seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
keberanian
Pagi di perbatasan terasa lebih dingin dari biasanya. Salju masih turun tipis, menutupi darah yang semalam belum sepenuhnya hilang. Para prajurit sibuk membereskan tenda dan menaikkan kereta logistik. Luka-luka sudah dibalut. Yang gugur sudah disemayamkan dengan hormat.
Hana berdiri di depan kereta perangnya. Zirah hitamnya sudah diganti dengan jubah bulu serigala berwarna gelap. Pedang peraknya tersarung rapi di pinggang. Wajahnya datar, tidak menunjukkan lelah meski matanya terlihat kurang tidur.
Di belakangnya, Bima berjalan tertatih. Lukanya memang sudah mengering berkat obat dari Sistem Hana semalam, namun tubuhnya masih lemah. Ia dipapah oleh Logan.
"Putriku... kau yakin tidak mau menaiki kereta?" Tanya Bima dengan suara serak. Ia bangga, tapi juga cemas.
"Tidak perlu, Ayah." Jawab Hana tanpa menoleh. "Aku lebih nyaman menaiki kuda"
Bima mengangguk. Ia tahu keras kepala anaknya. Ia hanya bisa menarik napas dan berdoa dalam hati agar Hana baik-baik saja sepanjang perjalanan.
Dominic muncul dari arah tenda komando. Ia sudah mengenakan zirah lengkap. Rambutnya disisir rapi. Ia menatap Hana sekilas, lalu memalingkan muka.
"Pasukannya siap, Nona Hana." Ucapnya datar. "Kita bisa berangkat sekarang."
Hana mengangguk. "hmmm"
Tanpa kata lain, rombongan besar itu mulai bergerak meninggalkan perbatasan. Seratus prajurit pengawal di depan, kereta logistik di tengah, dan Hana menaiki kuda paling belakang bersama dengan Dominic di sampingnya, keduanya sama-sama terdiam sepanjang jalan,tapi Dominic sesekali mencuri pandang pada Hana yang hanya menatap lurus kedepan.
Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berani mengajak bicara Hana duluan. Hanya suara derap kaki di atas salju dan sesekali ringkikan kuda yang memecah sunyi.
Dalam hati Dominic berkecamuk. `Ia diam lagi. Selalu diam. Sejak semalam di api unggun, ia tidak menatapku lebih dari dua detik. Apa aku salah bicara soal Ajeng? Sial.`
Ia melirik Hana dari sudut mata. Wanita itu menatap lurus ke depan. Wajahnya dingin seperti es di sekitar mereka.
**_
Tiga hari perjalanan terasa seperti tiga minggu.
Kabar kemenangan Hana sudah mendahului mereka. Sepanjang jalan menuju ibukota Sanata, rakyat berjejer di pinggir jalan. Anak-anak melambaikan bendera kecil. Para pedagang bersorak.
" hidup Nona Hana!
"Hidup Nona Hana!"
" hiduppppppppppp"
Teriakan itu menggema di setiap desa yang mereka lewati.
Hana tidak pernah melambaikan tangan. Ia hanya menunduk sedikit sebagai hormat. Bima yang duduk di kereta justru melambaikan tangan dengan semangat, seolah ia yang jadi pahlawan.
"Lihat itu, Wira! Rakyat mencintaiku karena punya putri sehebat Hana!" Bisik Bima ke Menteri Wira yang duduk di dalam kereta kuda,dia menatap semua rakyat dari jendela.
Wira hanya menghela napas. "Tuan Bima... mereka meneriaki Nona Hana, bukan Anda."
Bima mendengus. "Sama saja. Darahku mengalir di tubuhnya."
Leon dan Jack yang mendengar itu hanya saling pandang dan menahan tawa.
Dominic tetap diam. Namun ia memperhatikan setiap reaksi Hana. Semakin banyak orang memuji, semakin dingin wajah Hana. Seolah sorakan itu beban, bukan kehormatan.
`Ia benci diperhatikan.` Batin Dominic. `Menarik.`
_*_
Istana Kerajaan Sanata sudah tampak dari kejauhan saat matahari hampir tenggelam.
Gerbang besar istana dibuka lebar. Karpet merah dibentangkan dari gerbang sampai ke aula utama. Ratusan pejabat, bangsawan, dan pengawal berbaris rapi.
Kaisar Adrian berdiri di anak tangga tertinggi. Di sampingnya, Putra Mahkota Alexander mengenakan jubah emas. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan kegembiraan.
Kereta berhenti.
Hana melangkah turun lebih dulu. Tidak menunggu pengawal membantu nya turun dari atas kuda.Langkahnya mantap di atas karpet merah.
Sekejap, seluruh aula hening.
