Hari pertama bekerja seharusnya menjadi awal yang sempurna bagi Naira Putri Prameswari. Namun semua rencananya berantakan ketika tanpa sengaja ia menumpahkan segelas kopi ke jas seorang pria asing yang dingin dan menyebalkan. Masalahnya, pria itu ternyata adalah Arga Mahendra Wijaya—CEO perusahaan tempat Naira baru diterima bekerja. Sejak saat itu, setiap pertemuan mereka selalu diwarnai adu mulut, sindiran, dan kekacauan yang mengundang tawa. Naira menganggap Arga terlalu kaku dan perfeksionis, sementara Arga merasa Naira adalah sumber masalah yang tak pernah habis. Takdir rupanya punya selera humor. Sebuah proyek penting memaksa mereka bekerja dalam satu tim. Semakin sering bersama, semakin banyak sisi lain yang mereka temukan. Di balik sikap dingin Arga tersimpan perhatian yang tulus, sementara di balik kecerobohan Naira ada hati yang hangat dan selalu membawa warna. Saat kebencian perlahan berubah menjadi rasa nyaman, masa lalu Arga datang menguji hubungan mereka. Mampukah mereka mengalahkan ego, atau justru kembali menjadi dua orang yang saling menyakiti? Karena terkadang, orang yang paling membuat kita emosi adalah orang yang paling sulit kita lepaskan. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4 - Batas yang Mulai Kabur
Pukul delapan lewat lima menit.
Ruang rapat lantai tujuh masih dipenuhi suara keyboard dan obrolan kecil sebelum rapat dimulai.
Nadira memilih duduk di ujung meja. Laptopnya sudah terbuka, catatan tersusun rapi, dan secangkir teh hangat mengepul di sampingnya.
Ia sengaja datang lebih awal.
Satu alasan.
Supaya tidak perlu mengobrol dengan Arga.
Namun harapannya pupus ketika kursi di sebelahnya bergeser.
"Kursi lain penuh?"
Suara itu terdengar santai.
Nadira bahkan tidak perlu menoleh.
"Masih banyak."
"Iya."
"Terus?"
"Aku lebih enak duduk di sini."
Nadira akhirnya memalingkan wajah.
"Kenapa?"
"Kalau duduk jauh, nanti kamu ngomongnya makin dingin."
"Aku memang dingin."
"Nggak juga."
"Kamu baru kenal aku."
Arga tersenyum tipis.
"Makanya pengin kenal."
Nadira terdiam sesaat.
Untung sebelum ia sempat membalas, Pak Dimas masuk bersama beberapa anggota tim lain.
"Selamat pagi semuanya."
Rapat dimulai.
---
"Klien kita adalah perusahaan properti terbesar di Jakarta Selatan."
Pak Dimas membagikan beberapa dokumen.
"Deadline presentasi final tiga minggu."
Beberapa orang langsung menghela napas.
"Tiga minggu?"
"Singkat banget."
Pak Dimas mengangguk.
"Itu sebabnya saya memasangkan Nadira dan Arga."
Nadira spontan melirik.
Arga hanya mengangkat bahu seolah berkata, *aku juga tidak minta*.
"Pembagian tugas sederhana."
Pak Dimas menunjuk slide.
"Nadira fokus pada kebutuhan klien, timeline, dan koordinasi."
"Arga."
"Iya, Pak."
"Kamu buat konsep strategi kreatif."
"Siap."
"Kalian harus sering diskusi."
Kalimat terakhir itu sukses membuat Nadira menutup matanya beberapa detik.
---
Selesai rapat.
Semua kembali ke meja masing-masing.
Baru beberapa menit bekerja, Arga muncul sambil membawa dua gelas kopi.
"Aku beli kopi."
"Aku nggak minum."
"Bukan kopi."
Nadira melirik.
"Ternyata teh."
"Aku masih ingat kamu trauma kopi."
Nadira tidak langsung mengambilnya.
Arga meletakkan gelas itu di meja.
"Kalau nggak diminum juga nggak apa-apa."
Lalu ia pergi begitu saja.
Nadira menatap gelas itu cukup lama.
Tidak ada catatan.
Tidak ada candaan.
Hanya segelas teh hangat.
Rina, rekan satu divisi, menghampiri mejanya.
"Itu dari siapa?"
"Arga."
"Wih."
"Bukan begitu."
"Dia perhatian ya."
Nadira cepat menggeleng.
"Dia cuma merasa bersalah."
"Kalau cuma merasa bersalah seminggu juga selesai."
Nadira tidak menjawab.
Perkataannya memang masuk akal.
Arga sudah beberapa kali meminta maaf.
Sudah beberapa kali mencoba memperbaiki keadaan.
Namun dirinya sendiri masih memilih memasang tembok.
---
Menjelang siang.
Arga datang membawa laptop.
"Boleh diskusi?"
Nadira menunjuk kursi di depannya.
"Lima belas menit."
"Baik, Bu."
"Jangan panggil Bu."
"Siap, Bos."
"Sama saja."
"Oke, Nadira."
Ia akhirnya mengangguk.
