NovelToon NovelToon
BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

BANGKITNYA PENDEKAR TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi / Epik Petualangan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: GEELANG

aku akan mengguncang dunia persilatan, aku yang memiliki ingatan masa depan memiliki keunggulan yang akan menghacurkan segala yang merebut waktu dan duniaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 - Menjelang Pasar Pengelana

Angin sore yang dingin merayap di antara celah-celah batu pegunungan. Sun Chen melangkah tenang di balik kerapatan pohon-pohon pinus yang memagari jalan utama. Matanya yang tajam tidak pernah lepas dari karavan pedagang di bawah bukit, menjaga jarak persis lima puluh langkah agar tetap berada di luar jangkauan penglihatan mereka. Setiap kali kakinya menginjak tanah basah, ia secara alami menggeser tumpuan berat tubuhnya, mengusir jejak pijakan agar tidak meninggalkan bekas.

Jauh di atas tebing batu yang menjulang tinggi, pria tua berjubah abu-abu melayang lambat meniti dahan-dahan pohon raksasa. Gerakannya sehalus kapas, hampir tanpa suara dan tanpa pancaran aura yang mencolok. Matanya yang jernih terus memperhatikan setiap lekuk tubuh dan keputusan langkah yang diambil Sun Chen. Rasa penasaran di dalam batin pria tua itu kian membara; ia ingin melihat sejauh mana seorang anak berusia empat tahun sanggup bertahan hidup di tengah kepungan bahaya.

Menjelang matahari terbenam di ufuk barat, karavan kecil di bawah sana berhenti di sebuah tanah lapang dekat aliran sungai kecil. Para pedagang mulai menurunkan muatan, sementara para pengawal menyalakan api unggun untuk beristirahat sebelum memasuki kawasan Pasar Pengelana keesokan paginya.

Sun Chen memanfaatkan momen itu untuk memulihkan staminanya. Ia merayap menuju ceruk sungai yang agak jauh dari perkemahan, meminum air jernih, dan memetik beberapa buah hutan yang aman dimakan. Ia mengambil Tanaman Daun Bintang Merah yang dipetiknya tadi siang, menumbuknya menggunakan dua batu pipih, lalu mengoleskan ramuan hijau itu pada luka gores di bahunya. Rasa dingin yang menyegarkan segera meredakan nyeri pada otot-otot kecilnya.

Saat Sun Chen merayap kembali mendekati batas luar perkemahan karavan untuk mengamati situasi, indra spiritual dasarnya menangkap bisikan suara dari balik semak belukar. Dua orang pengawal yang sejak awal dicurigainya sedang berdiri membelakangi api unggun.

"Pasukan Bayangan Kedua sudah mengambil posisi di sekeliling Pasar Pengelana," bisik salah seorang pengawal seraya menerima burung merpati kecil dari kegelapan malam. "Pelindung Merah memberi perintah agar seluruh pintu masuk diawasi ketat. Setiap anak kecil yang melintas wajib diperiksa."

"Bagus," timpal pengawal kedua dengan suara rendah. "Tua bangkai Chou Tian konon sudah mati atau terluka parah di kota. Bocah itu sekarang sendirian. Dia tidak akan bisa meloloskan diri dari jaringan pasar ini."

Mendengar percakapan itu dari balik semak-semak, dada Sun Chen bergetar tipis. Dugaan dan analisanya terbukti; organisasi pemburu telah menutup seluruh akses masuk ke Pasar Pengelana. Memasuki kawasan pasar dengan penampilan pakaian dan wajah seperti sekarang sama saja dengan melangkah langsung ke dalam mulut harimau.

Sun Chen berundur perlahan, menyusun strategi baru di dalam pikirannya.

Mengandalkan pengalaman penyamaran dari kehidupan lalunya, Sun Chen mengumpulkan lumpur hitam dari dasar sungai, abu sisa kayu bakar yang dingin, serta perasan daun pewarna alami dari semak-semak. Ia mengoleskan campuran itu secara merata ke wajah, tangan, dan kakinya yang terbuka, mengubah warna kulitnya yang semula bersih menjadi kusam dan penuh noda kotoran seperti anak pengemis jalanan.

Ia merobek beberapa bagian tepi jubah sederhananya, membalik bagian dalam jubah yang agak kusam ke luar, dan mengikat rambutnya secara acak menggunakan serat pohon. Dalam waktu singkat, penampilan Sun Chen berubah total menjadi seorang anak yatim piatu desa yang terlunta-lunta.

Malam semakin larut. Di perkemahan karavan, sebagian besar pedagang telah tertidur pulas.

Tiba-tiba, dua pengawal yang merupakan mata-mata organisasi pemburu diam-diam mengayunkan lentera minyak berpenutup redup ke arah hutan sebelah timur. Mereka memberikan sinyal rahasia kepada rekan-rekan mereka yang bersembunyi di kegelapan.

Sebab dari arah kegelapan hutan pinus, terdengar suara geraman berat yang menggetarkan dedaunan.

