Nadine Lavena membatalkan pernikahannya tiga minggu sebelum hari H setelah membongkar perselingkuhan tunangannya, Heyden Ames, di depan diskusi formal dua keluarga besar. Pengkhianatan itu membangkitkan trauma masa kecil saat dibuang ibu kandungnya, membuat Nadine skeptis pada cinta dan hanya memercayai uang.
Seminggu kemudian, di sebuah restoran industrial, Nadine menyaksikan Kyle Ernest pewaris bisnis sedingin es disiram air oleh teman kencan butanya akibat klausul pernikahan kontrak yang teramat kaku. Senyum sinis Nadine memicu harga diri Kyle yang angkuh hingga melayangkan tantangan gila: pernikahan kontrak tiga tahun dengan gaji 100 juta per bulan dan denda pembatalan 30 miliar.
Nadine menerima tantangan itu demi uang, murni sebagai mitra kerja. Namun, Kyle tidak menduga bahwa di balik sikap acuh tak acuh Nadine, wanita itu menyimpan kecerdikan tajam untuk menghadapi badai fitnah dari Kinara Inka, masa lalu Kyle yang licik yang tiba-tiba kembali untuk merebut segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seeula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4.1: Kehangatan Palsu dan Lahirnya Transaksi Baru di Bawah Atap Yang Sama
Aroma semen basah dari dinding yang baru dicat berpadu dengan bau pengap dari kipas angin tua yang berputar lambat di langit-langit, menyambut kedatangan Nadine Lavena di dalam gedung Kantor Urusan Agama setempat. Udara pagi itu terasa dingin, sisa hujan deras semalam yang masih menyisakan genangan air di jalanan aspal luar. Nadine memilih duduk di salah satu sudut kursi kayu panjang yang keras dan dingin. Ia mengenakan setelan blus putih gading sederhana dengan potongan leher V yang elegan, memancarkan aura keanggunan unik yang tenang dan berkelas. Jemarinya yang lentik sesekali meremas tali tas jinjingnya, memastikan dokumen delapan pasal bermeterai yang ia sepakati kemarin malam sudah tersimpan aman di dalam sana.
Tepat pukul sembilan pagi, pintu kaca depan didorong terbuka dengan sentakan pelan. Langkah kaki yang mantap dan berbobot terdengar menggema di atas lantai keramik putih murah yang agak kusam. Aroma maskulin yang teramat mewah dan mahal dari parfum amberwood bercampur sedikit aroma tembakau halus langsung menyeruak, mendominasi seluruh ruangan dan menenggelamkan bau pengap bangunan tua itu dalam sekejap.
Kyle Ernest datang dengan langkah tegapnya yang berkuasa. Kali ini, pria beraura es itu memilih tampil lebih kasual namun tetap mengintimidasi. Ia mengenakan kemeja hitam formal dengan lengan yang digulung rapi hingga ke siku, menampilkan jam tangan mewah bermerek internasional yang melingkar kokoh di pergelangan tangan kirinya. Wajah tampannya tetap datar tanpa ekspresi, seolah ia sedang menghadiri rapat pembubaran anak perusahaan alih-alih pernikahannya sendiri.
Kyle mengambil tempat duduk tepat di sebelah Nadine, menyisakan jarak formal yang cukup lebar di antara mereka. Suara beratnya yang dingin memecah kesunyian koridor. "Anda tidak melarikan diri dari kesepakatan kita. Bagus."
Nadine menoleh perlahan, menatap rahang tegas pria itu dari samping dengan pandangan acuh tak acuh. "Saya bukan tipe wanita pengecut yang suka menarik kembali kata-kata saya, Pak Kyle. Terutama setelah melihat kejelasan pasal kedelapan di dalam draf kontrak kita."
Kyle mendengus pelan. Seulas senyum smirk yang tipis muncul di sudut bibirnya sebelum kembali mendatar. "Ternyata Anda memang tipe wanita yang sangat jujur dan transparan jika menyangkut urusan uang."
"Uang adalah satu-satunya hal yang tidak akan pernah mengkhianati komitmen, Pak Kyle. Berbeda dengan janji-janji manis manusia yang bisa berubah menjadi racun busuk dalam semalam."
Nadine mengalihkan pandangannya ke arah pintu ruang sidang administrasi utama ketika seorang petugas paruh baya melambaikan tangan, memberi isyarat agar mereka segera masuk.
Proses pendaftaran dan ijab kabul itu berjalan dengan sangat cepat, sunyi, dan efisien tanpa ada drama sedikit pun. Tidak ada dekorasi bunga-bunga segar yang indah, tidak ada alunan musik spiritual yang mengharukan, tidak ada jajaran sanak saudara yang menangis bahagia, dan tidak ada gaun pengantin mewah bertabur kristal yang megah. Hanya ada jabat tangan formal antara Kyle dan wali hakim, ucapan janji nikah yang sah dan ringkas, serta goresan pena hitam di atas beberapa lembar buku nikah resmi yang diakui oleh hukum negara.
