NovelToon NovelToon
SANG PEMBURU KEGELAPAN

SANG PEMBURU KEGELAPAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Balas Dendam
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: AL

Mengerahkan segenap kekuatannya, Arya menyerang Alam Dewa!

Awalnya Arya ditugaskan para dewa untuk memburu Pangeran Kegelapan yang telah menciptakan berbagai teror di dunia. Namun, di balik tugas ini, ada konspirasi yang busuk!

Para dewa rupanya berusaha melenyapkan keabadian dan kekuatan sang ayah yang ada di dalam dirinya. Kelak Arya akan memimpin perang melawan para dewa. Di perang besar ini dia akan menunjukkan kehebatan dan kesaktiannya yang tiada tara!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SPK 16

"Siapa mereka?" gumam Arya bertanya-tanya. Dari pancaran energi yang dia rasakan, penyusup yang sedang berada di atas atap kamarnya bukan hanya 1 orang saja, melainkan lebih dari tiga orang. Pandangannya tetap mengedar ke arah atap dan bersiap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi.

Arya melompat ringan mendekati lentera yang menerangi kamar lalu meniupnya. Suasana yang terang seketika gelap tak bercahaya. Arya berjingkat kembali ke ranjang dan merebahkan tubuhnya perlahan.

krekk!

Suara pecahan genting kecil yang menggelinding cepat turun ke bawah bisa terdengar jelas meskipun sangat pelan. Telinga Arya bisa menangkap adanya suara genting yang terbuka. satu, dua, tiga dan empat genting pun akhirnya terbuka lebar. Pancaran sinar Bulan yang terang, seketika menerobos masuk ke dalam kamar Arya bersamaan dengan terbukanya genting.

Arya menutup kelopak matanya dan hanya memberi sedikit ruang agar tetap bisa melihat meski dalam keadaan gelap. Sinar bulan yang menerobos kamarnya, sedikit banyak  membantunya melihat sesosok kepala yang tiba-tiba melongok ke dalam.

"Apa niat mereka?" pertanyaan kembali muncul dalam benak pemuda tersebut.

"Dia ada di dalam," bisik seorang penyusup kepada temannya.

Sosok tersebut melompat dan mendarat ringan tepat di samping ranjang tempat Arya merebahkan tubuhnya. Sesaat berikutnya, 3 sosok lainnya menyusul melompat masuk ke dalam kamar.

Meski gelap dan hanya bermodalkan sinar bulan, mereka berempat bisa melihat sosok pemuda yang mereka incar sedang tertidur lelap. Dua orang dari mereka mencabut pedangnya dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang bisa memancing pemuda itu bangun dari tidurnya.

Setelah saling berpandangan, kedua orang itu mengangkat pedangnya ke atas lalu menebaskannya ke arah leher dan perut Arya.

Belum sempat pedang itu sampai di sasaran, Arya menendang salah satu dari mereka hingga menabrak teman-temannya.

Braaak! Pyaaar!

Suara meja yang hancur tertimpa tubuh para penyusup dan cermin yang pecah menghantam lantai terdengar bersahutan.

"Bangsat ...Kita dijebak olehnya!" umpat salah satu dari mereka.

"Habisi dia!" teriak yang lainnya.

Empat sosok penyusup tersebut menyerang Arya secara bersama-sama tanpa peduli jika pertarungan yang mereka lakukan ada di dalam istana.

Arya berkelit menghindari satu serangan yang mengincarnya. Setelah itu sebuah tendangan gunting dilepaskannya cepat hingga membuat salah satu penyerangnya terbanting ke lantai menghujam keras.

Teriakan kesakitan terdengar jelas di heningnya malam. Arya melompat meraih pedang penyerangnya yang tergeletak di lantai dan dengan cepat memberikan  serangan balasan.

Suasana yang gelap remang-remang tidak membuat pemuda itu kesulitan bergerak. Dua tahun hidup di perguruan Elang Putih secara tidak langsung telah mengasah ketajaman mata dan insting bergeraknya.

Tebasan cepat mengarah leher dan disusul sebuah tendangan kuat yang dilepaskan Arya membuat seorang penyerangnya tergeletak di tanah. Lehernya terkoyak dalam hingga kerongkongannya putus tak berfungsi lagi. Suara ngorok beberapa kali terdengar, sebelum akhirnya sosok tersebut tewas bermandikan darah.

Serangan Arya tidak berhenti sampai di situ. Seorang penyerangnya yang tertegun melihat kematian temannya, tidak menyadari adanya bahaya yang datang. Memang dia sempat bereaksi, namun semuanya terlambat karena ujung pedang sudah menusuk perutnya hingga tembus ke punggung.

Arya tidak langsung mencabut pedangnya, melainkan memutar bilah pedang di tangannya beberapa kali hingga luka yang dihasilkan semakin parah. Hanya butuh beberapa detik saja sosok tersebut bisa bernafas, sebelum Kemudian mati menyusul temannya.

Dua penyerang lain bergerak mundur beberapa langkah. Keduanya terkejut dengan kemampuan calon korban mereka yang kini malah menjadi dewa kematian buat mereka sendiri. Informasi yang mereka dapatkan mengatakan jika sosok yang harus mereka bunuh hanya memiliki sedikit kemampuan ilmu kanuragan. Namun nyatanya tidak demikian, situasinya berbalik dan mereka kini yang harus bertahan agar bisa tetap hidup.

