Dua orang yang dipaksa hidup untuk ambisi orang lain, bertemu di tempat paling brutal: ruang operasi. Tekanan membuat mereka hancur, tapi juga satu-satunya tempat mereka jujur.
Devan Adiguna Handaru, Konsulen Bedah Thoraks dan Kardiovaskular, 35 tahun. Pewaris rumah sakit swasta terbesar. Hidupnya cuma sekitar nama keluarga dan pisau bedah.
Savira, residen muda yang mimisan di tangga darurat. Tapi tetap senyum ke pasien. Hidupnya cuma jaga gawang ekspektasi mamanya.
Mampukah dua orang yang hanya kenal cairan infus dan darah... menambahkan warna untuk hidup satu sama lain? Atau ambisi Chandra Handaru yang akan menghancurkan mereka sebelum cinta sempat tumbuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Starry Light, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pewaris Di Balik Jas Snelli
Jam 13:00. Pintu ruang istirahat residen terbuka. Savira keluar dengan jas snelli yang sudah rapi lagi. ID card menggantung lurus di dada. Wajahnya masih pucat , tapi matanya jernih, melangkah mantap menuju ruang ICCU.
Pintu geser ICCU terbuka pelan, suhu dingin dan steril menyambutnya. Savira melangkah masuk melewati meja nurse station, dia menunjukkan senyum ramahnya menyapa perawat jaga.
Di bed 6, tuan Sugandi terbaring. Ventilator berbunyi pelan, teratur. Dada pasien naik turun teratur mengikat ritme mesin. Savira tidak langsung menulis, dia berdiri di sisi kanan bed, memeriksa satu per satu.
Saturasi oksigen 98%. MAP 76. HR 82, irama sinus. ETCO2 34 mmHg. Tangannya menyentuh selang ETT, memastikan tidak ada tarikan atau lipatan. Dia mendekatkan stetoskop ke dada pasien. Suara napas vesikuler, tidak ada ronkhi.
"Bagus," gumamnya pelan, hanya untuk dirinya sendiri.
Setelah yakin tidak ada perubahan, dia membuka buku laporan kecil di meja perawat. Tulisannya cepat, rapi, tanpa coretan.
Post-op CABG POD 0. Weaning ventilator selesai 12:30. MAP 75-80, HR 80-85, sinus. SpO2 97-99%.
Itulah laporan yang akan dibaca dokter Devan sore nanti. Tidak ada kata berlebihan. Hanya fakta. Savira tahu dokter Devan benci basa-basi. Satu angka salah, satu detik terlambat, bisa jadi bahan interogasi besok pagi.
Selesai menulis, Savira tidak duduk. Dia tetap berdiri di samping bed, sesekali melirik monitor. Napas pasien adalah napasnya sekarang. Kalau mesin itu berbunyi alarm, dia yang harus menjawab pertama.
Jam 13:26, perawat datang membawa cairan infus baru.
"Dokter, mau saya ganti."
Savira mengangguk. "Saya yang ganti. Hitung tetesnya lagi."
Dia tidak minum, tidak melihat ponsel. Ruang istirahat sudah selesai. Sekarang yang ada hanya ruang ICCU, monitor, dan tanggung jawab yang tidak bisa di tunda.
Di saku jasnya, masih ada sketchbook. Tapi, tangannya sekarang sibuk dengan hal lain: menjaga napas seseorang agar tetap berjalan, sampai dia yakin orang itu aman.
...
Jam 17:20. Lampu ICCU meredup jadi kuning. Dokter Devan masuk bareng rombongan. 2 residen anestesi, 1 residen bedah thoraks, 3 perawat, dan 1 mahasiswa koas yang tidak berani napas keras-keras.
Di bed 6 tuan Sugandi, sudah lepas ventilator. Selang ETT dicabut jam 17:05. Sekarang beliau pakai oksigen nasal kanul 2 LPM. Suaranya serak, matanya masih berat, tapi dia sudah sadar. Liat dokter Devan, bibirnya bergerak. "Dok..."
Dokter Devan berhenti di sisi bed. Suaranya datar, tapi bukan galak. "Pak Sugandi, operasinya lancar. Bapak sudah lepas napas bantuan. Bagaimana rasanya sekarang?"
"Sakit... Di dada." jawabnya pelan.
Dokter Devan mengangguk, dia tidak langsung pegang pasien. Mata dulu yang kerja.
Dia cek monitor. HR 88, sinus. TD 130/80. SpO2 97%. Lalu melihat luka operasi di dada. Drain di sisi kanan masih keluar darah 20 ml/jam. Bersih, tidak ada bekuan besar.
Setelah itu, dokter Devan menoleh ke Savira. "Lapor."
Savira berdiri satu langkah di depan. Notebook di tangan kiri Kiri, sudah terbuka di halaman tuan Sugandi.
"Pak Sugandi, POD 0 post-CABG. Weaning selesai jam 12:30, extubasi jam 17:05. GCS 15. Nyeri VAS 4/10. Drain 120 ml total sejak pagi. Urine 60 ml/jam. ABG jam 16:00 PaO2/FiO2 220. Tidak ada aritmia."
