Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUABELAS
Seperti rutinitas pada umumnya dalam sebuah acara pemakaman. Setelah jenazah di makamkan, beberapa anggota kelurga berkumpul untuk membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan jenazah.
"Apa ibu punya hutang?" tanya Linda.
Saat ini Arun, Linda serta anak terakhir dari nenek Salma, mba Vera berada di satu ruangan.
Anak nenek Salma bukan cuma Linda dan Vera saja, Mas Chandra merupakan anak keduanya. Namun karena mas Chandra berada di luar kota, beliau tidak bisa datang ke pemakaman sang ibu. Karena perjalanan yang memakan waktu hampir dua hari dan keadaan istrinya yang sedang mengandung, mas Chandra memutuskan hanya untuk mengirimkan doa saja.
Berat pasti tapi mau bagaimana lagi?
"Harusnya sih enggak" ucap mba Vera dengan nada ketus.
Jangan kaget, mba Vera ini tipikal orang yang judes.
Tok tok tok
"Permisi teh, itu ada yang nyariin" ucap seorang perempuan muda.
"Saha? (Siapa?)" kata mba Vera.
"Itu teh, ehhh ... katanya dari bank" balasnya, lalu berpamitan pergi.
Mba vera langsung berdiri dari duduknya, "Nah kan! Kalo kayak gini saya teh gak mau tau ya. Nih anak ini nih!" tunjuk mba Vera pada Arun.
Arun dengan mata sedikit membengkak akibat menangis masih tertunduk di samping Linda.
"Jaga ucapan kamu!" Linda memperingati.
"Kenapa mba? Benerkan! Ibu pasti berhutang ke bank gara-gara ngurusin si Arun. Anak mba itu!" ucap Vera sinis.
"Kalo gitu biar Arun yang temuin orang bank nya"
Arun bangun dari duduknya dan langsung berjalan untuk menemui tamu tersebut.
"Run, Arun ... " panggil Linda.
Vera dan Linda akhirnya mengikuti Arun. Sampai di hadapan mereka seorang laki-laki berumur tiga puluh tahunan kurang mengenakan setelan jas berwarna biru dongker dengan rapi sedang berjabat tangan dengan Arun.
"Silahkan duduk pak" ucap Arun.
"Terima kasih. Sebelumnya saya ingin mengucapkan turut berduka atas meninggalnya ibu Salma, dan ijinkan saya memperkenalkan diri. Nama saya Ikhsan sanjaya, saya seorang notaris. Lebih tepatnya saya notaris dari nenek Salma" ucap Ikhsan.
"EEHH, Sakedap. Tunggu pak. Jadi bapak teh bukan orang bank, yang itu .. apa itu teh, ckk. Yang nagih hutang itu?" tanya Vera tiba-tiba, lalu duduk di samping Arun.
Ikhsan mengelengkan kepala,"Saya notaris bu" ucap Ikhsan tegas.
"Maaf pak, apa ada yang ingin disampaikan?" tanya Linda.
"Iya bu saya kemari karena mencari Arun" ucap Iksan.
"Saya?"
"Iya, kamu Arun? Kalau begitu saya bisa langsung sampaikan pesan dari almarhum nenek Salma" ujar Iksan.
"Tunggu. Kenapa bapak nyarinya Arun? Kan ibu saya punya anak. Arun ini cuma cucu nya pak" ucap Vera.
"Saya hanya menyampaikan pesan dari beliau saja" jelas Iksan.
"Pesan apa pak?" tanya Arun masih dengan kebingungannya.
"Nenek Salma memiliki uang yang beliau simpan di bank, sebesar satu milyar rupiah ..."
"HAH!! Bapak serius pak? Ibu saya punya uang sebanyak itu?" ucap Vera memotong perkataan Iksan.
Iksan menganggukan kepala, "Mba kamu tau ibu punya uang sebanyak itu?" tanya Vera pada Linda.
"Kamu bisa diem dulu gak ver?!" bentak Linda pada Vera.
"Iya mba biar pak Iksan selesain dulu bicaranya" timpal Arun.
Vera hanya melirikan kedua matanya, "Baiklah saya lanjutkan. Dan uang sebesar satu milyar tersebut akan di berikan kepada Arun seutuhnya tanpa di bagi pada siapapun. Untuk biaya hidup Arun ke depannya. Sekian. Tertanda Salma Rahayu"
"ENGGAK! Apa-apaan! Uang sebanyak itu untuk Arun semua. Gak adil dong. Ibu kan punya anak, punya cucu. Bukan cuma Arun!" Protes Vera.
"Arun juga gak mau" ucap Arun cepat.
"Run" tegur Linda.
"Kenapa mah? Ambil aja uang itu buat mama. Atau mama gak mau? Ya udah kasih aja buat mba Vera, kayaknya mba Vera butuh" ucap Arun lalu bangkit dan pergi meninggalkan mereka semua.
Arun berlari menuju sebuah bangku kayu yang berada tak jauh dari depan rumah sang nenek, "Run, mama boleh duduk?" izin Linda pada Arun.
"Duduk aja" balas Arun.
"Mama tau kamu pasti lagi sedih banget karena kehilangan nenek. Tapi mama minta sama Arun, Arun harus tetap pikirin masa depan Arun. Gimana kedepannya dan ..."
