Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 : AMARAH SANG MAYOR
Hawa panas yang bercampur dengan bau asap kayu terbakar dan tanah hangus masih menempel di setiap sudut bekas pertempuran itu. Angin sore bertiup pelan, namun tidak mampu mengusir rasa gerah dan marah yang memenuhi dada setiap prajurit Belanda yang berdiri di sana. Di tengah puing-puing yang tersisa dari gua dan hutan yang baru saja mereka hantam, berdiri sosok tinggi besar dengan wajah merah padam karena menahan emosi. Itu adalah Mayor Van Der Hock.
Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, dan rahangnya mengeras seolah ingin menelan seluruh hutan di hadapannya. Matanya menyapu sekeliling, melihat pohon-pohon besar yang tumbang, jejak darah sedikit yang tertinggal, dan tentu saja—tidak ada mayat yang bisa mereka tunjuk sebagai bukti kemenangan. Tidak ada mayat Bayu. Tidak ada mayat Karta. Hanya jejak yang dipalsukan dan jebakan yang membuat pasukan elit mereka kewalahan.
"Ini ongelooflijk! TIDAK BISA DITERIMA!" teriaknya, suaranya menggema membelah udara sore. Ia menendang sebuah batu besar di kakinya hingga terlempar jauh.
"Sudah kita lempar bom dari langit, sudah kita bakar segalanya, sudah kita kirim pasukan lengkap dengan tank, tapi masih bisa mereka permainkan kita? BANGSAT KOWE INLANDER!"
Kapten De Vries berdiri di beberapa langkah di belakangnya, kepalanya tertunduk rendah, tidak berani menatap lurus ke arah atasannya. Keringat bercampur debu menutupi wajahnya, dan tangannya gemetar sedikit memegang pegang senapan. Ia tahu betul kesalahan yang telah dibuat. Sebuah rencana yang tampak sempurna, yang seharusnya menghancurkan perlawanan dalam satu hari, malah berubah menjadi kekecewaan terbesar dalam karier militer yang ia jalani selama ini.
"Mayor..." suaranya berat, hampir tak terdengar di tengah hembusan angin.
"Mereka bukan sekadar kelompok perampok biasa. Kami menemukan tanda-tanda di sekitar sini. Ada yang mereka sebut sebagai kelompok kecil yang berbahaya. Mereka menyebutnya EXTREMIS. Orang-orang yang hidup di hutan, yang tahu setiap inci tanah ini lebih baik daripada kita tahu jalan di kota kita sendiri."
"EXTREMIS? INLANDER?!" potong Van Der Hock dengan kasar, ia berbalik dan menatap tajam ke arah De Vries hingga sang Kapten terhuyung ke belakang.
"JANGAN BERI AKU NAMA KATAKAN APA ADANYA! Kita adalah pasukan terlatih! Kita membawa teknologi yang tidak mereka miliki! BOM, TANK, SENJATA BARU! DAN KITA KALAH OLEH SEKELOMPOK PETANI YANG MEMEGANG BAMBU DAN KARANG?!"
Teriakan itu membuat seluruh prajurit yang berdiri di sekitar terdiam, menunduk takut. Beberapa di antaranya menggenggam senjata mereka lebih erat, sementara yang lain hanya menahan napas. Mereka terbiasa mendengar ucapan seperti itu, terbiasa menganggap rendah penduduk lokal yang mereka sebut inlander sebagai orang-orang primitif, bodoh, dan tidak beradab. Tapi hari ini, di hadapan kenyataan, mereka mulai merasa ada sesuatu yang salah dengan anggapan itu.
"Mereka lari ke arah mana?" tanya Van Der Hock lagi, suaranya turun sedikit namun masih penuh ancaman.
"Jangan sembunyikan apa pun dari aku, Kapten. Kalau kau sembunyikan satu in pun jejak, kau akan menyesal seumur hidupmu."
"Menuju ke timur, Mayor," jawab De Vries cepat, seolah takut jika terlambat menjawab.
"Menuju arah sungai Citanduy dan daerah pengungsian Cikadu. Kami melihat jejak kaki yang masih sangat segar. Baru saja mereka lewat sebelum hujan turun tadi."
"Cikadu..." gumam Van Der Hock. Ia mengangguk pelan, seolah mengingat sesuatu.
"Tempat di mana banyak orang-orang desa berkumpul. Tempat di mana ada orang bodoh yang membantu mereka."
"Ya, Mayor. Dan sepertinya pemimpin mereka, si Bayu, juga ada kaitan dengan tempat itu. Sejak dulu dia selalu menghindar ke sana ketika terdesak," tambah De Vries.
Van Der Hock tertawa, tapi tawanya terdengar mengerikan dan penuh kemarahan.
"Bagus. Itu membuat tugas kita lebih mudah. Mereka mengira dengan bersembunyi di tengah ribuan orang sipil, mereka aman? Mereka salah besar! Di sana pun aku akan mencari mereka. Aku akan keluarkan mereka dari persembunyian mereka seperti membuang kutu dari pakaian kotor."
Ia berjalan mendekati peta medan yang dibentangkan di atas sebuah batu besar, matanya meneliti garis-garis itu dengan teliti.
