Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 12 Mahasiswa Paling Muak|
...|Legacy of Soryu|...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Mesin BMW seri 7 itu akhirnya di matikan di sudut area parkir yang terpencil. Davian telah memilih posisi ini dengan sengaja, sebuah posisi yang cukup jauh untuk menghindari mata-mata orang penasaran, namun cukup dekat agar sang majikan tidak perlu membuang-buang energi lebih untuk melangkah. Sebuah dedikasi tanpa cela dari seorang asisten yang hidupnya berputar hanya pada satu poros: Bara Soryu.
Bara melangkah keluar dari kabin mobil. Tas selempang kulitnya tersampir di bahu kiri, menciptakan kontras yang aneh dengan wajah datarnya yang biasanya hanya cocok bersanding dengan setelan Armani seharga puluhan ribu dolar.
Davian segera menyusul, berdiri di samping Bara dengan sikap sempurna. Matanya melakukan pemindaian visual yang cepat dan obsesif—memastikan kerah kaus polo tidak melipat, tas selempang berada pada sudut yang tepat, hingga setiap helai rambut Bara patuh pada tempatnya. Tangannya baru saja terangkat secara otomatis untuk merapikan sedikit kerah tersebut, sebelum sepasang mata tajam Bara mengunci gerakannya di udara.
"Jangan."
Tangan Davian membeku, lalu ditarik kembali dengan canggung. "Maaf... refleks."
"Berhentilah melakukan 'refleks' itu padaku, Davian sialan. Aku bukan manekin tokomu."
"Baik, Wakadanna."
"Sejak kapan kau punya kebiasaan serinci itu?"
Davian terdiam sejenak. Ia menyesuaikan letak kacamatanya yang sebenarnya tidak miring, sebenarnya di lakukan hanya untuk menghindari tatapan Bara. Pipinya mendadak menunjukkan rona tipis yang jarang terlihat.
"Sejak... barusan, Wakadanna. Maksud saya... Anda terlihat berbeda dengan kaus itu. Sedikit lebih... manusiawi.... Jadi, saya merasa perlu memastikan Anda tetap sempurna."
Bara menaikkan sebelah alisnya, menatap asistennya dengan ekspresi yang sulit diartikan— campuran antara bingung dan geli. "Kau terdengar seperti sedang merayu calon istrimu. Menjijikkan."
Davian berdehem keras, berusaha memulihkan wibawanya yang runtuh dalam sekejap.
"Lupakan saja. Itu hanya bentuk loyalitas profesional yang berlebihan."
Ia kemudian merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil yaitu earpiece.
"Gunakan ini. Untuk komunikasi jika ada situasi yang—"
"Tidak."
"Wakadanna, ini demi keamanan— "
"Aku tidak akan masuk ke kelas pemasaran digital dengan alat komunikator di telinga seolah-olah aku sedang mengamankan presiden," potong Bara datar.
"Aku sudah mengenakan kaus polo ini demi eksperimen konyolmu. Itu sudah batas toleransiku hari ini."
"Tapi jika terjadi sesuatu..."
"Aku masih punya ponsel di saku. Dan aku punya tangan untuk mematahkan leher orang jika diperlukan," Bara menatap Davian sinis. "Kau tunggu saja di mobil."
"Di mobil?" Davian melirik BMW yang terparkir dibelakangnya. "Wakadanna, kelas ini berlangsung dua jam. Saya bisa memantau dari koridor—"
"Kerjakan laporan divisi otomotif yang tertunda dua hari itu."
"Sudah selesai semalam, Wakadanna."
"Periksa lagi."
"Sudah saya periksa tiga kali."
"Periksa untuk keempat kalinya. Cari kesalahan yang mungkin sengaja kau selipkan karena kau terlalu mengantuk semalam."
"Wakadanna—"
"Davian!"
Bentakan rendah itu membuat Davian mematung. Kata-kata yang sudah berada di ujung lidahnya tertelan kembali. Ia membungkuk hormat, menyadari bahwa perintah ini tidak bisa dinegosiasikan lagi.
"Baik, Wakadanna. Saya mengerti."
Bara mengangguk singkat, lalu berbalik. Punggungnya yang tegap menghilang di antara kerumunan mahasiswa yang mulai memadati gerbang kampus.
Davian berdiri diam untuk beberapa saat, masih meremas earpiece kecil di tangannya. Ia mengembuskan napas panjang, mencoba membuang sisa kegugupan yang tidak masuk akal tadi.
"Hati-hati, Wakadanna," bisiknya sangat pelan, lebih kepada angin daripada untuk didengar.
