NovelToon NovelToon
The Reasons

The Reasons

Status: tamat
Genre:Angst / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di balik gemerlapnya Los Angeles, Lara Giger (24) terjebak dalam neraka pernikahan bersama suaminya yang posesif dan manipulatif, Billy Davidson (29). Setiap malam tubuhnya disiksa, namun Lara memilih pasrah.
Alih-alih melarikan diri, Lara memilih bertahan di bawah siksaan suaminya demi menghindari caci maki keluarga besarnya yang sejak lama melabelinya sebagai "Anak Sial" dan pembawa petaka jika ia bercerai.

Namun, rahasia masa lalu perlahan mengusik belenggu pernikahan itu.

Di universitas tempatnya belajar, Lara harus berhadapan dengan Darion Vale Knight (25), dosen hukum muda sekaligus pria masa lalu yang memegang komitmen dengannya.

Darion, yang menyadari luka-luka fisik dan batin Lara, bertekad menggunakan keadilan hukum untuk membebaskannya. Sementara itu, Lara terus berjuang mendorong Darion menjauh demi melindunginya dari "kesialan" dirinya.

Di antara jeratan obsesi kejam sang suami dan perlindungan tulus sang mantan kekasih, mampukah Lara merobek sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#16

Sinar matahari pagi yang menembus tirai tipis ruang VVIP St. Jude Memorial Hospital tidak mampu mengikis sisa-sisa trauma yang menyelimuti ruangan itu. Aroma cairan antiseptik, bunga lily putih di sudut meja, dan detak konstan dari monitor jantung menjadi latar belakang keheningan yang tenang—sebuah ketenangan yang teramat mahal bagi Lara Giger.

Di atas ranjang, Lara terbaring berbalut pakaian pasien berwarna biru muda. Memar di wajahnya yang semula berwarna kebiruan gelap kini perlahan bergeser menjadi ungu kehidung-hidungan.

Walau rasa nyeri masih menusuk-nusuk di area tulang rusuknya setiap kali ia mengembuskan napas terlalu dalam, binar matanya tidak lagi memancarkan ketakutan. Ada kedamaian yang asing namun menenangkan di dalam dadanya.

Darion tetap setia duduk di samping ranjang. Pria itu belum menanggalkan kemeja lamanya, hanya melipat lengannya hingga siku. Matanya yang kelelahan menatap Lara dengan pendar protektif yang tak pernah padam.

Tangannya tak pernah sekalipun benar-benar melepaskan genggaman lembut dari jemari Lara, seolah memastikan wanita itu tidak akan menguap menjadi bayangan jika ia melepaskannya.

Ketukan pelan di pintu kayu tebal memecahkan keheningan itu.

Pintu terdorong terbuka perlahan. Dua sosok berjalan masuk dengan langkah tergesa namun berhati-hati.

Mereka adalah Mommy Suzzy dan Daddy Kaelor—orang tua Darion.

Suzzy Stone-Knight, seorang wanita paruh baya dengan keanggunan yang alami, seketika menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu.

Tangannya menutup mulutnya sendiri saat pandangannya jatuh pada sosok Lara yang terbaring lemah dengan wajah penuh balutan kasa dan lebam.

"Oh, Tuhan... Lara..." bisik Suzzy dengan suara yang langsung pecah oleh isak tangis.

Air mata Suzzy menetes tanpa bisa ditahan lagi. Tanpa memedulikan tas tangannya yang jatuh ke lantai, wanita itu berlari kecil mendekati ranjang. Ia berlutut di sisi lain tempat tidur, memeluk tubuh mungil Lara dengan teramat sangat hati-hati, seolah takut jika sentuhannya akan meremukkan tulang-tulang Lara yang rapuh.

"Anakku... kasihan sekali kau, Nak..." bisik Suzzy di sela-sela tangisnya yang membuncah. Ia menciumi puncak kepala Lara, mengelus rambut panjang Lara yang terurai di atas bantal dengan kepenuhan kasih sayang seorang ibu murni. "Maafkan Mommy... maafkan kami karena tidak berada di sisimu lebih cepat... Maafkan kami yang membiarkanmu menderita di tangan pria itu..."

Lara tertegun sejenak. Rasa hangat yang amat asing membanjiri dadanya, membuat matanya yang panas ikut menggenang oleh air mata.

Sepanjang hidupnya, ia tidak pernah merasakan pelukan seorang ibu yang begitu tulus menangisi rasa sakitnya. Ayahnya sendiri dan keluarga besarnya selalu menganggap setiap penderitaannya sebagai 'karma' atas julukan anak sial yang melekat padanya.

Namun di sini, wanita yang tidak memiliki hubungan darah dengannya justru menangis sesenggukan, meratapi luka-lukanya seolah rasa sakit itu menancap di dadanya sendiri.

"Mommy..." bisik Lara, suaranya masih parau dan terputus-putus. Keduanya saling menatap, dan dengan sisa tenaga yang ada, Lara membalas cengkeraman tangan Suzzy. "Jangan menangis... Aku... aku baik-baik saja sekarang..."

"Bagaimana bisa kau bilang baik-baik saja dengan keadaan seperti ini, sayang?" pangkas Suzzy lembut, mengusap air mata di pipi Lara yang tidak tertutup perban. "Pria bajingan itu benar-benar tidak punya hati! Dia harus membusuk di penjara selamanya!"

Di belakang Suzzy, Kaelor Vale-Knight berdiri tegak.

