Alya adalah gadis yatim piatu yang bekerja keras demi bertahan hidup. Namun, sebuah kesalahan fatal di satu malam—akibat salah memasuki kamar hotel—mengubah takdirnya. Ia terbangun di samping **Devan Dirgantara**, CEO dingin nan kejam dari Dirgantara Group yang sangat membenci skandal.
Alya memilih melarikan diri dan merahasiakan malam itu. Namun takdir berkata lain, beberapa minggu kemudian ia dinyatakan hamil. Di sinilah keajaiban dimulai. Janin di dalam kandungan Alya ternyata bukanlah janin biasa. Sejak usia beberapa minggu, janin tersebut bisa berkomunikasi secara telepatis hanya dengan Alya!
Si "janin ajaib" ini memiliki kecerdasan luar biasa, indra keenam, dan bahkan bisa mendeteksi niat buruk orang-orang di sekitar ibunya.
Saat ibu tiri Alya mencoba meracuninya, si janin memberi peringatan. Saat Devan akhirnya mengetahui kehamilan Alya dan berniat merebut bayinya dengan kontrak dingin, si janin justru mendiktekan syarat-syarat kontrak tandingan yang membuat sang CEO jeni
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina ylna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Sinar matahari pagi menembus celah gorden sutra Penthouse Lavender, membiaskan garis-garis cahaya keemasan di atas lantai marmer. Suasana tegang yang menyelimuti malam sebelumnya kini telah benar-benar mencair. Setelah melewati krisis akibat serangan gelombang infrasonik dari Klan Blackwood, kamar utama penthouse terasa seperti sebuah tempat peristirahatan paling aman di dunia.
Alya terbangun dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Rasa melilit dan mulas yang hebat di perut bagian bawahnya sudah sirna sepenuhnya, berganti dengan kehangatan alaminya yang nyaman. Di sisinya, Devan masih terlapis selimut tebal, tertidur dengan posisi miring menghadapnya. Lengan kekar sang CEO dilingkarkan dengan sangat protektif di sekeliling pinggang Alya, seolah menjaga agar sang istri tak bergeser walau satu milimeter pun.
Alya menatap wajah suaminya yang tertidur lelap. Wajah tegas yang biasanya tampak keras dan dingin bagaikan batu ukir itu kini terlihat begitu pasrah dan damai. Lingkaran hitam tipis di bawah mata Devan menandakan betapa pria itu hampir tidak memejamkan mata sepanjang malam demi memantau perkembangannya dan memastikan serangan balasan terhadap Klan Blackwood berjalan tanpa celah.
Jemari lembut Alya terangkat, mengusap perlahan rahang tegas Devan.
> *[Hoaamm... Selamat pagi, Ibu! Wah, tidurku sangat nyenyak semalam! Sup ayam herbal dari Kakek Abraham dan es krim vanila dua porsi itu benar-benar bekerja seperti ramuan ajaib untuk memulihkan energi spiritualku!]*
Suara Baby El yang mendadak melengking gembira di dalam kepalanya membuat Alya tersenyum simpul.
"Selamat pagi, El. Kamu benar-benar tidak apa-apa kan? Tidak ada rasa sakit lagi?" batin Alya, memastikan kondisi janin ajaibnya.
> *[Seratus persen aman dan terkendali, Ibu! Lihat saja grafik perkembangan sel di dalam rahimmu. Sekarang aku sedang sibuk membentuk lipatan-lipatan otak baru agar makin jenius. Ditambah lagi, kehangatan dari pelukan Ayah Siaga ini membuat lingkungan rahimku terasa seperti hotel bintang lima!]*
Alya tidak bisa menahan tawa kecilnya yang renyah. Tawa halus itu ternyata membuat Devan terusik dari tidurnya.
Kelopak mata berbulu lebat milik Devan perlahan terbuka. Sepasang mata abu-abu yang awalnya meredup karena kantuk seketika memancarkan ketajaman yang penuh perhatian saat menyadari Alya sudah bangun dan sedang menatapnya.
"Alya?" suara Devan terdengar sangat serak khas bangun tidur. Lengan kokohnya seketika mengetat, menarik tubuh Alya hingga memangkas jarak di antara mereka. Pria itu menyandarkan dahinya pada dahi Alya, menatap langsung ke dalam mata istrinya. "Bagaimana perasaanmu? Ada yang terasa sakit? Perutmu..."
