NovelToon NovelToon
Balas Dendam Putri Terbuang

Balas Dendam Putri Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Marwiyah Ningsih

seorang wanita yang hidup di zaman kerajaan,di usir oleh keluarga ibu dan ayahnya,dia bahkan terpaksa jadi seorang pengemis di jalanan.
bahkan tunangannya yang dia percayai mengkhianati nya.hidup sengsara membuat wanita itu putus asa,di harapan terkahir nya dia pergi kerumah ibu kandungnya,tapi justru ibunya mengusir nya dan lebih menyayangi putri dari suami kedua nya.
wanita itu begitu terpukul,dia teringat ayahnya yang di asingkan di perbatasan,hanya karna kejahatan yang di lakukan oleh ibunya.
putus asa,wanita itu memilih mengakhiri hidupnya,tapi tiba-tiba dia malah hidup kembali dan mendapatkan sistem yang membantu nya.
dari di remehkan dan di hina,menjadi wanita terkaya di seluruh negeri,namanya terkenal dimana-mana,bahkan sang kaisar yang berkuasa tunduk padanya.
bagaimana kah kelanjutan kisah selanjutnya ?
yuk mampir di cerita aku yah,, terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marwiyah Ningsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

jebakan

*Bab 47: Anggur di Balairung Musim Gugur*

Sore di kediaman Hana turun dengan tenang. Angin musim gugur menggoyang daun maple di halaman, dan cahaya matahari yang mulai meredup jatuh di atas meja batu tempat Hana duduk. Di hadapannya, teh melati masih mengepul tipis, uapnya naik pelan lalu hilang diterpa angin. Ia mengangkat cangkir porselen itu dengan jari yang ramping dan stabil, menyesapnya perlahan. Wajahnya tanpa ekspresi. Dingin. Namun anggun dalam diamnya, seperti patung giok yang diletakkan di tengah taman.

Keheningan itu pecah oleh langkah kaki cepat. Leon berlari kecil dari gerbang kediaman menuju ke arahnya. Napasnya sedikit terengah, tapi punggungnya tetap tegak, menunjukkan disiplin seorang pengawal. Ia berhenti tiga langkah di depan Hana, lalu membungkuk hormat. “Nona, ini undangan dari istana. Seorang kasim kerajaan sendiri yang mengantarkannya langsung ke kediaman Anda.”

Ia menyodorkan gulungan kertas sutra berwarna emas dengan segel lilin naga Sanata yang masih utuh. Hana menerima undangan itu tanpa tergesa. Jarinya yang dingin membuka pita merah, lalu ia menghamparkan isi surat itu di atas meja batu. Matanya yang hitam menelusuri tulisan dengan cepat, tanpa satu kedipan pun yang terlewat.

Setelah selesai membaca, sudut bibirnya terangkat sedikit. Bukan senyum hangat. Melainkan senyum dingin yang hanya muncul ketika ia sudah menebak maksud di balik sesuatu. “Perjamuan malam ini,” ucapnya pelan, suaranya rendah namun jelas. “Pangeran Mahkota dari Kerajaan Timur hadir bersama adiknya. Sepertinya mereka sudah mendengar tentang bantuan yang aku kirim ke perbatasan.” Ia meletakkan cangkir teh kembali ke tatakan dengan suara `klik` pelan, lalu menyesapnya sekali lagi dengan elegan. Uap teh melati menyentuh wajahnya, tapi tidak melembutkan sorot matanya yang tetap setajam belati.

Leon menatapnya dengan ragu. “Nona, apakah Anda akan menghadiri perjamuan itu nanti malam?”

Hana mengangkat wajahnya. Matanya menatap lurus ke arah pengawalnya, tanpa berkedip. “Tentu saja,” jawabnya datar namun tegas. “Menolak undangan Kaisar sama saja dengan menghina beliau. Aku akan hadir.”

Leon hanya mengangguk. Ia tidak bertanya lagi. Namun di dalam hatinya, ia berbisik, `Aku tidak pernah bisa menebak apa yang ada di pikiran Nona Hana. Tapi satu hal yang aku tahu pasti: siapa pun yang berani menyakitinya, akan menyesal sampai mati.` Ia tersenyum tipis, bangga karena menjadi pengawal wanita yang bahkan bayangannya saja membuat istana gentar.

