Kisah petualangan seorang pemuda yang dipilih semesta untuk pergi bersama para roh pendampingnya ke dunia lain. Disana mereka akan membantu membereskan semua kekacauan yang di sebabkan oleh para pasukan Iblis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ya'purmansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerita Pemilik Kedai
Pagi itu setelah sadarkan diri, Ipul melihat teman-temannya sedang menunggu dirinya bangun. Karna mereka sedang berada di atas sebuah menara pemancar yang sangat tinggi saat itu.
Jadi mereka bisa melihat jelas di sekeliling tampak gedung-gedung besar dan megah, seperti yang ada di kota besar pada umumnya. Namun tempat ini terlihat jauh lebih modern dan maju karna tatanan kotanya sangat rapi dan megah.
Karna penasaran melihat tempat mereka berada saat ini, Ipul pun melihat seluruh tempat itu menggunakan teropong agar tampak jelas semua yang ingin ia lihat.
Setelah puas melihat semua yang ada di sekeliling mereka, sebelum berpetualang Ipul tidak lupa mempersiapkan semua barang yang di perlukan mereka menggunakan gelang universal.
Pertama-tama ia membuat pakaian yang sesuai dengan keadaan di sana, lalu alat pembayaran untuk mempermudah aktifitas mereka di sana serta benda-benda yang sekiranya nanti berguna untuk mereka.
Untuk makanan mereka nantinya bisa membeli makanan yang ada di sana. Dan setelah semua persiapan selesai, mereka pun bersiap memulai petualangan di kota tersebut
Setelah mereka turun dari menara tempat mereka tadi berada, pertama yang akan mereka lakukan adalah mencari tempat makan terdekat.
Di sepanjang perjalanan mereka mencari tempat makan, mereka selalu di perhatikan semua orang yang di lewati atau melewati mereka.
Karna merasa ada yang aneh dengan semua orang di situ, Ipul pun mencoba mengamati setiap orang yang berpapasan dengan mereka.
Terlihat orang yang berpapasan tersebut, selalu memperhatikan sosok gaib yang ada bersama nya itu.
Anehnya Mereka seperti tampak jelas di mata orang yang ada di sini.
Karna merasa itu tidak mungkin, Ipul mencoba untuk tidak menghiraukannya dan lanjut mencari kedai makan yang ada di sekitar mereka.
Tak perlu waktu yang lama untuk mencari tempat makan di situ, Ipul pun melihat sebuah kedai yang menjual banyak aneka makan dan minuman.
Mereka pun bergegas masuk ke kedai tersebut untuk segera mencoba makan yang ada di sana.
Karna ia membawa hewan peliharaan dan sebuah kotak besar, maka penjaga kedai melarang mereka masuk dan meminta untuk meletakan barang bawaan mereka di luar saja.
Mendengar penjaga pintu masuk kedai itu melarang membawa masuk peti yang di bawa oleh Bangkui, mereka semua pun terkejut.
Karna penjaga itu bisa melihat apa yang dibawa oleh Bangkui dan juga orang yang membawanya.
Oleh karna tidak ingin meninggal kan barang yang di bawa mereka di luar kedai, maka Ipul memutuskan untuk duduk di luar kedai yang juga tersedia meja dan kursi kedai.
Seperti layaknya cafe di kota besar, kedai tersebut juga menyediakan daftar menu apa saja yang di jual mereka lengkap dengan harganya.
Karna terlihat mereka seperti pendatang baru di kota itu, maka pelayan tersebut menjelaskan prosedur pemesanan dan pembayaran kepada mereka terlebih dahulu.
Setelah mendengarkan dan memahami penjelasan dari pelayanan kedai baru lah Ipul memilih apa saja yang akan di pesan untuk mereka semua.
Sambil menunggu Ipul memilih apa yang akan di pesan, pelayan itu terus memperhatikan Bangkui dan Ishah yang sedang memakai pakaian tradisional yang mereka anggap keramat di situ.
Karna sangat penasaran pelayan itu bertanya ke pada Bangkui.
“Maaf sebelumnya tuan, apakah saya boleh bertanya dari mana anda mendapatkan pakaian yang anda kenakan ini.?” Tanya pelayan penasaran.
“Ini baju yang aku pakai sehari-hari di tempat ku tuan, apa ada yang aneh dengan baju ini tuan.?”
Tanya bangkui kembali setelah menjawab pertanyaan dari pelayan tersebut.
“Iya tuan, tapi nanti akan kami jelaskan tentang pakaian itu. Dan silahkan tuan menyelesaikan dulu apa yang akan tuan pesanan disini.” Jawab pelayan itu sambil mencoba meminta mereka untuk segera memesan.
Setelah mereka sudah selesai menentukan apa saja yang mereka pesan, pelan tersebut pun bergegas masuk ke dalam kedai.
Tak lama pelan itu masuk, keluarlah seseorang dari dalam kedai menghampiri mereka seraya memperkenalkan bahwa dirinya adalah pemilik kedai tersebut.
Lalu orang tersebut meminta mereka untuk ikut masuk bersamanya dan mengizinkan mereka membawa semua yang mereka bawa itu masuk ke dalam. Lalu mereka semua di bawa menuju ruangan khusus oleh pemilik kedai tersebut.
Sembari menunggu proses pembuatan pesanan
mereka selesai, sang pemilik kedai mengajak mereka berbincang sebentar.
