Ditinggalkan tanpa harta yang sebenarnya adalah haknya, membuat Shella tidak mempunyai apapun, tapi siapa sangka, dia malah di dekati oleh pria yang lebih berkuasa dari suami lama nya, yang sudah ditemani nya sejak NOL..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Pipin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manis coklat atau sayanya?
"Pagi, Pak Anto..." sapa Shella ceria begitu menginjakkan kaki di area dapur belakang.
"Pagi, Shella. Wah, kamu datang awal sekali hari ini," puji Pak Anto, manajer operasional restoran, sambil tersenyum ramah.
"Iya dong, Pak!" jawab Shella bangga, menepuk dadanya sedikit pongah.
Dalam hati, Shella merapalkan mantra: 'Tentu saja aku harus datang pagi. Aku tidak mau memberi celah sedikit pun bagi si Bos Pelangi itu untuk memecatku gila-gilaan!'
Pak Anto tampak melihat papan jalan di tangannya, lalu menatap Shella dengan binar cerah seolah baru saja menemukan malaikat penolong.
"Oh iya, Shella. Kebetulan hari ini Pak Reygan ada keperluan mendesak untuk survei lokasi restoran baru yang mau buka. Biasanya dia membawa Susi, sekretaris magangnya, tapi Susi mendadak izin sakit hari ini. Kamu... bisa menggantikannya menjadi asisten Pak Reygan seharian ini?"
JLEB.
Senyum bangga di wajah Shella langsung membeku. "Hah? S-Saya, Pak? Menemani Tuan Besar?"
Belum sempat Shella mencari alasan untuk kabur, suara dehaman berat yang sangat familier terdengar dari arah pintu masuk dapur.
"Anto, mana Susi? Mobil sudah si—"
Kalimat Reygan terputus di udara. Pria jangkung dengan setelan kemeja kasual yang digulung sampai siku itu langsung mengerem mendadak. Matanya melotot, menatap Shella yang hari ini mengenakan celana jins dan kaus polo hitam seragam restoran.
"Kenapa babu cuci piring ini yang berdiri di sini?" tanya Reygan ketus, jarinya menunjuk tepat ke arah hidung Shella.
"Maaf, Pak. Susi sakit. Jadi hari ini Shella yang akan menemani Bapak survei lapangan," jawab Pak Anto tanpa dosa.
Reygan memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Sementara Shella, diam-diam menyunggingkan senyum mengejek yang sangat tipis, seolah menantang eksistensi pria itu.
Begitu mereka berdua masuk ke dalam mobil SUV mewah milik Reygan, atmosfer langsung berubah menjadi dingin selevel kutub utara. Reygan yang menyetir sendiri, sesekali melirik Shella dari kaca spion tengah dengan tatapan licik.
'Awas kamu ya. Kemarin berani menginjak kakiku dan mengatai aku belok? Hari ini kamu kena batunya. Akan kubuat kamu kelelahan membawa tas sampel, jalan kaki kepanasan, sampai kamu memohon-mohon minta ampun padaku!' Batin Liciknya.
"Heh, Ibu-Ibu," panggil Reygan sengaja memicu perang. "Hari ini kita mau survei menu dan konsep di beberapa restoran kompetitor kelas atas di area SCBD. Tugasmu adalah mencatat dan membawa semua berkas. Jangan sampai ada yang lecet, paham?"
"Paham, Baginda Raja yang hobi adu pedang," sahut Shella pelan namun mematikan.
"Kamu bilang apa?!"
"Tidak, Pak. Saya bilang, saya paham," senyum Shella, luar biasa manis tapi matanya memancarkan keinginan untuk menenggelamkan Reygan ke laut.
Reygan sengaja membawa Shella ke sebuah restoran fine dining bergaya Prancis yang terkenal sangat elit dan intimidatif bagi orang awam. Reygan mengira Shella akan minder, gemetar melihat garpu yang berderet banyak, atau kebingungan membaca menu berbahasa Prancis.
Namun, ekspektasi Reygan patah total.
Begitu pelayan mengantarkan hidangan Escargot dan Wagyu Rossini, Shella dengan sangat anggun—secara refleks yang terlatih selama 5 tahun menjadi istri sosialita—meraih pisau dan garpu dengan posisi yang benar. Tidak ada kecanggungan sama sekali.
