Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 1.
Tepuk tangan memenuhi ballroom Hotel Arunika. Lampu sorot mengarah ke panggung tempat Deris Adikara berdiri dengan jas hitam yang pas di tubuhnya. Senyum puas terpancar di wajah pria itu setelah menerima penghargaan sebagai Pengusaha Inspiratif Tahun Ini.
"Keberhasilan ini tentu tidak saya raih sendirian," ucap Deris di depan para tamu undangan.
Zahira Narapati yang duduk di meja paling depan ikut tersenyum. Selama tujuh tahun, ia menemani Deris dari masa sulit. Ia pernah ikut mengantar pesanan menggunakan motor tua, menyusun laporan keuangan hingga dini hari, bahkan menjual perhiasan peninggalan ibunya agar perusahaan suaminya tetap bertahan saat hampir bangkrut. Malam ini, ia berharap Deris akan mengucapkan terima kasih kepadanya... setidaknya sekali saja.
Namun, tatapan Deris justru beralih ke arah seorang perempuan bergaun merah yang duduk di meja VIP.
"Keberhasilan yang saya raih hari ini juga tidak lepas dari dukungan seseorang yang selalu memberi semangat serta perspektif baru dalam setiap langkah saya. Dia adalah Nona Kayla, putri Direktur Utama Gardapati Group."
Perempuan itu tersenyum malu-malu, lalu beberapa tamu mulai berbisik.
Zahira memandang suaminya tanpa berkedip, dadanya terasa sesak. Nama yang disebut bukan dirinya.
Deris turun dari panggung. Bukannya menghampiri istrinya, ia berjalan menuju Kayla dan berbincang akrab. Beberapa kamera wartawan langsung mengabadikan momen tersebut.
"Kasihan Nyonya Zahira."
"Aku kira yang akan disebut tadi istrinya."
"Siapa Nona Kayla untuk Pak Deris?"
Bisik-bisik mulai terdengar dari berbagai arah.
Zahira menundukkan kepala, jemarinya menggenggam ujung gaun sampai buku-buku jarinya memutih. Waktu terus berlalu, tetapi Zahira bahkan tak berani mengangkat pandangannya ke arah sang suami.
Tak lama berselang, Wulan, ibu mertuanya, melangkah menghampirinya.
"Ikut Ibu sebentar." Nada suara wanita paruh baya itu terdengar datar.
Zahira mengangguk dan mengikuti langkah mertuanya menuju ruang VIP di belakang ballroom. Begitu pintu tertutup, Deris sudah berdiri di sana. Di atas meja tersimpan sebuah map cokelat.
"Aku ingin kita bercerai." Tatapan pria itu dingin.
Zahira sontak membeku, Ia menatap Deris dengan wajah tak percaya dan berharap suaminya sedang bercanda.
"A-apa maksudmu, Mas?"
"Aku sudah menyiapkan semuanya." Deris mendorong map itu ke hadapan Zahira. "Surat gugatan cerai."
Zahira membuka map tersebut dengan tangan gemetar, namanya tertera jelas. Semua dokumen telah ditandatangani oleh Deris, matanya tiba-tiba mulai memanas.
"Kenapa?" tanya Zahira dengan suara yang tercekat. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang menghimpit hingga sulit bernapas. Ia menatap pria di hadapannya, berharap masih ada alasan yang bisa ia pahami, atau setidaknya sedikit penyesalan di wajah suaminya.
Namun Deris hanya menatap Zahira tanpa ekspresi, tak ada penyesalan sedikitpun di wajah tampannya. "Kita sudah tidak cocok."
Kata-kata pria itu meluncur begitu saja, singkat dan dingin. Tak ada penjelasan, tak ada upaya untuk menghibur atau meminta maaf, seakan tujuh tahun kebersamaan mereka tidak pernah memiliki arti apa pun baginya.
Wulan mengembuskan napas pelan. "Zahira, terimalah dengan baik. Deris sekarang memiliki kehidupan yang berbeda. Dia membutuhkan pendamping yang bisa membantunya memperluas relasi bisnis. Sementara kamu, hanya menjalani hidup sebagai ibu rumah tangga."
Ucapan ibu mertuanya menghantam harga diri Zahira. "Bu... tujuh tahun aku mendampingi Mas Deris membangun perusahaan ini."