**_

Malam tiba lebih cepat dari biasanya. Balairung Utama Istana Sanata sudah dipenuhi para pejabat sejak satu jam sebelum acara dimulai. Cahaya lilin dari ratusan kandil perak besar memantul di lantai marmer putih, membuat ruangan itu tampak seperti lautan emas yang diam dan mencekam. Para menteri duduk di kursi yang telah ditentukan sesuai pangkat. Menteri Keuangan, Menteri Perang, dan para bangsawan kelas atas berbisik pelan, menjaga wibawa, tapi mata mereka tidak bisa berhenti melirik ke arah pintu utama.

Di sisi timur aula, duduk tamu kehormatan dari Kerajaan Timur. Pangeran Mahkota Kael dengan rambut hitam panjang yang diikat rapi dan mata biru keabu-abuan duduk di samping adiknya, Putri Lyra. Wajah Lyra cantik dan tenang, namun malam itu ia tampak tidak sabar. Ia mendekatkan tubuhnya dan berbisik pada kakaknya. “Kak, apa kau benar-benar yakin ingin melamar Putri Elina? Dia sangat sombong dan arogan. Bukankah para putri bangsawan di sini jauh lebih cantik dan lembut?”

Kael menoleh pada adiknya. Wajahnya tampan, gagah, dengan rahang yang tegas seperti diukir dari batu. “Jika ini tidak menyangkut keselamatan kerajaan kita,” jawabnya dengan suara rendah yang dingin, “aku tidak akan mau menikahi wanita seperti Putri Elina.”

Di singgasana utama, Kaisar Sanata Ardian duduk dengan mahkota sederhana di kepalanya. Matanya menatap ke arah putranya, Pangeran Mahkota Alexander, yang duduk di meja paling depan. Alexander termenung. Tangannya menggenggam tepi meja tanpa sadar, buku-buku jarinya memutih karena tekanan. Kaisar tahu apa yang ada di pikiran putranya. `Hah... Alex,` batinnya. `Bukannya Ayah tidak ingin menuruti keinginanmu. Tapi wanita itu... Hana... bukanlah wanita yang bisa diremehkan atau dipaksa. Jika Ayah memaksanya menjadi permaisurimu, taruhannya adalah seluruh kerajaan ini.`

Pandangan Kaisar kemudian beralih pada putrinya, Elina, yang duduk bersama para putri bangsawan kelas atas. Gaun merah delima melekat di tubuhnya seperti api, mahkota kecil berkilau di rambutnya, dan dagunya terangkat tinggi. `Elina juga sudah terlalu banyak berbuat salah,` pikir Kaisar. `Sebagai ayah, aku bahkan tidak tega menghukumnya. Tapi kali ini cukup. Sudah waktunya dia belajar menjadi dewasa.`

Tiba-tiba, suara kasim istana menggema di seluruh aula, memecah semua bisik. “Nona Hana memasuki ruangan.”

Seketika, seluruh aula menjadi hening. Para pejabat yang tadinya bersandar santai, kini duduk tegak. Napas mereka tertahan. Pintu perunggu besar terbuka dengan suara berat, dan Hana melangkah masuk.

Ia berjalan dengan anggun. Gaun perak gelapnya jatuh mengikuti setiap langkah, tanpa suara, tanpa hiasan berlebihan yang mencolok. Rambutnya disanggul rendah, hanya disemat satu tusuk perak berbentuk daun maple. Wajahnya pucat, dingin, dan matanya menyapu ruangan sekali sebelum berhenti. Ia tidak tersenyum pada siapa pun. Kehadirannya saja sudah cukup membuat aula itu terasa lebih berat, seolah udara di dalamnya menipis.

Bisik-bisik pun pecah, tidak bisa dibendung lagi.

“Apa kalian sudah mendengar kabar itu? Nona Hana yang menyumbangkan makanan dan obat-obatan ke perbatasan.”

“Aku sudah mendengarnya. Katanya Tuan Bima sendiri yang mengantarkannya sampai ke garis depan.”

“Nona Hana memang luar biasa. Selain menakutkan, ia juga memiliki jiwa yang mulia. Aku sangat mengaguminya.”

“Tapi bagi yang tidak mengenalnya, dia sangat menakutkan. Wajahnya cantik, tapi jika ia marah... dia seperti orang yang berbeda.”

