NovelToon NovelToon
Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Dibuang Lalu Dinikahi CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:352
Nilai: 5
Nama Author: Hadid Salman

Keluarga Chandra membuang Lukas dengan alasan ia miskin dan tidak beruntung, tanpa tahu bahwa selama ini mereka menutupi jejak identitas aslinya yang sesungguhnya. Saat Lukas sudah tak punya tempat tujuan, Kirana datang—bukan untuk memberi belas kasihan, melainkan untuk mencarinya. Sebagai CEO yang sedang menyelidiki persaingan bisnis kotor, Kirana tahu Lukas adalah kunci dari semua misteri yang terjadi di lingkaran elit.

Pernikahan mereka adalah topeng untuk menyusup ke dalam rahasia besar. Di sela-sela kehidupan mewah yang tak pernah ia miliki, Lukas mulai menemukan fakta mengejutkan: pengusirannya dari rumah bukan sekadar karena ia miskin, melainkan upaya untuk menyembunyikan warisan besar yang seharusnya menjadi miliknya. Dan Kirana… wanita yang mengangkatnya dari keterpurukan, ternyata memiliki kaitan mendalam dengan musuh terbesar yang merampas haknya sejak dulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 1

Di meja kerja apartemen, peta sketsa yang ditemukan dari amplop bersegel di ruang bawah tanah keluarga Chandra kini terbentang lebar. Garis-garis pensil yang sudah memudar, tanda silang merah yang samar, dan catatan kecil bertuliskan “Rumah Nenek – Simpanan Terakhir” kini menjadi satu-satunya petunjuk paling jelas yang mereka miliki. Lukas menatap peta itu lekat-lekat, dadanya berdebar campur aduk—ia baru pertama kali tahu bahwa ia pernah memiliki nenek, bahwa ada rumah yang pernah menjadi tempat bahagia keluarganya sebelum semuanya direnggut.

“Lokasinya di pinggiran desa Tawaeli, sekitar tiga puluh kilometer dari pusat kota Palu,” jelas Kirana sambil menunjuk titik di peta. “Rumah itu sudah kosong lebih dari sepuluh tahun. Catatan pemilik menyebutkan ditinggalkan setelah pemiliknya—nenekmu, Siti Wijaya—meninggal dunia tak lama setelah kecelakaan orang tuamu. Selama ini dianggap tak bertuan, jadi tidak ada yang berani merenovasi atau menjualnya.”

Malam itu Lukas sulit memejamkan mata. Bayangan wajah yang tak pernah ia lihat, suara yang tak pernah ia dengar, dan janji yang mungkin pernah diucapkan neneknya berputar di kepalanya. Ia tahu apa yang mungkin tersimpan di sana—bukti yang dicari selama ini, bukti yang bisa mengakhiri semua kebohongan Bima. Namun di balik itu ada rasa haru yang mendalam: ada seseorang yang sejak awal menyadari bahaya, yang menyembunyikan kebenaran di tempat yang paling aman, berharap suatu hari nanti cucunya yang hilang bisa menemukannya.

Keesokan paginya, mereka berangkat pagi-pagi sekali. Jalan menuju desa itu berkelok, melewati perkebunan kakao dan hutan yang masih rimbun. Semakin jauh dari kota, semakin sunyi suasana, hanya terdengar suara burung dan gesekan daun tertiup angin. Saat mobil berhenti di depan gerbang kayu yang sudah lapuk, Lukas menatap bangunan tua di baliknya: rumah panggung kayu berwarna cokelat gelap, atapnya tertutup lumut, jendela-jendelanya tertutup rapat papan. Rumah itu tampak seperti sedang menunggu seseorang pulang sejak lama sekali.

Mereka masuk dengan hati-hati. Lantai kayu berderit pelan di bawah langkah kaki mereka. Di dalamnya masih tersisa perabotan tua yang tertutup debu tebal: kursi rotan yang sudah rapuh, meja makan panjang, lemari kaca yang kosong. Tidak ada jejak orang yang pernah masuk ke sini selama bertahun-tahun—seolah waktu berhenti berputar di hari terakhir neneknya menutup pintu.

“Lihat petunjuk di pinggir peta,” ingat Kirana pelan. “‘Di tempat yang menyimpan air untuk seluruh rumah, di bawah lantai yang tidak pernah terlihat matahari.’”

Lukas menyisir setiap sudut ruangan. Hingga akhirnya ia berhenti di ruang dapur, di mana sumur tua yang dilapisi batu bata masih berdiri di tengah ruangan. Ia berlutut, meraba lantai kayu di sekeliling sumur itu. Salah satu papan lantai di pojoknya terasa sedikit longgar, berbeda dengan papan lainnya yang kaku dan keras. Dengan bantuan Kirana, mereka mengangkat papan itu perlahan.

Di bawahnya, tersembunyi di dalam lubang yang dilapisi batu dan semen, terdapat sebuah brankas besi berat berwarna hitam kusam. Tidak ada kunci digital, hanya lubang kunci tua yang sederhana.

“Kunci yang ditemukan di dalam amplop surat nenekmu,” bisik Kirana.

Lukas mengeluarkan kunci kecil berwarna perak yang tersimpan di dalam surat lama itu. Tangan gemetar saat ia memasukkannya ke lubang kunci. Terdengar bunyi klik halus, lalu pintu brankas itu terbuka perlahan tanpa hambatan, seolah baru saja dikunci kemarin.

