NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5 - Something

Udara malam mulai terasa dingin saat aku, Ibu, dan Ayah duduk makan bersama.

Awalnya kami makan dalam diam.

Hanya suara sendok dan piring yang terdengar pelan.

Sampai akhirnya Ibu membuka suara.

“Nay… kamu udah kirim pesan atau telepon Javier?”

Aku yang sedang menyendok nasi langsung kehilangan selera.

“Belum,” jawabku datar.

“Lho kok belum? Tadi Pak Jamal nyuruh Javier menuliskan nomornya supaya kalian bisa lebih akrab,” ucap Ibu.

“Nanti aja, Bu. Lagi pula dia pasti lagi sibuk di rumah makan,” balasku.

“Ya sudah, setelah makan kamu hubungi dia, ya?”

“Iya, iya…” ucapku malas.

“Nay, kamu masih kesal ya soal perjodohan tadi siang?” tanya Ayah.

Aku menoleh, lalu mengangguk pelan.

“Maafin Ayah dan Ibu, ya… sebenarnya kami juga nggak mau merahasiakan ini dari kamu. Tapi kalau dari awal kamu tahu, kamu pasti nggak mau ketemu sama Javier,” lanjut Ayah.

“Udahlah, Yah… udah terjadi juga. Aku juga udah menerima perjodohan ini,” ucapku, berusaha terdengar santai.

“Nay… Ayah penasaran. Waktu kamu ngobrol berdua sama Javier, kalian ngobrolin apa? Maksud Ayah… obrolan seperti apa sampai kalian bisa setuju?” tanya Ayah lagi.

Deg!

“Ehm… cuma diskusi soal sisi baik dari perjodohan ini,” jawabku cepat.

“Memangnya apa saja sisi baiknya menurut kalian?” tanya Ibu.

“Ya… supaya aku dan Javier nggak terus-terusan ditanya kapan nikah dan nggak disuruh-suruh nikah lagi,” ucapku.

“Cuma itu?” Ibu masih menatapku curiga.

“Iya, Bu… udah lah. Mending kita makan aja. Nggak baik makan sambil banyak ngobrol,” ucapku, berusaha mengakhiri.

Aku tidak ingin Ibu terus menggali.

Bisa-bisa perjanjianku dengan Javier terbongkar.

Ibu akhirnya tidak melanjutkan pertanyaannya.

Kami kembali makan dalam diam.

Setelah makan, aku masuk ke kamar.

Aku menjatuhkan tubuh ke atas tempat tidur, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa pun.

Pikiranku kembali pada ucapan Ibu.

Menghubungi Javier.

Aku meraih ponsel di sampingku dan melirik layar.

Sepertinya dia belum pulang dari rumah makan.

Aku menghela napas pelan.

Daripada memikirkannya, aku membuka aplikasi streaming dan mulai menonton drama Korea.

Satu episode terlewati tanpa terasa.

Begitu selesai, episode berikutnya langsung diputar.

Opening-nya sudah berjalan.

Aku masih menatap layar, nyaris ikut lanjut… sampai tiba-tiba aku tersadar.

Eh…

Aku harus menghubungi Javier.

Aku langsung mendesah pelan dan menghentikan drama yang baru saja dimulai.

Dengan sedikit enggan, aku membuka kontak yang siang tadi tersimpan di ponselku.

Javier.

Aku menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum akhirnya terangkat.

—Halo… ini siapa?

“Naya,” jawabku datar.

—Oh… ada apa?

“Ibuku nyuruh aku hubungi kamu,” ucapku singkat.

—Oh…

Hening.

Aku menunggu.

Satu detik.

Dua detik.

Tidak ada kelanjutan.

Sepertinya… dia juga tidak terlalu tertarik berbicara denganku.

Aku menarik napas pelan.

“Ya udah. Aku cuma menjalankan perintah Ibu aja, biar kamu tahu nomorku. Bye.”

Tanpa menunggu jawaban, aku langsung memutus sambungan.

Aku menatap layar ponsel beberapa saat.

Kosong.

Bagaimana kehidupan pernikahan kami nanti… kalau seperti ini?

Bahkan untuk berbicara saja terasa canggung.

Sepertinya kami benar-benar akan seperti dua orang asing… yang tinggal di bawah atap yang sama.

Aku menghela napas, lalu kembali membuka aplikasi streaming.

Kalau ini semua hanya mimpi…

aku berharap aku bisa segera bangun.

Sekitar dua puluh menit kemudian, aku masih asyik menonton drama.

Adegan sedang seru-serunya…

Tiba-tiba ponselku berdering.

Nama Javier muncul di layar.

“야! 왜 네가 전화해? 난 한국 드라마 보잖아! 알아?! (Hei! Kenapa kamu telepon sih? Aku lagi nonton drakor, tahu nggak?!)" gerutuku kesal begitu mengangkat telepon.