Alya menyentuh pipi Devan yang terasa kasar oleh jangut tipis pagi hari, menatapnya dengan pandangan penuh rasa cinta. "Aku sangat baik, Devan. Rasa sakitnya sudah hilang sama sekali. Obat dari Dokter Kurniawan dan istirahat semalam benar-benar membantu."
Devan mengembuskan napas lega yang amat panjang, memejamkan matanya sejenak seraya mengecup dahi Alya dengan kelembutan yang sangat emosional. "Syukurlah... Terima kasih, Tuhan."
Pria itu kemudian menggeser posisinya sedikit ke bawah, membenamkan wajahnya di perut Alya yang membuncit manis di usia lima bulan. Devan menempelkan telinganya di sana, mendengarkan denyut kehidupan pewarisnya dengan ketelitian yang luar biasa.
"Kaisar kecil..." bisik Devan pelan, suaranya yang berat memantul halus di permukaan kulit perut Alya. "Maafkan Ayah karena sempat membuatmu dan Ibumu berada dalam bahaya semalam. Ayah berjanji... kejadian seperti itu tidak akan pernah terulang lagi. Siapa pun yang berani mengusik kalian di masa depan, akan Ayah pastikan mereka musnah sebelum sempat melangkah."
> *[Waspada! Janji Ayah Siaga terdeteksi dengan tingkat ketulusan seratus persen!]*
> *[Ayah, aku memaafkanmu! Lagi pula, aku juga ikut bertarung semalam. Tapi sebagai gantinya, Ayah harus janji mulai hari ini jangan terlalu galak lagi pada Ibu kalau sedang mengawasi kesehatannya, oke?]*
Alya terkekeh pelan membaca pesan batin bayinya. "Devan, bayi kita bilang dia sudah memaafkanmu. Tapi dia minta kamu jangan terlalu galak kalau mengawasiku."
Devan mendongak, menatap Alya dengan sebelah alis terangkat dan sudut bibir yang terangkat membentuk senyuman menawan. "Aku tidak galak, Alya. Aku hanya sangat protektif. Dan mulai hari ini, jadwal *bedrest* dua minggumu akan kuawasi secara pribadi."
"Maksudmu... kamu tidak ke kantor?" Alya terbelalak kaget.
"Tidak," jawab Devan tegas tanpa ragu sedikit pun. Pria itu kembali menyejajarkan posisinya dengan Alya, merangkul bahu istrinya. "Aku sudah memindahkan seluruh pusat kendali operasional Dirgantara Group ke ruang kerja penthouse. Rapat-rapat penting akan dilakukan secara *virtual*. Tidak ada proyek, saham, atau urusan bisnis apa pun di dunia ini yang lebih penting daripada memastikan kamu dan anak kita pulih sepenuhnya."
Alya menatap Devan dengan rasa haru yang membuncah di dadanya. Pria yang dulunya dikenal sebagai kaisar bisnis tanpa perasaan, pria yang menganggap pernikahan hanyalah sebuah ikatan formalitas di atas kertas, kini bertransformasi menjadi sosok suami dan ayah yang rela mengenyampingkan kekuasaan triliunan Rupiah demi mendampingi keluarganya di kamar tidur.
"Terima kasih, Devan..." bisik Alya, merapatkan tubuhnya ke dalam dekapan hangat Devan. "Tapi jangan lupa, Kakek Abraham pasti akan mengomel kalau kamu meninggalkan kantor terlalu lama."
Devan terkekeh rendah, suara tawanya bergetar di dadanya. "Kakek justru yang paling pertama menyetujui keputusan ini. Beliau bahkan mengancam akan mencopot jabatanku sebagai CEO jika aku berani meninggalkanmu sendirian dalam kondisi seperti ini."
---
Pukul sepuluh pagi, suasana di ruang santai Penthouse Lavender terasa sangat hangat. Pintu kaca yang menuju ke area taman gantung dibuka sebagian, mengalirkan udara segar dan alunan suara gemericik air kolam buatan.
