NovelToon NovelToon
Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Bidan Cantik Di Ujung Pelosok

Status: sedang berlangsung
Genre:Mata Batin / Cinta Istana/Kuno / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~

Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.

~

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 33

***

Matahari pagi baru saja menyembulkan rona keemasannya di balik bukit Hulu Rawa, namun pelataran Balai Adat Utama sudah riuh oleh kesibukan luar biasa. Hari itu, usia kandungan Melani genap menginjak minggu keenam belas. Sesuai hukum dan tradisi leluhur yang diwariskan turun-temurun, Suku Hulu Rawa menggelar Ritual Penyucian Tujuh Mata Air—sebuah upacara adat empat bulanan yang teramat sakral, rumit, dan melelahkan demi memohon keselamatan bagi sang Ibu Pelindung dan calon penerus pimpinan suku.

Melani duduk bersila di atas balai-balai kayu yang dialasi tikar pandan halus. Bidan muda itu hanya mengenakan kain kemben tenun benang kasar berwarna putih. Udara pagi hutan yang menggigit membuat kulit mulusnya merinding halus, sementara rasa lemas sisa kehamilannya masih menggelayut tipis di persendian.

Di hadapannya, Mbah Karsa dan Mbah Salma berdiri mengapit tujuh gentong tanah liat yang masing-masing berisi air dari tujuh mata air keramat di pelosok hutan, bertaburkan ronce bunga mawar hutan, melati, dan daun pandan wangi.

"Dinda... kuat, Sayang?" bisik Rangga Wira lembut dari sampingnya.

Sang Ketua Adat berdiri tegap tanpa alas kaki, bertelanjang dada dengan selendang tenun hitam terlilit di pinggangnya. Matanya yang tajam tak pernah lepas mengawasi raut wajah istrinya, diliputi kecemasan mutlak.

Melani mendongak, menyunggingkan senyum tipis seraya mengangguk pelan. "Kuat, Mas... Hanya sedikit dingin."

Mbah Karsa mengangkat tongkat kayunya, memimpin doa-doa mantra kuno yang bergema berat membelah keheningan pagi. Satu per satu gentong air diangkat oleh para tetua. Mbah Salma melangkah maju, menyiramkan air matang dingin itu ke puncak kepala Melani.

Gebyur!

"Ugh...!" Melani menahan napasnya, tubuhnya berguncang pelan menerima guyuran air dingin yang menusuk tulang.

Rangga Wira yang tak tega melihat istrinya kedinginan seketika berlutut. Tanpa memedulikan aturan adat yang kaku, tangan kekarnya merengkuh bahu Melani dari belakang, menyalurkan kehangatan tubuhnya yang membara untuk menopang raga sang istri agar tidak tumbang.

"Tahan sedikit lagi, Dinda... Saya di sini, merangkulmu," bisik Rangga tepat di tepi telinga Melani seraya mengusap sisa air di pipi istrinya.

"Terima kasih, Mas..." desah Melani pasrah dalam dekapan kokoh suaminya.

Prosesi siraman tujuh mata air yang berlangsung hampir dua jam itu barulah awal dari ujian ketahanan fisik Melani. Setelah tubuhnya dikeringkan dengan kain hangat, belasan ibu-ibu senior desa yang dipimpin Mak Senah memboyong Melani ke dalam kamar sakral untuk menjalani tradisi unik Hulu Rawa: Lilit Kain Tujuh Warna.

Tubuh Melani dipolesi miyok wangi dan rempah hangat, lalu dililitkan kain tenun tebal sebanyak tujuh lapis berturut-turut. Setiap kali satu lapis kain dililitkan, para ibu akan memutar tubuh Melani seraya menyanyikan kidung doa keselamatan berbahasa daerah yang panjang dan tak henti-hentinya.

"Aduh... Mak... sesak sekali," ringis Melani dengan napas memburu. Perutnya yang mulai membusung halus terasa tertekan oleh balutan kain tebal dan putaran tubuh yang tak kunjung usai.

"Tahan sebentar, Ibu Pelindung!" pukas Mak Senah tersenyum hangat seraya menarik ujung kain. "Ini tradisi Mengikat Jiwa. Tujuh lapis kain ini melambangkan tujuh perlindungan leluhur agar janin di dalam rahimmu tidak diganggu roh jahat hutan!"