Pangeran Kael menatap Hana tanpa berkedip. Setiap gerakan Hana, setiap sorot matanya yang dingin, membuat Kael terpaku di tempatnya. Ia menoleh pada adiknya dengan suara pelan. “Adik, apakah kau mengenal wanita itu?”

Lyra mengangguk cepat. “Kak, dia Nona Hana. Dia yang menyelamatkan prajurit di perbatasan. Aku sering mendengar namanya. Katanya dia sangat menakutkan jika marah. Bahkan Yang Mulia Kaisar sendiri segan padanya.”

Kael mengangguk pelan. Ia terkejut, tapi sebagai seorang pangeran, ia tidak menunjukkan keterkejutannya di wajah. Ia hanya menegakkan punggungnya kembali, dan pandangannya tidak lepas dari Hana.

Hana berhenti di tengah aula. Ia membungkuk dengan sopan, tidak berlebihan. “Salam, Yang Mulia Kaisar. Semoga Anda panjang umur dan sehat selalu.”

Kaisar tersenyum tipis. “Hmm... Berdirilah, Nona Hana. Silakan duduk.”

Hana mengangguk. Ia berjalan menuju kursi tamu kehormatan dan duduk dengan wajah datar, punggung tegak, tanpa menoleh ke kiri atau kanan. Seolah seluruh aula itu tidak ada.

Dari meja depan, Alexander menatapnya. Tatapannya sendu, penuh sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan dengan kata. `Hana...` batinnya. `Kau memang cantik dan hebat. Apa aku tidak pantas bersanding denganmu? Kau sangat sulit aku dapatkan. Bahkan Ayah sendiri tidak berani memaksamu menjadi permaisuriku.` Tangannya mengepal di atas pangkuan sampai terasa sakit.

Elina melihat itu. Matanya menyipit sinis. Ia memanggil pelayan pribadinya dan berbisik di telinganya, suaranya hanya bisa didengar oleh pelayan itu. “Pergilah. Ambilkan minuman yang sudah aku siapkan. Nanti berikan pada Nona Hana. Pastikan tidak ada yang curiga. Tidak ada yang boleh tahu.”

Pelayan itu mengangguk cepat. “Baik, Tuan Putri.” Lalu ia menyelinap keluar dari aula, menghilang di balik tirai tebal.

_*_

Perjamuan dimulai. Kaisar berdiri dan mengangkat cangkirnya tinggi. “Malam ini kita menyambut kedatangan Pangeran Mahkota Kael dan Putri Lyra. Semoga persahabatan kita semakin erat.” Semua orang ikut mengangkat cangkir. Hana juga mengangkatnya, menyentuhkan bibir cangkir perak itu ke bibirnya, namun tidak meneguk setetes pun. Matanya tetap mengamati, waspada.

Musik mulai mengalun. Para penari masuk dengan gaun sutra berwarna-warni. Suasana seharusnya meriah, namun di balik kemeriahan itu, ketegangan terasa seperti tali yang ditarik semakin kencang.

Tidak lama kemudian, pelayan yang ditugaskan Elina kembali. Ia membawa nampan perak berisi dua cangkir kristal berisi anggur merah yang warnanya pekat. Ia berjalan lurus ke arah Hana. “Nona Hana,” katanya dengan suara lembut yang dibuat-buat. “Putri Elina memerintahkan saya untuk menyajikan anggur khusus ini untuk Anda. Sebagai tanda hormat istana.”

Semua mata menoleh. Elina tersenyum manis dari kejauhan, menunggu. Senyumnya terlalu lebar, terlalu puas.

Hana menatap cangkir itu. Hidungnya sedikit mengerut. Ada aroma samar di balik wangi anggur. Aroma herbal yang tajam, kering, seperti akar obat tidur yang ia kenali. Ia tahu itu apa. Ia tahu siapa yang mengaturnya.

Ia mengambil cangkir itu. “Terima kasih,” katanya datar, tanpa emosi. Ia meneguk sedikit, hanya membasahi bibir, lalu meletakkannya di meja marmer.

Elina menahan napas, menunggu reaksi Hana. Matanya tidak berkedip.

Beberapa menit kemudian, Hana menyentuh pelipisnya. “Yang Mulia,” katanya dengan suara pelan, sedikit serak. “Maafkan saya. Kepala saya mendadak berat. Izinkan saya beristirahat sebentar di anjung timur.”

