NovelToon NovelToon
Aku Tidak Mandul, Mas!

Aku Tidak Mandul, Mas!

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Identitas Tersembunyi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:518.3k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Alfatih

Annisa rela meninggalkan statusnya sebagai putri tunggal keluarga terpandang demi menikahi Haikal, pria yang ia cintai. Bahkan, ia menolak perjodohan dengan Emran Richard, pria sukses yang sejak lama berjanji akan membahagiakannya.

Namun, setelah menikah, hidup Annisa berubah menjadi penderitaan. Dihina ibu mertua, divonis mandul, hingga akhirnya ditalak tiga oleh Haikal di malam hujan saat suaminya berada di puncak karier. Haikal merasa semua keberhasilannya hasil kerja kerasnya sendiri. Padahal, tanpa ia sadari, karier dan hidup mewahnya berdiri di atas satu nama, Annisa Wijaya.

Saat kebenaran terungkap dan penyesalan datang, Annisa sudah berubah. Akankah, Annisa kembali pada suaminya, atau justru menghancurkan suaminya tanpa ampun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Sementara itu, di sebuah restoran mewah di pusat kota, Haikal yang katanya sedang sibuk bekerja justru duduk santai di depan seorang wanita cantik berambut panjang dengan jas putih elegan yang digantung di kursinya.

Makan siang mereka terlihat begitu nyaman, bahkan terlalu akrab untuk sekadar teman lama. Emeli mengaduk minumannya pelan sebelum tersenyum tipis.

“Istrimu tadi menelepon?”

Haikal mengangguk malas sambil memotong steak di piringnya.

“Pasti ngeluh lagi soal ibuku.”

Emeli tertawa kecil. “Kasihan juga dia.”

Nada suaranya sama sekali tidak terdengar kasihan. Haikal bersandar santai di kursinya.

“Kadang aku mikir…” pria itu menatap Emeli cukup lama. “Kita terlalu terlambat ketemu lagi.”

Emeli mengangkat alis sambil tersenyum tipis. “Oh ya?”

“Aku dulu kira kamu bakal menikah duluan.”

Wanita itu terkekeh pelan. “Aku sibuk kuliah dan bangun karier.” Tatapannya berubah lembut ke arah Haikal. “Karena aku pikir suatu hari nanti kamu bakal jadi orang sukses.”

Haikal tersenyum bangga mendengarnya.

“Tapi aku nggak nyangka kamu malah menikah sama Annisa,” lanjut Emeli. “Dulu dia itu kembang kampus. Pintar, cantik, banyak yang suka.” Nada bicaranya terdengar seperti pujian, namun terselip sindiran halus di dalamnya.

Haikal malah mendecak pelan. “Aku juga nggak nyangka.”

“Hm?”

“Aku pikir kepintaran Annisa bisa bikin hidupku ikut naik.” Haikal tertawa kecil sambil memainkan gelasnya. “Ternyata dia malah jadi beban.”

Emeli pura-pura terkejut. “Jahat banget ngomong begitu soal istri sendiri.”

“Memang kenyataannya begitu.” Haikal mengangkat bahu acuh. “Aku sukses karena kerja kerasku sendiri. Bukan karena dia.”

Padahal tanpa Haikal sadari. Seluruh jalan yang membawanya sampai ke posisi sekarang justru terbuka karena nama Annisa Wijaya.

Emeli tersenyum samar. “Setidaknya sekarang kamu sudah sukses.”

Haikal mengangguk puas. “Dan aku yakin bakal lebih sukses lagi.”

Keduanya tertawa kecil. Lalu tanpa sadar, tangan Haikal bergerak menggenggam tangan Emeli di atas meja.

Mereka tetap melanjutkan makan siang dengan nyaman, seolah Annisa hanyalah seseorang yang tidak penting untuk dibicarakan lagi.

Di rumah keluarga Haikal, suasana mulai sepi setelah satu per satu tamu arisan Lasmi pulang.

Cangkir kotor masih berserakan di meja ruang tamu. Sisa makanan dan tisu bekas memenuhi meja panjang itu, tetapi Lasmi sama sekali tidak berniat membereskannya sendiri.

Wanita paruh baya itu menggedor pintu kamar Annisa dengan keras.

“Annisa!”

Di dalam kamar, Annisa segera menghapus air matanya sebelum membuka pintu.

“Iya, Bu?”

Lasmi langsung memandangnya sinis dari atas sampai bawah.

“Kenapa malah ngurung diri?” hardiknya. “Cepat bereskan ruang tamu. Piring kotor numpuk semua.”

Annisa menggigit bibir pelan.

“Iya, Bu.”

“Oh ya,” sambung Lasmi lagi sebelum Annisa sempat melangkah. “Nanti malam masak yang enak. Haikal sekarang manajer, jangan kasih makanan murahan terus.”

Annisa hanya mengangguk kecil. Padahal sejak pagi dirinya belum benar-benar istirahat.