Pria berambut perak dengan garis wajah tegas itu menatap Lara dengan pandangan mata yang berat dan penuh keprihatinan mendalam. Kaelor melangkah mendekat, meletakkan tangannya yang besar dan hangat di atas dahi Lara, menepuknya pelan dengan pendar kasih sayang seorang ayah yang pelindung.

"Kau sudah aman sekarang, Lara," ucap Kaelor dengan suara baritonnya yang tenang namun mantap, memberikan rasa aman yang instan di dalam ruangan. "Tidak akan ada lagi yang bisa menyentuhmu atau menyakitimu. Aku dan Darion sudah memastikan bahwa Billy Davidson tidak akan pernah melihat matahari bebas dalam waktu yang sangat lama."

Lara mendongak, menatap Kaelor dan Suzzy bergantian. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipinya yang memar. Bukan air mata kesakitan, melainkan air mata keharuan atas perlindungan dan cinta murni yang akhirnya ia dapatkan setelah bertahun-tahun hidup di dalam penjara trauma.

"Terima kasih... Daddy... Mommy..." tutur Lara pelan, menyunggingkan senyuman tipis di balik bibirnya yang pecah. "Terima kasih karena... selalu percaya padaku..."

Darion memperhatikan interaksi itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Rasa bersalah yang sempat membebani hatinya perlahan terangkat saat melihat orang tuanya memberikan dekapan hangat yang selama ini amat dibutuhkan oleh Lara.

Pria itu berdiri perlahan dari kursinya, menatap wajah Lara yang kini terlihat jauh lebih tenang di tengah pelukan ibunya.

Darion melangkah mendekati sisi tempat tidur Lara, berlutut tepat di samping Suzzy. Pria itu mengambil kembali tangan kanan Lara, mengecup punggung jemari yang dingin itu dengan ketenangan yang mantap dan khidmat.

Di hadapan kedua orang tuanya yang menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, Darion menatap lurus ke dalam manik mata Lara—menatap jauh ke dalam jiwa wanita yang telah mencuri hatinya sejak bertahun-tahun lalu.

"Lara," panggil Darion dengan suara yang rendah, namun sarat akan keteguhan janji yang tak akan pernah goyah oleh waktu. "Aku tidak berada di sisimu ketika neraka itu dimulai dua tahun lalu. Aku membiarkanmu bertarung sendirian dalam kegelapan... dan itu adalah penyesalan terbesar dalam hidupku."

Lara menatap Darion tanpa berkedip, mendengarkan setiap patah kata yang keluar dari bibir pria yang menjadi penyelamatnya.

"Tapi di depan Mommy dan Daddy... di depan Tuhan yang menyembuhkan lukamu..." Darion mengencangkan genggaman tangannya, menyatukan jemarinya dengan jemari Lara.

"Aku bersumpah demi nyawaku sendiri, aku akan menjagamu setelah ini. Aku akan menjadi bentengmu, pelindungmu, dan tempatmu pulang. Tidak ada lagi ketakutan, tidak ada lagi KDRT, dan tidak akan ada lagi air mata kesakitan dalam hidupmu. Aku akan mendedikasikan seluruh hidupku untuk memulihkan kebahagiaanmu yang sempat dirampas."

Suzzy mengangguk pelan di samping mereka, mengusap air matanya dengan sapu tangan sembari tersenyum haru menyaksikan sumpah suci putranya. Kaelor menepuk bahu Darion dengan bangga, menyetujui setiap kata yang diucapkan oleh putranya.

Lara merasakan gelombang kehangatan yang luar biasa menjalar ke seluruh pembuluh darahnya. Sumpah Darion bukan sekadar janji manis manis di bibir; ia bisa merasakan getaran ketulusan dan ketegasan murni dari pria yang selalu berdiri di sudut memorinya sebagai cinta pertama yang tak pernah padam.

Di dalam ruang rawat yang sunyi itu, di antara dekapan hangat Mommy Suzzy, perlindungan tegas Daddy Kaelor, dan sumpah mati dari Darion Vale-Knight, Lara Giger akhirnya sadar: rantai kegelapan dalam hidupnya telah benar-benar patah.

Babak baru dalam kehidupannya yang penuh kebebasan, pemulihan, dan cinta sejati baru saja dimulai.

1
Mita Paramita
jangan seneng dan bahagia dulu lara🫣 mungkin aja nanti Billy kabur dari penjara terus menculik dan memisahkan lara & dorian🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: kak reader paling bisa deh🤭🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Takut banget billy kabur, trus menyakiti lara,, 😬
FoxVault
Cerita nya sangat seru kak 😁
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak🥰
total 1 replies
Mia Camelia
kenapa kisah cinta keluarga knight selalu ber liku liku berkelok kelok meliuk liuk🤔🤔🤔
jadi gemes nih baca nya thor
Rosdianah 🌷: hihihi maaf ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
keluarga knight , sukses semua ya thor...
ada pebinis, pembalap, doesen muda🥰🥰🥰kalo ini ada di dunia nyata, pasti sempurna banget nih🤔😄
Rosdianah 🌷: Lancar halu Author 🤣
total 1 replies
Mia Camelia
jangan2 billy punya 2 kepribadian kali nih🤔🤔🤔masa gampang banget berubah2 nya🤣🤣🤣haduh kasian lara😔
Rosdianah 🌷: huhuhu🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ya ampun ini kejam sekali billy😂😂😂
Rosdianah 🌷: Modal gampar🥲
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!