Violet adalah gadis desa yang diusir oleh pacar setelah melahirkan bayinya, dia yang Luntang lantung dijalan tepaksa menjadi ibu susu seorang CEO tampan yang mendapatkan kutukan. Ternyata CEO itu adalah paman dari mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3.
"Tenanglah! Walaupun semua pengusaha itu licik, tapi aku tidak sepicik itu membohongi orang. Apalagi gadis lugu dan bodoh sepertimu. Sepertinya sekarang aku meragukan kepintaran mu di sekolah," papar Romeo seraya terus menghisap ASI milik Violet.
Dia tidak menyangka, rasanya akan seenak ini.
Romeo terus berbicara agar Violet sendiri merasa tidak canggung.
Karena bagaimana pun juga, Romeo tahu.
Ini adalah pengalaman pertama untuk Violet.
Violet terus membicarakan masa lalunya dengan Felix pada Romeo.
Sebenarnya Romeo tidak ingin peduli, tapi ntah kenapa hatinya merasa tersentuh dengan cerita sedih yang barusan diceritakan oleh Violet.
Sejak dulu, Romeo tidak pernah berinteraksi secara intens dengan lawan jenis.
Kecuali cinta pertamanya.
Dengan mantan istrinya saja yang memberikan dirinya kutukan, dia juga jauh.
Berkontak fisik hanya saat malam kelam itu, karena mabuk dan diberi obat perang sang.
Setelah kejadian itu, baik Romeo maupun Juliet kembali jauh.
Bahkan sampai ajal menjemput Juliet saat kecelakaan.
Dia dan istrinya itu tetap juga tidak pernah melakukan kontak fisik layaknya suami istri.
Alasannya karena Romeo memang tidak pernah dekat dengan lawan jenis dan didikannya sejak kecil untuk menjadi pewaris utama.
Tidak diperbolehkan untuk melibatkan perasaan.
"Jika nanti Felix memintamu kembali? Apa yang akan kamu lakukan?"
Pertanyaan dari Romeo langsung membuat Violet menghentikan ceritanya.
"Aku ... " Jawab Violet ragu.
"Kenapa ragu, tinggal jawab saja," titah Romeo mengganti untuk menghisap satunya.
Setiap percakapan yang dilakukan oleh Romeo dan Violet, membuat Violet tidak sadar.
Jika ASInya sedari tadi sedang dihisap dengan kuat.
Bahkan habis tak tersisa.
Selain cerdas menjadi kepala keluarga besar Handoyo untuk mengurus berapa bisnis, Romeo juga sangat pandai untuk mengontrol emosi dan juga mengendalikan situasi.
"Apa jangan-jangan. Kamu mau kembali kepada Felix jika dia memintanya," tebak Romeo.
Kedua tangan Violet tanpa sadar terkepal, mengingat tatapan kebencian yang sebelumnya ditunjukkan oleh Felix sebelum mengusirnya.
"Gak, gak bakalan saya kembali padanya. Bahkan jika suatu saat Felix menggunakan anak itu untuk membuatku kembali. Aku ... Tidak akan pernah mengubah keputusanku," jelas Violet serius.
Walaupun ada tatapan kesedihan yang ditunjukkan dari kedua bola matanya yang cantik.
"Besok aku akan membawamu kembali ke SMA Taruna! Aku tahu semua indentitas pribadi mu dan semua nilai akademik mu."
"Aku yakin, 3 bulan sebelum ujian kelulusan. Cukup untuk mengganti waktu 6 bulan kamu resign saat hamil dan melahirkan," jelas Romeo seraya menjauhkan tubuh Violet perlahan.
Bahkan sikap Romeo yang sebelumnya kasar, sekarang lebih lembut.
"Apa?" Violet syok.
"Kembali ke SMA Taruna?"
"Ini gak mungkin?"
Violet merasa jika ucapan Romeo tidak masuk akal.
"Tuan jangan bercanda," kata Violet tidak percaya.
Romeo hanya tersenyum tipis.
Tatapannya terus menatap ke arah dada Violet.
Violet yang sadar buru-buru membenahi dadanya dan merapikan bajunya.
"Iya, aku serius. Tidak ada yang tidak mungkin dengan uang dan kekuasaan. Tadi-kan kamu meragukan aku, kamu mengatakan bisa saja aku seperti Felix dan keluarganya. Membohongimu dan merugikan mu, tenang saja. Aku tetap akan membayar orang yang bekerja padaku, bahkan jika hasil sesuai aku akan memberikan bonus," jelas Romeo dengan wajah serius.
