NovelToon NovelToon
Menikah Karena Jebakan

Menikah Karena Jebakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Nikahmuda / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:34.6k
Nilai: 5
Nama Author: Moms TZ

Kegiatan kemping Pramuka yang seharusnya menyenangkan berubah menjadi petaka, kala seseorang dengan sengaja mengubah arah tanda panah penunjuk jalan. Daniel dan Zeya tersesat hingga terpaksa bermalam di sebuah pondok tua. Demi bertahan dari dinginnya malam yang bisa menyebabkan hipotermia, mereka pun saling menghangatkan tubuh.

Pagi harinya, warga desa menemukan mereka dalam keadaan berpelukan. Tanpa mau mendengar penjelasan, keduanya langsung dibawa ke Balai Desa dan dipaksa menikah sesuai hukum adat yang berlaku.

Daniel dan Zeya mengira semuanya akan selesai setelah pernikahan itu. Namun, mereka kembali dikejutkan oleh aturan adat yang melarang pasangan pengantin meninggalkan desa sampai waktu yang ditentukan.

Terjebak dalam pernikahan yang tak terduga, Daniel dan Zeya harus menjalani hari-hari bersama di desa, apakah Daniel dan Zeya akan terpuruk atau justru bangkit memulai hidup baru mereka di sana?

Ikuti kisah mereka hanya di sini;
"Menikah Karena Jebakan"
karya Moms TZ, buka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Pak RT terdiam sejenak, menatap mereka dengan pandangan penuh tanya.

"Memangnya... dari mana kalian berdua mendapatkan biaya untuk membeli lahan itu? Kalian kan, sama-sama masih muda bahkan seharusnya masih sekolah, kan. Atau jangan-jangan kalian ini sebenarnya anak orang kaya?" tanya Pak RT selanjutnya.

Daniel dan Zeya saling berpandangan. Lalu berusaha menjelaskan. "Sebenarnya kami berdua hanya orang biasa, Pak. Tapi karena kami harus tinggal di sini atas keputusan warga desa. Jadi, kami tidak bisa diam saja dan menunggu nasib menentukan arah hidup kami,"

"Kami ingin punya penghasilan sendiri agar bisa mandiri, tidak menyusahkan siapa pun. Dan insya Allah, nantinya kami juga bisa memberi kesempatan bekerja bagi warga desa yang membutuhkan," sambung Zeya menambahkan.

"Kami tidak ingin mencari masalah dengan siapapun, Pak. Dan mengenai lahan milik Pak Hadi, kalau beliau bersedia menyewakan atau menjualnya kepada kami, tidak ada satu pun orang yang berhak melarang atau mengancam kami," timpal Daniel.

Pak RT tertegun mendengar penuturan mereka. Matanya menatap pasangan muda itu lekat-lekat, penuh kekaguman bercampur haru. Anak-anak yang dipaksa bersatu dan ditahan di desa ini, ternyata memiliki keberanian dan kemandirian yang jauh lebih besar daripada warga yang sudah puluhan tahun tinggal di sini.

"Baik...Kalau tekad kalian sudah sekuat itu, saya sebagai warga sekaligus petugas desa ikut mendukung. Jangan takut pada ancaman. Kalian berhak berusaha dan menata masa depan kalian sendiri. Jangan mundur selangkah pun," ucap Pak RT, suaranya terdengar berubah lebih mantap.

Daniel dan Zeya tersenyum tulus mendengar dukungan itu. Tekad mereka pun semakin membaja — apa pun rintangannya, mereka tidak akan menyerah. Lahan itu adalah awal dari perjuangan mereka membangun kehidupan yang layak, dengan keringat dan ketulusan hati sendiri.

"Kalau begitu, biar saya yang ikut serta mengantar kalian menemui Pak Hadi. Saya akan jelaskan semuanya, supaya tidak ada pihak lain yang berani ikut campur atau menghalangi urusan ini," imbuhnya meyakinkan.

Daniel dan Zeya seketika menatap Pak RT dengan mata terbelalak tak menyangka.

"Benarkah, Pak? Bapak bersedia ikut mengantar kami?" tanya Daniel tak percaya.

"Insya Allah," jawab Pak RT mantap. "Besok pagi setelah shalat Subuh, saya akan ke tempat kalian. Kita berangkat bersama-sama menemui Pak Hadi."