Dalam waktu kurang dari tiga puluh menit, status hukum kedua insan yang saling asing itu telah berubah total menjadi sepasang suami istri yang sah di mata hukum.
Begitu mereka melangkah keluar dari gedung KUA, Kyle menghentikan langkah kakinya tepat di undakan tangga semen paling atas, terlindung di bawah kanopi semen dari sengatan matahari pagi yang mulai meninggi. Pria itu merogoh saku celana kain hitamnya, mengeluarkan sebuah kartu kredit khusus berwarna hitam mengilat tanpa limit dan sepasang kunci perak dari dompet kulitnya, lalu menyerahkannya langsung ke atas telapak tangan Nadine.
"Ini kartu khusus untuk segala kebutuhan harian Anda yang sudah saya janjikan, dan ini adalah kunci rumah pernikahan kita yang terletak di kawasan Menteng. Pindahkan seluruh barang-barang pribadi Anda sore ini juga menggunakan kurir pribadiku. Mulai malam ini, kita resmi tinggal di bawah atap yang sama."
Nadine menerima benda-benda dingin itu, membiarkan logam perak kunci tersebut menyentuh kulit telapak tangannya tanpa ada getaran kegugupan sedikit pun. "Bagaimana dengan keluarga besar Anda? Kapan saya harus mulai mengaktifkan peran akting saya di depan mereka?"
"Ibuku sudah mengetahui tentang pernikahan mendadak ini melalui sekretarisku. Beliau sangat terkejut sekaligus merasa puas karena mengira aku akhirnya menyerah pada tuntutannya untuk menikah. Minggu depan, kita dijadwalkan untuk menghadiri jamuan makan malam bersama di kediaman utama Ernest. Bersiaplah dengan baik, jangan sampai membuat kesalahan kecil yang mencurigakan."
Nadine memasukkan kunci dan kartu hitam tersebut ke dalam tas jinjingnya dengan gerakan yang sangat anggun dan tenang. "Anda tidak perlu khawatir, Tuan Ernest. Selama hak saya di pasal kedelapan berjalan lancar tanpa hambatan, saya jamin kualitas akting saya tidak akan pernah mengecewakan ekspektasi Anda maupun keluarga Anda."
Kyle menatap wajah unik Nadine selama beberapa detik, mencoba mencari celah ketakutan atau keraguan di balik sorot mata indah wanita itu. Namun, pria es itu kembali gagal; ia hanya menemukan kekosongan, ketegasan, dan sebuah dinding es yang sama tebalnya dengan milik dirinya sendiri.
Rumah mewah yang terletak di salah satu sudut sunyi kawasan elit Menteng itu berdiri dengan megah, menampilkan arsitektur modern minimalis yang kental dengan sentuhan industrial kelas atas. Dinding luarnya didominasi oleh batuan alam berwarna abu-abu arang dan kaca-kaca jendela besar yang memantulkan bayangan pohon-pohon peneduh di sekitarnya. Saat Nadine melangkah masuk ke dalam lobi utama pada pukul empat sore, aroma kebersihan yang segar dari cairan pembersih lantai beraroma pinus hutan langsung menyambut indra penciumannya.
Rumah itu sangat luas, dengan langit-langit yang tinggi dan perabotan desainer yang tertata rapi, namun suasananya terasa begitu sunyi dan dingin seperti sebuah museum seni yang tidak berpenghuni. Sesuai dengan kesepakatan mutlak di dalam pasal kedua dan ketiga kontrak mereka, tata letak ruang pribadi mereka telah diatur dengan sangat ketat sejak awal.
Kamar tidur pribadi milik Nadine terletak di lantai dua bagian sayap barat, memiliki balkon luas yang menghadap ke arah taman dalam rumah yang asri. Sementara itu, kamar tidur pribadi milik Kyle Ernest berada di ujung koridor yang berlawanan, tepat di sayap bagian timur lantai dua. Jarak fisik di antara kedua kamar tersebut cukup jauh, sebuah kepastian spasial yang menjamin bahwa ruang privasi masing-masing tidak akan pernah saling bersinggungan dalam kehidupan sehari-hari jika tidak diperlukan.
Nadine menghabiskan waktu sekitar dua jam di dalam kamarnya untuk menata seluruh pakaian dan barang-barang pribadinya ke dalam lemari besar walk-in closet bernuansa kayu ek putih. Setelah semuanya selesai diletakkan di tempatnya, Nadine merasakan perutnya mulai mengeluarkan suara tuntutan, mengingatkannya bahwa ia belum sempat makan siang sejak prosesi di KUA tadi pagi.