"Dengar baik-baik semua," seru Van Der Hock, suaranya kini tegas dan penuh perintah.
"Mulai detik ini, operasi ini tidak lagi sekadar pembersihan. Ini adalah perburuan. Aku akan memburu si Bayu dan seluruh pengikutnya sampai ke ujung bumi ini!"
Ia menunjuk ke arah pasukannya satu per satu.
"Siapa saja yang berani menghalangi kita, atau membantu mereka, adalah musuh kita! SIAPA PUN! Jangan pedulikan laki-laki, perempuan, tua atau muda. Kalau mereka mendukung si EXTREMIS itu, mereka adalah musuh!"
"Kita akan menyisir setiap inci hutan ini. Kita akan bakar semak, kita akan periksa setiap gua, setiap sungai, setiap rumah yang tersisa. Aku ingin jejak mereka ditemukan dalam waktu dua jam! Dan ketika kita menemukannya, aku ingin mereka tahu bahwa tidak ada tempat di dunia ini yang aman dari tangan kita!"
Kapten De Vries mengangguk tegas. "Saya akan persiapkan pasukan pelacak terbaik, Mayor. Kami bawa anjing pelacak dan peta terbaru."
"Jangan cuma andalkan anjing! Hutan ini penuh dengan jebakan buatan mereka! Ingat itu!" tegur Van Der Hock.
"Mereka ahli dalam hal ini. Mereka seperti tikus hutan yang licin. BANGSAT KOWE! Mereka pikir mereka bisa menipu kita? Mereka salah hitung!"
Ia menatap De Vries lagi dengan tatapan tajam. "Dan ingat Kapten, aku tidak peduli berapa banyak tenaga yang kita habiskan, berapa banyak peluru yang kita gunakan, atau berapa banyak waktu yang kita butuhkan. Aku ingin tahu di mana mereka sekarang. Aku ingin kepala si Bayu di atas meja ini sebelum matahari terbenam besok. HIDUP ATAU MATI! Itu perintahku!"
"Siap, Mayor!" jawab De Vries dengan tegas, meski di dalam hatinya ia tahu betul betapa sulitnya tugas itu.
"Pergi! Segera! DOEN JULLIE WERK! Lakukan tugas kalian! Jangan buat aku menunggu!"
Pasukan Belanda mulai bergerak dengan cepat. Suara teriakan perintah terdengar bersahutan. Prajurit-prajurit mulai mengumpulkan perlengkapan, mengisi ulang peluru, dan mempersiapkan anjing-anjing pelacak yang cemas karena bau asap dan kegaduhan. Namun di antara mereka, ada suasana yang campur aduk. Ada rasa marah, ada rasa lelah, ada rasa takut pada medan yang asing, tapi juga ada rasa bangga—bangga menjadi bagian dari pasukan yang kuat, yang bisa menaklukkan apa saja.
Di antara kerumunan prajurit, Sersan Pieter bergumam kepada Kopral Hans yang sedang mengikat tali anjing pelacaknya. " Morgen weer een nieuwe dag. Ik ben zo moe van deze hitte en die Inlandse stank. " (Besok hari baru lagi. Aku sangat lelah dengan panas dan bau inlander ini.)
Kopral Hans menghela napas. " Ja, Pieter. En de Mayor is weer woedend. Hopelijk vinden we die Bayu snel. " (Ya, Pieter. Dan Mayor lagi-lagi marah besar. Semoga kita cepat menemukan si Bayu itu.)
"Kita akan lihat," gumam Van Der Hock sambil menatap ke arah tempat di mana warga Rancagaok pergi.
"Siapa yang akan bertahan lebih lama di bumi ini. EXTREMIS atau kita?"
Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, dan mengembuskan asap tebal ke udara.
"Aku akan cari kau. Ke mana pun kau pergi, ke mana pun kau sembunyi. Aku akan temukan kau. Dan ketika aku temukan kau, aku akan pastikan hari kiamatmu datang lebih cepat dari yang kau pikirkan."
Malam mulai turun perlahan, menyelimuti hutan dalam kegelapan. Namun bagi pasukan Belanda, kegelapan itu bukan penghalang. Mereka membawa lentera dan peralatan penerangan. Mereka akan terus bergerak, terus mencari, terus memburu. Sampai tujuan mereka tercapai.
Sementara itu, di kejauhan, di jalur yang sama yang baru saja dilalui oleh warga menuju Cikadu, Bayu berjalan dengan langkah cepat namun hati-hati. Ia tahu bahwa musuh sedang mengejar mereka. Ia tahu bahwa bahaya belum berakhir. Tapi ia juga tahu satu hal: Selama masih ada napas di tubuhnya, ia tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada keluarga mereka.
Dan di balik ketegangan itu, ada satu kata yang terus terngiang di kepala Mayor Van Der Hock: Rancagaok. Nama itu akan menjadi kutukan atau kebanggaan, tergantung siapa yang akhirnya bertahan di tanah ini.
📝 PESAN PENULIS
Orang belanda sengaja di buat belepotan dan bolak balik ngobrol bahasa indonesianya.😂
Bagi yang fasih bahasa Kompeni, mohon koreksi jika ada yang keliru. Semua terjemahan ini murni dari Google Translate 🙏