"Arun udah ambil keputusan" potong Arun.
"Mama belum selesai bicara Run" protes Linda.
"Oke ma, Arun minta maaf. Terus Arun harus terima uang itu, uang yang mama kirim untuk Arun dari waktu Arun pertama kali pindah ke rumah nenek. Untuk alasan biaya hidup Arun, Arun gak mau!" ucap Arun tegas.
"Kalo gitu Arun ikut mama. Tinggal di rumah mama" ucap Linda.
"Ralat, rumah om Hendra. Arun gak mau!" jawab Arun keras kepala.
"ARUN!" bentak Linda seolah habis kesabaran menghadapi anak nya ini.
Arun menatap sang ibu, "KENAPA?! MAMA MAU MARAH SAMA ARUN? MAMA MAU BILANG ARUN EGOIS? KERAS KEPALA? SUSAH DI ATUR? IYA MA?!" ucap Arun
"MAMA TAU?, SEKARANG UDAH GAK ADA YANG NAMANYA RUMAH BUAT ARUN MA! Dulu mungkin nenek rumah buat Arun, tapi sekarang nenek udah gak ada ma. RUMAH ARUN UDAH GAK ADA! ARUN KEHILANGAN RUMAH UNTUK KEDUA KALINYA MA. PERTAMA KARENA KEEGOISAN MAMA SAMA PAPA, DAN SEKARANG KARENA TAKDIR"
hiks hiks hiks hiks
"Arun" ucap Linda lembut.
"Jadi sekarang Arun mohon sama mama. Biarin Arun ambil keputusan Arun sendiri, gimana kedepannya biar Arun yang tentuin. Arun mohon" ucap Arun memelas.
"Tapi mama gak bisa liat Arun di luaran sana. Mama gak mau Arun kenapa-kenapa nak" balas Linda.
"Arun janji sama mama. Arun akan baik-baik aja. Arun gak bisa ikut pulang ke tempat yang mama anggap rumah, enggak dengan Arun ma" ucap Arun meyakinkan.
Linda menghapus air mata Arun, "Mama gak sadar kalo kamu udah dewasa"
"Karena mama gak ada di masa-masa Arun" ucap Arun.
"Iya mama minta maaf karena mama gak ada disaat Arun butuhin mama. Sosok ibu yang seharusnya berada di samping anaknya. Menjawab semua rasa penasaran dari seorang anak, masa remaja, masa-masa anak yang butuh perhatian orang tuanya. Mama gagal buat jadi sosok itu buat Arun. Mama minta maaf ya" ucap Linda sambil menahan tangisnya.
"Semua gak bisa di ulang, walaupun bisa mungkin mama yang akan merasakan sakit kan? Arun gak mau kebahagian Arun cuma membawa sakit buat orang lain, termasuk mama" balas Arun.
Linda tidak bisa lagi menahan air matanya, "Hiks hiks hiks"
Arun hanya bisa memeluk Linda.
...
"Papah gak balik ke kantor?" tanya Bio pada Broto yang sedang duduk di kursi depan meja kerja Bio saat ini.
"Kamu ngusir papah?"
"Enggak gitu tapi papah dari tadi malah melamun di sini ngapain coba? Soalnya bio mau ke gudang buat liat stok bahan-bahan. Kalo gitu Bio tinggal ya?" Ucap Bio sambil berjalan menuju pintu.
"Nikahin Arun, Bi" ucap Broto.
Langkah Bio seketika terhenti, "papah kesambet ya? Makanya jangan ngelamun pah" tegur Bio yang sekarang sudah di hadapan Broto.
"Papah serius" ucap Broto.
Bio menggaruk alisnya, "Bio gak bisa".
"Kenapa? Kamu jugakan gak punya pacar" ucap Broto.
"Kalau pun Bio gak punya pacar bukan berarti Bio gak punya seseorang yang Bio suka. Yang nanti Bio akan jadiin istri Bio pah!" Jelas Bio.
"Iya, Arun"
"Bukan!, Bio gak suka dia."
"Aneh kamu. Besok pulang ke jakarta dulu" ucap Broto sambil berdiri merapihkan jasnya.
"Ngapain?" tanya Bio dengan nada tak suka.
"Makan, mamah masak kesukaan kamu. Okee. Papah pulang dulu" ucap Broto sambil meninggalkan Bio.
Bio kesal.
...
"Jadi?" tanya Linda.
"Kayaknya Arun bakal kos sambil cari kerja part time lagi" jelas Arun.
"Kamu ikut ... "
"Arun gak mau di rumah ini terus, nanti Arun terus keinget nenek. Nenek pesen sama Arun buat bahagia terus. Pasti nenek disana ngerti apa yang Arun rasain" ucap Arun.
Linda menghela napasnya, "Tapi kalo ada apa-apa kabarin mama langsung ya?".
"Mulai sekarang mama akan jadi orang pertama yang akan tau apa yang terjadi sama Arun" ucap Arun tulus.
"Janji?" ucap Linda.
Arun menganggukan kepala sambil tersenyum.
"Arun sayang mama" ucap Arun lalu memeluk Linda dengan hangat.
"Mama lebih sayang Arun" balas Linda.
Tbc.
Arun mau buat rumah tangga gak sih?