Romeo akui, setelah 15 menit meminum ASI milik Violet, dia merasa tenaganya pulih.
Bahkan tubuhnya terasa begitu segar.
Setelah minum ASI Violet, Romeo merasakan perubahan drastis dalam tubuhnya.
Energinya yang sempat terkuras pasca-kecelakaan kini bangkit kembali, seolah mendapat suntikan semangat baru.
Dia terheran-heran, memegang dada sendiri, merasakan detak jantung yang kembali stabil.
Romeo merenggangkan otot-ototnya yang sebelumnya terasa kaku.
Setiap gerakan yang dilakukannya kini terasa lebih ringan, seolah rantai yang selama ini mengikatnya telah lepas.
Dia mendorong kursi rodanya ke jendela, menatap langit yang cerah, merenungkan perubahan ajaib yang baru saja dia alami.
"Pantas saja," bisiknya, "semua ramuan mahal itu tidak ada yang bisa menyamai ini."
Romeo menghela napas, mengingat berbagai upaya yang telah ia lakukan untuk memulihkan kondisinya, termasuk mengkonsumsi beberapa ramuan bagaikan ada sebuah ramuan eksklusif yang diimpor langsung dari China dengan harga fantastis. Sekitar ratusan miliar.
Namun, semua itu tak ada yang membuahkan hasil seperti yang dia rasakan saat ini.
Dia menoleh ke arah Violet yang sedang termenung diatas ranjang.
Gadis itu tampak biasa saja, tanpa menyadari betapa besar pengaruhnya pada kehidupan Romeo.
"Apakah kutukan karma itu benar?" gumam Romeo lagi dalam hati.
"Jika memang benar, maka dia... gadis ini, adalah kunci penyelamatan hidupku."
Perasaan terima kasih yang mendalam mulai tumbuh di dada Romeo, seiring dengan kesadaran baru tentang betapa berharganya keberadaan Violet di hidupnya.
Dia mendorong kembali kursi rodanya mendekat, lalu kembali bertanya, "bagaimana besok kalau kamu mulai berangkat ke sekolah?"
"Aku .... " Violet masih ragu.
"Apakah tubuhmu belum pulih pasca melahirkan?"
Violet buru-buru menggeleng.
"Baiklah, besok aku mau kembali ke sekolah. Dan aku menarik lagi semua kata-kata ku tadi soal meragukan mu. Aku mulai percaya padamu," kata Violet jujur.
Dia menengadahkan wajahnya untuk menatap ke arah kedua bola mata Romeo.
Membuat kedua bola mata keduanya saling tatap.
Romeo buru-buru memutus pandangannya.
Romeo sedikit merasa aneh dengan hatinya, ada perasan menggelitik yang sulit diungkapkan.
Tapi Romeo segera menepis perasaan aneh itu.
Mengingat tidak mungkin dia mempunyai perasaan pada orang asing.
Orang yang menyandang sebagai cinta pertamanya, tidak serta merta langsung mendapatkan cintanya setelah pertama kali bertemu.
"Jangan terlalu mempercayaiku. Aku tidak sebaik itu," kata Romeo.
"Tapi aku hanya memberikan ASI ku. Dan kamu ... Besok mau membuatku kembali ke sekolah, dan satu lagi. Selain ayahku, kamu satu-satunya orang yang mempercayaiku tanpa syarat," jelas Violet lagi.
Romeo akhirnya sadar, betapa polos dan lugunya Violet. Makanya memiliki IQ diatas 130 tapi bisa dibodohi dengan mudah, pikir Romeo dalam benaknya.
"Oke ... Lebih baik sekarang kamu tidur. Besok pagi asisten pribadiku akan mengantarmu pergi ke sekolah." Romeo tanpa sadar ingin mengelus-elus pucuk kepala Violet.
Tapi dia sadar, seharusnya hal itu tidak terjadi.
Akhirnya dia mengurungkan niatnya. Membuat tangannya itu tergantung di udara.
"Terimakasih Tuan Meo," sahut Violet dengan senyuman manis.
Romeo tanpa sadar memperhatikan wajah Violet begitu lekat.
Akhirnya dia menyadari. Jika Violet adalah gadis yang sangat cantik, bahkan belum pernah dia melihat wajah tanpa riasan yang cantik, bahkan memiliki kulit yang seputih dan juga sehalus milik Violet.
"Tadi kamu memanggilku apa?" tanya Romeo dengan suara rendah. Bahkan tatapannya sekarang terlihat aneh, sedikit mesum.