NovelToon NovelToon
Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Malam Saat Aku Melahirkan, Suamiku Bersama Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Erunisa

Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Usai keluar dari ruangan Arya Aditia, Najwa masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Beberapa rekan kerja menghampiri Najwa.

"Gimana, Wa? Dimarahin?"

Najwa menggeleng pelan. "Bukan."

"Lalu?"

"Pak Arya memintaku menangani perkara baru." jawab Najwa.

"Itu kan bagus."

"Iya...Tapi kasus Aurel diambil alih langsung sama beliau."

Kalimat Najwa langsung membuat beberapa rekannya saling berpandangan.

"Serius?"

"Pak Arya turun langsung?"

Najwa mengangguk. "Aku juga kaget."

Tak ingin membuat Aurel mengetahui kabar itu dari orang lain, Najwa segera mengambil ponselnya. Nama Aurel langsung ditekan. Tak lama kemudian, panggilan tersambung.

"Halo, Wa."

"Rel, kamu lagi sibuk?"

"Nggak. Ada apa?" tanya Aurel.

Najwa menarik napas pelan. "Aku mau menyampaikan sesuatu."

Suara Najwa terdengar lebih serius dari biasanya.

"Mengenai kasus perceraianmu."

Jantung Aurel sedikit berdegup. "Kenapa? Ada masalah?"

"Bukan."

"Hanya saja..."

"Aku tidak lagi menjadi pengacaramu."

Aurel langsung terdiam. "Maksudnya?"

"Kasusmu dialihkan."

"Aku diminta menangani perkara lain yang lebih besar."

Aurel mengernyit. "Kenapa harus diganti?"

"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Aurel.

"Tentu tidak." Najwa langsung menjawab.

"Justru sebaliknya."

"Ini keputusan dari pimpinan."

"Beliau yang memintaku menangani perkara baru."

Aurel mengembuskan napas pelan. Meski sedikit heran, ia berusaha memahami keadaan.

"Kalau memang itu keputusan kantor..."

"...aku nggak bisa memaksamu."

Najwa tersenyum kecil mendengar jawaban sahabatnya. "Rel..."

"Makasih sudah mengerti."

Aurel tersenyum. "Justru aku ikut senang."

"Kalau kamu dipercaya menangani perkara besar, berarti kemampuanmu diakui."

"Aku nggak mau kariermu terhambat cuma karena kasusku."

Ucapan Aurel membuat Najwa merasa haru.

"Aku tetap akan memantau perkembangan kasusmu."

"Aku janji."

"Aku tahu." Aurel menjawab dengan tenang.

"Aku percaya sama kamu." lanjut Aurel.

Najwa lalu melanjutkan. "Dan... pengacara yang akan menangani kasusmu bukan orang sembarangan."

"Siapa?" tanya Aurel penasaran.

"Pak Arya Aditia."

Aurel terdiam beberapa saat. Nama itu terdengar asing baginya.

"Beliau siapa?" tanya Aurel.

"Pimpinan firma tempatku bekerja."

Aurel sedikit terkejut. "Pimpinannya langsung?"

"Iya."

"Itulah yang juga membuatku heran."

"Beliau sangat jarang menangani perkara secara langsung."

"Apalagi perkara perceraian."

Aurel semakin bingung. "Kenapa beliau mau menangani kasusku?"

Najwa tertawa kecil. "Itu juga yang belum aku tahu."

"Tapi yang jelas, beliau sendiri yang meminta."

Aurel mengangguk pelan. "Baiklah."

"Kalau memang begitu, aku ikut saja."

"Terima kasih sudah menjelaskan."

Najwa tersenyum lega. "Kalau begitu, ada satu hal lagi."

"Apa?" tanya Aurel.

"Aku sudah diminta membuat jadwal pertemuan."

"Pak Arya ingin bertemu langsung denganmu."

"Beliau bilang, sebelum menangani perkara, beliau ingin mengenal kliennya lebih dulu."