Kaisar langsung cemas. Ia menoleh cepat. “Leon, antar Nona Hana sekarang juga.”

Leon maju tanpa suara. Hana berdiri, langkahnya pelan, tubuhnya sedikit bersandar pada lengan Leon. Wajahnya memucat. Mereka keluar dari aula. Pintu menutup di belakang mereka.

Elina tersenyum lega. Begitu pintu tertutup, ia berbisik pada dayangnya. “Ikuti. Pastikan anjung timur kosong. Jangan biarkan siapa pun mendekat.”

_*_

Anjung timur gelap dan dingin. Angin masuk dari jendela yang terbuka setengah, membawa aroma melati yang hampir layu. Begitu pintu tertutup rapat, Hana langsung duduk tegak. Wajahnya kembali normal. Tidak ada pucat. Tidak ada lemah. Matanya jernih dan tajam.

Leon mengunci pintu dari dalam. “Nona.”

Hana mengeluarkan botol kaca kecil dari balik lengan bajunya dan meneteskan cairan bening ke lidah. “Aku tidak apa-apa,” katanya pelan. “Ada penawar di sini. Aku sudah minum sebelum memasuki istana.”

Mendengar itu, Leon merasa tenang. Tiba-tiba mereka mendengar suara langkah kaki mendekat di koridor. Leon langsung bersembunyi di balik pintu, tubuhnya menempel di bayangan.

Tidak lama kemudian, pintu dibuka tanpa diketuk. Elina masuk dengan wajah penuh harap dan senyum kemenangan. “Nona Hana? Kamu di sini?”

Hana duduk bersandar, matanya setengah terpejam, napasnya dibuat berat. “Putri Elina... kamu...”

Elina berhenti di ambang pintu. “Kamu belum pingsan?”

Hana menatap Elina dengan tatapan sayu, matanya berkaca-kaca. Tatapan itu membuat Elina tersenyum licik.

“Apa maksudmu, Putri Elina... apa kamu...” Hana memotong kalimatnya sendiri, lalu pura-pura terkulai lemas di kursi.

Itu membuat Elina tertawa kemenangan. Suaranya melengking di ruangan sempit itu. “Hahaha... Rasakan itu, Hana. Kamu berani membentakku di hadapan Ayahanda. Dan sekarang aku akan memberikan pelajaran padamu, karena berani melawan Putri Elina.” Ia mendengus, berbalik badan, siap memberi isyarat pada dayangnya.

Tapi tiba-tiba, sebuah tangan kuat memeluk tengkuknya dari belakang. Elina tidak sempat berteriak. Matanya membelalak, lalu ia pingsan seketika.

Hana langsung membuka matanya. Tatapannya tidak lagi sayu. Dingin dan tajam. Ia menatap Leon yang kini memegang tubuh Elina agar tidak jatuh ke lantai.

“Nona, lalu apa yang akan saya lakukan pada Putri Elina?” tanya Leon dengan suara serius, tangannya masih mencengkeram.

Hana tersenyum menyeringai. Ia mengusap bibirnya yang basah karena sisa obat penawar. “Bunuh dia,” katanya pelan, tapi setiap katanya seperti palu yang menghantam. “Aku tidak pernah mengampuni orang yang berani menyakitiku!”

Mendengar ucapan Hana, Leon terbelalak. “Nona, dia adalah seorang putri... Bagaimana jika Kaisar murka dan...”

Ucapannya terpotong saat melihat tatapan tajam Hana yang menembusnya.

Dengan takut, ia akhirnya mengangguk dan ingin menggendong tubuh Putri Elina. Tapi tiba-tiba, suara berat menggema dari luar.

“Tunggu!”

Pintu didobrak. Kaisar datang dengan wajah pucat. Di belakangnya, Kasim kepercayaan istana ikut masuk dengan napas terengah.

Leon langsung terkejut. Ia melepaskan Putri Elina yang jatuh ke pelukan Kaisar. Kaisar buru-buru memeluk putrinya erat.

“Nona Hana, tolong maafkan putri saya,” ucap Kaisar dengan suara bergetar dan wajah penuh harap. “Saya akan memberikan Anda penjelasan, dan saya juga akan menghukum Putri Elina karena perbuatannya.”