Seekor Macan Angin muda, binatang buas tingkat rendah berukuran sebesar lembu, melangkah keluar dari kegelapan karena tergiur oleh aroma daging panggang dan kencing kuda perkemahan.

"Binatang buas! Ada Macan Angin!" teriak seorang pedagang yang terbangun.

Suasana perkemahan mendadak kacau balau. Para pedagang berteriak panik, sementara para pengawal berpura-pura panik dan mencabut pedang mereka. Kedua mata-mata sengaja melangkah lambat dan membiarkan Macan Angin itu merangsek mendekati gerobak tempat para pedagang berkumpul. Rencana mereka sangat licik; mereka berharap jika target yang bersembunyi di sekitar hutan memiliki sifat pahlawan, bocah itu akan melompat keluar untuk membantu.

Dari balik semak atas bukit, Sun Chen memperhatikan kekacauan tersebut. Ia tidak ingin para pedagang biasa yang tak bersalah menjadi korban kejahatan mata-mata tersebut, namun ia juga tidak akan memperlihatkan dirinya secara konyol.

Sun Chen memungut dua buah batu berukuran kepalan tangan. Memancarkan seutas benih Qi halus ke jemarinya, ia melempar batu pertama menghantam dahan pohon tebal di sebelah kiri Macan Angin, menciptakan suara patahan keras yang mengagetkan binatang buas itu.

Saat Macan Angin menoleh bingung, Sun Chen melempar batu kedua menghantam tepat pada area lereng berbatu di atas perkemahan.

Suara batu berguling dan gema desingan angin di lereng berbatu itu menipu pendengaran tajam Macan Angin. Mengira ada ancaman lain yang lebih besar atau mangsa yang lebih mudah di atas lereng, Macan Angin itu berbalik dan berlari kencang menuju ke arah lereng berbatu, meninggalkan area perkemahan.

Salah seorang pengawal bayaran yang asli segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melempar obor menyala ke arah lereng, membuat Macan Angin tersebut makin terkejut dan melarikan diri kembali ke dalam hutan lebat.

Para pedagang bernapas lega, mengucapkan terima kasih kepada para pengawal. Namun, dua mata-mata organisasi pemburu saling bertukar pandang dengan kening berkerut. Arah pergerakan Macan Angin tadi berubah terlalu tiba-tiba dan presisi, seolah ada seseorang di balik kegelapan yang sengaja memancingnya pergi. Mereka mulai curiga bahwa ada ahli atau pihak ketiga yang sedang mengawasi perkemahan mereka dari balik bayangan.

Di atas tebing batu yang tinggi, pria tua berjubah abu-abu mengelus janggut putihnya seraya tersenyum tipis. Cara Sun Chen membalikkan keadaan tanpa perlu mengotori tangannya atau memunculkan aura tenaga dalam benar-benar memukau jiwanya.

Cerdas, sangat cerdas, batin pria tua itu kagum. Dia menyelesaikan masalah dengan cara paling efisien tanpa memperlihatkan kemampuannya sedikit pun. Aku akan mengujinya secara langsung begitu dia melangkah masuk ke Pasar Pengelana.

Menjelang fajar, garis-garis sinar keemasan menyapu ufuk timur. Karavan pedagang kembali merapikan barang-barang mereka dan melanjutkan perjalanan menyusuri jalanan lembah menuju kawasan Pasar Pengelana.

Sun Chen yang kini telah menyamarkan penampilannya menjadi anak pengemis kumal melangkah perlahan di balik kerapatan semak, membayangi karavan tersebut dari jarak aman. Di dalam pikirannya, ia telah menyusun identitas palsu dan latar belakang latar cerita yang konsisten untuk menjawab setiap pertanyaan yang mungkin muncul.

Saat melangkah keluar dari batas hutan perbukitan, pemandangan luas Pasar Pengelana akhirnya membentang di depan mata.

Kawasan pasar itu sangat luas, dilingkungi oleh benteng kayu sederhana di kaki Pegunungan Awan Hijau yang megah. Ratusan tenda kain, bangunan kayu, dan gerobak pedagang berdiri rapat di dalam pasar, memancarkan keriuhan dari suara para pengelana, tabib, dan pendekar yang lalu lalang.

Namun, langkah Sun Chen terhenti seketika di balik kerapatan pohon pinus terakhir.

Di gerbang kayu utama menuju Pasar Pengelana, lima orang pria berpakaian petugas pemeriksa berdiri berjejer. Fluktuasi Qi di Dantian mereka begitu pekat, menandakan mereka adalah para pembunuh elit dari Pasukan Bayangan Kedua organisasi pemburu.

Salah seorang petugas pemeriksa memegang sebuah gulungan kertas sketsa wajah yang terbuka lebar. Mata dinginnya menatap tajam ke setiap warga, pengelana, dan anak-anak yang mengantre masuk ke dalam pasar, mencocokkan sketsa wajah Sun Chen dengan sangat teliti.

Sun Chen berdiri diam di balik bayangan pohon, memegang bungkusan kain di balik jubah kumalnya. Langkah berikutnya yang akan diambilnya di gerbang ini akan menjadi penentu mutlak antara hidup dan matinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!