NovelToon NovelToon
Pergi Tanpa Kembali

Pergi Tanpa Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Teen / Anak Genius
Popularitas:877
Nilai: 5
Nama Author: halwa diyah

Saat kehidupan tidak lagi berpihak kepadaku. Saat orang yang kusayang semakin jauh meninggalkanku. Saat semua terungkap bahwa aku adalah alien di lingkunganku sendiri, yang tidak dinginkan kehadirannya, tidak dipedulikan keadaannya. Aku tahu, aku harus menyingkir. Menjauh dari semuanya. Kehidupan remaja bernama Adit yang sangat nyaman seperti surga tiba-tiba berubah menjadi seperti neraka. Apakah Adit akan memilih tetap bertahan atau menyerah?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Langkah pertama

Pagi ini kami memutuskan untuk sholat di masjid basement apartemen ini. Aku yang tadi sempat muntah sekali, yang mencetuskan ide ini. Ferdy tidak setuju awalnya, tapi dengan alasan agak bosan di apartemen akhirnya dia pun setuju. Mungkin dia pun merasakan kebosanan yang sama.

Sholat berlangsung dengan penuh ketenangan. Ada tiga shof penuh yang terisi dan kami berada di shof terdepan di belakang imam.

"Mau balik sekarang nggak?" Pertanyaan Ferdy yang lebih mirip dengan ajakan membuyarkan semua pikiran kosong ku.

Entahlah, aku merasa bingung memulai semua rencanaku.

"Disini dulu deh Dy, masih males keatas." Aku mengajaknya duduk di sudut masjid yang jauh dari keramaian dan jauh dari pemandangan lalu lalang orang di pelatarannya.

"Oh iya, Hari ini kita cap 3 hari Dit. Agak siang-an aja ya Dateng nya." Ferdy mengikutiku menyandarkan tubuh pada tembok putih masjid ini.

"Boleh, gue nebeng Lo lagi ya. Hmm,, Kalau hari ini cap 3 jari, kira-kira bisa ambil ijazah mulai kapan ya Dy?" Aku bertanya memastikan, moment tersebut. Moment yang sangat kutunggu.

"Kayaknya si besok udah bisa deh, nanti pas cap tiga jari Lo tanya aja langsung."

"Pulang dari sekolah kita jenguk kak Ivan yuk Dy. Sekalian gue juga mau memastikan sesuatu."

"Nah iya, gue mau ngusulin itu juga. Oke, kita kesana ya pulang sekolah."

***

Aku sudah menanyakan terkait pengambilan ijazah. Ternyata dua hari lagi baru bisa kuambil karena harus melalui proses legalisir yang membutuhkan waktu.

Aku sudah berencana akan menghilang dari sini setelah ijazah ada di tanganku. Biarlah rencana uji coba ARV itu gagal. Beberapa studi kasus yang kubaca, hal itu akan sangat merugikan fungsi organ dalam tubuhku. Aku masih punya rencana hidup yang panjang, dan aku tidak mau semua itu harus berakhir demi uji coba ini.

Perjalanan kami dari sekolah menuju rumah sakit Mahardhika tidak membutuhkan waktu lama. Di ruang rawatnya, kami mendapati kak Ivan yang tengah duduk di bed rumah sakit dengan menjadikan beberapa tumpukan bantal sebagai sandaran nya sedang fokus dengan ponsel nya.

"Eh, kalian jadi dateng?!" Fokusnya mungkin terganggu oleh derit pintu terbuka karena kedatangan kami.

"Udah enakan kak?" Aku mengawali bertanya padanya dan segera mendekat mengambil posisi duduk di sisi bed nya.

"Lumayan lah, dua hari lagi si kakak dijadwalkan pulang nya. Tapi kalau oke sampai malam ini, harusnya besok sudah boleh pulang." Jawabnya dengan santai.

Tidak!

Tidakkah dia belajar dari pengalaman sebelumnya?!

Memaksakan pulang lebih awal dan malah terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Nggak! Nggak ada! Kak Ivan harus pulang sesuai prosedur yang ada. Jangan memaksakan pulang lebih awal." Aku melarang keras keinginan nya itu.

"Dit, gue keluar dulu ya. Mau nyari makan, Lo nitip nggak?" Ferdy yang sejak awal datang langsung merebahkan diri di Shofa kamar ini, meminta izin keluar setelah sampai diambang pintu.

"Boleh Dy, gue nitip sama kayak yang Lo beli." Aku menjawab cepat sebelum dirinya menghilang dibalik pintu.

"Hmm... Kak, obat yang minim efek samping waktu itu aku minum. Namanya apa?" Setelah Ferdy benar-benar pergi aku mulai bertanya serius pada kak Ivan. Ya, lebih baik segera kuselesaikan semuanya.

"Merk jual nya acriptega Dit. Ada apa?" Fokus kak Ivan sepenuhnya sekarang mengarah padaku.

"Aku,,, mau udahan aja kak. Aku mau konsumsi obat itu aja." Ucapku hati-hati sambil terus memperhatikan wajah kak Ivan. Tidak ada keterkejutan disana. Justru senyum terkembang lah yang kak Ivan tampilkan.

"Siap,,, nanti kakak akan berikan resep nya. Kamu bisa beli sendiri ke apotik." Ucapnya kemudian.

"Kak,,, beneran nggak apa-apa?" Aku bertanya kembali memastikan tanggapan yang sebenarnya.

