NovelToon NovelToon
The Alpha'S Secret Girl

The Alpha'S Secret Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:824
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

“Rangga Dewantara Aldebaran menguasai sekolah ini, tapi Keisha Zahra Aurellia menguasai jantungnya.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bab 25: Ujian Kecil di Balik Senyum Sederhana

Matahari sore di akhir bulan Juli 2026 memancarkan cahaya jingga keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca ruang tamu. Di dalam rumah petak modern minimalis itu, suasana terasa begitu tenang. Suara deru mesin mobil dari jalan raya di luar terdengar samar, berpadu dengan suara desau angin kipas angin kecil yang berputar pelan di sudut ruangan.

Rangga Dewantara Aldebaran duduk bersila di atas lantai karpet ruang tamu, dikelilingi oleh tumpukan berkas laporan keuangan proyek mesin industri dan beberapa buku catatan teknik tebal. Mengenakan kaos oblong putih polos dan celana kain hitam santai, ia tampak serius membaca setiap baris angka yang tertera di atas kertas. Di usianya yang kini menginjak kepala dua, aura kedewasaan dan ketenangan terpancar kuat dari wajahnya. Garis-garis ketegasan di rahangnya tidak lagi menyiratkan amarah masa lalu, melainkan tanggung jawab besar sebagai seorang kepala keluarga sekaligus direktur operasional muda.

Ceklek...

Pintu depan terbuka pelan. Keisha Zahra Aurellia melangkah masuk ke dalam rumah, menjinjing sebuah kantong plastik belanjaan berisi sayuran segar dan bumbu dapur dari pasar tradisional terdekat. Wajah wanita itu tampak sedikit letih, namun senyuman manis khasnya tetap mengembang begitu melihat suaminya sedang sibuk bekerja di lantai.

Rangga langsung mendongak, menutup berkas di tangannya, lalu bergegas bangkit berdiri untuk menyambut istrinya. Ia mengambil kantong belanjaan dari tangan Keisha dan meletakkannya di atas meja dapur.

"Kenapa nggak nunggu aku pulang kantor tadi sore? Kan aku bisa nemenin kamu belanja ke pasar," tegur Rangga lembut sambil membantu Keisha melepas tas ransel kecilnya dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.

Keisha tersenyum simpul, menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Kak. Tadi sore kuliahku selesai lebih awal, jadi aku mampir sebentar ke pasar mumpung cuacanya cerah. Lagian jalannya cuma dekat dari sini."

Rangga menghela napas pendek, lalu mengecup sekilas puncak kepala istrinya. "Tetap aja, sekarang kamu itu tanggung jawabku. Kalau ada apa-apa di jalan gimana?" ucapnya penuh perhatian, walau nada suaranya terdengar sangat memuja.

Keisha tertawa kecil, mencolek dagu suaminya gemas. "Iya, Pak Direktur. Bawel banget deh sekarang. Ya udah, aku mau bersih-bersih dulu terus lanjut masak buat makan malam kita."

Makan malam hari itu disajikan secara sederhana di atas meja makan kayu minimalis. Menu malam itu adalah sup ayam hangat buatan tangan Keisha, dipadukan dengan tahu goreng dan sambal terasi kesukaan Rangga. Di tengah suapan, Keisha tampak beberapa kali terbatuk kecil, mencoba menutupi tenggorokannya yang terasa gatal.

Rangga yang duduk di hadapannya langsung menghentikan gerakan sendoknya. Ia menatap lekat-lekat wajah istrinya yang terlihat sedikit lebih pucat dari biasanya.

"Keish, kamu sakit?" tanya Rangga langsung dengan nada cemas. Suaranya berubah serius.

Keisha menggeleng cepat, meneguk segelas air putih hangat di sisinya. "Nggak apa-apa, Kak. Cuma agak gatal aja tenggorokannya. Mungkin karena tadi siang kena debu di jalan waktu pulang kuliah."

"Beneran cuma gatal?" Rangga menyipitkan mata, lalu bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Keisha, dan menempelkan telapak tangan kanannya ke dahi sang istri. "Badanmu agak hangat, Keish. Jangan-jangan kamu kecapekan karena ngurusin jadwal kuliah sekaligus tugas kelompok perpajakan kemarin."

Keisha menepis pelan tangan Rangga dengan senyuman lemah. "Aku nggak apa-apa, Kak Rangga. Cuma masuk angin biasa. Nanti minum air hangat juga sembuh."

