NovelToon NovelToon
Kisah Tanpa Dirimu

Kisah Tanpa Dirimu

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.

Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.

Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.

Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?

Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?

yuk simak....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kepergok

Pesta telah usai.

Laura sedang berganti pakaian dikamar hotel yang telah mereka sewa sebagai tempat beristirahat selama semalam usai pesta sekaligus tempat malam pertama keduanya.

Revan memilih duduk di sebuah ruangan bersama Mira dan juga para sepupunya. Duduk saling berhadapan dimana satu mejanya terdiri dari empat buah kursi.

"Jadi, kamu mau tetap tinggal dirumah mu? Terus gimana dengan Maara? Kalian mau tinggal seatap?" tanya Gian sambil mengusap-usap dinding gelas jus yang dingin.

"Memangnya kenapa? Itukan rumahku.. Lagipula Laura tahu kok tentang dia..." jawab Revan enteng tanpa beban.

"Sakit jiwa!" umpat Denis yang lebih terdengar sebagai gumaman.

"Jaga mulut Nis...! Kok ngatain kakakmu gitu! Kamu nggak berada diposisi dia jadi nggak tahu!" bela Mira pada putranya.

Denis menatap Revan semakin sinis yang juga dibalas oleh Revan tak kalah sinisnya.

"Kenapa kamu yang marah? Bukankah diawal kamu sering ejek dia kampungan?! Kok sekarang terkesan kamu nggak rela dia menderita....?" Revan mendekatkan diri kepada Denis yang duduk dihadapannya "Atau jangan-jangan, kamu naksir dia?" tudingnya lagi yang membuat Mira serta Gian melihat cepat kearah Denis.

Denis menaikkan sebelah alisnya.

Tatapannya semakin dingin saja hingga mengalahkan dinginnya suhu ruangan dan es jeruk yang mulai mencair.

"Jangan melempar kekurangan mu pada orang lain seolah ingin membenarkan perbuatanmu...! Ini bukan soal naksir atau apapun itu yang kamu tuduhkan, tapi soal kemanusiaan. Kalian kan manusia, kenapa tega nyakitin manusia lainnya yang bahkan nggak pernah nyakitin kalian tapi justru kalianlah yang menyeretnya hingga masuk dan menanggung perbuatan kalian...! Jangan jadi laki-laki pecundang Van.. Jika memang nggak mau, lepaskan dia dan biarkan dia bahagia dengan orang yang bisa menerimanya..." Denis menatap Mira, tantenya "Jangan kurung dia dengan ketakutan tante yang justru akan lebih menyakitinya.... Jangan jahat-jahat jadi manusia..! Kita juga nggak selamanya bisa hidup dan bernafas...!" ujarnya menohok.

Mira nampak mengeram kesal.

Denis pergi usai mengatakan semua uneg-uneg yang selama ini dia pendam kepada ibu dan anak itu.

Disusul dengan Gian setelahnya tanpa berucap apa-apa.

Sama halnya dengan Denis, Gian pun juga kesal dengan sikap Mira serta Revan bahkan yang paling kocaknya adalah, pernikahan ini tetap dilakukan tanpa restu dari Rendra yang memilih berdiam diri dirumah sakit padahal kondisinya sudah baik-baik saja.

Tiga hari sebelum acara pernikahan, Rendra mengeluh dadanya nyeri saat dia sedang menghadiri meeting hingga dia harus dilarikan kerumah sakit oleh salah satu staf kepercayaannya dikantor.

...********^*******...

"Kamu dari mana mas?" tanya Laura yang melihat wajah kusut Revan dari pantulan cermin rias.

Perempuan itu baru saja selesai mandi dan sedang memakai krim malamnya.

Revan berjalan menghampiri lalu mengecup puncak kepala perempuan yang telah resmi jadi istrinya.

"Dari cafe hotel, aku mandi dulu ya... Kamu tungguin aku..." pintanya.

"Hmmm..." angguk Laura.

Selang 2o menit, Revan keluar dengan wajah yang lebih segar dan rambut yang sedikit basah.

"Duduk mas... Aku bantu keringkan ya..." ujarnya meminta Revan duduk di kursi meja rias.

Laura segera mengambil alih handuk kecil yang tersampir di bahu Revan dan mulai mengusap rambut suaminya.

"Aku bahagia karena kita akhirnya bisa bersama dalam ikatan pernikahan..... "

Revan melirik Laura yang tampil polos dengan piyama satinnya.

"Aku juga... Kita berhasil melewati masa-masa sulit itu ya..."

Revan meraih tangan Laura dan menariknya hingga perempuan itu terduduk dipangkuannya.

Melingkarkan kedua lengannya dipinggang ramping istrinya.

"Kamu berhasil meyakinkan aku mas... Terima kasih ya udah bertahan dengan sikap aku yang kadang-kadang kekanak-kanakan..." ujar Laura sambil jari-jarinya menelusuri setiap jengkal wajah Revan.

Entah siapa yang memulai, kini keduanya saling berciuman mesra dan saling berbagi kehangatan dimalam pertama setelah keduanya resmi jadi pasangan suami istri.

Keduanya hanyut dalam gelora dan gairah, menyelami kenikmatan yang baru bisa mereka rasakan setelah jadi pasangan halal.