Aurel sedikit mengernyit. "Mengenal?"

"Iya."

"Beliau ingin mendengar langsung ceritamu, bukan hanya membaca berkas."

Aurel berpikir beberapa saat. Lalu mengangguk.

"Baik."

"Kapan?" tanya Aurel.

"Besok sore, setelah jam kerja."

"Aku juga akan ikut mengantar di awal."

"Setelah itu, kalian bisa berdiskusi." jawab Najwa dengan semangat.

Aurel tersenyum tipis. "Semoga beliau tidak kecewa mendapatkan klien sepertiku."

Najwa langsung menyela. "Justru aku yakin beliau akan membantumu semaksimal mungkin."

Setelah panggilan berakhir, Aurel memandang layar ponselnya beberapa saat. Entah mengapa, ia masih merasa heran. Seorang pimpinan firma hukum yang jarang turun langsung. Tiba-tiba memilih menangani kasus perceraiannya.

Di sisi lain, di ruang kerjanya, Arya Aditia kembali membuka map bertuliskan nama Aurel. Ia membaca setiap lembar berkas dengan teliti. Sesekali tatapannya berhenti pada beberapa catatan yang dibuat Najwa.

Pria itu lalu menutup map tersebut perlahan.

"Semoga ini menjadi keputusan yang tepat." Gumam Arya pelan.

Besok sore. Untuk pertama kalinya, Arya dan Aurel akan bertemu sebagai pengacara dan klien.

♡♡♡

Sejak bertemu Aurel di kafe beberapa hari lalu, Mahesa tidak berhenti berusaha menghubungi Aurel.

Pesan demi pesan terus dikirim.

"Rel, kita masih bisa memperbaiki semuanya."

"Aku mohon, jangan lanjutkan gugatan itu."

"Kasih aku satu kesempatan lagi."

Namun tak satu pun pesan itu mendapat balasan.

Aurel membacanya. Lalu menutup layar ponselnya. Bagi Aurel, tidak ada lagi yang perlu dijelaskan. Keputusannya sudah bulat.

Siang itu, Aurel sedang menyelesaikan pekerjaannya di kantor. Beberapa berkas menumpuk di meja. Ia berusaha mengalihkan pikirannya dengan bekerja seperti biasa.

Tiba-tiba salah seorang rekan kerjanya menghampiri.

"Mbak Aurel."

Aurel mengangkat kepala. "Iya?"

"Ada yang mencari Mbak di lobi."

"Siapa?" tanya Aurel.

"Laki-laki."

"Katanya suami Mbak."

Jantung Aurel langsung berdegup. Tanpa perlu menebak, Aurel sudah tahu siapa orang itu. Ia memejamkan mata sejenak.

"Baik, terima kasih." Aurel berdiri dan berjalan menuju lobi.

Benar saja. Mahesa sudah berdiri di sana. Masih mengenakan kemeja kerja, wajahnya terlihat lelah.

Begitu melihat Aurel, Mahesa langsung menghampiri.

"Rel..."

Aurel menatapnya datar. "Kamu ngapain ke sini?"

"Aku cuma ingin bicara." jawab Mahesa.

"Aku sudah bilang, kita nggak perlu bicara lagi."

"Tapi aku belum selesai." jawab Mahesa.

Aurel mengembuskan napas pelan. Mahesa datang tanpa memberi kabar. Padahal Aurel sengaja memisahkan urusan pribadi dan pekerjaannya.

Beberapa pegawai mulai melirik ke arah mereka. Bahkan ada yang berbisik pelan.

"Suaminya, ya?"

"Nggak biasanya datang ke kantor."

Aurel mulai merasa tidak nyaman. Selama ini ia menutup rapat masalah rumah tangganya.

Di kantor, ia tetap bekerja seperti biasa. Ia tidak ingin rekan-rekannya mengetahui bahwa rumah tangganya sedang berada di ambang perceraian. Namun kedatangan Mahesa membuat semua itu mulai sulit disembunyikan.