—Hah? Kamu ngomong apa sih? Pakai bahasa yang aku ngerti, kenapa?

“Aku lagi nonton drama. Kenapa kamu nelepon?” ucapku, masih kesal.

—Ya ampun… drama terus kamu ya…

“Drama itu pelarianku. Healingku,” balasku cepat.

—Memang beda kamu, ya…

“Kamu sebenarnya telepon aku ada apa? Perasaan tadi waktu aku telepon kamu kayak malas banget,” ucapku.

—Oh, maaf… tadi aku lagi ngecek keuangan rumah makan.

“Oh… terus sekarang mau ngomong apa? Kalau nggak penting, aku tutup ya. Aku mau lanjut nonton,” ucapku.

—Kamu lebih mentingin drama daripada kita, ya?

“Kita? Hei… jangan ngomong seolah-olah kita ini pasangan. Kita cuma dua orang yang tiba-tiba dijodohin,” sahutku.

—Nah itu dia… aku mau ngomongin perjodohan kita. Lebih tepatnya, aku mau tanya dokumen apa aja yang harus disiapin buat daftar nikah di KUA.

“Mana aku tahu. Aku kan belum pernah nikah,” ucapku ketus.

—Berarti kita harus cari tahu bareng. Waktu kita cuma dua bulan. Dua bulan lagi kita bakal nikah. Papaku itu… dua bulan buat ngurus pernikahan dan beli rumah? Mana cukup. Aku juga belum tahu mau beli rumah yang mana.

“Mas… soal rumah itu… kamu sebenarnya nggak perlu sampai beli rumah. Kita bisa tinggal di rumahku,” ucapku.

—Memangnya di kamarmu ada dua ranjang? Kamu sendiri yang bilang kita bakal tidur di kamar berbeda.

“Ah iya… aku lupa. Tapi kalau kamu beli rumah, pasti nguras uang kamu. Rumah kan mahal,” ucapku.

—Kalau dicicil nggak terasa mahal, kok. Aku memang niatnya mau ajukan KPR, biar lebih ringan.

“Aku jadi nggak enak, Mas… gara-gara dijodohin sama aku, kamu harus sampai beli rumah,” ucapku pelan.

—Ini memang rencanaku dari dulu. Kalau suatu saat aku menikah, aku mau keluar dari rumah dan tinggal sendiri. Lagian… keluargaku juga udah nggak lengkap.

“Nggak lengkap? Bukannya ada Mama, Papa, sama adikmu?” tanyaku.

—Mamaku yang sekarang itu mama tiriku. Dan Janessa itu adik tiriku. Mama kandungku… udah meninggal waktu aku masih kecil.

Hah?

Aku terdiam.

“Maaf, Mas… aku nggak tahu,” ucapku lirih.

—Kamu nggak perlu minta maaf. Aku cerita supaya kamu tahu. Besok-besok aku akan ajak kamu ke makam Mama.

Eh?

“Iya…” jawabku pelan.

—Nay… kenapa kamu manggil aku ‘Mas’?

“Karena kamu lebih tua dari aku. Kenapa? Kamu nggak suka?” tanyaku balik.

—Suka, kok… eh maksudku… kamu bebas manggil aku apa aja.

“Oh… ya udah. Ada lagi yang mau dibahas? Aku mau lanjut nonton drama nih,” ucapku.

—Nggak. Nanti aku hubungi lagi kalau mau ke KUA. Kamu juga siapin dokumen-dokumennya. Coba kamu tanya dulu ke orang tua kamu. Nanti kita samain lagi, biar lengkap.

“Iya, iya. Tapi jangan H-1, ya. Aku juga harus izin sama atasan. Nggak bisa bolos tiba-tiba,” ucapku.

—Iya, siap.

“Oke.”

Aku langsung memutus sambungan.

Aku menatap layar ponselku beberapa detik.

Aneh.

Awalnya aku kesal karena dia mengganggu waktu nontonku.

Tapi sekarang…

aku malah merasa sedikit senang.

Ini pertama kalinya aku mengobrol selama ini dengan laki-laki, bukan karena pekerjaan atau urusan kuliah.

Aku memang bukan tipe perempuan yang akan menelepon laki-laki tanpa alasan.

Kalau bukan soal kerja atau tugas, untuk apa?

Tapi…

apakah orang yang pacaran juga seperti ini?

Eh?

Aku langsung menepuk pipiku pelan.

Apa-apaan sih aku?

Jangan sampai aku menyukai Javier.

Belum tentu juga dia akan menyukaiku.

Aku tidak mau berharap.

Aku tidak mau… berakhir seperti tokoh wanita kedua di drama—yang selalu ada, tapi tidak pernah dipilih.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!