Pulang dari rumah sakit sehabis melahirkan, Alena di kejutkan sebuah Lingerie Merah yang tergeletak di atas ranjang adiknya. Alena terkejut bukan tanpa alasan. Sementara Tiyas - adiknya itu masih lajang. Lalu, Tiyas gunakan untuk apa pakaian vulgar itu.
Setelah Alena menyelidiki, ternyata Lingerie itu Tiyas gunakan untuk memuaskan....????
Tak hanya hati Alena yang hancur. Masa depan putranya juga ikut terpatah. Di tengah himpitan masalah ekonomi, datanglah sosok Juragan cukup matang bernama~Danu Albiru. Pria berusia 38 tahun itu tidak hanya menawarkan pernikahan KONTRAK. Tapi membantu Alena bangkit, menjamin masa depan putranya.
Akankah Alena tetap mempertahankan pernikahannya dengan Dewantara? Ataukan bersedia cerai, dan memilih tawaran menggiurkan Juragan Danu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Fauzan mendekat sambil menyela. Bahkan sampai menunjuk wajah Tiyas. "Maksud kamu makan siang di Hotel? Dengan siapa kamu tadi siang, Tiyas?" Sudut mata itu juga melirik Kakaknya yang sejak tadi mengatupkan mulut saja.
Alena masih menatap sang adik menunggu jawaban wanita itu.
Dewan menengahi. Pria itu menarik lengan Istrinya dengan lembut. "Alena... Mungkin saja Adikmu ada bertemu dengan kekasihnya?! Sudahlah... Itu nggak penting!"
Alena menyahut, "Dia Adik saya, Mas! saya yang masih bertanggung jawab, karena hanya saya satu-satunya keluarga yang dia miliki. Bagaimana kalau dia salah pergaulan?!"
Dewan mencoba menenangkan. Ia membawa Istrinya masuk dalam pelukanya.
"Tiyas, kamu masuklah! Saya nggak ingin Istri saya menjadi kepikiran gara-gara kamu!" cetus Dewan bersikap acuh.
Tiyas tertunduk, lalu segera melenggang dari sana.
"Bagaiman bisa sekebetulan ini? Kemeja Mas Dewan mirip sekali sama pria itu? Aku harus mencari tahu!" Fauzan tengah menelisik kemeja Kakaknya.
*
Malam harinya, Alena masuk ke dalam kamar Baby Delan karena putranya itu menangis tadi. Seharian batin serta raganya di hajar habis-habisan oleh beberapa kenyataan, kini Alena hanya mampu menghela napas sambil terus menyusui Delan.
Ceklek!
Dewan membuka pintu kamar putranya. Pria itu tidak masuk, dan hanya menyembulkan setengah badanya saja.
"Alena... Saya tidur dulu, ya! Badan saya cepak seharian kirim tadi. Nanti kalau kamu lelah, tidur di kamar Delan nggak papa," ucap Dewan sambil kembali menutup pintunya.
Deg!
Dada Alena tiba-tiba berdesir. Lelah? Seharian kirim dari pagi? Bagaimana Dewan masih bisa se ingkar itu. Bahkan, untuk melihat putranya saja Dewan tak punya waktu. Apalagi sekedar menimang, ataupun sekedar bertanya kabarnya seharian selama suaminya itu tinggal.
Semenjak kelahiran putranya, Alena benar-benar kehilangan sosok suaminya.
"Kamu sudah berubah, Mas...." lirih Alena terpaku dalam duduknya masih terus menyusui Delan.
Rasanya lebih sakit daripada melahirkan Delan ke dunia.
"Sayang... Kamu rewel pasti karena Ibu sedang pikiran. Perasaan Ibu sedang tak baik-baik saja. Ibu bukanya ingin berpikir negatif... Tapi cara mereka membuat Ibu yakin jika penghianatan itu ada."
Delan sudah terlelap. Bayi kecil itu bahkan sampai melepaskan sendiri sumber makananya, hingga dengkuran halus menyamai tarikan napasnya.
Alena tersenyum. Tapi air matanya menetes. Wanita cantik itu mendongak sekilas, lalu segera bangkit untuk menidurkan Delan di dalam box.
"Selamat tidur, anak Ibu! Mimpi indah, Delan...." bisik Alena sambil mengecup kepala sang Putra.
Malam itu, Alena memang sengaja tak kembali ke kamarnya. Ia juga sudah berbicara dengan Bik Laras tentang persoalan ini. Dan sebelum masuk ke kamar Delan, Bik Laras sudah mematikan beberapa lampu ruang tengah.
Cahaya temaramnya semakin membuat perasaan Alena teriris.
Tepat pukul 11 malam, Alena mendegar suara derap langkah seseorang tengah naik ke lantai dua. Di tengah kecemasanya itu, Alena membuka pintu perlahan, dan dapat melihat suaminya menapaki anak tangga dengan santai.
Deg!
Alena menelan ludah dengan susah. Ia kini sudah keluar. Berdiri tegang di balik pintu. Perasaanya mulai tak tenang. Tanpa banyak bicara, Alena melepas sandalnya dan mengikuti Dewan dari belakang.