Wulan menghela napas pelan. "Masa lalu biarlah tetap menjadi masa lalu. Tujuh tahun kalian bersama, tetapi belum juga memiliki anak. Ibu tidak pernah menudingmu mandul, jadi jangan salah paham. Namun, jika memang sudah tidak bisa dipertahankan, lepaskan pernikahan ini secara baik-baik."
"Kamu istri dan menantu yang baik, kami mengakui itu. Hanya saja... dunia Deris sudah berubah." Ayah mertuanya, Bima Adikara, yang sejak tadi diam akhirnya berbicara.
Zahira tersenyum pahit. "Ayah... Ibu... saat perusahaan hampir bangkrut, siapa yang menjual rumah warisan orang tuanya?"
Mereka terdiam, tak ada yang menjawab.
"Siapa yang mengurus seluruh administrasi perusahaan tanpa menerima gaji? Siapa yang menemani Mas Deris... saat semua investor menolak bekerja sama?"
Wulan mengalihkan pandangan, tapi Deris mulai kehilangan kesabaran.
"Sudahlah Zahira! Aku akan memberikan rumah, mobil, dan sejumlah uang padamu untuk kompensasi. Percuma dipaksakan, aku udah gak mencintaimu lagi."
"Aku nggak meminta semua itu, Mas." Suara Zahira terdengar tenang, namun jelas bergetar. "Aku hanya ingin tahu, selama tujuh tahun... apakah semudah ini aku disingkirkan?"
Deris menarik napas panjang, gurat ketidaksabaran terlihat jelas di wajahnya. "Aku sudah katakan tadi, aku gak mencintaimu lagi dan sudah mencintai wanita lain."
Perkataan Deris menghancurkan sisa harapan Zahira, air matanya menggenang tetapi tak jatuh. Ia memandang dalam-dalam pria yang pernah menjadi pusat dunianya, suami yang dulu bersumpah akan menggenggam tangannya sampai tua. Sekarang... pria itu meminta dirinya pergi, dengan cara yang sangat mudah tapi menyakitkan.
"Tandatangani, cepat." Deris mengambil sebuah pena dan menaruhnya di atas kertas gugatan cerai.
Zahira memejamkan mata beberapa saat, lalu membukanya kembali. Kali ini, tatapannya berubah. Kesedihan masih ada, tetapi perlahan digantikan keteguhan. Ia mengambil pena itu, tangannya bergerak tanpa ragu. Coretan tanda tangannya selesai dalam hitungan detik.
Deris sempat terdiam, Ia mengira Zahira akan menangis, memohon, atau menolak. Namun, semuanya tidak terjadi.
Zahira menutup map itu, lalu berdiri. "Mulai malam ini, aku bukan bagian dari keluarga Adikara lagi."
Ia melepas cincin pernikahan dari jari manisnya, cincin itu diletakkan perlahan di atas surat cerai yang baru saja ia tanda tangani.
"Terima kasih untuk tujuh tahun yang pernah kita jalani, Mas. Dan terima kasih... atas semua luka yang kamu dan keluargamu berikan. Aku akan membawanya sebagai pengingat, untuk tidak lagi memberikan seluruh hidupku kepada orang yang tidak mampu menghargainya."
Zahira melangkah menuju pintu dengan wajah tegar, tapi sebelum keluar wanita itu berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang. "Semoga keputusan kalian hari ini... tidak menjadi penyesalan seumur hidup suatu hari nanti."
Pintu tertutup keras saat Zahira keluar dari ruangan.
Wulan mengalihkan pandangannya ke cincin nikah milik mantan menantunya yang tergeletak di atas meja. Untuk sesaat, ada rasa sesak yang menyelinap di dadanya tanpa alasan yang mampu ia jelaskan.
Sementara di luar ballroom, Zahira berjalan sendirian melewati lobi hotel. Langkahnya tetap tegak, meski air mata akhirnya jatuh membasahi pipi.
Malam itu, Zahira kehilangan suami sekaligus keluarga yang selama ini menjadi tempatnya pulang. Yang tersisa hanyalah luka, kecewa, dan langkah kaki yang terasa begitu berat. Namun, hidup tak pernah benar-benar berhenti pada sebuah perpisahan. Di balik kehancuran yang ia rasakan, selalu ada kesempatan untuk memulai kembali, meski saat itu ia belum mampu melihatnya.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