Wajah Daniel dan Zeya seketika berseri penuh rasa syukur.

"Terima kasih banyak, Pak..." ucap Zeya lirih menahan haru.

Keduanya pun berpamitan pulang. Langkah kaki mereka terasa jauh lebih ringan. Setidaknya sekarang mereka tidak berjuang sendirian.

.

.

.

Sementara itu, di sebuah rumah besar yang berdiri di ujung desa, suasana tampak begitu sunyi. Bangunan bergaya lama itu dikelilingi pagar besi tinggi, seolah sengaja membatasi siapa pun yang ingin mendekat.

Di ruang tamu yang luas, seorang pria bertubuh tambun duduk bersandar di kursi kayu jati dengan wajah masam, menahan amarah yang sejak tadi bergolak.

Di hadapannya tiga orang pria duduk berlutut, wajah mereka dipenuhi lebam. Salah satunya bahkan terus memegangi rusuknya yang masih terasa nyeri.

"Bagaimana mungkin menghadapi satu orang saja kalian bisa gagal, hahhh?" tanyanya dengan suaranya yang menggelegar memenuhi ruangan.

"Maaf, Juragan. Tapi anak muda itu... ternyata bukan orang sembarangan,"jawab salah seorang dari mereka sambil menundukkan kepala.

"Alasan saja mereka bukan orang sembarangan!" Juragan Bahar terkekeh sinis. "Kalian itu bertiga melawan satu orang saja kalian tidak becus! Malah kalian yang pulang babak belur."

"Awalnya kami berpikir bisa mengalahnya soalnya dia hanya terus menghindar tanpa mau melawan. Tapi kemudian datang istrinya..." pria itu menelan ludah kasar. "...dan ternyata ilmu bela dirinya tidak main-main. Kami bahkan tidak punya celah untuk menyerang."

Prang!!!

Juragan Bahar membanting cangkir teh di atas meja hingga pecah berkeping-keping. "Dasar tidak berguna!"

Ketiga anak buahnya langsung menunduk semakin dalam. Tak seorang pun berani mengangkat kepala.

Ruangan kembali hening. Hanya suara napas berat Juragan Bahar terdengar memenuhi ruangan. Beberapa saat kemudian, amarah di wajahnya perlahan mereda. Namun, justru senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya membuat ketiga pria itu semakin ketakutan.

"Kalau cara kasar memang tidak mempan, sebaiknya aku menggunakan cara halus," gumamnya pelan.

Dia bangkit dari kursinya lalu berjalan menuju jendela yang menghadap hamparan sawah miliknya. "Bagaimanapun lahan si Hadi harus menjadi milikku."

Tatapannya mengeras. "Aku sudah menunggu terlalu lama."

Salah seorang anak buahnya memberanikan diri bertanya, "Apa... kami harus menemui mereka lagi, Juragan?"

Juragan Bahar menggeleng pelan. "Tidak perlu."

Dia membalikkan badan, menatap mereka dengan senyum penuh arti. "Mulai sekarang jangan sentuh mereka."

Ketiganya saling berpandangan bingung. "Maksud, Juragan?"

Juragan Bahar menyilangkan kedua tangannya di dada. "Biarkan mereka merasa aman. Aku ingin tahu siapa saja yang berdiri di belakang mereka."

Ucapan itu membuat suasana ruangan mendadak terasa lebih dingin. Seorang pria tua yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan akhirnya angkat bicara.

"Juragan, bagaimana jika didukung oleh para perangkat desa? Apakah tidak terlalu berisiko kalau Jurangan sendiri yang berhadapan langsung dengan mereka?"

Juragan Bahar tersenyum kecil. "Siapa bilang aku yang akan berhadapan langsung?"

Dia mengambil sebatang cerutu, lalu menyalakannya. "Orang pintar tidak perlu mengotori tangannya sendiri."

Senyumnya semakin lebar. Sebuah rencana baru mulai disusun.

.

.

.

Sesampainya di tempat tinggal mereka, Daniel tidak langsung melangkah masuk. Dia justru duduk di teras, terdiam menatap ke depan seakan pikirannya sedang melayang jauh. Zeya yang baru saja hendak membuka pintu pun mengurungkan niatnya, lalu berbalik dan ikut duduk di samping Daniel.