Sementara di atas, tidak ada siapapun selain... Tiyas!
Deg!
Setapak anak tangga Alena pijak, seirama pula dengan detak jantungnya yang berpaju lebih cepat. Lingerie merah itu. Senyuman Tiyas yang seolah menyimpan rahasia besar. Apalagi fakta itu semakin membuat langkahnya menggantung di ujung tangga, kala melihat Dewan saat ini berhenti di depan kamar adiknya-Tiyas!
"Ya Allah, Mas Dewan ngapain ketuk kamar Tiyas??".
Bersusah payah Alena menggeleng pelan, mencoba tetap perpikir positif meskipun rasanya sudah tak bisa.
Ketukan pelan itu membuat dada Alena berdesir nyeri. Di tambah lagi disaat pintu sudah berhasil di buka oleh Tiyas. Jantung Alena seolah berhenti berdetak. Waktu juga ikut terdiam. Tiyas keluar mengenakan Lingeri Merah yang dirinya temukan di atas ranjang waktu itu.
Alena menarik tubuhnya menunduk. Malam itu pandanganya terasa gelap. Dunia seolah runtuh dalam sekejap mata.
Dengan sikap gemulainya, Tiyas langsung mengalungkan tanganya pada leher Dewan.
"Mas... Apa Mbak Lena sudah tidur?"
"Kamu tidak perlu cemas, Sayang! Alena tertidur di kamar bayinya. Dan kamu tahu... Aku masih membayangkan lekuk tubuhmu saat siang di hotel tadi."
Tiyas langsung menyerang bibir Dewan begitu liar. Sementara pria tampan itu mendorong Iparnya di sisi tembok, dan penuh gairah mengunci kedua tangan Tiyas pada tembok, lalu mengulum kembali bibir kenyal itu.
Ahhh...
Desahan keluar dari mulut Tiyas kala Dewan menyerang leher jenjangnya dan kembali merampas bibir ramunya lagi.
Tubuh Alena gemetar hebat. Ternyata selama ini? Selama ini penghianatan itu tidak jauh dari rumahnya sendiri. Dan malam ini seolah takdir tengah menunjukan siapa kedua orang dibalik topeng kejinya.
"Kalian... Kalian benar-benar manusia durjana! Kalian tega berbuat mesum di rumah ini. Kalian benar-benar seperti hewan...." sekuat tenaga Alena membekap mulutnya dengan air mata yang sudah berlinang.
Hatinya bak tertusuk ribuan duri. Sahutan petir berdengung dalam telinganya. Malam itu Alena tidak hanya kehilangan suaminya, tapi rasa percaya kepada adik kandungnya sendiri.
*
Pintu kamar Delan terbuka. Bik Laras yang baru menidurkan Delan ke dalam Box, kini terkejut melihat Majikannya menangis bersandar pintu. Bik Laras segera menghampiri.
"Ya Allah, Non... Apa yang terjadi? Apa yang di lakukan Juragan?" Suara Bik Laras tak kalah bergetar.
Wanita tengah baya itu mengusap bahu Majikannya yang gemetar hebat.
"Bik... Ternyata... Mereka penghianat! Mereka sudah menghancurkan kepercayaan saya. Dengan mata kepala ini, saya menyaksikan keduanya saling bertukar saliva tanpa malu. Mereka ada di atas tengah bertukar keringat juga."
Bik Laras merengkuh pundak sang Majikan, mengusap lembut punggung Alena sambil ikut menangis juga.
"Ya Allah... Ya Allah yang sabar ya, Non...."
Sejak malam itu, Alena bukan lagi dirinya dibagian keluarga. Ia sudah mematikan bagian kecil yang biasanya selalu membuat hidup seisi rumah.
****
Pagi itu tidak ada sambutan hangat, atau sekedar membangunkan Dewan dengan kecupan lembutnya. Sehabis bangun, Alena lebih memilih membersihkan diri, bersolek tipis, lalu membangunkan Delan untuk dirinya susui.
Sementara di dalam kamar, kedua pasangan haram itu baru tersadar akan perbuatanya semalam. Dewan bangkit, masih satu selimut yang sama dengan Tiyas. Wajah keduanya sama-sama gelisah.
"Mas... Bagaimana ini? Kamu kok malah ketiduran sampai pagi sih? Gimana kalau Mbak Lena cariin kamu?" Tiyas juga masih mengeratkan selimutnya.
Dewan menghela napas berat. Di tengah rasa gelisahnya, dirinya langsung menyambar pakaiannya, lalu menuju kamar mandi tanpa sepatah kata.
Dengan hanya mengenakan daster tipis dan masih belum mandi, rambut cukup acak-acakan, Tiyas mengantarkan Dewan keluar dari kamarnya.
Namun siapa sangka, ketika pintu kamarnya ia buka, kejutan sudah menunggunya di luar.
emang mulutnya lemes banget
maka kamu harus melepaskan alena
aku bingung mau komen apa tentang Fauzan ini🤔🤔
jangan kecewakan perempuan lain,,
jika dihatimu masih ada Alena
maka buang jauh jauh yaa