"Ayo kita bicara sebentar." Pinta Mahesa.

"Nggak sekarang." jawab Aurel.

"Rel, tolong."

"Ini kantor." tegas Aurel.

Mahesa menatap Aurel dengan penuh harap. "Aku cuma butuh lima menit."

Aurel melihat sekeliling. Semakin banyak mata yang memperhatikan. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian.

Akhirnya Aurel mengajak Mahesa ke area taman kecil di samping gedung kantor. Tempat itu lebih sepi. Namun masih berada di lingkungan kantor.

"Ada apa?" Tanya Aurel singkat.

Mahesa menarik napas panjang. "Cabut gugatan itu."

Aurel langsung menggeleng. "Tidak."

"Rel..."

"Aku sudah putus sama Kayla."

"Aku nggak akan menemuinya lagi."

"Aku ingin pulang."

"Aku ingin memperbaiki rumah tangga kita."

Aurel menatap Mahesa tanpa ekspresi. "Kamu tahu apa yang paling menyakitkan?"

Mahesa terdiam.

"Bukan karena kamu memilih perempuan lain."

"Tapi karena selama tujuh tahun..."

"...setiap kali kamu pulang ke rumah, kamu masih bisa menatap wajahku seolah tidak terjadi apa-apa."

Mahesa menundukkan kepala. "Aku benar-benar menyesal."

"Aku tahu." potong Aurel.

"Tapi penyesalanmu datang ketika semuanya sudah hancur."

Mahesa kembali mencoba meyakinkan.

"Rel."

"Kita pikirkan Raka."

"Dia butuh keluarga yang utuh."

Aurel tersenyum tipis. "Raka memang butuh kasih sayang."

"Tapi dia tidak butuh tumbuh di rumah yang kehilangan kepercayaan."

Mahesa masih belum menyerah. "Aku bisa berubah."

"Aku siap melakukan apa saja."

Aurel menarik napas panjang. Kemudian menatap Mahesa dengan penuh ketegasan.

"Dengarkan aku baik-baik."

"Aku menghargai usahamu meminta maaf."

"Aku juga tidak akan melarangmu menjadi ayah bagi Raka."

"Tapi..."

"Aku tidak lagi ingin menjadi istrimu."

Kalimat Aurel membuat Mahesa memejamkan mata.

"Aku tetap akan menggugat cerai."

"Dan keputusan itu..." Aurel berhenti sejenak.

"...tidak akan berubah."

Mahesa kehilangan kata-kata. Semua alasan yang telah ia siapkan seolah menghilang begitu saja.

Aurel melangkah mundur. "Mulai sekarang."

"Jangan datang lagi ke tempat kerjaku."

"Aku tidak ingin urusan pribadi kita mengganggu pekerjaanku."

Mahesa hanya mampu mengangguk pelan. Ia sadar, kedatangannya hari itu bukan membuat Aurel luluh. Justru membuat perempuan itu semakin menegaskan batas di antara mereka.

Aurel berbalik memasuki gedung kantornya. Beberapa rekan kerja yang melihatnya hanya tersenyum kecil, seolah ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Namun Aurel memilih tetap diam. Ada luka yang tidak perlu menjadi bahan pembicaraan banyak orang. Dan ada keputusan yang tidak akan berubah, meski berkali-kali dimohonkan untuk dibatalkan.

1
Ma Em
Karena Aurel percaya seratus persen pada Galang jadi Aurel tdk menaruh curiga pada dua orang peselingkuh itu sampai bertahun tahun .
jekey
up lg thor
Allea
bagusss
Ma Em
Mahesa selingkuh dgn Kayla selama tujuh tahun dan Aurel tdk curiga sama sekali kalau Kayla sendiri tdk beritahu Aurel sekarang Aurel msh tenang2 saja , benar2 perselingkuhan yg hebat bisa sampai tujuh THN tdk diketahui .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!