Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Detik-Detik Genting
Dunia di sekitar Elena seolah menyempit menjadi rasa sakit yang menjalar dari perutnya ke seluruh tubuh. Suara pertempuran yang masih tersisa—teriakan, derap kuda yang melarikan diri—terdengar teredam, seperti berasal dari balik air.
"Bawa dia masuk, sekarang!" Sarah berteriak pada Daniel dan Tommy, yang segera memapah Elena berdiri, setengah menggendongnya menuju rumah utama.
Whitlock, masih menahan Rourke dengan senapan terarah, memberi isyarat pada dua orang lain untuk mengikat perampok itu. "Ikat dia kuat-kuat di gudang alat. Aku akan urus dia nanti—sekarang ada yang lebih penting."
Di dalam rumah, Elena dibaringkan di ranjangnya sendiri, keringat dingin membasahi dahinya. Rasa sakit datang bergelombang, semakin sering, semakin kuat.
"Terlalu cepat," desisnya di sela napas yang tersengal. "Belum waktunya—masih satu bulan lagi—"
"Stres dan syok bisa memicu kelahiran prematur," kata Sarah, mencoba tetap tenang meski tangannya sendiri gemetar saat menyingsingkan lengan baju. "Aku pernah bantu ibuku jadi bidan di Redcliff dulu, tapi aku belum pernah menangani ini sendirian—apalagi tanpa peralatan yang layak."
Mata Elena, di tengah kabut rasa sakit, tertuju pada satu hal yang masih setia mengambang di sudut penglihatannya—kotak cahaya keemasan itu, berdenyut pelan seolah menunggu.
"Gudang," bisiknya parau, mengulurkan tangan gemetar ke udara. "Aku butuh—aku butuh bantuan untuk melahirkan. Peralatan medis. Apa saja."
Kotak itu berpendar terang, lebih terang dari sebelumnya, seolah merespons keputusasaan yang tulus dalam permintaan itu.
> **[Permintaan Darurat Terdeteksi]**
> **[Kategori Baru Terbuka: Perawatan Kehidupan]**
> **[Item dikeluarkan: Kotak Bidan Lengkap, Kain Steril, Ramuan Penenang Nyeri]**
Sebuah kotak kayu kecil namun rapi meluncur keluar dari udara kosong, jatuh lembut ke atas ranjang. Sarah membukanya dengan tangan gemetar—di dalamnya tersusun rapi gunting steril, benang jahit, kain bersih, bahkan sebotol kecil cairan berwarna keemasan dengan label tulisan tangan aneh: *Untuk Meredakan, Bukan Menghilangkan Rasa Sakit Sepenuhnya—Ibu Tetap Harus Merasakan Kekuatannya Sendiri.*
"Ini—ini gila," gumam Sarah, namun tangannya sudah bergerak cepat, naluri seorang calon bidan mengambil alih ketakutannya. "Baiklah, Elena, dengar aku. Aku akan memandumu, tapi kau yang harus melakukan pekerjaan berat di sini. Bisa?"
Elena, di tengah rasa sakit yang membakar, menemukan secercah tawa getir. "Aku baru saja menghadapi sapi zombie dan gerombolan perampok bersenjata dalam satu minggu, Sarah. Aku rasa aku bisa hadapi ini juga."
Di luar kamar, Whitlock berjaga di depan pintu, sementara Tommy dan yang lain masih membereskan sisa-sisa pertempuran—mengumpulkan senjata yang tertinggal, memadamkan obor-obor yang terjatuh, memastikan tidak ada lagi ancaman yang tersisa di kegelapan.
Jam-jam berikutnya berlalu dalam kabut rasa sakit, keringat, dan suara Sarah yang terus menyemangati di telinga Elena. Di luar jendela, langit perlahan berubah dari hitam pekat menjadi abu-abu keunguan, tanda fajar yang mendekat.
Dan tepat ketika sinar pertama matahari menembus celah tirai kamar, sebuah tangisan kecil namun kuat memecah keheningan yang tersisa dari malam penuh darah dan mesiu itu.
"Dia—dia perempuan," bisik Sarah, suaranya bergetar penuh haru, mengangkat bayi mungil yang kini menangis lantang ke arah Elena. "Elena, kau berhasil."
Elena, kelelahan hingga ke tulang namun dengan air mata mengalir deras di pipinya, meraih bayinya dengan tangan gemetar, mendekapnya erat ke dada. Untuk pertama kalinya sejak langit berubah warna dan dunia mulai runtuh, ia merasakan kedamaian yang begitu murni, begitu utuh.
"Halo, sayang," bisiknya lembut, suaranya pecah oleh emosi. "Selamat datang di dunia yang gila ini. Ibu janji—ibu akan pastikan dunia ini pantas untukmu."
Di sudut penglihatannya, kotak cahaya itu berkedip pelan sekali lagi, seolah tersenyum menyaksikan momen itu, sebelum akhirnya meredup tenang—untuk sementara, tugasnya yang paling penting telah selesai.
---
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!