Kasim itu tertegun di tempat. Baru kali ini ia melihat seorang Kaisar begitu takut pada orang lain. Dan orang itu adalah seorang wanita muda yang bahkan tidak memiliki gelar bangsawan.

Hana berdiri. “Baiklah. Kali ini aku memaafkannya!” Tekanannya berat. “Tapi jika sampai terulang lagi, aku, Hana, tidak akan pernah memandangmu sebagai seorang Kaisar!”

Ia berdiri, lalu berjalan meninggalkan kamar itu tanpa menoleh lagi.

Leon menelan ludah keras. Karena Nona-nya begitu berani pada Kaisar, ia mengikutinya dari belakang dengan berlari kecil.

“Cepat, bawa anak durhaka ini kembali ke istananya!” buru-buru Kaisar memberikan tubuh putrinya pada Kasim. Setelah itu ia mengejar Hana menuju halaman istana.

Kasim yang ditinggalkan mematung dan tercekat. Ini sulit ia pahami. Kaisar benar-benar seperti pengawal Hana. Wanita itu benar-benar menakutkan, seperti yang orang lain katakan. Akhirnya Kasim membawa Putri Elina kembali ke istananya dengan perasaan was-was dan keringat dingin di punggung.

_**

Di kereta pulang, malam sudah larut. Roda kereta berderit pelan di jalan berbatu. Bulan menggantung bulat di atas.

Leon bertanya pelan. “Nona, kenapa Anda tidak menunggu Kaisar? Bukankah Yang Mulia Kaisar mengejar Anda?”

Hana menatap keluar jendela. Wajahnya diterangi cahaya bulan. “Biarkan saja,” katanya. “Aku ingin dia merasa bersalah dan menghukum putrinya sendiri. Aku tidak mau Kaisar menjadi tidak adil bagi putrinya yang sering membuat masalah.”

Leon mengangguk. Memang benar ucapan Hana. Ia mendukungnya, dan merasa bangga karena Kaisar saja takut pada Hana. Ia membusungkan dadanya tanpa Hana melihatnya. `Jika saja Jay dan yang lainnya ada di sini, mereka pasti akan merasa bangga juga,` batin Leon. `Aku sudah tidak sabar menunggu kepulangan mereka.`

Kereta Hana meninggalkan istana di tengah malam itu. Di dalam istana, Elina akan benar-benar mendapatkan hukuman dari ayahnya tanpa dia duga. Dan nama Hana, sekali lagi, akan menjadi bisikan yang paling ditakuti di seluruh Sanata.

1
Dinda
mantap kak
Dinda
puas bangat😍
Dinda
kejam,,dunia kejam bagi orang miskin.
Dinda
kasihan Hana semoga saja semua orang yang menyakiti nya, mendapatkan balasan yang setimpal !
Dinda
Hana balas Mereke semua
Dinda
jahat bangat keluarga nya
Osie
prajurit songong..jenderalnya pun songong..dikasih bantuan makanan bukannya terimakasih tapi malah bikin rusuh..sombong amir..aku doain deh moga author bikin tuh jenderal bucin akut sama hana dan ditolak sama hana..biar tau rasa dia
Osie
kesalahan 18thn lalu kenapa tdk dikuak biar ketahuan siapa penjahat sebenarnya
Osie
hana miris bgt hidupmu
Osie
baru baca udah es mosi aja aku ma tuh keluarga
Arni Lisa
makanya jadi orang jng sombong apa lagi menghina orang, tuh kena karmanya gimna rasanya hmm... nggk enak kan, makanya kalau punya mulut tuh di jaga juga... hihihihi...
Sekar
wow mantap thor😍😍💪💪
deni alfian
jangan sampai hana menderita lagi author,kasihan buatlah hana menjadi gadis kejam.
deni alfian
kasihan hana
Arni Lisa
jngan samapai lolos satupun hana.. habis kan atau ratakan kediaman kakeknya... hihihi
Arni Lisa
haduh ibu suri gimna c bisanya bacot doang, mangnya nggk tau apa prajut yg 300 mati tak bersisa hidup... mau istana diratakan... rayakan aja istana.. kejam2 sekalian.. sekalian ambil alih istana... hahahha
Sekar
mantap thor😍😍💪💪
Yue Li MZy
lanjutt KA uthor,seru bgtt 💪🏻👍🏻👍🏻
Caty Chanel
lanjut kk
Arni Lisa
lanjut kak...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!