"Plating-nya terlalu penuh untuk konsep minimalis," ujar Shella tiba-tiba, memotong daging dengan keahlian tingkat dewa.
Ia menyesap sedikit saus di ujung garpunya, lalu bergumam, "Saus truffle-nya terlalu dominan, menutupi rasa asli dagingnya. Dan mereka memakai mentega murah untuk menumis jamurnya, bukan gourmet butter. Restoran Bapak kalau mau buka cabang baru, jangan pakai vendor saus yang sama dengan tempat ini. Selera pasar SCBD itu sensitif."
Reygan yang baru saja menyuap makanan langsung tersedak. Ia menurunkan garpunya, menatap Shella dengan pandangan tidak percaya. Kalimat analisis Shella barusan... bahkan jauh lebih tajam dan akurat daripada hasil analisis tim risetnya bulan lalu!
"Kamu... tahu dari mana soal rasa mentega gourmet?" tanya Reygan, matanya menatap Shella dalam-dalam.
"Saya?" Shella tersadar dari mode masa lalunya. Ia berdeham canggung, mencoba kembali ke mode miskin. "Ah... itu, saya kan sering menonton kompetisi memasak di televisi, Pak! Hehe. Kebetulan ingatan saya tajam."
Reygan terdiam. Ia memperhatikan cara Shella mengunyah, cara wanita itu menyeka sudut bibirnya dengan tisu—semuanya memancarkan aura keanggunan yang sangat berkelas. Benar-benar tidak cocok dengan predikat "tukang cuci piring". Ada sebersit kekaguman yang mendadak menyusup ke dalam hati Reygan, membuat dadanya berdesir aneh.
Setelah selesai makan, mereka berjalan keluar menuju area parkir. Di dekat lobi Restoran, ada sebuah stan pencuci mulut yang menyediakan stroberi celup cokelat premium gratis untuk para tamu.
Shella yang dasarnya pencinta makanan manis, langsung mengambil satu tusuk dengan mata berbinar-binar. "Wah, ini stroberi impor!"
Karena terlalu bersemangat menggigit buah besar itu, lelehan cokelat cairnya tanpa sengaja menetes dan menempel di sudut bibir sebelah kanan Shella.
"Ah, dasar ceroboh," gumam Reygan.
Bukannya memberi tisu, tubuh Reygan bergerak sendiri karena dorongan aneh di kepalanya. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga Shella bisa mencium aroma parfum wood and amber milik Reygan yang sangat maskulin.
DEG.
Shella membeku saat rentangan tangan Reygan mengunci pergerakannya. Jantung Shella mendadak berdegup kencang secara tidak beraturan.
Perlahan, ibu jari Reygan yang hangat menyentuh sudut bibir Shella, mengusap noda cokelat di sana dengan gerakan yang sangat lembut—sangat bertolak belakang dengan sifat kasarnya selama ini. Netra pekat Reygan mengunci pandangan mata Shella, menatap bibir ranum itu selama beberapa detik yang terasa berjalan sangat lambat.
Aura Tom and Jerry di antara mereka mendadak menguap, digantikan oleh ketegangan romantis yang membuat wajah Shella seketika memerah padam seperti kepiting rebus.
Reygan berdeham pelan, baru tersadar dari aksi nekatnya. Ia menarik tangannya kembali, lalu menjilat ujung jarinya yang terkena cokelat tadi dengan gaya yang terkesan sangat seksi.
"Manis," bisik Reygan lirih, matanya masih menatap lekat ke wajah Shella yang kini menunduk dalam.
Mencoba memecah kecanggungan yang mematikan itu, Shella langsung mendongak dan mendengus ketus, meskipun pipinya masih panas.
"Manis cokelatnya atau manis sayanya, Pak? Tolong diperjelas ya, Baginda. Jangan sampai saya mengira Bapak mendadak sembuh dari penyakit 'belok' Bapak gara-gara sebutir stroberi!" sindir Shella pedas, langsung berjalan cepat mendahului Reygan menuju mobil.
Reygan terpaku di tempat, lalu sedetik kemudian sebuah senyuman gemas terukir di bibirnya.
"Sialan... wanita itu benar-benar menguji imanku," gumam Reygan pelan, bergegas menyusul langkah asisten dadakannya itu.