NovelToon NovelToon
Benang Merah Diujung Mimpi

Benang Merah Diujung Mimpi

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / CEO / SPYxFAMILY
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Luh Belong

No Plagiat ❌


Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.

Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.

Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kamu meragukan ku

Valerie bangkit dari tempat duduknya sambil menggenggam novel di tangannya. Meski dadanya terasa sesak, ia tetap memasang senyum ramah.

Valerie tidak ingin berada disana berlama-lama. Tanpa banyak bicara, ia melangkah menuju tangga untuk kembali ke kamarnya.

Namun langkahnya terhenti, saat suara Damian terdengar memanggilnya.

“Valerie.”

Pria itu tampak hendak mengejar. Namun sebelum Damian sempat berjalan lebih jauh, Olivia tiba-tiba menggenggam lengannya.

“Damian.”

“Aku ingin pergi ke suatu tempat, tapi aku tidak meningat jalanya.”

“Maukah kamu mengantarku?”

Damian menatap Valerie sekilas, tatapannya seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun akhirnya ia mengangguk pelan.

“Iya.”

“Kamu tunggu disini, aku akan siap-siap dulu.”

Olivia tersenyum puas.

“Terima kasih Damian.”

Damian lalu menaiki tangga menuju kamarnya untuk berganti pakaian. Kini hanya Valerie dan Olivia yang tersisa.

Valerie masih berdiri dengan tenang.

Sementara Olivia berjalan mendekatinya perlahan.

“Aku sudah tahu tentang pernikahan kalian.”

Valerie tidak menjawab.

Olivia tersenyum tipis.

“Pernikahan kalian hanya perjodohan Nenek Margaretha.”

Valerie tetap diam.

“Dan Damian tidak akan mencintaimu.”

Tatapan Valerie tidak berubah, ia malas meladeni Olivia.

Melihat Valerie yang tetap tenang, Olivia mendekat beberapa langkah.

“Kamu tau kenapa?”

“Kalau penasaran, kamu bisa melihat sendiri.”

“Ada sebuah ruangan di lantai tiga, kamar yang tidak siapapun boleh masuk kesana.”

“Di sana tersimpan semua kenangan Damian, tentang wanita yang benar-benar dicintainya selama ini.”

Valerie perlahan mengangkat pandangannya.

“Aku tidak perduli.”

Olivia tersenyum.

“Tentu saja kamu harus perduli.”

“Karena kakaku Selena lah wanita satu-satunya yang dicintai Damian.”

Valerie terdiam.

Ia memang penasaran, mengapa Damian selalu menolak perjodohan dari keluarganya. Dan mengapa hati Damian tertutup rapat untuk wanita lain. Namun Valerie memilih menepis pikiran itu.

“Sayangnya aku tidak tertarik.”

Jawabnya singkat.

Olivia tampak sedikit kesal.

“Kamu!”

Valerie menggeleng.

“Aku punya urusan yang lebih bermanfaat daripada meladeni mu.”

Olivia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Valerie.”

“Aku mengenal Damian jauh lebih lama darimu.”

“Hanya aku yang bisa memahami Damian.”

Olivia menatap Valerie tajam.

“Jadi jangan terlalu banyak berharap, karena Damian tidak akan pernah memilihmu.”

“Lebih baik, segera bercerai daripada sakit hati.”

Valerie tersenyum, namun senyumnya tetap tenang tapi menusuk. Ia menatap Olivia lurus ke mata.

“Sungguh konyol.”

Olivia mengernyit.

Valerie melanjutkan dengan nada lembut.

“Aku baru pertama kali melihat orang yang menarik.”

“Seorang tamu bisa mengancam tuan rumah tanpa rasa malu maupun rasa hormat.”

Wajah Olivia berubah.

“Ini bukan ancaman, tapi nasihat dari orang yang lebih mengenal Damian.”

Valerie tertawa kecil.

“Si paling merasa mengenalnya.”

“Lalu merasa layak menasihati tuan rumah, dan bebas keluar masuk rumah orang lain.”

“Merasa bebas ikut campur dalam rumah tangga orang lain.”

“Bebas mengatakan siapa yang pantas dan tidak pantas dirumahnya.”

Olivia mengepalkan tangannya.

“Aku adalah bagian dari hidup Damian.”

“Aku sudah ada jauh sebelum kamu datang.”

“Aku tidak perlu sungkan kepada istri yang bahkan tidak dicintai Damian.”

Senyum Valerie perlahan memudar, namun suaranya tetap tenang.

“Sayang sekali, aku turut kasihan denganmu.”

“Kamu adalah bagian dari masa lalu Damian.”