"Nggak apa-apa Dit. Tenang aja, nggak akan terjadi hal-hal yang kamu khawatirkan itu." Aku mengangguk menanggapinya.

Apakah benar?

Apakah benar karier kak Ivan akan baik-baik saja di rumah sakit ini?!

Apakah benar hubungan mama dan papa akan baik-baik saja setelah ini?!

Papa...

Aku harus bisa bertemu dengan nya.

"Sebentar, Kakak minta tolong temen kakak buat ambil dlu kertas resep nya." Kak Ivan terlihat mengetikkan sesuatu pada ponsel nya.

Aku yang masih terdiam hanya bisa menunggu, tidak lama kemudian datang seorang dokter yang memberikan secarik kertas pada kak Ivan. Aku ingat, dokter ini lah yang menemani perawatanku saat kecelakaan itu. Dan aku yakin, dia juga lah orang yang telah menjadi pramusaji saat di kafe malam itu.

"Adit, apa kabar?" Tanya nya ramah kepadaku. Aku bahkan telah melupakan siapa namanya.

Erik...

Papan nama di jubah putihnya membuatku mengingat nama itu. Ya, dokter erik.

"Alhamdulillah baik dokter. Dokter erik sendiri apa kabar?" Aku menjawab pertanyaan nya dengan penuh senyuman ramah.

"Ya,, seperti inilah. Kurang tidur. Tapi kabar baik kok, nggak lagi sakit kayak si Ivan." Aku tersenyum menanggapinya yang tidak canggung berkelakar didepan ku.

"Oh iya Rik, pinjem uang ada?" Kak Ivan yang hanya menanggapi dengan cibiran bibirnya, tiba-tiba bertanya seperti mengingat sesuatu.

"Cash si ga ada. Paling kalau mau gue transfer aja sekarang. Buat apaan emangnya? Tumben banget pinjem duit. Biasanya juga Lo yang minjemin kita-kita."

"Yaah,, gue butuhnya cash. Kalau mau transfer mah tabungan gue juga udah banyak, nggak perlu Lo pinjemin. Buat Adit nebus resep ini."

"A-aku ada uang ko kak. Nggak usah dipinjemin." Segera ku tengahi percakapan diantara mereka. Ya, kalau untuk sekedar beli obat seperti nya cukup. Nggak mungkin kan harga obat sampai ratusan ribu?! Yaaah,, walaupun ratusan ribu paling kisaran seratus dua ratus. Aku ada kok uang segitu.

"Bawa berapa Dit? Uang kamu. Kakak tau kamu nggak mungkin diijinkan pake kartu debit atau kredit. Uang yang kamu pegang ada berapa sekarang?" Kak Ivan bertanya kepadaku penuh selidik. Kenapa dia seakan menginterogasi ku?!

"Kayaknya tiga ratus ribu ada deh. Aku nggak bawa semua uang yang mama kasih." Aku menjawab apa ada nya.

"Tuh kan,,, nggak cukup dit. Hmm.. kamu beli di apotik rumah sakit ini aja deh Dit. Nanti bilang aja tagihannya Dr. Ivan yang bayar."

"Emang harganya berapa kak?" Aku bertanya penasaran, apakah benar-benar ada obat yang mahal nya lebih dari tiga ratus ribu?!

"Tepatnya kurang tau si Dit. Tapi spertinya diatas tujuh ratus ribu." Penjelasan dari kak Ivan sedikit membuatku kaget, semahal itu ternyata.

"Lo temenin aja Rik, belum ada jadwal kan?"

"Aman, ayo bareng, sekalian gue juga mau ambil obat." Aku hanya mengangguk dan berjalan mengikuti dokter erik menuju apotik rumah sakit ini. Sepanjang perjalanan kami hanya terdiam, dokter erik masih disibukkan dengan ponsel nya dan sepertinya ada hal lebih penting yang harus dia bahas di ponsel nya.

"Dit, balik sendiri ke kamar Ivan nggak apa-apa?" Setelah aku mendapatkan satu botol obat bertuliskan acriptega, dokter erik menegurku.

"Bisa dokter, terima kasih." Aku menyalaminya sopan dan mempersilahkan nya berlalu berbalik arah menuju sebuah lorong yang sedikit ramai.

"Kak,,, boleh minta kertas resep yang tadi?" Aku beralih menanyakan kertas resep yang dokter erik serahkan pada petugas apotik disini.

"Resep yang dari dokter erik tadi dek?" Tanya nya ramah merespon keinginanku.

"Boleh, ini. Semoga dimudahkan semua proses pengobatan nya ya. Semangat!" Ucapnya lagi sambil menyerahkan kertas yang kuminta.

Aku menanggapinya dengan senyuman dan segera berlalu dari apotik ini. Kusimpan baik-baik kertas ini dalam soft case iPhone ku.

Satu langkah telah kuselesaikan.

Selanjutnya aku akan bertemu papa, aku akan meminta nya kembali ke rumah dan aku akan menjelaskan semuanya sekaligus pamit pada nya.

1
salma
jadi nostalgia ke masa perpisahan SMA dlu. lagu nya sama
halwa diyah: 🤭 memang lagu itu yang paling cocok buat moment nya kak
total 1 replies
salma
Suka ceritanya ngalir. alurnya santai tapi bikin penasaran kelanjutan nya
halwa diyah
siaap...
semangatt juga kak 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!