"Katakan siapa kalian dan kenapa kalian berniat membunuhku!?" bentak Arya. Ujung pedangnya terarah ke depan menunjuk mereka berdua.

"Percuma kau mengancam, kami tidak akan membuka rahasia apapun kepadamu!"

"Berarti kalian memilih kematian sebagai jawabannya." Arya  maju selangkah demi selangkah dengan seringaian yang terlihat menakutkan. Pemuda berambut kemerahan itu sudah tidak terlihat canggung untuk melakukan pembunuhan lagi.

Melarikan diri bukanlah opsi terbaik bagi mereka berdua, sebab jalan keluar sudah ditutup rapat oleh pemuda tersebut. Melompat ke atas juga tidak mungkin mereka lakukan dengan cepat, apalagi di saat nyawa mereka di ujung tanduk.

Jalan pertarungan hingga mati pun mereka pilih. Setelah menarik nafas, keduanya maju memberi serangan.

Suasana yang gelap dan kondisi kamar yang terdapat banyak barang pecah belah, membuat suara gaduh terdengar hingga keluar. Dentingan logam yang beradu juga menambah ketegangan yang terjadi.

Beberapa prajurit yang sedang berpatroli terkejut mendengarnya. Mereka bergerak merapat mendekati kamar Arya dan kemudian mengetuk pintunya.

Tak kunjung mendapat jawaban dan ditambah suara gaduh dari dalam akhirnya membuat para prajurit membuka paksa pintu kamar Arya. Bersamaan dengan masuknya mereka ke dalam kamar, suara lengkingan terakhir terdengar cukup keras. Arya berhasil menebas perut penyerang terakhirnya hingga ususnya terburai keluar.

Pintu kamar yang terbuka membuat pemuda tersebut mengalihkan pandangannya. Dilihatnya beberapa prajurit memasuki kamar dan mendekatinya.

"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya salah satu prajurit.

Arya menghela nafas panjang lalu berjalan mendekati lentera dan menyalakannya.

Beberapa orang prajurit itu terkejut melihat kondisi kamar Arya yang sudah porak poranda. ditambah lagi dengan adanya 4 sosok jasad yang sudah tak bernyawa tergeletak di lantai.

"Siapa mereka, Tuan?"

"Entahlah. Tapi yang pasti mereka berniat untuk membunuhku," jawab Arya.

Seorang prajurit mendekati salah satu jasad dan memeriksanya. Setelah tak menemukan apapun, prajurit itu berpindah tempat memeriksa jasad yang lain.

"Organisasi Pembunuh Iblis Kematian." Prajurit itu mengernyitkan dahinya sambil berucap pelan.

"Benarkah?" tanya prajurit lainnya.

"Bukankah segel ini adalah milik organisasi tersebut?" Prajurit yang memeriksa jasad menunjukkan segel di tangannya.

Arya melangkah mengambil segel dari tangan prajurit lalu memandangnya cukup lama. "Tolong kalian bersihkan jasad-jasad itu! Aku mau menemui Tuan Jaya dahulu."

"Baik, Tuan," jawab salah satu prajurit.

Arya menggeleng pelan, kemudian mengayunkan langkahnya keluar dari kamar. Pikirannya tidak bisa berhenti bertanya-tanya, siapa yang sudah berniat mencelakainya? Dirinya tentu tidak habis pikir, padahal baru beberapa hari berada di istana dan tidak mempunyai masalah dengan siapapun.

Setelah sampai di depan kamar Jaya, Arya mengetuk pintunya beberapa kali. Tak lama, terdengar suara sahutan berasal dari dalam kamar yang disusul dengan terbukanya pintu dari dalam.

"Kau kenapa Arya?" Jaya mengernyit melihat pakaian Arya yang dipenuhi bercak darah.

"Ada yang sudah berniat membunuhku dan mengirim empat orang memasuki kamarku," jawab Arya.

"Apa kau tahu siapa mereka?" tanya Jaya penasaran.

"Aku tidak tahu. Mereka memilih mati dari pada menjawab pertanyaanku." Arya menyerahkan segel yang dibawanya kepada Jaya.

"Mereka membawa segel ini," tambahnya.

Jaya membuka lebar matanya yang masih mengantuk. "Memang benar ada yang mengincarmu, Arya. Segel ini milik organisasi pembunuh terkenal yang misterius."

"Kita bicarakan besok saja, Paman. Aku mau mandi dulu, lalu tidur," ucap Arya sambil menunjukkan tangannya yang berlumuran darah.

"Baiklah. Tapi kau mau tidur di mana? Bukankah kamarmu rusak berat?" tanya Jaya.

"Aku bisa tidur di manapun, Paman. Asal bisa merebahkan tubuh, itu saja sudah cukup buatku."

"Begini saja, kau ambil pakaianmu dulu lalu kembalilah ke sini. Nanti kau mandi dan tidur di kamarku saja, ada ranjang kosong yang bisa kau tempati tidur," kata Jaya memberi penawaran.

Arya mengangguk pelan lalu berjalan kembali ke kamarnya.

Malam berjalan begitu panjang bagi Arya. Pikirannya masih dipenuhi pertanyaan tentang siapa yang menyewa organisasi tersebut untuk membunuhnya.

1
anggita
like👍, 2x☝☝iklan. untuk dukung novel laga nusantara
anggita
bocah kuckuk🤔🤭😅
꧁𖣔⃟⃝⃞𒈙᭄404᭄𒈙⃞⃝𖣔꧂
🚬🗿☕
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!