...-Gedung Perkuliahan-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Kampus swasta itu membentang cukup luas dengan tata ruang yang rapi. Gedung-gedungnya memang tidak menjulang tinggi, namun dinding-dindingnya bersih dan terawat, kontras dengan papan pengumuman yang riuh oleh tumpukan poster; mulai dari lomba debat, rekrutmen UKM, hingga seminar kewirausahaan yang tampak sangat membosankan di mata Bara.
Bara melangkah membelah kerumunan. Tatapannya lurus, tidak berhenti pada satu titik pun, seolah semua hiruk-pikuk di sekitarnya hanyalah gangguan visual yang tidak relevan baginya.
Ia akhirnya sampai di koridor lantai tiga sebelum langkahnya melambat. Ia baru menyadari satu hal: ia tidak tahu di mana ruang kelasnya berada.
Bara berhenti tepat di tengah-tengah arus mahasiswa yang berlalu-lalang. Beberapa orang meliriknya dengan penuh selidik, mencoba menebak siapa pria asing dengan aura dominan ini.
Seorang mahasiswi dengan rambut terurai dan jaket almamater yang terlalu besar nyaris menabrak dadanya. Gadis itu mendongak, dan begitu matanya menangkap garis rahang tegas serta tatapan Bara, ia terkesiap.
"Aduh! M-maaf, Kak!" ucapnya terbata. Tanpa menunggu jawaban, ia segera berlari menjauh dengan pipi yang memerah.
"Dasar aneh," gumam Bara, menatap punggung gadis itu yang menghilang di belokan koridor dengan dahi berkerut.
Ia mencoba mengingat instruksi Davian. Gedung A, lantai 3, ruang 307. Kemarin asistennya itu sudah memberikan peta yang dicetak rapi, namun Bara membuangnya ke tempat sampah karena tidak sudi terlihat seperti turis yang kebingungan di tanah miliknya sendiri—atau setidaknya, di tempat yang seharusnya ia sudah kuasai.
Namun kenyataannya justru lain, papan petunjuk di dinding itu sama sekali tidak membantunya. Huruf-hurufnya terlalu kecil dan hanya memuat informasi tentang Gedung B, Aula, dan Perpustakaan. Gedung A seolah-olah raib dari denah.
Bara melihat seorang mahasiswa laki-laki berjalan mendekat dengan kepala tertunduk, tampak asyik sendiri dengan ponselnya. Langkahnya santai, ciri khas seseorang yang sudah hafal setiap jengkal lantai koridor ini. Tanpa ragu, Bara bergerak maju dan menghadang langkah pemuda itu.
Mahasiswa itu berhenti mendadak, hampir menabrak dada Bara yang berdiri tegak seperti tembok karang. Ia mendongak, dan seketika ekspresinya membeku. Ia mengerjap beberapa kali, terpaku pada perawakan Bara yang terlihat terlalu "wow" untuk lingkungan kampus.
"I-iya, Mas? Ada yang bisa dibantu?" tanya pemuda itu, suaranya sedikit meninggi karena gugup.
"Gedung A di mana?" tanya Bara, singkat dan tanpa basa-basi.
Mahasiswa itu justru terdiam sejenak, menatap Bara dari atas ke bawah dengan tatapan kagum yang sulit disembunyikan.
"Gedung A? Wah, Masnya mahasiswa baru ya? Atau... jangan-jangan Mas mahasiswa pertukaran dari luar negeri? Dari China atau Eropa gitu? Mukanya nggak lokal sama sekali."
Bara tidak merespons pujian atau pertanyaan tersebut. Ia justru menatap mahasiswa di depannya dengan tatapan aneh, seolah-olah baru saja mendengar bahasa yang tidak ia kenali. Sudut bibirnya berkedut tipis, menunjukkan rasa jengah yang teramat nyata.
"Gedung A," ulang Bara dengan penekanan.
"Oh! Iya, maaf!" Mahasiswa itu salah tingkah, jemarinya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Dari sini Mas lurus saja, lewati tangga, lalu turun ke lantai satu. Keluar lewat pintu samping dan belok kanan. Nanti ada gedung paling besar warna putih, itu Gedung A, Mas."
Bara mengangguk sekali sebagai formalitas. Tanpa mengucapkan kata terima kasih, ia mengangkat tangan kanannya, menggeser pundak pemuda itu agar jalannya terbuka. Ia langsung berjalan pergi, meninggalkan aroma parfum maskulin yang elegan di udara.
Mahasiswa itu terpaku di tempatnya, menatap punggung tegap Bara yang semakin menjauh. Sementara itu temannya yang baru saja muncul dari balik lorong, menepuk bahunya.
"Woi! Bengong aja lo. Siapa tuh?"
"Entahlah, Bro," jawabnya sambil menggeleng pelan, masih merasa sedikit salting.