Ibu-ibu lain bergantian menepuk-nepuk lembut bahu Melani, menyuapkan sedikit demi sedikit racikan jamu pahit berturut-turut yang wajib ditelan habis. Ritual melilit kain, memutar tubuh, dan menyanyikan mantra ini dilakukan berulang kali hingga matahari tepat berada di atas kepala. Melani terasa bagaikan diputar-putar, kepalanya mendadak pening hebat, dan kakinya gemetar lemas.

Saat pintu kamar sakral dibuka, Melani hampir saja roboh jika Rangga Wira tidak dengan sigap menerobos masuk dan menangkap tubuh molek istrinya dalam papahan kekarnya.

"Cukup, Mbah! Istri saya sudah sangat lelah!" tegas Rangga Wira dengan suara baritonnya yang menggelegar penuh perlindungan, menatap Mbah Salma dan para ibu desa dengan raut wajah protektif.

"Mas... jangan marah," bisik Melani lemas, menyandarkan kepalanya di dada bidang Rangga yang hangat. "Ini... ini demi anak kita."

Rangga menatap istrinya dengan pendar rasa iba yang teramat dalam. Ditinggalkannya kerumunan ibu-ibu itu, Rangga membopong Melani menuju sudut teras balai adat yang teduh. Dengan kelembutan luar biasa, Rangga mendudukkan Melani di pangkuannya, mengambil cangkir bambu berisi rebusan air kayu manis dan gula merah hangat, lalu menyuapkannya pelan-pelan ke bibir Melani.

"Minum sedikit-sedikit, Dinda..." tutur Rangga sangat lembut, mengusap peluh dingin di dahi Melani dengan sudut selendangnya. "Saya tidak akan membiarkan siapa pun memaksamu jika tubuhmu sudah tidak kuat."

Melani meneguk air manis itu, merasakan kehangatan perlahan menjalar mengusir rasa lemasnya. "Terima kasih, Mas Rangga... Mas selalu jadi benteng terbaik saya."

Sore beranjak malam, puncak dari seluruh rangkaian ritual empat bulanan tiba. Pelataran Balai Adat disinari oleh ratusan obor bambu yang membara meriah. Seluruh warga Suku Hulu Rawa berkumpul melingkar, menyaksikan prosesi pencerahan dan doa kebaikan.

Di tengah pelataran, berdiri singgasana kayu ukir sakral berselimut kain tenun keemasan. Rangga Wira yang kini mengenakan jubah kebesaran Ketua Adat duduk bersanding dengan Melani yang tampil anggun berbalut gaun kurung tenun merah hati dan mahkota kecil Ibu Adat.

Mbah Karsa melangkah ke depan pelaminan membawa wadah beras kuning dan minyak cendana. Mbah Karsa memimpin seluruh warga desa untuk menadahkan tangan, memanjatkan doa bersama dalam hening yang teramat khidat. Suara lantunan doa ratusan warga bergema syahdu, menyatu dengan desir angin malam hutan Hulu Rawa.

Di tengah keheningan gema doa yang sakral itu, Melani yang duduk bersandar lemas di samping suaminya mendadak tersentak kecil.

Sentik!

Sebuah getaran halus namun terasa sangat nyata dan bertenaga muncul dari dalam rahimnya. Rasanya bagaikan letupan gelembung air atau sentuhan jari kecil dari dalam perutnya yang mulai membuncah halus.

Melani membelalakkan matanya, menahan napasnya seraya menunduk menatap perutnya sendiri. "Nngghh...!"

Rangga Wira yang selalu peka terhadap setiap gerak-gerik istrinya seketika menoleh cemas. "Dinda? Ada apa? Perutmu sakit lagi?"

"M-Mas... pegang..." bisik Melani terbata, suaranya bergetar oleh gejolak rasa takjub yang luar biasa. Melani meraih telapak tangan kekar Rangga dan menempelkannya erat-erat di atas perut bagian bawahnya.

Rangga Wira menatap Melani bingung. Namun, hanya selang beberapa detik kemudian...

Duk!

Sebuah dorongan kecil namun tegas memantul tepat di bawah telapak tangan kekar Sang Ketua Adat. Calon buah hati mereka memberikan gerakan pertama yang nyata di tengah malam sakral itu.

Rangga Wira mendadak membeku total. Pria tegap yang biasanya berdiri kokoh bagaikan karang itu tersentak hebat. Manik mata hitamnya membelalak menatap perut istrinya, lalu berpaling menatap mata Melani yang sudah berkaca-kaca.

