Usianya baru 18 tahun, saat Ethan Algheano Sanjaya terpaksa merenggut mahkota paling berharga milik Ruby Mikhayla Attala yang merupakan kekasih Ethan sejak SMP.
Papi Juna marah besar pada Ethan, karena selain merusak masa depan Ruby, Ethan juga terlibat perkelahian dengan Rumi Rajendra Attala hingga membuat saudara kembar Ruby itu menjadi koma.
"Ethan hanya akan menjadi anak tak berguna yang akan selalu merepotkanmu, Alvin!"
"Anakmu tak akan jadi apa-apa tanpa campur tanganmu dan keluarga besarmu!"
Sebuah kalimat yang dilontarkan oleh Papi Juna, membuat Ethan bertekad untuk mewujudkan mimpinya sebagai dokter tanpa bantuan atau campur tangan sang Dad maupun keluarga besarnya.
Apakah Ethan akhirnya bisa membuktikan kalau ia mampu mencapai kesuksesan tanpa campur tangan dari keluarga besarnya?
Lalu apa sebenarnya yang terjadi pada Rumi di hari saat perkelahiannya bersama Ethan?
Benarkah Ethan yang sudah membuat Rumi menjadi koma?
Apakah pada akhirnya, Ethan dan Ruby akan kembali bersatu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
APA YANG TERJADI?
Bugh!
Bugh!
Rumi sudah kembali menghajar Ethan.
"Rumi!"
"Aku terpaksa melakukannya!" Ethan terus berusaha melawan pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh Rumi.
"Dasar kau brengsek!" Rumi mendorong Ethan sekuat tenaga hingga tubuh Ethan jatuh menubruk meja kaca.
Praaang!
Meja kaca itu pecah berkeping-keping setelah tertimpa tubuh besar Ethan.
Ethan meringis karena merasakan perih di sekujur punggungnya.
"Kau tidak akan lolos dariku, Ethan!" Rumi yang belum puas memukuli Ethan terus mengejar Ethan yang merangkak menghindari Rumi.
"Aku bersumpah kalau bukan aku yang memberikan obat itu pada Ruby, Rum!" Teriak Ethan yang sudah terpojok di sisi tempat tidur.
"Tapi tak seharusnya kau menyentuh Ruby!" Rumi sudah kembali meraih tubuh Ethan.
Namun kali ini Ethan melakukan perlawanan dan balik mendorong tubuh Rumi hingga terhuyung dan menabrak nakas. Rumi jatuh terkapar di atas lantai bersamaan dengan lampu meja yang ikut jatuh menimpa kepala Rumi dan membuat kepala saudara kembar Ruby itu berdarah.
"Ruby akan menyakiti dirinya sendiri jika ia tidak dipuaskan, Rumi! Berapa kali aku harus menjelaskannya kepadamu?" Ethan menjelaskan sekali lagi pada Rumi dengan nafas yang terengah-engah karena lelah dan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Aku minta maaf, Rumi!" Ucap Ethan sekali lagi.
"Aku mencintai Ruby dan aku berjanji kalau aku akan-"
"Menikahinya?" Sahut Rumi ketus menyambung kalimat Ethan.
"Aku tak akan mengizinkan kau menikahi Ruby, jika kau masih minta uang pada Dad-mu untuk membelikan Ruby makan!" Rumi menuding tegas pada Ethan, sebelum pemuda itu bangun dan menghampiri Ethan dengan langkah sempoyongan.
"Kepalamu berdarah," Ethan mengendikkan dagunya ke arah dahi Rumi yang berdarah. Rumi hanya abai.
"Kau yakin kalau bukan kau yang memberikan Ruby obat itu?" Tanya Rumi sekali lagi yang langsung membuat Ethan berdecak.
"Apa kau masih belum percaya? Tanya saja pada teman-teman Ruby, kalau kau masih merasa ragu!" Jelas Ethan mulai kesal.
"Lalu siapa menurutmu yang sudah memberikan obat itu pada Ruby?" Tanya Rumi frustasi.
"Mana aku tahu?" Sahut Ethan ikut-ikutan frustasi.
"Ck!" Rumi berdecak marah dan ganti berjalan sempoyongan ke arah pintu saat pemuda itu malah terpeleset air dari vas bunga yang pecah.
Rumi berusaha meraih lengan sofa sebagai tumpuan, namun sial sekali Rumi malah jatuh dengan posisi berlutut tepat di atas pecahan meja kaca.
"Aaaargh!" Pekik Rumi saat pecahan kaca tajam menusuk lututnya.
"Rumi!" Ethan buru-buru bangkit berdiri dan memeriksa kondisi Rumi. Ethan membersihkan pecahan kaca yang tertancap di lutut Rumi.
"Aku akan mencari siapa orang brengsek itu," ucap Rumi yang kembali bangkit berdiri.
"Aku akan ikut mencari," cetus Ethan yang langsung ditolak oleh Rumi.
"Tidak usah!" Ucap Rumi tegas.
"Pulang dan obati saja lukamu itu! Tubuhmu butuh perawatan!" Sambung Rumi lagi seraya menunjuk ke arah punggung Ethan yang masih terdapat beberapa pecahan kaca.
"Aku akan mencari orang brengsek itu sendiri dan nanti aku kabari kalau sudah ada hasil!"
"Aku masih tak percaya, kau baru saja melakukannya dengan Ruby!" Rumi masih tak berhenti menggerutu saat pemuda itu berjalan tertatih menuju ke arah pintu. Lutut Rumi terasa remuk karena pecahan kaca sialan tadi.