Di dalamnya, tidak ada emas atau perhiasan. Hanya tumpukan berkas yang terbungkus kain pelindung tahan air, sebuah buku besar bersampul kulit, dan surat tertutup yang ditujukan untuknya.

Lukas mengambil surat itu lebih dulu. Tulisan tangan yang rapi namun mulai goyah menunjukkan tulisan tangan neneknya:

“Cucuku sayang, Lukas. Jika kamu membaca ini, berarti kamu selamat, dan kamu akhirnya menemukan jalan pulang. Aku menulis ini saat aku tahu nyawaku pun terancam. Orang-orang jahat telah mengambil apa yang menjadi milik kita, dan mereka ingin menghapus jejak keberadaanmu selamanya. Aku menyimpan bukti ini di sini karena aku tahu mereka tidak akan pernah menyangka bahwa warisan yang paling berharga bukanlah harta, melainkan kebenaran itu sendiri. Bukti ini adalah hakmu—bukan untuk kekayaan semata, tapi untuk mengembalikan nama baik kakekmu, ayahmu, dan semua orang yang berjuang bersama kita. Maafkan aku karena tidak bisa menunggumu pulang. Aku selalu menyayangimu.”

Air mata menetes jatuh membasahi kertas itu. Lukas segera mengusapnya, lalu membuka tumpukan berkas di bawahnya satu per satu. Jantungnya berhenti berdetak sejenak saat melihat isinya.

Yang pertama adalah Sertifikat Hak Milik Atas Seluruh Aset Grup Wijaya, yang dibuat oleh notaris berwenang lima tahun sebelum kecelakaan orang tuanya. Tertulis dengan jelas bahwa seluruh aset—tanah, bangunan, pabrik, saham, dan hak usaha—diwariskan sepenuhnya kepada satu-satunya pewaris sah: Lukas Wijaya. Tidak ada celah, tidak ada nama lain, tidak ada ketentuan yang bisa diubah.

Yang kedua adalah Salinan Putusan Pengadilan Daerah yang mengukuhkan hak waris tersebut, disahkan oleh pejabat yang berwenang, dengan stempel resmi yang masih jelas terlihat.

Yang ketiga adalah Buku Catatan Pengalihan Hak Palsu, yang berisi rincian setiap dokumen yang dipalsukan, nama-nama pejabat yang disuap, serta tanggal dan jumlah uang yang diberikan oleh Bima untuk menguasai aset itu. Neneknya sengaja mencatat semua itu dengan teliti, menyimpan bukti pembayaran, surat perintah, dan kesaksian yang dikumpulkan diam-diam sebelum ia meninggal.

Yang terakhir adalah Peta Persebaran Aset Lengkap, yang mencantumkan setiap lokasi, luas tanah, jenis usaha, dan status hukum yang sebenarnya—banyak lahan yang diklaim Bima ternyata sama sekali tidak pernah masuk dalam daftar jaminan pinjaman, sehingga pengambilalihannya adalah perampokan murni tanpa alasan apa pun.

“Bukti ini… tak terbantahkan,” ucap Kirana dengan suara bergetar, matanya terpaku pada tanda tangan dan stempel resmi di setiap halaman. “Bima tidak bisa lagi beralasan bahwa pengambilalihan itu sah, atau bahwa kamu tidak berhak atas apa pun. Dokumen ini adalah bukti mutlak bahwa dia telah merampas hak milikmu secara ilegal dan terencana.”

Lukas menutup brankas itu perlahan, lalu memeluk berkas-berkas itu erat di dadanya. Selama ini ia merasa seperti orang asing di tanah kelahirannya, merasa tidak punya tempat dan tidak punya hak. Namun kini ia memegang bukti yang paling kuat—bukti bahwa ia adalah pemilik sah dari semua yang telah dibangun keluarganya, bukti bahwa kejahatan Bima tidak akan pernah bisa disembunyikan lagi.

Mereka berjalan keluar dari rumah tua itu dengan langkah yang ringan namun penuh tekad. Angin sepoi-sepoi berhembus lembut, seolah menyambut keberhasilan mereka menemukan warisan yang paling berharga. Rumah itu kini bukan lagi tempat yang sunyi dan menyedihkan—ia menjadi saksi bisu bahwa cinta dan kebenaran yang disembunyikan dengan sabar pada akhirnya akan menemukan jalan keluar.

Sesampainya kembali di apartemen, mereka segera menyalin setiap dokumen ke dalam perangkat penyimpanan yang aman, menyimpan salinan fisik di tempat yang hanya diketahui mereka berdua, dan menyiapkan laporan lengkap untuk diserahkan ke pengadilan serta pihak berwenang. Warisan yang ditemukan Lukas bukan hanya sekadar aset bernilai triliunan rupiah—ia adalah kunci untuk mengembalikan keadilan, nama baik, dan masa depan yang sempat direnggut dari keluarganya dan dari ribuan orang yang bergantung pada usaha mereka.

Bima mungkin berpikir telah menghapus semua jejak, namun ia lupa: cinta neneknya yang jauh lebih kuat dari keserakahan apa pun telah menyimpan bukti itu dengan selamat, menunggu hari di mana cucunya akhirnya berani berdiri dan menuntut apa yang menjadi haknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!