Alya duduk santai di sofa empuk dengan ditopang beberapa bantal lembut di punggungnya. Di atas meja kaca di depannya, tersaji menu sarapan nutrisi tinggi yang dirancang khusus oleh tim gizi keluarga Dirgantara: sup kalsium, bubur gandum organik, dan jus buah naga segar tanpa gula buatan.
Devan sendiri yang menyuapi Alya. Pria dengan setelan santai kaos rajut abu-abu itu dengan telaten menyendokkan makanan, menepis perlahan jika ada sedikit makanan yang menetes di sudut bibir Alya.
*Tok, tok, tok.*
Yudha melangkah masuk ke ruang santai dengan langkah penuh penghormatan, memegang sebuah map tipis berwarna putih murni.
"Selamat pagi, Tuan Muda, Nyonya Muda," sapa Yudha sembari membungkuk hormat.
"Pagi, Yudha. Ada perkembangan baru?" tanya Devan tanpa mengalihkan pandangannya dari proses menyuapi Alya.
"Laporan resmi dari otoritas internasional, Tuan Muda," ujar Yudha dengan nada mantap. "Sisa-sisa anggota Klan Blackwood di Eropa telah dibubarkan secara paksa oleh kepolisian gabungan setelah seluruh aset mereka disita. Edward Vance sendiri saat ini telah dipindahkan ke sel tahanan berkeamanan tinggi di London untuk menjalani proses peradilan atas kasus tindak pidana keuangan dan terorisme."
Devan mengangguk dingin. "Bagaimana dengan kondisi di dalam negeri?"
"Semua aman terkendali, Tuan Muda. Alexander Group telah resmi dinyatakan pailit pagi ini oleh Pengadilan Niaga, dan seluruh aset mereka akan dilelang akhir bulan ini. Sedangkan untuk sisa-sisa manajemen lama di Dirgantara Creative Foundation yang terlibat dengan Tante Melinda, proses hukumnya sudah dilimpahkan ke kejaksaan."
Alya menghela napas lega mendengarnya. Seluruh ancaman, intrik, dan musuh yang selama ini membayangi perjalanan kehamilannya dari trimester pertama hingga kini memasuki trimester kedua, telah benar-benar dibersihkan hingga ke akar-akarnya.
> *[Aha! Landasan bisnis dan keamanan kita sekarang sudah benar-benar steril dari hama!]*
> *[Ibu, ini saatnya untuk fokus penuh pada perkembanganku! Di trimester kedua ini, aku butuh lebih banyak asupan protein dan stimulasi musik klasik. Biarkan Ayah Siaga yang memainkan piano untuk kita nanti malam!]*
Alya tersenyum lebar mendengar usulan Baby El. Ia menatap Devan yang baru saja meletakkan mangkuk makanan yang sudah kosong.
"Devan... bayi kita punya permintaan baru," panggil Alya manis.
Devan menaikkan sebelah alisnya. "Permintaan apa lagi? Dia mau es krim lagi?"
Alya menggeleng seraya terkekeh. "Bukan. Dia bilang, mulai malam ini dia ingin mendengarkan kamu memainkan piano untuknya. Katanya itu bagus untuk stimulasi otaknya."
Devan tertegun sejenak. Sudah bertahun-tahun ia tidak menyentuh piano *Grand Steinway* yang berdiri anggun di sudut ruang utama penthouse sejak kesibukan bisnis menyita seluruh waktunya. Namun, melihat binar harapan di mata Alya dan mengingat janin ajaib yang selalu menjaganya, senyuman hangat terpancar dari wajah sang CEO.
Devan meraih tangan Alya, mengecup punggung tangannya dengan penuh kasih. "Apapun untuk kalian. Malam ini, aku akan memainkan lagu terbaik untuk kaisar kecilku dan ibunya."
Di atas ketinggian Penthouse Lavender yang megah, di bawah hangatnya sinar matahari pagi dan perlindungan tanpa celah dari keluarga Dirgantara, sebuah babak baru yang lebih tenang, penuh kehangatan, dan cinta yang tak terbatas telah menanti Alya. Kehamilannya kini bukan lagi sebuah beban rahasia, melainkan simbol kejayaan dan kebahagiaan mutlak yang akan terus mekar seiring berjalannya waktu.