"Aku bersumpah kalau bukan aku yang menaruh obat itu, Rumi!" Teriak Ethan sekali lagi tang merasa terus-terusan dituduh oleh Rumi.
"Masih belum terbukti!" Sahut Rumi seraya membanting pintu kamar.
Ethan memeriksa beberapa luka di tubuhnya sendiri setelah kepergian Rumi. Pemuda itu segera meraih kemeja, serta ponselnya yang sudah mati dan layarnya retak karena tadi dibanting Ruby.
Ck!
Ethan menyugar rambutnya sendiri, saat pemuda itu menyadari kepalanya bagian belakang yang ternyata juga berdarah. Mungkin karena terantuk meja kaca tadi.
Tapi Rumi benar. Sebaiknya Ethan pulang ke rumah dan mengobati lukanya sekarang sebelum infeksi.
****
"Ethan!" Jerit Mom Ghea saat membuka pintu dan mendapati Ethan yang sudah babak belur dan terluka di sana-sini.
"Malam, Mom!" Sapa Ethan seraya meringis.
"Apa yang sudah terjadi?" Tanya Mom Ghea yang langsung menyeret Ethan untuk duduk di sofa. Mom Ghea memanggil maid untuk membawakan kotak P3K serta air untuk membersihkan dan mengobati luka-luka Ethan.
"Ethan berkelahi dengan Rumi, Mom!" Lapor Ethan saat Mom Ghea sedang membersihkan pecahan kaca di punggung Ethan. Wanita paruh baya tersebut menghentikan aktivitasnya sejenak.
"Bagaimana bisa?" Tanyanya tak mengerti.
Karena selama delapan tahun sejak mereka bertetangga, Ethan dan Rumi tak pernah sekalipun terlibat perkelahian. Mereka adalah sahabat satu jiwa. Itulah yang selalu dikatakan oleh Ethan.
Lalu kenapa hari ini mereka berkelahi hingga babak belur begini? Pasti ada yang tidak beres!
"Ethan sudah teledor meninggalkan Ruby saat di acara-" Ethan merasa ragu untuk melanjutkan ceritanya.
Haruskah Ethan jujur pada sang Mom?
"Rumi tak mungkin memukulimu hingga babak belur seperti ini hanya karena kau teledor meninggalkan Ruby, Ethan!"
"Katakan pada Mom apa yang sebenarnya sudah terjadi!" Desak Mom Ghea yang sudah muncul jiwa detektifnya.
Ya, Ethan mana bisa mengelak dari pertanyaan menyelidik Mom-nya ini.
"Mom, Ruby-"
Ethan belum menyelesaikan kalimatnya, saat pintu depan tiba-tiba sudah dibanting dengan kasar dan menjeblak terbuka. Dad Alvin yang berdiri di ambang pintu menatap marah pada Ethan yang bahkan belum selesai diobati luka-lukanya oleh Mom Ghea.
"Apa yang sudah kau lakukan pada Rumi, Ethan!" Dad Alvin mencengkeram kedua bahu Ethan dengan kuat seolah sedang meluapkan emosinya.
"Ethan minta maaf, Dad!"
"Kami-"
"Kami hanya salah paham tentang sesuatu." Tergagap-gagap Ethan berusaha menjelaskan pada Dad Alvin.
"Salah paham tentang apa hingga kau harus memukuli Rumi hingga seperti itu?" Dad Alvin mengguncang tubuh Ethan semakin keras. Ada raut kekecewaan di wajah Dad kandung Ethan tersebut.
"Apa yang sudah kau lakukan, Ethan?" Dad Alvin menggeleng-gelengkan kepalanya dan menatap tak percaya pada sang putra.
Pria paruh baya itu tak lagi mengguncang pundak Ethan dan kini ganti terduduk lesu di sofa seolah todak tahu lagi harus melakukan apa pada Ethan, putra yang paling ia sayangi.
"Dad, Ethan sudah berjanji pada Rumi untuk tidak akan lari dari masalah ini."
Ethan sudah bersimpuh di hadapan Dad Alvin dan berusah menjelaskan semuanya.
"Ethan-"
"Ethan akan bertanggung jawab,apapun yang terjadi pada Ruby," ucap Ethan yang berpikir kalau mungkin saja Rumi sudah menceritakan pada Dad Alvin tentang dirinya yang sudah menyentuh Ruby.
Dad Alvin mengangkat kepalanya dan menatap tak mengerti pada Ethan.
"Apa yang kau bicarakan, Ethan?
"Kalian berkelahi karena Ruby?" Tebak Dad Alvin yang sudah kembali menatap Ethan dengan tatapan menyelidik.
"Ethan terpaksa melakukannya, Dad! Tapi Ethan tidak akan lari-"
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Ruby, Ethan?" Dad Alvin kembali mencengkeram kuat bahu sang putra dan melempar tatapan tajam pada Ethan.
"Seseorang memberikan obat perangsang pada minuman Ruby, jadi Ethan terpaksa menyentuh Ruby dan Rumi memergoki kami berdua-"
Plak!
Ethan belum menyelesaikan kalimatnya saat pemuda itu merasakan sebuah tamparan keras yang mendarat di wajahnya yang sudah babak belur.
.
.
.
Adegan lanjutan setelah Rumi pergi ada di "RUMI: Cinta Sang Pria Lumpuh" bab 29
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
kan bisa keliatan siapa yg ngasih obat kl ada cctv