"D-Dinda... ini... anak kita?" suara bariton Rangga yang tegap mendadak pecah bergetar.

"Iya, Mas..." tangis bahagia Melani pecah pelan seraya tersenyum paling indah. "Anak kita bergerak... Dia menyapa ayahnya."

Untuk pertama kalinya di hadapan ratusan rakyatnya, Sang Ketua Adat Hulu Rawa yang ditakuti dan disegani itu tak kuasa menahan genangan air mata bahagianya. Lelehan air mata bening menetes melewati pipi tegas Rangga Wira. Dengan perasaan haru yang membuncah tiada tara, Rangga menundukkan tubuh tegapnya, menempelkan dahinya di atas perut Melani seraya mengecupnya penuh kelembutan mutlak.

"Terima kasih... Terima kasih, Anakku... Terima kasih, Istriku..." bisik Rangga Wira serak dengan dada yang berguncang oleh rasa syukur.

Mbah Karsa yang melihat keajaiban itu seketika mengangkat tongkat kayunya tinggi-tinggi ke udara.

"Leluhur telah memberikan tanda kehidupannya!" seru Mbah Karsa lantang membelah malam. "Calon pimpinan kita telah menyapa tanah ini!"

Huraaa!

Sorak-sorai sukacita dan tepuk tangan meriah dari seluruh warga desa meledak seketika memenuhi pelataran Hulu Rawa. Tabuhan tifa bergema nyaring menyambut pendar kebahagiaan puncak malam itu.

Di atas singgasana kayu sakral, di tengah riuh kebahagiaan seluruh suku dan hangatnya pendar obor malam, Rangga Wira merengkuh tubuh lemas Melani ke dalam pelukan dada bidangnya yang protektif. Seluruh rasa lelah dari ritual panjang seharian itu sirnah tak berbekas, berganti dengan kehangatan cinta abadi yang mengikat jiwa mereka seutuhnya.

Bersambung..

1
falea sezi
benerr pergi
falea sezi
pergi jauh
dika edsel
noh istrimu sudah mode pasrah dan tertekan...huh..ntar klo terjadi sesuatu sama istrmu pegimana...?? emang anda sudah siap jd duda?? kita mikir yg buruk aja deh..klo diliat dr kondisinya melani yg kian hari kian ngenes ini😌
Heresnanaa_: iyaa, Ki Rangga benar benar yaaa 😌
total 1 replies
Ayusha
Dr. (Doktor)
dr. (dokter)
Ayusha: macama. lanjut kak, semangat 💪
total 2 replies
Kusii Yaati
wes mboh sak karepmu Ki...lama" Melani bisa depresi semua di pendam sendiri.😩
Heresnanaa_: kann, author juga ngerasa kaya gitu 🥹🥹
total 1 replies
falea sezi
klo q jd Melani pergi plg ke rmh ortu 🤣🤣 ngapain di situ punya suami goblok
Ayusha
jadi keinget lahiran pertama /Smile/
Kusii Yaati
up lagi dong Thor, jangan satu bab aja 🥺
Heresnanaa_: stay tune ya beb😚🫶
total 1 replies
Kusii Yaati
yang sabar Melani,Ki Rangga sedang capek dan banyak pikiran jadi nggak bisa ngontrol emosinya 🤧... semoga lekas berbaikan 🥹
Kusii Yaati: up lagi dong Thor...2 bab ya 🤭
total 2 replies
neng ade
tapi jangan yang berat konfliknya,
Heresnanaa_: amannn kok 🤭
total 1 replies
Reni Anggraeni
bagus sekali
Reni Anggraeni
emmm bagus ceritanya
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bongkarkan yang hati busuk thor
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
habislah tamat riwayat
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bunga² sedang mekar..
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
bagus di awal bacaannya
sunshine wings
yang sabar ya pak ketua adat.. lumrah ibu hamil bermacam ragam.. ❤️❤️❤️❤️❤️
sunshine wings
hebat kisahnya aku sukaaa..
❤️❤️❤️❤️❤️
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
neng ade
Alhamdulillah, Melani hamil ..
🤲
Kusii Yaati
ya ampun pak ketua suku ganas amat ,air tenang menghanyutkan ya, semalam suntuk di gempur sama pak ketua suku 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!