Baru pulang dari rumah sakit, dihina di depan banyak orang, dimarahi suami sendiri, dan sekarang tetap harus melayani semua pekerjaan rumah sendirian. Tetapi, itu memang sudah menjadi kesehariannya sejak tinggal di rumah itu.

Lasmi selalu memperlakukannya seperti pembantu. Apapun yang Annisa lakukan tidak pernah benar di mata wanita itu. Saat Annisa memasak, Lasmi bilang masakannya tidak enak. Saat Annisa membersihkan rumah, Lasmi mengatakan dirinya hanya pura-pura rajin. Bahkan, ketika Annisa mencoba bersikap lembut dan hormat, Lasmi tetap memandangnya sebelah mata.

Seolah keberadaan Annisa di rumah itu hanyalah kesalahan terbesar anaknya. Annisa berjalan menuju ruang tamu sambil menarik napas pelan. Tangannya mulai membereskan cangkir-cangkir kotor satu per satu.

Annisa membawa nampan penuh cangkir kotor ke dapur. Tangannya bergerak pelan mencuci satu per satu sambil pikirannya melayang entah ke mana.

Lima tahun, sudah lima tahun dirinya hidup seperti ini. Menjadi istri yang berusaha sempurna, tetapi selalu dianggap kurang. Air keran terus mengalir membasahi tangannya. Tanpa sadar, air mata Annisa kembali jatuh bercampur dengan percikan air cucian.

“Dasar lelet.” Suara Lasmi kembali terdengar dari ruang tamu.

“Begitu saja lama. Pantas Haikal makin malas di rumah.”

Annisa memejamkan mata sejenak. Dadanya terasa sesak, tetapi dia tetap melanjutkan pekerjaannya. Tak lama kemudian, suara pintu rumah terbuka.

Haikal pulang, wajah Annisa spontan menoleh ke arah depan rumah dengan sedikit harapan di matanya. Mungkin setelah emosinya reda, pria itu akan bicara baik-baik padanya. Namun, harapan itu runtuh secepat datangnya.

“Haikal, sini duduk dulu,” panggil Lasmi manja pada anaknya. “Capek ya kerja?”

Haikal tersenyum kecil sambil melonggarkan dasinya.

“Iya, Bu.”

Tatapan pria itu sempat beralih sekilas ke arah dapur tempat Annisa berdiri, namun hanya sekilas sebelum kembali duduk santai di sofa.

“Masakan belum siap?” tanyanya datar.

Annisa segera mengeringkan tangannya. “Sebentar lagi, Mas.”

Lasmi langsung mendecak.

“Lihat tuh, pulang kerja malah belum disiapkan makanan. Istri macam apa.”

Haikal tak membela.

Pria itu malah ikut menghela napas panjang seolah dirinya benar-benar memiliki beban hidup yang berat karena Annisa.

“Cepat sedikit, Nisa,” ucapnya dingin. “Aku lapar.”

Annisa menunduk pelan. “Iya, Mas.”

Dirinya kembali sibuk di dapur menyiapkan makan malam.

Sementara di ruang tamu, Haikal dan Lasmi tertawa membahas keberhasilan karier Haikal hari ini. Tak ada yang peduli bahwa sejak siang Annisa belum makan. Tak ada yang bertanya bagaimana perasaannya setelah dari rumah sakit. Dan yang paling menyakitkan, tak ada yang benar-benar menganggap Annisa bagian dari keluarga itu.

1
Sri Widjiastuti
ayah emeli ganti nama?? Rendra jd louis kah?? 🤭
Putri Handayani
bagus
Nani Te'ne
suka
ken darsihk
Horang kaya mah bebasss 😍😍
ken darsihk
Ulat keket minta di garuk 😂😂😂
ken darsihk
Bahagia untuk kalean Anissa Emran 😍😍
Enny Suhartini
sudah hadir kak 👍
Enny Suhartini
Alhamdulillah terima kasih cerita nya 👍
Isabela Devi
emang semua manusia boleh kaya dan tidur di atas uang tetapi doa tidak bisa di beli oleh siapapun 🙏
Isabela Devi
kadang memang aneh
Isabela Devi
semoga ga terjadi keributan antara Anisa dan emran
Atmita Gajiwi
/Rose//Rose//Kiss/
Fia Ayu
Ok, ok, ok, yg 2 dah happy ending
Nie bakalan crazy up, aku akan baca, sepertinya ngeri2 sedap nie alurnya😁
Yunita Sophi
terima kasih thor... suka cerita bagus
Yunita Sophi
happy ending tp sayang aja blm di lahirkan... makin seru kali yah
Yunita Sophi
Nisa coba bisikan aq... jgn pelit deh 😅
Yunita Sophi
itu ibu knp belum berubah jg bu... kasian anak nya klo ibu begitu terus
Yunita Sophi
hanya doa tulus yg tdk dapat di beli itu betul Emran... sekaya apa pun qta tdk akan bisa membeli doa...
Raden
sadar anisa, kdrt sudah itu, ditampol loh, sadar heh istri hadeeeh
Raden
makan tuh cinta anisa, mau aja di tindas orang, bodohnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!