"Tapi auranya gila... intimidating banget. Kayak CEO yang lagi bosan jadi orang kaya terus nyamar jadi mahasiswa."
"Cakep banget ya?"
"Bukan cuma cakep, tapi... kayak bukan level kita aja, Bro."
...-Ruang 307 - Gedung A-...
...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...
Bara akhirnya menemukan ruangan itu dua belas menit sebelum kelas dimulai. Namun, saat dia masuk belum ada satu pun jiwa di sana.
Bara masuk tanpa keraguan. Ia memilih baris keempat di pojok kanan—sebuah posisi sempurna yang memberikan sudut pandang penuh ke arah pintu masuk, cukup jauh dari papan tulis agar ia tak perlu berpura-pura antusias, namun cukup dekat dengan jendela hanya untuk mengalihkan pandangannya ketika dosen mulai berbicara ngelantur.
Ia membuka laptopnya, jemarinya menari di atas trackpad untuk menembus enkripsi sistem Soryu Group dalam hitungan detik. Laporan keuangan kuartal terakhir langsung memenuhi layar—ratusan baris data dengan satu kolom berwarna merah menyala yang telah merampas waktu tidurnya selama dua malam terakhir.
Divisi ritel turun 3,2%. Bagi orang awam, angka itu mungkin hanya seujung kuku, namun bagi Bara, itu adalah retakan fatal pada fondasi yang ia bangun dengan darah dan keringat.
"Tiga koma dua persen," gumam Bara sambil menatap layar dengan pandangan menghina.
"Manajer divisi ritel itu sepertinya waktu rapat bukanya memikirkan pasar malah sibuk memikirkan menu makan siang."
Ia menyandarkan punggungnya ke kursi yang terasa tidak nyaman itu, lalu mendesah berat. Matanya menyapu ruangan kelas yang kosong. Saraf-sarafnya mulai berteriak karena kebosanan yang mendadak menyerang.
"Bosan," bisiknya pada kesunyian.
"Kalau saja Davian ada di sini, dia pasti akan menceramahiku tentang pentingnya 'menikmati masa muda'. Masa muda apa? Duduk di kursi kayu keras sambil menunggu dosen yang mungkin datang terlambat hanya untuk menjelaskan teori yang sudah usang sepuluh tahun lalu? Hmm... Membosankan."
Ia mulai mengetik revisi strategi logistik, namun omelannya di dalam kepala tidak berhenti.
"Kenapa aku tidak lanjut S2 saja di Harvard? Oh, aku ingat. Karena aku bosan dengan profesor yang merasa lebih pintar dari CEO yang benar-benar menjalankan roda ekonomi," ia mencibir sarkas.
"Dan sekarang? Aku justru berada di sini, di universitas swasta, mengenakan kaus polo murahan dan celana yang warnanya mirip dengan warna tembok rumah sakit."
Bara berhenti mengetik, lalu menatap tangannya sendiri. Kesadaran tiba-tiba menghantamnya seperti tamparan keras.
"Demi Tuhan, Bara... kau sedang melakukan hal paling bodoh sepanjang sejarah keluarga Soryu," gumamnya, kali ini dengan nada yang lebih getir.
Ia memijat pelipisnya. Ingatannya kembali pada tontonan wajib Davian setiap akhir pekan di kantor yaitu drama-drama China yang penuh adegan klise tentang CEO yang menyamar menjadi mahasiswa miskin demi mengejar cinta seorang gadis.
"Aku benar-benar menjadi tokoh utama dalam drama sampah yang ditonton Davian," omelnya lagi.
"Mengejar gadis keluarga Adama dengan cara menyamar? Benar-benar jenius. Setelah ini apa? Aku akan kehujanan di depan rumahnya sambil membawa payung? Atau menyelamatkannya dari penjahat yang mengincarnya?"
Ia mendengus, jemarinya kembali memukul keyboard dengan tekanan yang lebih keras.
"Davian sialan. Dia pasti sedang menertawakanku di mobil sekarang. Menyamar jadi mahasiswa... benar-benar pemikiran yang luar biasa. Kalau sampai ayah di surga tahu aku memakai waktu produktifku untuk duduk di sini demi seorang gadis yang bahkan tidak tahu cara menemukan keluarganya di mall, dia mungkin akan bangkit dari kubur hanya untuk menendangku."
Bara terus mengomel pelan, memaki sistem pendidikan, memaki Davian, dan memaki dirinya sendiri yang entah bagaimana bisa terseret ke dalam skenario drama picisan ini. Suara detak jarum jam di dinding terasa seperti ejekan yang mengingatkannya bahwa ia baru saja membuang waktu lima menit berharganya untuk sesuatu yang sama sekali tidak menghasilkan dividen.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