"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Astra menarik napas dalam-dalam, mencoba meredam gemetar di suaranya seiring memudarnya bayangan Animus dan Anima.
"Maaf, Yisla... kalau kehadiranku merepotkan. Aku..." Astra menatap mangkuk di tangannya dengan pasrah.
"Aku bakal pergi sekarang. Aku gak mau bikin kalian dalam bahaya."
Astra melangkah hendak menuju ke arah pintu depan. Namun, suara berat Vito langsung menghentikan langkahnya.
"Ini udah larut," potong Vito dingin tanpa menoleh. "Badai salju di luar makin parah. Kau... Menginap di sini aja malam ini."
Astra menghentikan langkahnya, merasa tertegun.
"Kakak...?" Yisla mendongak, matanya yang tadi sempat berkaca-kaca kini berbinar penuh kelegaan.
Vito tidak menjawab. Ia hanya menghela napasnya dengan kasar, melepas mantel berburunya yang basah, lalu berjalan melewati Astra begitu saja untuk masuk ke dapur. Pria itu langsung memeriksa panci sup babi yang isinya... ya, sudah tandas dikuras Astra.
Astra meringis ngeri. Ia menoleh pada Yisla dengan perasaan yang campur aduk.
"Maaf, Yisla... aku bener-bener jadi beban buat kalian."
"Gak apa-apa, Julian," Yisla tersenyum manis, setengah berbisik. "Kakakku emang kayak gitu, tapi aslinya dia baik banget kok."
Yisla kemudian mengulurkan tangannya, mengambil alih tumpukan mangkuk kotor yang sedari tadi didekap erat oleh Astra.
"Aku bakal beresin mangkuk kotor ini dulu, ya."
"Eh, iya..."
"Oh ya, lebih baik kamu istirahat sekarang, Julian. Tidurlah di kamarku," lanjut Yisla. "Biar aku tidur di kamar Kak Vito, dan Kak Vito tidur di ruang tamu."
Mendengar itu, Astra langsung melotot. Rasa tahu dirinya mendadak mencekiknya.
"Gak! Gak usah! Jangan!" seru Astra panik sambil melambaikan tangannya.
"Harusnya aku yang tidur di ruang tamu, bukan kakakmu! Aku udah numpang, dikasih baju, bahkan habisin sup kalian. Gak tahu diri banget kalau aku sampai ngerebut kamar tuan rumah!"
Yisla menghela napas, menghargai keputusan Astra.
"Baiklah... Kalau kau kedinginan, tolong pindah saja."
...***...
Akhirnya, di sinilah Astra berakhir. Di ruang tamu yang dingin, hanya beralaskan selembar kulit binatang yang agak keras. Terdengar juga suara dengkuran milik Vito yang tertidur di sofa kayu tak jauh dari sana, suara itu menjadi satu-satunya suara di ruangan itu.
Astra meringkuk, sembari memeluk lututnya sendiri. Dinginnya lantai menembus pakaian wolnya, tapi rasa sesak di dadanya jauh lebih menyakitkan.
Tak terasa air matanya perlahan menetes, membasahi pipinya.
Kenapa... kenapa hidupku gini amat sih? batinnya terisak.
Di dunia nyata dia di-bully sampai babak belur, dan sekarang begitu masuk ke dunia fiksi, dia malah jadi buronan budak yang tidak punya apa-apa. Miris sekali.
Rasa sedih itu lama-lama berubah menjadi amarah yang membakar dadanya. Astra mencengkeram rambutnya dengan frustrasi, lalu berbisik dengan penuh penekanan ke arah kegelapan ruangan.
"Animus! Anima! Keluar kalian berdua, sialan!" desis Astra murka, matanya memerah menatap sudut-sudut ruangan kosong.
"Katanya aku author di sini?! Tapi kenapa malah sengsara begini, hah?! Keluar gak kalian berdua?!"
Tak ada balasan, yang ada hanyalah keheningan.Duo Hemisphere itu benar-benar lenyap, meninggalkan Astra sendirian meratapi nasibnya di atas lantai yang sedingin es.
Lama-kelamaan, rasa lelah mengalahkan amarah di dada pemuda itu. Dengan sisa air mata yang telah mengering di pipinya, ia akhirnya menyerah pada rasa kantuknya.
Di antara ambang sadar dan tak sadar, ia samar-samar merasakan hembusan angin hangat, disusul dengan selembar kain tebal yang menyelimuti tubuhnya.
Kehangatan itu secara instan mengusir hawa dingin ditubuhnya, membawanya terlelap dalam tidurnya.
...***...
Keesokan harinya, cahaya matahari sudah menembus dari celah-celah jendela rumah. Dan seperti kebiasaan buruknya di dunia nyata, Astra lagi-lagi kesiangan.
Namun, bukan alarm atau sinar matahari yang membuat kelopak matanya mendadak terbuka lebar, melainkan aroma semerbak masakan rumahan yang super menggoda perutnya dari arah dapur. Perut Julian langsung berbunyi dengan nyaring. Dasar tidak tahu diri, indra penciumannya mendadak menjadi tajam kalau urusan soal makanan!
Astra buru-buru terduduk. Saat itulah ia sadar ada bantal empuk di bawah kepalanya dan selimut wol tebal yang membungkus tubuhnya.
"Siapa ya yang kasih aku ini semalem? Kok aku gak ingat ya?" gumamnya heran sambil buru-buru melipat selimut dan merapikan bantal tersebut.
Astra menggeleng, memilih mengabaikan misteri soal selimut dan bantal itu. Kini fokus utamanya sekarang adalah mengintip ke area dapur.