Meskipun Keisha bersikeras mengatakan dirinya baik-baik saja, insting protektif Rangga sebagai seorang suami tidak bisa dibohongi. Selepas makan malam dan membereskan meja makan, Rangga memaksa istrinya untuk langsung berbaring di tempat tidur kamar utama, sementara ia sendiri yang mencuci piring dan menyiapkan segelas air lemon hangat.

Pukul sepuluh malam, suasana di luar rumah mulai sunyi. Rintik hujan gerimis kembali turun, mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar dengan ritme yang monoton.

Di atas tempat tidur, Keisha menggeliat pelan. Suhu tubuhnya mendadak naik. Ia terbangun karena merasa sekujur persendiannya ngilu dan tenggorokannya terasa semakin sakit. Ia berusaha bangkit untuk mengambil obat di atas nakas, namun kepalanya mendadak pusing berputar.

"Eh, mau ke mana, Keish?" suara bariton yang berat langsung terdengar dari arah sofa sudut kamar.

Rangga ternyata belum tidur. Pria itu sengaja tidak tidur lelap dan memilih berjaga di sofa sambil membaca buku catatan teknik, mengawasi kondisi istrinya sepanjang malam. Melihat Keisha hendak bangun, Rangga langsung melompat dari sofa dan bergegas menghampiri tempat tidur.

"Kepala... kepalaku pusing banget, Kak," bisik Keisha lemah dengan suara parau. Ia memegang keningnya sendiri yang terasa panas.

Rangga langsung mendudukkan tubuh Keisha secara perlahan, menyandarkan punggung wanita itu pada tumpukan bantal. Dengan sigap, ia mengambil handuk kecil yang telah dibasahi air hangat dari kamar mandi, lalu dengan sangat telaten dan penuh kelembutan mengompres dahi istrinya.

"Badanmu panas banget, Keish," ujar Rangga dengan nada cemas yang tertahan. Perasaan bersalah tiba-tiba menyergap hatinya. "Harusnya tadi siang kamu nggak usah maksain diri ke pasar sendiri. Kalau tau kayak gini, aku bakal cuti kerja."

Keisha menggeleng lemah, meraih tangan kiri Rangga yang sedang memegang handuk kompres, lalu menggenggamnya pelan. "Jangan menyalahkan diri sendiri, Kak... Ini cuma demam biasa. Namanya juga badan lagi kecapekan..."

Rangga menatap manik mata sayu istrinya. Di dalam hatinya, kilas balik masa lalu tiba-tiba berkelebat. Dulu, saat ia masih hidup dalam pelarian dan dunia jalanan yang keras, ia terbiasa melihat orang terluka dan kesakitan tanpa peduli. Namun sekarang, melihat wanita yang paling dicintainya terbaring lemah karena sakit membuat dadanya terasa sesak. Keisha adalah rumahnya, tempat di mana seluruh jiwa raga dan ketenangannya bermuara.

"Tunggu sebentar ya," ucap Rangga lembut.

Ia bergegas turun ke lantai bawah mengambil obat penurun panas dan menyiapkan air hangat tambahan. Tidak lama kemudian, ia kembali ke kamar, membantu Keisha meminum obat, lalu menyuapkan beberapa sendok air hangat.

"Udah minum obatnya. Sekarang kamu tidur ya. Aku bakal di sini jagain kamu semalaman," bisik Rangga penuh ketulusan, merapikan selimut tebal menutupi tubuh istrinya hingga sebatas dada.

Keisha menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca penuh rasa haru. Di tengah rasa sakit di tubuhnya, kehangatan cinta dan perhatian luar biasa yang diberikan Rangga adalah obat paling mujarab yang membuat hatinya merasa aman.

"Makasih ya, Kak... Kak Rangga suami terbaik di dunia," bisik Keisha parau sebelum akhirnya perlahan memejamkan mata, jatuh tertidur pulas dalam dekapan kehangatan suaminya.

Rangga duduk di tepi ranjang, menggenggam jemari tangan Keisha yang terbebas dari selimut. Ia mengecup punggung tangan istrinya lama-lama, menyalurkan seluruh kekuatan dan doa dalam diam. Di luar jendela, rintik hujan malam terus menderu, namun di dalam kamar sederhana itu, cinta mereka berdiri kokoh, melindungi satu sama lain dari setiap badai kecil kehidupan.

1
Feni sang penulis novel
assalamualaikum kak tetap semangat berkarya ya kak jangan patah semangat oh ya kak aku punya novel baru yang berjudul cinta tiada ujungnya tolong mampir ya kak terima kasih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!