedikit kusut di bagian lengan karena berulang kali digulung kasar menahan emosi.

Galen melangkah lebar menyusuri lorong marmer yang sunyi, menuju ruang kerja pribadi CEO miliknya. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat, ia menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesaran di balik meja jati raksasa.

Tok, tok, tok.

Suara ketukan pintu yang teratur memecah kesunyian ruangan. Pintu terbuka pelan, menampilkan sosok asisten pribadinya yang berusia tiga puluh tiga tahun. Pria berkacamata itu melangkah masuk dengan memegang sebuah tablet kerja, memasang postur tegap yang sangat profesional didepan atasannya.

"Permisi, Tuan Galen”. Ucap Ferdi dengan nada suara yang tertata rapi dan formal. "Mohon maaf mengganggu waktu istirahat Tuan. Saya ingin melaporkan bahwa seluruh rangkaian rapat koordinasi internal hari ini telah selesai dicatat oleh tim sekretariat."

Galen menyandarkan punggung kokohnya pada sandaran kursi, menatap asistennya dari balik sepasang mata elangnya yang tajam dan sedingin es. 

“Bagaimana dengan revisi data dari divisi pemasaran?". Tanya Galen, suaranya terdengar bariton rendah, berat, dan tanpa ekspresi.

"Semuanya sudah diperbaiki sesuai instruksi dari anda tadi pagi, Tuan. Berkas digitalnya sudah saya kirimkan ke email pribadi anda untuk ditinjau ulang”. Jawab Ferdi dengan sigap. Ia menggeser layar tabletnya sebelum kembali melanjutkan laporannya.

"Lalu untuk agenda selanjutnya, saya ingin mengingatkan bahwa pukul lima sore nanti, anda memiliki jadwal pertemuan penting dengan pihak Vanguard Holdings. Klien penting kita dari Singapura sudah mengonfirmasi kehadiran mereka. Pertemuan akan dilaksanakan di Restoran The Peak, ruang VIP nomor tiga."

Galen terdiam sesaat. Tatapan elangnya sempat terpaku pada dokumen di atas mejanya, sebelum akhirnya ia memberikan anggukan kepala yang sangat tipis kaku.

"Hubungi pihak restoran. Pastikan pengamanan di area VIP diperketat, aku tidak mau ada gangguan dari awak media atau pihak luar saat negosiasi kontrak berlangsung". Perintah Galen dengan nada dingin dan lugas, memancarkan otoritas seorang pemimpin raksasa bisnis yang mutlak.

"Baik, Tuan. Sudah saya pastikan semuanya aman sesuai dengan standar operasional yang Tuan Galen inginkan. Mobil dan pengawal juga sudah bersiap di lobi untuk mengantar Tuan nanti”. Tutur sang asisten, menunduk takzim memberikan penghormatan terakhir. "Jika tidak ada instruksi tambahan lagi, saya izin pamit ke meja depan untuk mempersiapkan berkas fisiknya, Tuan."

Galen hanya mengeluarkan suara berdehem singkat dari balik tenggorokannya yang dalam. 

"Ehm. Keluar."

"Baik, Tua."

Cklek.

Pintu ruang kerja pribadi CEO kembali tertutup rapat, menyisakan kesunyian yang teramat berat dan mencekam didalam ruangan tersebut.

Begitu sosok Ferdi menghilang, Galen perlahan menurunkan pandangannya. Jemarinya bergerak memijat pelipisnya yang terasa berdenyut, seolah-olah seluruh urat saraf dikepalanya sedang ditarik kencang. Ia melepaskan dasinya secara kasar, melemparkannya ke atas meja hingga bergeser menabrak laptopnya.

Meskipun laporan dari Ferdi baru saja selesai disampaikan dengan sangat rapi, dan meskipun agenda bisnis bernilai miliaran rupiah sudah menunggunya dalam hitungan jam, pikiran dewasanya sama sekali tidak berada didalam ruangan tersebut. Logikanya hari ini telah mati total—lumpuh berantakan akibat satu gangguan yang tidak masuk akal.

Pikiran Galen masih terus melayang, melesat liar membelah jarak, tertuju sepenuhnya pada sosok gadis remaja berseragam SMA—Freya Anindita.

Bayangan tentang bagaimana tangan Freya melingkar erat memeluk perut teman laki-laki sekolahnya di atas motor pagi tadi kembali berputar di kepalanya, memercikkan amarah yang membakar rongga dadanya. 

"Sialan!". Galen mengumpat, meremas pinggiran meja hingga buku-buku jarinya memutih.. 

Rasa tidak rela yang teramat pekat mencengkeram hatinya, menolak mentah-mentah kenyataan bahwa sang peliharaan kecil yang harusnya membusuk dibawah rasa bersalah atas kematian istrinya, kini justru bisa tersenyum lepas diluar sana bersama pria lain.

Didalam ruangan yang ber-AC itu, hawa amarah kejam milik sang duda kian memuncak, merumuskan sebuah takdir hukuman yang jauh lebih mengerikan yang siap ia tumpahkan saat Freya menginjakkan kaki dirumah mereka nanti. 

***

1
Giarty gia
❤️❤️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!