Semua mata tertuju padanya. Wanita berzihab hitam. Rambut diikat ketat. Luka kecil di pipinya belum hilang. Namun auranya... auranya membuat dada orang-orang sesak.
"Hana..." Bisik Alexander. Napasnya tertahan.
Hana berjalan sampai di hadapan Kaisar, lalu berlutut dengan satu lutut. "Hamba Hana, melapor. Perbatasan aman. Musuh telah dimusnahkan."
Suaranya tidak keras, tapi seluruh aula mendengarnya.
Kaisar turun dari singgasana. Ia mengangkat tangan Hana. "Berdirilah, Nona Hana. Kau pahlawan Sanata."
Hana berdiri. Tatapannya tetap lurus. Tidak gentar.
Kaisar menoleh ke Dominic. "Dan kau, Komandan Dominic. Kerja bagus."
Dominic berlutut juga. "Terima kasih, Yang Mulia."
semua para pejabat juga mengangguk mendengar ucapan kaisar,Hana memang pahlawan kerajaan mereka.
" kalian beristirahat lah,nanti malam kita akan mengadakan acara kemenangan kalian berdua " ucap kaisar pada Hana dan Dominic.
keduanya mengangguk,dan berjalan meninggalkan aula itu, Alexander yang melihat kepergian Hana tersenyum sendu,dia belum sempat mengatakan selamat pada wanita itu.
_*_
Setelah acara penyambutan tadi sore,kini malam harinya di aula perjamuan istana,semua orang di persilahkan masuk.
meta panjang penuh dengan makanan mahal.anggur terbaik.musik lembut dari para pemain kecapi.
namun Hana tidak menyentuh makana.iya hanya duduk di ujung meja,di dekat jendela.matanya menatap kearah luar jendela,entah apa yang dia pikirkan.
bima yang duduk di dekatnya dan terus berceloteh.
" hana.coba cicipi kue ini,ini favorit kaisar.hana,lihat bangsawan itu, mereka dari tadi memuji mu.hana..."
" ayah " potong Hana pelan." cukup,jika ayah ingin makan,makan saja sepuasnya,aku tidak tertarik dengan semua itu "
bima langsung diam.dia menatap putrinya dengan bingung,lalu tersenyum canggung.
"baiklah,,ayah tidak akan berbicara lagi, jangan salahkan ayah jika kamu nanti lapar " cemberut bima dan dia terus makan perjamuan istana.
Di seberang meja, Alexander tidak bisa mengalihkan pandangan.
`Ia lebih cantik dari yang kuingat. Luka di pipinya... membuatku ingin melindunginya.` Batin Alexander. Tangannya mengepal di bawah meja.
Ia berdiri dan berjalan mendekat,tidak lupa senyuman nya dia berikan semanis mungkin pad wanita yang duduk di hadapan nya.
"Nona Hana." Sapa Alexander.
Hana menoleh. "Putra Mahkota."
"Boleh aku duduk?"
Hana terdiam sedetik, lalu mengangguk kecil.
Alexander duduk. "Aku... lega kau selamat. Saat mendengar kau pergi ke perbatasan, aku hampir tidak bisa tidur."
Hana menatapnya. "pengeran terlalu berlebihan mengkhawatirkan orang lain " ucap Hana dengan nada dingin.
Alexander tersenyum kaku. "aku hanya mengkhawatirkan mu saja Hana,karna kamu tau sendirikan aku..aku menyukai mu " ucapan Alexander itu terdengar pelan.namun Hana tetap mendengar nya.
Dia menatap Pangeran mahkota dengan tatapan datar.
" tapi maaf pangeran aku tidak pernah menyukai mu,aku hanya menganggap mu sebagai pangeran kerajaan Sanata tidak lebih dari itu " ucap Hana.
Mendengar itu pangeran Alexander tersenyum kecut,dia mengangguk kecil dan membuang mukanya,tapi dadanya terasa sesak atas penolakan Hana yang secara terang-terangan.
Suasana disana jadi canggung.
Sedangkan Dominic yang dari tadi memperhatikan dari jauh, menggenggam gelas anggurnya lebih erat. `Dekat sekali mereka.` Batinnya. Dadanya terasa sesak tanpa alasan.
_*_
Malam semakin larut.
Setelah perjamuan, Hana diberi kamar tamu terbaik di istana. Kamar luas dengan tempat tidur berlapis sutra. Namun ia tidak langsung beristirahat.
Ia membuka jendela. Angin malam masuk, membawa aroma bunga istana.
Ketukan pelan terdengar di pintu.
"Masuk."
Pintu terbuka. Dominic.
Ia sudah melepas zirahnya. Mengenakan jubah dalam berwarna gelap.
"Nona Hana." Sapa Dominic. "Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."
Hana menoleh. "Aku baik."