"Nah, begitu."
Arga membuka beberapa desain.
"Aku punya tiga konsep."
Tidak seperti yang dibayangkan Nadira.
Presentasi Arga sangat rapi.
Semua idenya masuk akal.
Bahkan beberapa poin yang ia pikirkan ternyata sudah dipertimbangkan lebih dulu oleh Arga.
Tanpa sadar Nadira mulai serius memperhatikan.
"Kalau target pasarnya keluarga muda..."
"Nah, itu."
Arga mengangguk.
"Aku juga kepikiran begitu."
Mereka mulai saling memberi masukan.
Lima belas menit berubah menjadi hampir satu jam.
Sampai akhirnya...
"Kalian cocok juga ternyata."
Suara Rina membuat keduanya sama-sama menoleh.
"Cocok apanya?"
Rina tertawa.
"Kalau lagi bahas kerja, kalian lupa dunia."
Nadira buru-buru menutup laptop.
"Bukan begitu."
"Iya deh."
Rina pergi sambil terkekeh.
Arga justru ikut tertawa.
"Orang kantor cepat banget bikin kesimpulan."
"Kamu malah ketawa."
"Lucu."
"Buatku nggak."
---
Sepulang kantor.
Langit mendung.
Baru beberapa menit Nadira mengendarai motornya, hujan turun begitu deras.
Ia menepi di sebuah minimarket.
Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh.
"Kayaknya lama nih."
Nadira menghela napas.
Ia lupa membawa jas hujan.
"Untung ketemu."
Suara yang sangat dikenalnya kembali terdengar.
Nadira menoleh.
Arga berdiri di sampingnya sambil membawa payung hitam.
"Kamu ngikutin aku?"
"Enggak."
"Aku juga berhenti karena hujan."
Nadira mengangguk pelan.
Masuk akal.
Mereka memang pulang lewat jalan yang sama.
Arga membeli dua gelas cokelat hangat dari minimarket.
Satu disodorkan padanya.
"Nih."
"Aku bayar."
"Nggak usah."
"Aku nggak enak."
"Aku lebih nggak enak kalau kamu kehujanan gara-gara nolak terus."
Nadira akhirnya menerima gelas itu.
"Terima kasih."
Arga tersenyum.
Itu pertama kalinya sejak mereka bertemu, Nadira mengucapkan terima kasih tanpa nada kesal.
Hening menyelimuti mereka.
Hanya suara hujan yang memukul atap seng minimarket.
Beberapa anak kecil berlarian sambil tertawa menerobos genangan air.
Arga memperhatikan mereka.
"Waktu kecil aku juga begitu."
"Nggak heran."
"Hah?"
"Suka bikin masalah."
Arga tertawa lepas.
"Berarti kamu mulai hafal sifatku."
"Aku cuma menyimpulkan."
"Tapi benar."
Ia mengangguk kecil.
"Aku memang sering ceroboh."
Nada suaranya kali ini berbeda.
Lebih pelan.
"Ayahku dulu sering marah karena itu."
Nadira menoleh.
Arga tidak lagi tersenyum.
"Tapi setelah beliau meninggal..."
Ia berhenti sejenak.
"Nggak ada lagi yang marahin."
Kalimat itu sederhana.
Namun entah kenapa membuat dada Nadira sedikit sesak.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain Arga.
Di balik semua candaan dan senyumnya, ternyata ada ruang kosong yang masih belum benar-benar sembuh.
Hujan mulai mereda.
Arga berdiri lebih dulu.
"Yuk."
Nadira ikut berdiri.
Mereka berjalan menuju parkiran.
Saat membuka payung, Arga memiringkannya ke arah Nadira agar gadis itu tidak terkena sisa tetesan hujan.
Sedangkan bahunya sendiri perlahan basah.
Nadira menyadarinya.
"Kamu kehujanan."
"Nggak apa."
"Payungnya kurang tengah."
"Aku sengaja."
"Kenapa?"
"Soalnya kalau kamu sakit..."
Arga tersenyum kecil.
"...partner kerjaku jadi libur."
Nadira memutar bola mata.
"Hampir saja aku percaya."
"Iya, sedikit lagi."
Tanpa sadar, Nadira tertawa pelan.
Sangat pelan.
Namun suara tawa itu cukup membuat Arga berhenti melangkah beberapa detik.
"Kenapa?"
"Nggak apa."
Arga menggeleng sambil tersenyum.
"Cuma baru sadar."
"Sadar apa?"
"Ternyata ketawa kamu bagus juga."
Seketika wajah Nadira memerah.
"Jangan mulai aneh-aneh."
Ia langsung mengenakan helm dan menyalakan motor.
Arga hanya tersenyum melihatnya pergi.
Sementara Nadira, sepanjang perjalanan pulang, terus mengingat satu hal.
Ia memang masih menganggap Arga menyebalkan.
Tetapi hari ini...
Untuk pertama kalinya, pria itu tidak lagi terasa seperti orang asing.
Dan tanpa ia sadari, tembok yang sejak awal ia bangun mulai retak sedikit demi sedikit.
**Bersambung ke Episode 5...**