Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Tumbangnya Sang Senopati
Hawa dingin yang pekat mendadak melingkupi Lembah Kapur, kontras dengan terik matahari yang menyengat kulit.
Dua jari tangan kanan Satria Pamungkas yang telah dilapisi Ajian Pedang Pembelah Lautan bergetar pelan, memancarkan bunyi mendengung yang sangat nyaring bagai ribuan lebah ghaib yang siap mencabik mangsa.
Senopati Ronggolawe mencoba menarik gada besinya dengan kepanikan yang luar biasa.
Otot-otot lengannya yang sebesar batang pohon pisang menegang hingga urat-urat kebiruan menonjol keluar, namun gada itu tetap tak bergeming dalam cengkeraman tangan kiri Satria.
Pemuda di depannya ini terasa seperti sebuah gunung gaib yang menancap kokoh ke pusat bumi.
"Kau... monster macam apa kau ini?!" raung Ronggolawe, suaranya kini tidak lagi dipenuhi kecongkakan, melainkan getaran ketakutan seorang pria yang menyadari bahwa maut sedang mengintai di depan matanya.
"Aku adalah akibat dari sebab yang kalian tanam kemarin malam, Ronggolawe," jawab Satria datar.
Sret!
Tanpa memberikan kesempatan bagi sang senopati untuk mengerahkan ajian pertahanan sekunder, Satria mengayunkan dua jari tangan kanannya secara horizontal.
Berkas cahaya biru keperakan melesat, memotong udara dengan kecepatan yang melampaui batas pandangan mata telanjang.
Ronggolawe hanya sempat melihat sekelebat cahaya terang sebelum pandangannya mendadak miring.
Rasa sakit yang luar biasa tajam belum sempat menjalar ke otaknya saat kepalanya yang berjanggut lebat itu sudah terlepas dari pundaknya.
Darah segar menyembur tinggi bagai air mancur merah, membasahi tanah kapur yang putih bersih di bawah mereka. Tubuh raksasa tanpa kepala itu limbung, lalu ambruk berlutut sebelum akhirnya tersungkur kaku.
Di saat yang sama, di sayap kiri lembah, Dyah Sekar Ayu baru saja menyelesaikan bagiannya. Selendang sutra hijaunya menari-nari dengan anggun namun mematikan, mematahkan leher prajurit terakhir yang mencoba kabur.
Ketika ia berbalik, ia melihat Satria sedang berdiri di samping jasad tanpa kepala sang senopati terkaya di Blambangan.
[Bip! Anda telah membantai Senopati Ronggolawe (Puncak Ranah Satria Tahap 9).]
[Memicu Intimidasi Mutlak skala luas pada sisa pasukan pendukung di kejauhan.]
[Mendapatkan: 25.000 Poin Sistem.]
[Kategori 2 di Toko Pawon Pusaka telah dibuka secara permanen!]
[Saldo Poin saat ini: 28.000 Poin.]
Satria mengambil caping bambunya yang tergantung di punggung, lalu mengenakannya kembali untuk menghalau terik matahari. Ia menatap ke arah Dyah Sekar Ayu yang berjalan mendekat dengan napas yang sedikit memburu. Meskipun wajah sang putri masih tertutup samaran, binar kekaguman dan ketundukan ghaib di matanya tidak bisa disembunyikan.
"Kau membunuhnya dengan sangat mudah," ucap Sekar Ayu, menatap jasad Ronggolawe dengan perasaan campur aduk. "Seseorang di puncak Ranah Satria biasanya membutuhkan kepungan lima pendekar setingkat untuk bisa ditumbangkan. Tapi di tanganmu, dia tidak lebih dari sekadar sebatang ranting kering."
"Itu karena dia terlalu mengandalkan otot dan kesombongannya," sahut Satria dingin sembari membalikkan tubuhnya membelakangi tumpukan mayat. "Di dunia kultivasi yang keras ini, kesombongan sebelum mengetahui kekuatan asli musuh adalah racun yang paling mematikan."
Satria berjalan menuju kuda hitam besar milik Ronggolawe yang kini berdiri gemetar ketakutan di sudut tebing. Ia melompat naik ke atas pelana dengan gerakan yang sangat tangkas, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Dyah Sekar Ayu.
"Naik," perintah Satria pendek.
Sekar Ayu menatap tangan Satria sejenak. Di masa lalu, tidak ada satu pun pria yang boleh menyentuhnya tanpa protokol keraton yang ketat.
Namun sekarang, di bawah pengaruh ikatan spiritual Asmaragama Siphoning yang kian menguat, ia merasa bahwa mematuhi setiap perintah pemuda ini adalah sebuah keharusan yang membahagiakan.
Sang putri menyambut uluran tangan Satria, lalu melompat dengan anggun untuk duduk di belakang pelana, melingkarkan kedua lengan halusnya di pinggang tegap Satria.