Pemilik kedai memulai pertanyaannya dari mana mereka berasal dan untuk apa mereka ke sini.
Dan dengan santai Ipul menceritakan bagaimana mereka bisa berada di kota ini dan memberitahu asal mereka masing-masing tanpa ada yang di sembunyikan dari pemilik kedai tersebut.
Setelah mengetahui asal mereka dan selesai mendengar cerita dari Ipul, pemilik kedai itu pun mulai bercerita tentang dirinya dan kota ini. Ia pun memulai ceritanya,
Menurut cerita dari leluhurnya dulu kota ini adalah kota yang sangat makmur dan memiliki kekayaan alam yang berlimpah ruah.
“Dulunya sebelum menjadi kota seperti ini, di sini merupakan kampung halaman leluhurnya yang berasal dari keturunan tuan Bangkui.”
“Leluhur kami hanya hidup dari berburu dan makan dari hasil hutan yang tersedia di sini. Lalu datanglah rombongan dari luar menggunakan kapal-kapal besar ke desanya.”
“Karna tidak ada dari mereka yang berniat ingin menyakiti semua yang ada di desa, jadi dengan senang hati leluhur kami menerima kedatangan mereka semua.”
“Dari merekalah leluhur kami banyak belajar tentang bagaimana bertani, membuat alat dan senjata untuk memudahkan berburu, sampai alat untuk memanen hasil bumi yang melimpah di sini.”
“Semakin hari desa itu semakin berkembang menjadi sebuah desa yang lebih maju dari desa yang ada di sekitar. “
“Tak lama kemudian desa itu pun mulai menjadi pusat pemerintahan yang di pimpin oleh Raja dan Tumenggung yang di pilih oleh semua warga desa yang ada di sana.”
“Berkat dari tambang emas dan permata yang mereka punya, desa yang kecil itu pun menjadi sebuah kerajaan besar yang sangat makmur dan tenteram.”
“Di sana semua orang hidup rukun dan sejahtera di bawah kepemimpinan raja dan Tumenggung itu.”
“Lalu tersebar lah berita bahwa kerajaan itu memiliki banyak batu permata yang sangat indah sampai ke negara seberang.”
“Karna keserakahan ingin memiliki semua permata yang ada tempat itu, mereka pun datang ke kota dengan berpura-pura ingin melakukan kerja sama.”
“Dengan dalih ingin membeli hasil tambang yang ada di sana, mereka semua pun di terima di oleh sang raja. Tapi Perlahan-lahan niat mereka ingin menjajah wilayah itu pun terbongkar, lalu raja pun mengusir mereka untuk pergi dari tempatnya.”
“Namun mereka mencoba memaksa untuk menguasai wilayah itu dengan cara berperang.”
“Awalnya leluhur kami menang dari perang itu dan berhasil mempertahankan tempatnya.”
“Tapi tak lama kemudian mereka pun datang kembali dengan ribuan pasukan bersenjata lengkap menyerang kota leluhurnya lagi.”
“Leluhur kami berhasil terpojokkan dan hampir kalah oleh mereka yang sangat banyak.”
“Begitu mereka hendak ingin menyerang pusat pemerintahan yang ada di kota itu agar bisa di kuasai oleh mereka, sang raja memerintahkan semua yang memiliki kesaktian berkumpul untuk mencoba mempertahan kan tempat ini agar tidak jatuh ke tangan para penjajah itu apa pun caranya.”
“Lalu dengan menggabungkan semua kesaktian yang mereka semua miliki, kerajaan itu pun berhasil di pertahankan dengan cara menyembunyikan semua yang ada di sekitar kerajaan dari penjajah tersebut.”
“Yang tertinggal hanyalah tanah yang tandus dan gersang yang mereka lihat. Istana berserta semua yang ingin mereka kuasai pun lenyap tanpa tersisa.”
“Tidak ada lagi kerajaan yang megah dan makmur yang mereka inginkan di tempat itu, tambang dan semua kekayaan yang ingin mereka rebut pun lenyap beserta penduduknya.”
“Begitulah cerita dari kakek ku.” Kata pemilik kedai selepas bercerita kepada mereka semua. Lalu melanjutkan lagi ceritanya.
“Kini kerajaan tersebut menjadi kerajaan gaib yang hanya bisa di lihat dan di tempati oleh orang-orang yang tidak memiliki keserakahan di hatinya.”
“Jadi di kota ini sekarang dihuni oleh manusia biasa dan makhluk gaib yang selalu hidup berdampingan dan rukun demi membangun kota hingga seperti ini. Makhluk gaib di sini adalah keturunan leluhur kami yang dulunya memiliki kesaktian yang hidup sama seperti manusia yang ada di sini juga.”
“Tidak ada perbedaan antara manusia dan makhluk gaib di sini, semuanya sama dan setara.”
“Maka dari itu tuan Bangkui dan nyonya Ishah bisa terlihat di sini karna sebagian dari orang di sini juga merupakan makhluk gaib.”
“Yang berbeda di sini adalah manusia yang sengaja atau tidak sengaja masuk ke tempat ini. Mereka harus hidup terikat oleh aturan yang ada di tempat ini.” Lanjut Pemilik kedai menjelaskan lagi kepada mereka.
Pemilik kedai itu pun berhenti bercerita karna ia ingin mengajak Ipul dan rombongannya untuk makan bersama.