menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Perjalanan Bersama.
Gadis berjubah sutra biru itu tertegun sejenak mendengar jawaban Erlang. Semburat merah tipis mendadak muncul di sepasang pipi pualamnya, merusak samaran tegas yang sejak pagi tadi ia bangun dengan susah payah. Namun, dengan cepat ia menguasai diri, kembali melipat kedua tangannya di depan dada sembari mendengus kecil demi menjaga harga dirinya yang tinggi.
"Hebat juga penciumanmu untuk ukuran pengembara yang bajunya bau matahari," ujar gadis itu, suaranya kini sepenuhnya kembali menjadi suara aslinya, jernih, merdu, dan sarat akan nada kebangsawan yang kaku. "Namaku Sekar. Sekar Arum. Dan ya, aku memang sengaja memakai pakaian begini agar tidak repot meladeni tatapan menjijikkan dari bajingan-bajingan jalanan seperti mereka tadi."
Erlang mengangguk-angguk paham, lalu duduk kembali di kursinya dan meraih mangkuk nasi pecelnya yang untungnya tidak ikut tumpah akibat pertarungan. "Nama yang bagus, Nimas Sekar. Cocok dengan aroma melatinya. Saya Erlang. Maaf ya kalau tadi lancang membongkar rahasiamu. Sini, duduk dulu, Nimas. Nabung amarah terus bertenaga begitu bisa bikin perut cepat lapar, lho."
Sekar memandangi Erlang dengan dahi berkerut halus. Keberanian dan kesaktian luar biasa yang diperlihatkan pemuda itu saat menjepit bilah pedang tajam hanya dengan dua jari tadi sama sekali tidak tercermin dari tingkah lakunya sekarang. Erlang justru kembali terlihat seperti anak desa yang udik, sibuk mengunyah sayur kangkung dan bumbu kacang dengan lahap dan santai, seolah-olah pertarungan hidup dan mati melawan kelompok Sempalan Macan Wetan tadi hanyalah selingan lewat.
Sekar melangkah anggun, menarik kursi kayu di hadapan Erlang lalu duduk bersila dengan jubah birunya yang tertata rapi. "Hei, Erlang. Aku mau tanya sesuatu."
"Nggih, tanya apa, Nimas? Jangan susah-susah ya, otak saya agak lemot kalau habis makan," sahut Erlang di sela-sela kunyahannya.
"Kau... kau ini sebenarnya murid dari padepokan sepuh mana?" Sekar memajukan tubuhnya, menatap lekat-lekat ke dalam sepasang mata jernih Erlang dengan tatapan penuh selidik. "Dua jarimu tadi... itu bukan ilmu sembarangan. Bisa menahan tebasan penuh tenaga dari preman bersenjata tanpa terluka sedikit pun, itu membutuhkan fondasi tenaga dalam tingkat tinggi yang matang. Belum lagi caramu bergerak membayangiku tadi, sangat presisi. Guru silatmu pasti salah satu dari tujuh legenda hidup tanah Jawa, kan?"
Erlang menghentikan sendoknya di udara. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu tertawa renyah seolah baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat lucu. "Waduh, Nimas Sekar ini beneran pandai berguyon. Legenda hidup dari mana toh? Guru silat saya itu cuma mendiang paman guru saya, namanya Paman Suro. Beliau itu cuma orang tua biasa yang sehari-harinya sibuk menanam singkong dan memelihara kambing di tengah hutan lereng Lawu. Silat yang diajarkannya juga cuma gerak dasar Tapak Angin Sepoi, gerakan standar yang biasa diajarkan guru silat kampung ke semua anak-anak buat mengusir pegal-pegal."
Sekar melotot kecil, rasa tidak percaya terpancar jelas dari wajah ayunya. "Jangan berbohong padaku! Mana ada silat dasar pengusir pegal-pegal yang bisa membuat tubuh preman kekar terbang menabrak pintu sampai hancur hanya dengan sekali tepuk telapak tangan kosong? Kau sengaja ya ingin menyembunyikan kehebatan ilmumu di depanku?"
"Lho, Gusti... saya beneran tidak bohong, Nimas," bela Erlang dengan wajah polos tanpa dosa, tangannya terangkat membentuk tanda dua jari. "Tadi itu... mungkin karena paman bermata juling itu tubuhnya sedang kurang seimbang saja. Dia kan menyerang pakai tangan kiri sambil berteriak-teriak, jadi fokusnya pecah. Saya cuma mendorongnya sedikit dengan dorongan udara dari sisa gerakan menangkis saya. Sumpah, tenaga saya ini biasa saja. Kalau bapak-bapak di pasar Kaliwungu kemarin bilang, mungkin karena tulang saya saja yang agak padat karena sejak kecil sering disuruh memikul kayu jati gelondongan oleh Paman Suro."
Sekar menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap Erlang dengan ekspresi wajah yang campur aduk antara gemas, heran, dan takjub yang amat sangat. Setelah mengamati raut wajah Erlang yang sangat jujur dan tidak menunjukkan tanda-tanda kepalsuan sedikit pun, Sekar akhirnya menyadari sebuah kenyataan yang luar biasa aneh.
