Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Penempaan Ulang dan Lahirnya Bilah Kosmik Kedewaan
Matahari pagi di perairan Samudra Selatan perlahan terbit, menembus sisa-sisa kabut air raksa yang telah memudar di sekitar Pulau Tengkorak Hitam.
Dermaga batu hitam yang semalam menjadi panggung pembantaian kini dipenuhi oleh puing-puing kayu kapal perompak yang mengapung dan jasad-jasad yang mulai mendingin. Bau darah dan asap mesiu ghaib perlahan tersapu oleh angin laut yang kencang.
Di bagian terdalam gua karang raksasa yang sebelumnya menjadi kediaman Tetua Surogati, Satria Pamungkas duduk bersila di atas sebuah batu datar yang dikelilingi oleh formasi ghaib pelindung. Tempat ini terisolasi sepenuhnya dari gangguan luar, menjadikannya lokasi yang ideal untuk mengeksekusi rencana penempaan ulang senjatanya.
Dyah Sekar Ayu berdiri tegak di mulut gua, membelakangi Satria. Selendang sutra hijaunya berputar lambat, memancarkan denyut energi Mantra Cundamani yang membentuk dinding pelindung transparan di sekeliling area tersebut.
Setelah menyaksikan pembantaian semalam, kesetiaan dan rasa hormat Sekar Ayu kepada Satria telah mencapai tingkat spiritual yang tak tergoyahkan. Ia tahu, saat ini Satria sedang bersiap untuk melompat ke tingkat kekuatan senjata yang baru, dan tugasnya adalah memastikan tidak ada satu pun gangguan yang dapat merusak proses tersebut.
Di dalam ruang kesadaran Satria, layar hologram sistem berkedip dengan kilau keemasan yang intens.
[Bip! Mempersiapkan Proses Penempaan Ulang Senjata Ghaib Puncak:]
Senjata Dasar: Pedang Bintang Tujuh Kedewaan (Tingkat Ghaib Awal).
Bahan Utama: Logam Meteorit Inti Bintang Purba (Tingkat Ghaib Menengah).
Katalis Pendukung: Formula Penempaan Ulang Senjata Ghaib Puncak (Hadiah Misi Pulau Tengkorak Hitam).
Biaya Sistem: 40.000 Poin Sistem.
"Sistem, mulai penempaan ulang sekarang. Gunakan seluruh kapasitas Prana Emas Ranah Senopati-ku sebagai api penyelarasan," perintah Satria secara tegas.
[Bip! Memotong 40.000 Poin Sistem. Saldo Poin saat ini: 97.500 Poin.]
[Memulai proses pencairan Logam Meteorit Inti Bintang Purba...]
Wush!
Satria membuka telapak tangan kanannya. Di atas permukaan kulitnya yang dilapisi guratan sisik naga transparan, seonggok logam hitam keperakan—Logam Meteorit Inti Bintang Purba—mewujud dari ruang penyimpanan.
Di saat yang sama, Pedang Bintang Tujuh Kedewaan melayang secara horizontal di depannya, memancarkan resonansi dingin dari tujuh permata rasi bintang yang menyala redup.
BOOOM!
Aliran Prana Emas murni meledak dari dantian Satria, mengalir melalui meridian telapak tangannya menjelma menjadi kobaran api spiritual berwarna emas keunguan yang luar biasa panas.
Api ghaib ini membungkus logam meteorit tersebut, memaksa struktur kosmik yang sekeras baja suci itu untuk mulai melunak secara perlahan.
Proses ini membutuhkan ketahanan fisik yang luar biasa. Jika Satria tidak memiliki Tubuh Fisik Sisik Naga, panas ekstrem dari api Prana-nya sendiri akan langsung membakar daging dan meremukkan tulang tangannya. Keringat emas tipis mulai mengalir di pelipis Satria, namun sepasang matanya tetap mengunci target dengan dingin dan penuh perhitungan.
Dua jam berlalu dalam keheningan yang menegangkan. Logam meteorit purba itu akhirnya mencair sepenuhnya, berubah menjadi gumpalan cairan kental berwarna hitam keperakan yang dipenuhi oleh bintik-bintik cahaya kecil menyerupai hamparan galaksi mini di malam hari.
[Bip! Fase pencairan sukses. Memulai integrasi cairan meteorit ke dalam bilah Pedang Bintang Tujuh Kedewaan...]
Sesuai instruksi dari formula ghaib sistem, Satria mengarahkan tangan kirinya. Cairan bintang itu perlahan bergerak melayang, membungkus bilah hitam Pedang Bintang Tujuh Kedewaan dari pangkal hingga ke ujung tajamnya.
Ssssszt...
Suara desisan ghaib yang memekakkan telinga bergema di dalam gua. Pertemuan antara hawa dingin rasi bintang dari pedang dasar dan panas kosmik dari cairan meteorit menciptakan distorsi ruang skala kecil di sekeliling tubuh Satria. Udara di dalam gua mendadak menjadi sangat padat, memaksa batu-batu karang di langit-langit gua mulai retak dan runtuh menjadi debu.
Sekar Ayu yang berada di mulut gua merasakan tekanan tersebut menghantam dinding pelindungnya. Ia terpaksa menggigit bibir bawahnya dan mengalirkan lebih banyak Darah Suci Dewi Sri untuk mempertahankan posisinya, matanya melebar takjub melihat pusaran energi kosmik yang sedang berputar di sekeliling Satria.