Rintihan dan kalimat-kalimat cinta mengisi kamar pengantin itu.

Berbeda dengan seseorang yang bahkan masih terjaga di kamar sempitnya.

Entah kenapa Maara bahkan tak bisa memejamkan kedua matanya padahal ini sudah hampir pukul 2 dini hari.

Jantungnya berdegup kencang.

Nafasnya terasa memburu.

Salahnya juga sih karena dia membuka sosmed milik Laura.

"Tidurlah suamiku, separuh duniaku... I love you ❤️"

Sebait caption dari akun sosmed Laura yang menampilkan foto Revan tertidur begitu nyenyak dan nyaman di sisi Laura.

Sesuatu yang tak pernah Maara lalui meski ia dan Revan telah menikah lebih dari empat bulan.

Dunia Maara semakin berantakan.

Tetes air mata jatuh dipipi mulusnya tanpa bisa Maara tahan.

Tanpa isakan, tanpa rintihan seperti yang sudah-sudah.

Hanya sebuah air mata kekecewaan.

Gegas, Maara menuju kamar mandi guna membasuh dirinya.

Duduk diatas sajadah lebih bermakna baginya dibanding terus-terusan menangisi laki-laki yang bahkan tak pernah melirik kearahnya.

Cinta itu ada dan memenuhi seluruh ruang hati Maara.

Namun, cinta itu hanya dirinya sendiri yang merasakan.

Cinta kepada laki-laki yang menjadi suaminya namun dia tak pernah merasakan indahnya menjadi seorang istri.

Cinta yang kini membuatnya trauma dan sakit.

...*********^*******...

Seminggu berlalu tanpa kepastian status pernikahan.

Maara memilih menjalani hari-harinya tanpa berharap apapun kecuali perceraian.

Pukul 3 sore Maara baru selesai mengajar.

Dengan motor maticnya, Maara melaju membelah jalanan yang lumayan lengang karena belum jam sibuk orang-orang pulang kantor.

Maara memasuki halaman rumah Revan dengan tenang sambil menenteng sebungkus churros yang baru dibelinya dipinggir jalan sebelum pulang.

Deg...

Hati Maara lagi-lagi tersakiti ketika matanya menangkap sebuah pemandangan yang amat sangat tidak lazim baginya.

Paper bag berisi churros yang Maara dekap didepan dada jatuh dan berserakan.

"Maa... Maaf... Aku nggak tahu kalian dirumah... Maaf..."

Cepat Maara berlari keluar rumah dengan jantung berdegup lebih kencang.

^^^^^

Sebelumnya....

"Ayo masuk..." ajak Revan pada Laura.

Keduanya baru saja kembali dari perjalanan singkat bulan madu mereka.

Revan dan Laura menggunakan taksi online dari bandara dan berencana akan mengambil mobilnya di rumah kediaman Adiyasa nanti malam.

Laura mengitari isi rumah.

Hatinya riang saat melihat rumah yang telah dipersiapkan oleh Revan sebelumnya ketika mereka telah resmi jadi suami istri walaupun telah ditempati oleh perempuan lain yang merupakan istri pertama suaminya.

"Gimana rumahnya?Kamu suka? kalau nggak suka, kita cari rumah lain dan jual rumah ini..." bisik Revan mesra sambil memeluk Laura dari belakang.

Laura tersenyum "Aku suka... Ini bagus... Interiornya juga seperti yang aku mau... Nanti kita tambah sofa kecil di dekat kolam renang ya... Yang sofa santai..." ujar Laura.

"Terserah kamu sayang... Aku nurut aja... Inikan hak milik kamu...." bisik Revan tepat di telinga Laura.

Laura berbalik menghadap Revan. Keduanya saling bersitatap, menyiratkan cinta dikedua mata mereka.

Laura sedikit berjinjit agar bisa mencium bibir suaminya yang kemudian dibalas oleh Revan tak kalah lembutnya.

Irama decapan yang tadinya pelan kini mulai terasa menggebu seolah ada yang mendesak ingin meminta pertanggung jawaban.

Revan menggiring istrinya lalu sedikit mengangkatnya agar duduk di pinggir meja makan.

Masih belum melepas bibir keduanya, jari-jari Revan begitu lihai melepas satu-persatu kancing kemeja yang dikenakan oleh Laura begitupun sebaliknya.

"Mas... Kita kekamar yuk, nanti ada yang datang...." ujar Laura disela-sela ciuman panas keduanya.

"Udah nanggung sayang.... Lagipula nggak akan ada yang datang...." balas Revan yang telah melesakkan miliknya pada lembah basah Laura.

Revan lupa jika dirumah itu masih ada Maara yang juga ikut tinggal hingga disaat keduanya saling berpacu disaat itu pulalah Maara masuk dan membuat keduanya secara terpaksa menghentikan kegiatan panas.

"Maa..Maaf...Aku nggak tahu kalian dirumah..." ujar Maara yang segera berbalik setelah kedua matanya ternodai oleh pemandangan yang tak senonoh menurutnya.

Laura cepat-cepat membenarkan pakaiannya sementara Revan?

Jangan ditanya semurka apa dirinya kala kesenangan nya terusik.

Wajahnya merah padam. Entah karena malu atau emosi.

Sementara Maara, memilih menghilang dari rumah tersebut.

bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!