Pemuda tampan di hadapannya ini benar-benar tidak tahu seberapa hebat ilmu silatnya sendiri. Erlang sama sekali tidak sadar bahwa kombinasi antara gerakan dasar yang dilatihnya belasan tahun dengan aliran inti tenaga dalam dari kitab tanpa nama yang ia pelajari di gua semalam telah mengubah dirinya menjadi sosok pemuda monster yang sangat mengerikan di dunia persilatan. Kepolosan dan keluguannya yang menganggap kemampuan tingkat dewa itu sebagai hal "biasa hasil memikul kayu" membuat Sekar merasa sangat terkesan sekaligus geli.
"Kau ini... benar-benar ajaib ya, Erlang," gumam Sekar sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, seulas senyuman manis yang tulus akhirnya terukir di bibir tipisnya. "Orang-orang di luar sana bertaruh nyawa, bertarung sampai berdarah-darah hanya untuk mendapatkan sedikit pengakuan atau menaikkan tingkat kesaktian mereka. Lah kamu? Punya ilmu setinggi langit tapi mengira itu cuma gara-gara keseringan memandikan kambing dan memikul kayu."
Erlang yang baru saja meneguk wedang sereh hangatnya sampai tandas hanya tersenyum canggung. "Ya memang kenyataannya begitu, Nimas. Bagi saya yang penting perut bisa kenyang dan bisa melanjutkan perjalanan dengan selamat. Oh ya, omong-omong, setelah dari kedai ini, Nimas Sekar mau melanjutkan perjalanan ke mana?"
Sekar membetulkan letak kain pengikat kepalanya, menghela napas panjang. "Aku mau menuju ke wilayah selatan, melewati pusat kota Kediri lalu terus ke bawah. Ada urusan keluarga yang harus kuselesaikan di sana. Tapi melihat kelompok Macan Wetan tadi sudah mulai berani beroperasi di jalur perbatasan ini, sepertinya jalan di depan sana akan makin merepotkan bagi orang yang berjalan sendirian."
Erlang langsung menepuk kedua tangannya dengan gembira, matanya berbinar-binar. "Wah, kebetulan sekali toh, Nimas! Tujuan pengembaraan saya juga sama-sama menuju ke arah selatan! Bagaimana kalau... kalau Nimas Sekar tidak keberatan, kita jalan bersama saja? Jalur selatan kata kakek pembawa kayu bakar yang saya temui tadi pagi itu searah dan jalannya panjang. Kalau jalan berdua begini kan seru, ada teman mengobrol sepanjang jalan supaya tidak sepi. Lagipula, kalau ada preman-preman nakal lagi, kita bisa saling bahu-membahu seperti tadi."
Sekar terdiam sejenak, menatap uluran tangan Erlang yang berniat mengajaknya berteman. Di dalam hatinya, tawaran itu terasa sangat menguntungkan. Berjalan bersama seorang pemuda polos yang memiliki kesaktian luar biasa namun tidak sadar diri seperti Erlang pasti akan membuat perjalanannya jauh lebih aman, dan tentu saja... jauh lebih menghibur daripada berjalan sendirian dengan jubah penyamaran yang kaku ini.
"Jalan bersama ya..." Sekar pura-pura menimbang-nimbang dengan gaya anggunnya yang sok jual mahal, meski sudut matanya tidak bisa menyembunyikan binar setuju. "Baiklah, Erlang. Aku setuju kita melakukan perjalanan bersama ke selatan. Tapi ada satu syarat!"
"Syarat apa, Nimas? Jangan minta saya bayar jubah sutramu ya, uang saya tinggal dua koin tembaga ini," canda Erlang sambil memamerkan sisa koinnya di atas meja.
Sekar tertawa renyah, suara ketawanya terdengar begitu merdu memenuhi ruangan kedai yang sepi. "Bukan masalah uang, Bodoh. Syaratnya adalah, selama di perjalanan nanti, kalau ada musuh atau orang jahat yang menyerang, kau yang harus maju duluan di depan untuk menjadi tamengku. Bagaimana? Setuju?"
Erlang langsung berdiri, memikul kembali bambu tua pengangkut buntalan kain lusuhnya ke atas pundak kanan dengan gerakan yang sangat mantap dan penuh percaya diri. "Siap, Nimas Sekar! Menjadi tameng untuk seorang gadis sejelita Nimas adalah sebuah tugas kehormatan bagi pengembara mlarat seperti saya. Mari kita berangkat sebelum mataharinya keburu tenggelam sepenuhnya!"
Sekar ikut berdiri, merapikan kembali jubah sutra biru mudanya dengan bertingkah sangat anggun, lalu melangkah berjalan beriringan di samping Erlang keluar dari kedai Nyai Pinah. Di bawah siraman cahaya emas matahari sore yang mulai meredup di ufuk barat, kedua pemuda-pemudi yang memiliki latar belakang dan sifat yang bertolak belakang itu sepakat untuk melangkahkan kaki bersama, memulai lembaran baru petualangan panjang mereka menuju tanah selatan yang penuh misteri.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/