Di bawah kendali mental Satria yang sekeras baja, cairan logam meteorit itu mulai meresap ke dalam pori-pori mistis pedang, memperkeras strukturnya hingga ke tingkat molekuler ghaib. Guratan-guratan perak yang semula acak di bilah pedang kini mulai mengatur diri, membentuk pola rasi bintang baru yang jauh lebih kompleks dan megah.
Tiba-tiba, di ujung bilah pedang yang dekat dengan gagang, struktur logam itu bergeser secara mandiri, menciptakan sebuah rongga kosong baru yang melingkar sempurna.
[Bip! Slot Permata Rasi Bintang Kedelapan telah berhasil dibuka!]
[Pemberitahuan: Untuk mengaktifkan Tingkat Ghaib Puncak secara sempurna, diperlukan inti energi yang setara. Mengonversi sisa energi sirkulasi Prana Tetua Surogati yang terserap...]
Satria mengingat sisa jiwa dan Prana hitam milik Surogati yang semalam dihancurkan oleh pedangnya. Di bawah panduan sistem, sisa-sisa energi Prana Arus Dalam Samudra yang telah dimurnikan dari sifat korosifnya ditarik keluar dari dalam bilah, memadat menjadi sebuah kristal safir hitam bulat berdiameter dua sentimeter yang memancarkan kilau kosmik kelam.
KLIK!
Kristal safir hitam itu masuk dengan pas ke dalam slot kedelapan. Begitu permata kedelapan terpasang, seluruh bilah pedang meledak dalam kilatan cahaya perak murni yang menembus atap gua karang, melesat tegak lurus membelah langit Pulau Tengkorak Hitam hingga ke luar atmosfer.
BOOOOOOM!
Gelombang kejut spiritual menyapu radius lima kilometer dari pulau tersebut. Air laut di sekeliling Pulau Tengkorak Hitam mendadak surut sejauh seratus meter sebelum akhirnya kembali mengempas dalam gelombang pasang yang dahsyat, seolah-olah alam semesta sedang memberikan penghormatan atas lahirnya sebuah senjata legendaris baru.
Satria mengulurkan tangan kanannya, mencengkeram gagang pedang yang kini terasa jauh lebih berat namun menyatu sempurna dengan sukmanya. Cahaya perak berangsur surut, memperlihatkan wujud baru dari senjatanya.
Bilah pedang itu kini berwarna hitam keunguan kelam, dengan delapan permata rasi bintang yang berderet rapi memancarkan denyut energi yang sangat dingin dan mematikan. Permukaan bilahnya dipenuhi oleh guratan halus transparan yang bergerak lambat seperti aliran sungai bintang di langit malam.
[Bip! Penempaan Ulang Selesai dengan Hasil Sempurna!]
Nama Senjata Baru: Pedang Bintang Delapan Kosmik Kedewaan.
Tingkat Senjata: Tingkat Ghaib Puncak.
Efek Pasif - Kosmik Presesi: Setiap tebasan memiliki peluang 30% untuk memicu tekanan ruang yang memperlambat pergerakan musuh sebesar 50%.
Efek Aktif - Belahan Bintang Penghancur Raga: Melepaskan energi delapan rasi bintang secara bersamaan untuk menghancurkan pertahanan ranah yang lebih tinggi (Dapat digunakan sekali dalam tiga hari).
Satria mengangkat pedang baru tersebut di depan wajahnya, merasakan ketajaman ghaib yang bahkan mampu memotong aliran udara tipis di sekitarnya tanpa mengeluarkan suara. Sifat anti-hero-nya yang haus akan efisiensi merasa sangat puas dengan hasil evaluasi sistem ini.
"Pedang Bintang Delapan Kosmik Kedewaan..." gumam Satria, suaranya rendah namun bergema penuh ancaman ghaib. "Dengan ini, jangankan para Tetua Faksi Laut Selatan, bahkan jika Pemimpin Besar mereka di Ranah Raja menampakkan diri, aku memiliki modal untuk memotong kepalanya."
Sekar Ayu melangkah masuk ke dalam gua setelah memastikan gelombang kejut telah mereda. Ia berlutut di hadapan Satria dengan kepala menunduk dalam. "Selamat kepada Satria atas lahirnya pusaka agung baru. Keberadaan pedang ini pasti akan membuat seluruh faksi ghaib di Dwipantara gemetar ketakutan."
Satria menyarungkan pedang kosmik tersebut ke punggungnya, lalu melangkah melewati Sekar Ayu menuju ke arah pintu keluar gua yang menghadap langsung ke bentangan samudra luas. "Urusan kita di Pulau Tengkorak Hitam telah selesai sepenuhnya. Sisa poin sistemku masih cukup banyak, namun aku butuh mangsa yang lebih besar untuk membuka Toko Kategori 4."
Ia menatap garis cakrawala selatan yang gelap, di mana markas utama Faksi Bajak Laut Laut Selatan berada menurut peta rahasia. "Bersiaplah, Sekar Ayu. Kita tidak akan kembali ke daratan utama sebelum seluruh armada perompak ghaib itu tenggelam ke dasar samudra paling dalam."