"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanyanya lembut seraya menepuk pelan pundak sang suami.

Daniel menghela napas panjang, lalu menoleh menatap istrinya. "Ze... menurutmu, apa aku perlu memberitahu Papi atau Mami soal rencana kita membeli lahan itu? Besok pagi kita sudah mau berangkat menemui Pak Hadi."

Zeya mengangguk mantap. "Menurutku, kita wajib memberitahu. Karena bagaimanapun mereka adalah orang tua kita. Dan sejujurnya, kita pasti akan membutuhkan bantuan dana tambahan."

Daniel mengangguk setuju, lalu tersenyum tipis. "Benar juga... jujur tabunganku sendiri belum cukup. Tapi, aku nggak ingin meminta dengan cuma-cuma. Anggap saja sebagai pinjaman yang akan kita kembalikan nanti setelah usaha kita berjalan."

Zeya tersenyum tulus, lalu menggenggam tangan suaminya. "Aku setuju. Lebih baik sampaikan saja sekarang, supaya mereka tahu. Dengan begitu semoga dana bisa segera tersedia sebelum kita menemui Pak Hadi besok."

Tanpa menunggu lebih lama, Daniel pun segera mengambil ponselnya dan menghubungi orangtuanya. Dengan jujur dan tenang, remaja itu menyampaikan segala hal — rencana membeli lahan, kebutuhan dana, serta tekad menganggapnya sebagai pinjaman yang akan dikembalikan.

Dengan antusias Papi Baim dan Mami Mia menyambut baik niat putra ketiganya tersebut. Mereka setuju membantu dan berjanji mengirimkan dana secepatnya.

Hati Daniel dan Zeya seketika terasa lega. Segala keraguan sirna, berganti keyakinan penuh — mereka siap menemui Pak Hadi dengan tekad yang bulat.

1
Aditya hp/ bunda Lia
mereka menunda kuliah demi usaha mereka di desa yang terus berkembang
𝐈𝐬𝐭𝐲
mereka semangat dengan usaha barunya sehingga menunda kuliah, semoga mereka bisa sukses...
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin
total 1 replies
Patrick Khan
danil zeya gk kembali ke sekolah kah🤔🤔
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nanti sekolah lagi
total 1 replies
Patrick Khan
bahar kau ribet bgt sih🤣🤣🤣
Nar Sih
panen pertama berhasil juragan
Aditya hp/ bunda Lia
si Bahar dah tua di bui juga bukannya sadar malah tambah gila ... ini lagi anak buahnya sama2 gila
vj'z tri
hei Bambang lu B2 juga ambil kan ? hayooo ngaku 🫵/Slight/
vj'z tri
Alhamdulillah 🤲🤲🤲onah sadar
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤲🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
bahwa ... kata Moms jemurannya masih harus di gantung meski kemarau tapi belum kering gantung .. ya gantung .... 🤭
Aditya hp/ bunda Lia: biasa kan pas lagi seru dan pinisirin bingit ... gantung 😁
total 2 replies
Nar Sih
malu kan bu yuni 🤣slh sendiri punya mulud pedes klau ngomong
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
makanya jangan suka nyiyir dan julid kamu teh yuniiiiii .....
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
dgn hadir nya zheya daniel di desa tersebut pssti lbih maju dan makmur
vania larasati
lanjutt
vania larasati
lanjut
Nar Sih
siap momz ,udah hadir disana👍🥰
Nar Sih
zhe dan maura udh semakin akur yaa,tmbh dekat satu dan yg lain nya ,
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: alhamdulillah
total 1 replies
Nar Sih
semoga ujian nya lancar dan bisa lulus dgn nilai terbaik ya daniel zhee☺️
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: aamiin mam
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
kirain karya baru lagi ternyata mbak ayang
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: 🤣🤣🤣🤣🤣 terkecoh
total 1 replies
Aditya hp/ bunda Lia
semangat ujiannya Niel ze
〈⎳ 𝕄𝕠𝕞𝕤 𝕋ℤ ✍️⃞⃟𝑹𝑨: makasih bund🫰
total 1 replies
Nar Sih
ahir nya hukuman yg pas untuk mu juragan bahar dan bnr kta ayah mu zhe ,hati,,dgn juragan bahar yg pasti gak akan diam sja
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!