Sambil membawa bantal dan selimut di pelukannya, ia berjalan mengendap-endap ke arah dapur untuk mengintip Yisla sekaligus mencari dalih agar tidak kelihatan memalukan karena baru saja bangun.
Begitu sampai di pintu masuk dapur, sayup-sayup terdengar obrolan Yisla dan Vito dari dalam sana.
"Apakah harus dibangunkan, Kak?" tanya Yisla lirih.
"Tidak usah," jawab Vito pendek, disusul suara pisau beradu dengan talenan. "Kakak mau potong daging ini dulu buat dibekukan. Habis itu langsung ke pasar."
"Baik, Kak. Aku buat sarapan dulu baru bantu Kakak."
Mampus, jam berapa ini?! Hari pertama numpang dirumah orang udah bangun paling akhir! batin Astra panik. Ia langsung memunculkan kepalanya dari balik sekat ruangan dengan senyum canggung yang dipaksakan.
"E-eh... pagi, Yisla. Pagi, Kak Vito," sapa Astra, suaranya agak serak khas orang baru bangun tidur. Ia mengangkat bantal dan selimut di tangannya dengan kikuk.
"Anu... ini selimut sama bantalnya harus ditaruh di mana, ya?"
Yisla menoleh dan langsung tersenyum cerah. "Eh, Julian! Udah bangun? Taruh di atas kursi kayu aja dulu, gak apa-apa, nanti biar aku yang bereskan."
Sementara di sisi lain, Vito hanya melirik sekilas tanpa ekspresi, lalu kembali sibuk memotong daging rusa yang tiba-tiba saja menjadi brutal begitu melihat Julian. Atmosfer dingin dari pria itu sukses membuat Astra menelan ludah dengan ngeri.
"K-kalau begitu, aku taruh di depan dulu, ya," cicit Astra, buru-buru memutar badannya sebelum kecanggungan di dapur itu mencekik lehernya.
Melihat Astra ngacir begitu saja, Yisla setengah berteriak dari depan tungku,
"Julian! Nanti kalau mau mandi, aku siapin air hangatnya, ya!"
"Eh? Gak usah! Gak usah repot-repot, Yisla!" tolak Astra panik.
Jangankan untuk mandi air hangat, bisa bernapas bebas di rumah ini saja dia sudah bersyukur.
Setelah meletakkan selimut dan bantal, Astra malah berdiri termenung.
Aku gak bisa cuma numpang makan gratis doang disini. Vito kelihatannya mau cincang aku secara hidup-hidup tadi, apalagi kalau aku cuma jadi beban disini.
Tekadnya kini bulat. Astra kembali ke dapur, mendekati Yisla yang sedang sibuk memotong sayuran.
"Yisla," bisik Astra. "Di mana pisau yang lain? Aku mau bantu kakakmu."
Yisla menoleh, matanya membelalak terkejut. "Kamu mau bantu? Kamu... bisa potong daging besar begini, Julian?"
Astra rasanya mau menangis. Di dunia aslinya, memotong ayam mentah saja dia sudah bergidik ngeri, apalagi memutilasi rusa hutan raksasa! Tapi demi harga dirinya, Astra memaksakan senyum sok pedenya.
"Aman aja. Aku udah terbiasa dengan hal-hal kayak gini kok."
"Wah, syukurlah." Yisla menyerahkan sebilah pisau besar yang super tajam kepada Astra. "Ini, pakai pisauku aja."
Astra menerima pisau itu dengan tangan sedikit gemetar, lalu melangkah kikuk mendekati meja tempat Vito sekarang sedang memotong daging.
Jleb! Sret!
Vito tampak sangat ahli memisahkan daging dari tulang rusa. Astra mematung tepat di belakang punggung tegap pria itu, bingung mau mulai dari mana.
Vito tiba-tiba menghentikan gerakan pisaunya. Menghela napas kasar, pria itu memutar tubuhnya perlahan lalu menatap Astra dengan pandangan menusuk.
"Mau apa?" tanya Vito, suaranya berat dan penuh intimidasi.
Astra tersentak, refleks mengangkat pisau daging di tangannya tinggi-tinggi ke depan dadanya—membuat Yisla di sudut dapur memekik kaget.
Menyadari posisinya seperti mau membegal orang, Astra buru-buru menurunkan pisau itu.
"M-mau membantu! Aku mau ikut potong daging!" seru Astra, mencoba meyakinkan.
Vito melirik pisau di tangan Astra, lalu mendengus. "Gak usah. Kamu duduk aja."
Deg.
Astra makin gak enak hati. Ditolak mentah-mentah begitu malah bikin dia merasa makin jadi beban tidak berguna. Demi membuktikan dirinya bisa diandalkan, Astra nekat mengulurkan tangan dan mengambil seonggok daging di atas meja.
"Gak apa-apa, Kak! Biar aku—"
"Jangan disentuh!" bentak Vito cepat, menepis tangan Astra. "Itu udah dipotong."
Astra langsung kicep, menarik tangannya dengan canggung. Wajahnya kembali memanas karena malu.
"A-ah... terus, yang belum yang mana, Kak?"
Vito menghela napas panjang, menunjuk ke sudut meja lain dengan dagunya.
"Kau potong kelinci salju aja," ujar Vito datar.
Astra menoleh ke arah yang ditunjuk. Di sana, tergeletak beberapa ekor kelinci putih berbulu tebal yang sudah mati. Astra menelan ludah dengan berat, menatap pisau besarnya yang tampak terlalu overkill untuk seekor kelinci.
Oke, Astra... mari kita mulai debut menjagalmu, batinnya pasrah.