NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG KONTRAK.

CINTA DI UJUNG KONTRAK.

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Cintapertama / Romantis
Popularitas:28.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Bagi Davina, Barra adalah cinta pertama masa kecil yang tiba-tiba menghilang. Sepuluh tahun berlalu tanpa kabar, Barra kembali ke desa, bukan lagi sebagai pemuda hangat yang ia kenal, melainkan pria asing yang dingin. Tanpa basa-basi, Barra menyodorkan penawaran gila: pernikahan kontrak.

Demi membiayai pengobatan neneknya, Davina terpaksa setuju. Namun, berharap bahagia, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk. Setelah menikah, Barra bersikap sangat kejam, hingga puncaknya pria itu pergi keluar negeri dan mengabaikannya selama dua tahun.

Saat masa kontrak hampir habis, Barra mendadak pulang. Anehnya, sikap pria itu berbalik 180 derajat menjadi sosok yang lembut, hangat, dan penuh perhatian, persis seperti Barra yang dulu ia cintai.

Perubahan drastis membuat Davina didera kecurigaan. Mengapa di saat kontrak akan berakhir, Barra justru ingin mempertahankannya? Rahasia besar apa yang sebenarnya disembunyikan Barra selama sepuluh tahun ini? Apa motif dibalik pernikahan kontrak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PR DARI TUAN POSESIF

Di dalam ruangan kerja yang sunyi namun luas itu, tumpukan berkas yang tadinya menggunung akibat ditinggal selama hampir dua minggu perlahan mulai berkurang. Davina duduk di sofa kulit seberang meja Barra, dengan telaten membaca dan memilah map-map laporan keuangan serta proposal proyek yang masuk.

"Barra, yang map biru ini hanya laporan bulanan anak perusahaan, bisa ditandatangani nanti," ujar Davina sambil menyodorkan sebuah map merah tebal ke meja suaminya. "Tapi yang map merah ini adalah persetujuan tender yang batas waktunya nanti sore. Kamu harus membacanya sekarang."

Barra menyandarkan punggungnya di kursi kebesaran, menatap istrinya dengan binar mata yang penuh rasa kagum sekaligus lega. "Aku tidak perlu membaca dokumen kaku itu lagi kalau asisten pribadiku secerdas ini. Kamu membuat pekerjaanku selesai dua kali lebih cepat, Sayang."

"Aku ini jurnalis, membaca dan menganalisis data adalah makanan sehari-hariku," sahut Davina bangga, menepuk tumpukan map yang sudah rapi.

Kerja sama yang apik itu terus berlanjut hingga jarum jam menunjukkan waktu makan siang. Setelah menyantap makan siang yang dikirimkan ke ruangan, Davina perlahan menggeser duduknya menjadi lebih dekat dengan Barra. Ia memasang wajah paling manis yang ia miliki, berniat untuk melancarkan misinya yang tertunda.

"Barra..." rayu Davina dengan suara yang sengaja dibuat selembut mungkin, jemarinya memilin ujung kemeja Barra. "Soal pekerjaanku di redaksi... boleh ya aku kembali bekerja di sana? Aku sangat menyukai dunia jurnalistik. Menulis dan mencari berita itu adalah jiwaku. Tolong izinkan aku, ya?"

Melihat mata bulat istrinya yang menatap penuh permohonan, runtuh sudah pertahanan Barra. Di dalam lubuk hatinya, ia bertekad akan mendukung apa pun yang disukai dan membuat Davina bahagia. Namun, sebagai seorang penguasa bisnis yang licik, Barra tentu tidak akan melepaskan kesempatan ini begitu saja tanpa keuntungan pribadi. Ia ingin menjahili istrinya terlebih dahulu.

"Boleh saja," ujar Barra sengaja menggantung kalimatnya, membuat mata Davina berbinar cerah. "Tapi... ada syaratnya."

"Syarat apa?" tanya Davina waspada.

"Pertama, buat aku senang dulu hari ini. Kalau hatiku sudah sangat senang, izin itu pasti keluar," ucap Barra dengan senyuman misterius. "Dan kedua, aku tidak mau kamu memanggilku hanya dengan nama saja. Itu sama sekali tidak mesra untuk pasangan yang baru saja meresmikan pernikahan."

Davina mengernyit bingung, memutar otaknya. "Lalu aku harus panggil apa? Apakah... 'Suamiku'?"

Barra menggelengkan kepalanya pelan. "Terlalu kaku."

"Hmm... 'Mas'?"

Barra kembali menggeleng sambil mencibirkan bibirnya manja. "Kurang spesial."

"Sayangku? Ayangku? Bebebku?" cerocos Davina berturut-turut dengan wajah yang mulai bersemu merah karena geli sendiri menyebutkan panggilan-panggilan alay tersebut.

Namun, Barra tetap menggelengkan kepalanya mantap. "Tidak. Itu terdengar sangat biasa dan pasaran. Aku mau panggilan yang lain daripada yang lain, khusus hanya untukku dan tidak ada pasangan lain yang menggunakannya. Kalau dalam lima menit kamu tidak bisa menemukannya, maka izin kerjamu batal."

"Iih, ayolah, Barra! Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan!" protes Davina gemas, kedua tangannya kini naik mencubit dan memainkan pipi Barra yang kokoh dengan kesal.

"Baiklah, itu akan menjadi PR untukmu," ujar Barra dengan seringai licik yang sangat menyebalkan. "Dan sekarang, saatnya kamu melaksanakan syarat yang pertama. Buat hati suamimu ini senang."