"Kita tidak menuju ke ibu kota kadipaten?" tanya Sekar Ayu saat menyadari Satria mengarahkan kuda ke jalur setapak yang mendaki perbukitan kapur bagian atas.
"Belum saatnya," jawab Satria sembari menghentak tali kekang kuda. "Kematian Ronggolawe akan segera diketahui oleh mata-mata istana dalam beberapa jam. Adipati Blambangan akan mengumpulkan seluruh sisa kekuatannya dan menutup rapat gerbang kota. Kita akan membiarkan ketakutan mereka memuncak terlebih dahulu selama beberapa hari. Sementara itu, aku perlu mematangkan kekuatanku di tempat yang aman."
Kuda hitam itu berlari kencang, membawa mereka berdua membelah debu putih Lembah Kapur, meninggalkan jejak darah dan teror yang sebentar lagi akan mengguncang seluruh sendi kekuasaan di Kadipaten Blambangan.
Menjelang senja, mereka tiba di sebuah gua tersembunyi yang terletak di puncak bukit kapur tertinggi. Dari mulut gua ini, pemandangan kota bawah Blambangan yang dipenuhi lampu-lampu obor terlihat dengan sangat jelas di kejauhan.
Satria menyalakan api unggun kecil di tengah gua menggunakan ranting-ranting pohon kering yang ia kumpulkan. Cahaya jingga dari api menari-nari di dinding gua, menciptakan atmosfer yang sunyi namun hangat. Setelah memastikan keamanan sekitar, Satria langsung duduk bersila di dekat api unggun.
"Sistem, buka Toko Pawon Pusaka Kategori 2 yang baru saja terbuka. Tunjukkan opsi terbaik untuk meningkatkan senjataku," perintah Satria di dalam benaknya.
[Bip! Menampilkan Toko Kategori 2 (Pusaka & Senjata Jiwa Ghaib):]
Keris Pusaka Naga Sosro (Replika Jiwa) - Harga: 20.000 Poin. (Senjata Ranah Senopati, memiliki aura pembakar Prana musuh).
Pedang Bintang Tujuh Kedewaan - Harga: 25.000 Poin. (Sangat selaras dengan Ajian Pedang Pembelah Lautan, meningkatkan ketajaman berkas cahaya hingga 200%).
Satria melihat opsi kedua. Mengingat ia memiliki Ajian Pedang Pembelah Lautan, senjata berbentuk pedang akan jauh lebih memaksimalkan daya serangnya dibandingkan keris biasa. "Beli Pedang Bintang Tujuh Kedewaan."
[Bip! Memotong 25.000 Poin Sistem. Saldo Anda saat ini: 3.000 Poin.]
[Manifestasi Pedang Bintang Tujuh Kedewaan berhasil!]
Wush!
Udara di dalam gua mendadak bergetar hebat. Dari pusaran cahaya biru di depan Satria, sebuah pedang panjang dengan bilah berwarna hitam legam muncul secara perlahan.
Di sepanjang bilahnya, terdapat tujuh ukiran permata kecil berbentuk rasi bintang yang memancarkan cahaya perak redup. Aura spiritual yang menguar dari pedang ini begitu pekat hingga membuat api unggun di depan Satria meliuk-liuk hampir padam.
Dyah Sekar Ayu yang sedang duduk di sudut gua langsung menegakkan tubuhnya. Matanya yang jeli mengenali kualitas luar biasa dari senjata tersebut. "Senjata... Senjata Tingkat Ghaib? Bagaimana mungkin benda legendaris seperti ini bisa muncul begitu saja dari udara kosong di tanganmu, Satria?"
Satria menggenggam gagang pedang tersebut. Seketika, ia merasakan aliran Prana di dalam tubuhnya mengalir masuk ke dalam bilah pedang dengan sangat mulus tanpa ada hambatan sedikit pun. Ia menatap Sekar Ayu dengan tatapan misteriusnya.
"Dunia ini jauh lebih luas dan penuh rahasia daripada apa yang tertulis di dalam kitab-kitab sejarah keratonmu, Gusti Ayu," jawab Satria pelan sembari menyarungkan pedang baru tersebut ke dalam sarung kulit hitam di punggungnya. "Mulai malam ini, kita akan memulai pelatihan tertutup. Aku akan membantumu menembus ke Ranah Satria Tahap 3, sementara kau akan membantuku menyempurnakan kendali pedangku melalui hubungan jiwa kita."
Sekar Ayu merasakan wajahnya sedikit memanas mendengar kata "hubungan jiwa", namun sebagai seorang jenius taktis, ia tahu bahwa kekuatan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku di dunia yang sedang bergolak ini. Ia bergeser mendekat, duduk tepat di hadapan Satria dengan kepatuhan yang kini telah menjadi bagian dari jati dirinya.
"Aku siap, Satria Pamungkas," ucap Dyah Sekar Ayu dengan nada suara yang penuh ketegasan dan kepasrahan seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh takdirnya ke tangan sang Overlord.