Dominic masuk dan menutup pintu. "Kau tidak makan apa pun di perjamuan."
"Aku tidak lapar."
Mereka terdiam.
Dominic melangkah lebih dekat. "Soal semalam... aku tidak bermaksud menyinggung mu dengan menyebut nama Ajeng."
Hana menatapnya tajam. "Lalu apa maksudmu?"
"Aku hanya... ingin tahu." Akui Dominic jujur. "Aku melihatmu di rumah Bupati malam itu. Kau masuk diam-diam. Aku keluar diam-diam. Kita tidak saling sapa. Tapi aku ingat matamu."
Hana mengerutkan kening. "Dan?"
"Dan aku tidak menyangka wanita yang kulihat malam itu... adalah orang yang seminggu kemudian memenggal dua ratus kepala di perbatasan." Suara Dominic rendah. "Kau menyimpan banyak hal, Nona Hana."
Hana tidak menjawab. Ia berjalan ke meja dan menuang air ke dalam gelas.
Dominic mengikutinya dengan mata. `Ia menutup diri. Tapi aku ingin tahu apa yang ada di balik tembok es itu.`
"Jadi." Ucap Hana sambil menyerahkan gelas pada Dominic. "Apa yang kau inginkan, Komandan?"
Dominic menerima gelas itu. Jari mereka bersentuhan sekilas. Hana tidak menarik tangannya cepat.
"Aku ingin..." Dominic berhenti. "Aku ingin mengenalmu. Bukan sebagai Nona Hana sang pembantai. Tapi sebagai Hana wanita biasa."
Hana menatapnya lama.
`Berani sekali dia.` Batin Hana. `Semua orang takut padaku. Dia malah mendekati ku`
"Aku tidak punya waktu untuk dikenal." Jawab Hana akhirnya. Dingin.
Dominic tersenyum tipis. Bukan senyum menyerah. "Maka aku akan menunggu sampai kau punya waktu."
Hana tertegun.
Ketukan keras di pintu memecah suasana.
"Nona Hana! Ada utusan dari Kerajaan Barat!" Suara pengawal terdengar panik.
Hana dan Dominic serentak menoleh ke pintu.
Momen itu pecah.
Hana meletakkan gelasnya. "Kau harus pergi, Komandan."
Dominic mengangguk. Ia berjalan ke pintu, tapi sebelum membuka, ia berhenti.
"Nona Hana."
"Hmm?"
"Berhati-hatilah." Ucapnya pelan. "Kemenanganmu membuat banyak orang iri. Tidak semua senyum di istana ini tulus."
Hana tidak menjawab. Ia hanya menatapnya.
Dominic keluar.
Hana berdiri di tempatnya beberapa detik. Lalu ia berbisik pelan, hanya untuk dirinya sendiri.
`...Terima kasih.`
_**
Di aula istana, Kaisar menerima surat dari Kerajaan Barat. Wajahnya mengeras.
"Mereka menuntut penjelasan. Mengapa kita membantai pasukan mereka tanpa perundingan,ini sangat tidak masuk akal !
Semua pejabat terdiam.
Alexander maju. "Mereka yang menyerang duluan, Ayahanda. Kita hanya membela diri."
"Benar." Sela Wira. "Tapi mereka punya bukti. Salah satu prajurit mereka selamat. Dan ia bersaksi bahwa yang memimpin pembantaian adalah seorang wanita berzihab hitam.mereka mengatakan kita sengaja mengirim nona Hana agar mengalahkan semua pasukannya "
Semua mata menoleh ke arah Hana yang baru saja masuk.
Hana berhenti di tengah aula. Tatapannya dingin.
"Jadi." Ucap Kaisar pelan. "Nona Hana... apa yang harus kita lakukan sekarang ? Apa kita memilih berdamai saja ? Dan nona Hana,apakah anda menyesal membunuh semua musuh yang ada di perbatasan? " tanya kaisar dengan rasa penasaran,apakah wanita ini punya hati atau tidak.
Hana melangkah maju.
"Aku tidak menyesal,yang mulia !." Ucapnya. Jelas. Tegas.
"Jika mereka datang untuk membunuh rakyat Sanata, maka aku akan membunuh mereka lebih dulu."
Sunyi.
Kaisar menatapnya lama. Lalu ia tersenyum.
"Bagus."
Aula bergemuruh.
Dan di sudut aula, Dominic menatap Hana dengan sorot yang semakin dalam.
`Wanita ini... akan mengguncang seluruh kerajaan.`
sedangkan para pejabat berbisik-bisik,bima ? Ayah Hana ? Dia malah tersenyum bangga dan menatap semua orang yang ada di aula dengan tersenyum angkuh.
Melihat itu menteri Wira geleng-geleng kepala.