“Tapi Damian lebih memilihku menjadi istrinya.”

“Dan memberiku gelar Nyonya Robert, daripada teman dari masa kecilnya.”

“Seharusnya kamu sadar, kamu tetaplah tamu dirumah ini.”

Olivia terdiam, tatapannya dipenuhi amarah.

Valerie tidak ingin memperpanjang pertengkaran itu. Ia berbalik, berniat meninggalkan ruang utama.

Namun tepat saat itu, Olivia melihat Damian turun dari tangga. Seketika ekspresinya berubah, air mata memenuhi kelopak matanya.

Dan.

Plak!

Olivia menampar pipinya sendiri.

Valerie membeku.

Olivia menundukkan kepalanya sambil menangis pelan.

“Valerie?”

“Kenapa kamu menampar ku?”

Valerie tersenyum kebingungan.

“Kamu menampar dirimu sendiri.”

“Kalau ingin menyudutkan ku, lebih baik belajar lagi sana!”

Olivia memegang pipinya yang kemerahan.

“Damian, aku hanya ingin akrab Valerie.”

“Aku tidak menyangka Valerie sangat membenciku.”

Langkah Damian terhenti, tatapannya langsung tertuju pada Olivia yang tampak menangis. Lalu beralih kepada Valerie yang berdiri beberapa langkah darinya.

Damian menghampiri Olivia, tatapannya langsung tertuju pada pipi Olivia yang memerah.

“Sebenarnya, apa yang terjadi?” tanyanya dengan nada serius.

Olivia menundukkan kepala, air matanya jatuh perlahan.

“Jangan salahkan Valerie, mungkin aku terlalu banyak ikut campur.”

“Aku tidak apa-apa, Damian.”

Olivia berusaha tersenyum, seolah sedang menahan kesedihan.

Damian mengernyit, tatapannya kemudian beralih kepada Valerie.

“Valerie.”

“Apa begini caramu meladeni tamu?”

Valerie membeku sesaat, ia tidak menyangka Damian bahkan tidak berusaha mencari kebenarannya.

Valerie menarik napas panjang. Lalu tersenyum tipis, senyum yang menyembunyikan luka.

“Menarik.”

“Kamu bahkan tidak ingin mendengar penjelasan dariku?”

Damian terdiam.

“Aku sudah mengenal Olivia dari kecil, ia tidak mungkin...”

Valerie terkekeh lirih.

“Tidak mungkin manipulatif?”

Damian menghela napas.

“Valerie, aku tidak suka kamu kekanak-kanakan seperti ini!”

Valerie menatap pria itu lekat-lekat, matanya mulai berkaca-kaca. Namun kali ini, ia tidak ingin menangis di depan Damian.

“Damian.”

“Apa selama ini kamu tidak cukup mengenalku?”

Pria itu terdiam.

Valerie melanjutkan dengan suara yang lebih pelan.

“Dengan waktu yang kamu habiskan denganku?”

“Apa kamu tidak melihat bagaimana aku memperlakukan orang lain.”

“Dan sekarang...”

“Aku berpikir, kamulah yang kekanak-kanakan.”

Damian tampak ragu sesaat. Namun egonya masih lebih besar, ia menatap Valerie dengan ekspresi dingin.

“Sebaiknya kamu lebih banyak belajar untuk menjadi menantu keluarga Robert.”

“Agar citra nama keluarga Robert tidak buruk karenamu.”

Mendengar kalimat itu, hati Valerie terasa seperti diremas. Bukan karena dimarahi, tetapi karena pria yang ia cintai memilih mempercayai drama murahan daripada mencari tahu kebenarannya.

Valerie tersenyum kecil, namun senyum itu terasa begitu dingin.

“Baiklah.”

“Terima kasih sudah meningkatkan ku.”

“Mulai sekarang aku akan belajar.”

“Belajar bahwa ternyata kepercayaan tidak datang hanya karena kita terlalu baik.”

Damian menatap Valerie. Ada sesuatu yang mengusik hatinya, namun ia tidak mampu menjelaskan apa itu.

Valerie membungkukkan tubuhnya sedikit, seolah sedang memberi hormat.

“Untuk Olivia, lanjutkan kegilaanmu.”

“Panggung dipersilahkan.”

“Aku tidak akan mengganggumu.”

Setelah mengatakan itu, Valerie berbalik. Melangkah meninggalkan ruang utama. Langkahnya tenang, namun setiap langkah terasa berat.

Sesampainya di depan pintu, Valerie memanggil seseorang.

“Pak Boby.”

Pria paruh baya itu segera mendekat.

“Ya, Nona Muda.”

“Antar aku keluar?”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!