Dokter Devan mendengar sambil melihat pasien. "Suara paru?"
Savira langsung memeriksa dada pasien dengan stetoskop, dari lehernya. 10 detik.
"Bagus. Sesuai." lapornya.
Dokter Devan mengangguk. "Skala nyeri dari 1-10 berapa, Pak?" tanyanya, pasien itu menunjukkan 4 jarinya sebagai jawaban.
"Kasih fentanyl 25 mcg IV. Kalau masih sakit, bilang perawat." instruksi dokter Devan, Savira langsung mencatat di notebook.
Dokter Devan buka perban sedikit. Lihat insisi sternum. Kering. "Drain jangan dicabut dulu. Ukur tiap jam. Kalau >100 ml/jam, panggil saya."
Savira pastikan perawat sudah pasang spuit 50 ml untuk milking drain.
Dokter Devan menepuk bahu pasien. "Pak, nanti malam coba duduk 30 derajat. Jangan takut, jahitan kuat. Gerak dikit biar paru tidak kolaps."
Perawat bantu tinggikan headboard bed, catat Savira.
Setelah memastikan kondisi pasien. Dokter Devan menemui keluarga pak Sugandi yang sudah menunggunya di luar. Dokter Devan mengatakan jika pasiennya sudah sadar, malam ini akan dilakukan observasi. Besok kalau stabil, pindah HCU.
Di dalam. Savira cek ulang infus fentanyl, memastikan drip berjalan. Dia lihat pak Sugandi sudah bisa kemeja mata tanpa panik.
Di notebooknya, Savira coret satu baris: extubasi 17:05, berhasil.
*****
Jam 9 malam. Dokter Devan belum pulang. Dia duduk di ruangannya di lantai 12. Kantornya menghadap seluruh kota. Di meja ada kontrak marger Medika Care Hospital dengan perusahaan Farmasi Pratama Biofarma.
Di layar laptop, wajah ayahnya muncul via video call.
"Besok kamu tanda tangan. Perusahaan Farmasi itu akan kasih 2 triliun. Dengan itu kita bisa beli tiga rumah sakit di Jawa Timur."
"Papa nggak bilang kalau syaratnya, Devan harus menikahi anak Dirut Biofarma." katanya datar.
"Itu harga kecil. Keluarga Handaru selalu menikah untuk kekuasaan. Kamu tahu itu sejak umur 12 tahun." jawab pria bernama Chandra Handaru.
Dokter Devan menutup laptop tanpa pamit. Sudah malas untuk mendebat sang Ayah.
Tangannya membuka laci meja, mengambil sebuah keras foto. Usianya masih 16 tahun, pakai jas lap yang kebesaran. Berdiri di samping ayahnya di depan ruang operasi. Di belakang foto ada tulisan tangan ayahnya: Ingat Devan, nama Handaru lebih penting dari nyawamu.
Devan tidak pernah merasa menjadi seorang dokter karena ingin menyelamatkan orang. Dia menjadi dokter karena tidak punya pilihan, jika tidak menjadi dokter, maka keluarga runtuh. Beban tak kasat mata itu membelenggu hidupnya.
Ponselnya bergetar. Notifikasi dari grup WA tim bedah: Pasien 61 tahun stabil. Terimakasih tim.
Dia lihat nama Savira di daftar. Dia ingat matanya tadi. Keras kepala. Tapi ada takut di dalamnya. Sama sepertinya 10 tahun yang lalu.
Dokter Devan mulai mengetik pesan. Tapi dihapus lagi. Tidak perlu pikirnya. Dia berdiri, mematikan lampu kantor. Di luar, kota Jakarta sangat terang dengan gemerlap lampu malam. Di dalam, Devan gelap. Hidup sempurna yang orang lihat hanya topeng yang terpaksa dia pakai sejak umur 12 tahun.
Pria 35 tahun itu berdiri menghadap jendela kaca yang besar. Kemeja hitam yang membalut tubuhnya terlihat pas, memperlihatkan kulit putih dan urat lengan karena kemeja itu digulung sampai siku.
Matanya menatap lurus ke luar jendela, menghela napas berat dalam kegelapan, sebab lampu kantor ia matikan. Otaknya memikirkan kontrak 2 miliar yang lebih tepat disebut vonis baginya. Tiba-tiba ada satu nama yang menunggu untuk dinikahi.
Devan tersenyum getir. Mengingat akan menikah dengan wanita yang bahkan dia tidak tahu nama dan wajahnya. Statusnya putra mahkota, konsulen paling disegani. Tapi dia tidak bisa mengambil keputusan untuk hidupnya. Di ruang operasi dia memang punya kuasa, tapi di luar OK, Devan tidak punya kuasa.
Devan menghela napas dalam-dalam, berusaha menetralkan emosi yang bergejolak dalam hati. Matanya tertutup, namun sekelebat bayangan Savira membalas tatapannya saat morning report tadi melintas di kelopak matanya.
Devan langsung membuka mata. Dahinya berkerut. Dia tidak tahu kenapa bayangan Savira melintas. Mungkin karena untuk pertama kalinya, ada orang yang berani menatapnya sama seperti manusia, bukan pewaris.
*
*
*
*
*
To be continued