Davina mendesah pasrah. Ia memajukan wajahnya perlahan, berniat memberikan kecupan manis di pipi suaminya sebagai sogokan. Namun, tepat sebelum bibir Davina menyentuh kulit pipinya, Barra dengan gerakan secepat kilat menggeser wajahnya.

Cup.

Mata Davina seketika membulat sempurna. Bibirnya mendarat tepat di atas bibir tebal Barra yang sudah tersenyum penuh kemenangan.

Davina yang merasa dijebak langsung mencoba menarik tubuhnya mundur dengan wajah memerah padam. "Ini kantor, Bar..."

Belum sempat kalimat protes itu selesai diucapkan, lengan kekar Barra sudah lebih dulu mengunci tengkuk Davina. Ia menarik kembali tubuh istrinya mendekat, lalu mendaratkan bibirnya dengan sentuhan yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh gairah. Barra menyesap bibir manis Davina dengan begitu dalam, hingga Davina yang awalnya ingin memprotes, perlahan-lahan mulai kehilangan akal sehatnya dan membalas setiap sesapan dengan jemari yang meremas bahu jas Barra.

Tautan bibir yang semakin memanas itu seketika membangkitkan gairah Barra yang memang sangat sensitif terhadap sentuhan istrinya sejak semalam. Ia bisa merasakan sesuatu yang keras dan menegang di bagian bawah tubuhnya.

Merasa sudah tidak bisa menahan gairahnya lagi di ruang kerja utama, Barra langsung mengangkat tubuh mungil Davina ke dalam gendongan bridal yang kokoh. Dengan langkah lebar dan napas yang memburu, ia membawa Davina melangkah menuju sebuah pintu kayu tersembunyi di sudut ruangan yang menghubungkan langsung ke ruang istirahat pribadinya. Sebuah ruangan rahasia yang memiliki ranjang king size, kamar mandi dalam, dan lemari pakaian.

Begitu pintu ruang istirahat tertutup rapat, Barra segera merebahkan tubuh Davina ke atas ranjang yang empuk. Gairah yang membakar akal sehatnya membuat Barra bertindak terlalu bersemangat. Dengan satu tarikan paksa yang tidak sabar, terdengar suara robekan kain yang cukup nyaring.

Sreeek!

Kancing dan sebagian jahitan baju gamis Davina robek di bagian depan.

"Barra! Kamu merusak gamis kesayanganku!" teriak Davina terpekik kaget sekaligus marah, mencoba memukul dada bidang suaminya.

Namun, kemarahan itu langsung dibungkam seketika saat Barra kembali mengungkup bibir manis Davina dengan ciuman yang sangat intens dan memabukkan. Barra benar-benar telah kecanduan dengan setiap jengkal tubuh istrinya.

Pertempuran dahsyat dan panas di siang bolong pun tidak lagi dapat dihindari. Di dalam keheningan ruang istirahat kantor CEO yang mewah, keduanya benar-benar terhanyut oleh asmara yang membara, melupakan tumpukan berkas di luar sana demi memuaskan dahaga rindu yang kini telah sah seutuhnya.

1
partini
ya elah yg bikin istri mu nangis ya kamu sendiri lah bara" gimana sih bego Banggt coba kamu dari awal bilang apa yg terjadi di luar negeri Ampe segitu lama lu diem aja aneh kamu ini OMG Dammm stupid ehhh malah nyalahin orang
Oma Gavin
kenapa bara ngga ngomong dari awal bahkan memecat maya malah menyimpan racun di perusahaan nya dasar goblok
Rohmi Yatun: iya ya.. harusnya cerita lbh dulu jadi sewaktu-waktu maya ksh tau Vina dia gak kaget.. iiihh bodoh banget sih bara..
total 1 replies
Marini Suhendar
d tgg bom nya bara
Oma Gavin
makanya menumpas hama jgn hanya setengah" basmi mereka tanpa sisa
Oma Gavin
wkwkwk usulan bodoh surya malah bikin barra makin marah goblok kok dipelihara surya... surya otak mu dipakai dikit jgn asal percaya sama asnita dan vera
Oma Gavin
mampusss kamu vera dan asnita udah jadi benalu aja belagu yg ada kamu dibuang kembali ke asal nya kere sampah
tiara
kasihan ferdi pekerjaanya bertambah banyak lagi sekarang
Lia siti marlia
akhirnya gooollll juga 😂
Lia siti marlia
otw unboxin dongggg😍😍🤗🤗
tiara
kakek sangat pengertian sekali,
Lia siti marlia
akhirnya semua sudah jelas davina kalau yang barra lakukan adalah untuk melindungimu semata 🤗🤗🤗
Lia siti marlia
untung nya kakek barra keburu datang 🤗🤗
Eliermswati
akhirnya tahta tertinggi d rmh Barra dtng😂q sk gy mu kakek badaaass kern😂😂😍smngt thor up nya
Lia siti marlia
kirain udah sampai masion mau unboxing eh malah ada aja gangguan sabar yah barra 🤗🤗🤗
tiara
Baru saja merasakan bahagia,cobaan sudah kembali datang menghampiri.semoga badai cepat berlalu
Lia siti marlia
lanjutkan barra davina 😍😍😍
Lia siti marlia
cie cie cie 😍😍😍😍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
ElHi
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!