Up setiap hari
Stella Odette Rosewood terbangun dengan reputasi hancur, dikelilingi teman toxic, dan adik tiri bermuka dua yang ingin merebut segalanya termasuk Neo Hayes Blake, CEO dingin incaran banyak orang.
Satu-satunya jalan keluar adalah "Vix", sistem berwujud rubah ekor sembilan cerewet yang memaksanya menjalankan berbagai misi demi bertahan hidup. Stella pun mengubah taktik: membuang orang-orang toxic, merombak penampilannya, dan sengaja mendekati Neo untuk menghancurkan rencana adik tirinya.
Awalnya, interaksi mereka canggung dan Neo terlihat tak peduli. Namun, di balik kelakuan absurd dan omelan Stella pada sesuatu yang tak kasatmata, Neo melihat sosok wanita cerdas yang mati-matian berjuang sendirian.
Saat bahaya sesungguhnya dari intrik keluarga mulai mengancam nyawa Stella, sang CEO mengambil langkah.
Pria dingin itu kini menjadi pelindung posesif yang tak segan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaRyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32: Makan siang Bersama
System Glitch
Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan. "Kau memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat mengganggu, Rosewood."
Stella menguatkan lututnya yang mendadak sedikit lemas menghadapi tatapan itu. Ia memamerkan senyum tengilnya.
"Kepercayaan diri adalah kunci kesuksesan, bukan? Aku hanya tidak mau kau kehilangan fokus kerja karena memikirkan betapa gemilangnya penampilanku semalam."
Neo mendengus pelan –sebuah suara yang terdengar lebih menyerupai dengkuran tertahan.
Alih-alih membuang kertas merah muda norak itu ke tempat sampah, Neo justru membuka laci meja pribadinya dan memasukkan sticky note itu ke dalam sana, bersama dengan barang-barang penting lainnya, lalu menguncinya dengan bunyi klik yang bergema.
Mata Stella membelalak samar melihat tindakan itu.
Dia menyimpannya? Kenapa?!
"Aku selalu fokus pada tujuanku, Stella," ucap Neo, matanya tidak lepas sedetik pun dari wajah wanita itu.
"Dan saat ini, kau adalah bagian dari tujuanku. Jadi sebaiknya kau yang berhati-hati agar tidak kehilangan konsentrasi mu."
[ Ding! ]
[ Misi Selesai dengan Sempurna! ]
[ Hadiah ditambahkan. Peringatan: Tensi ruangan berada di ambang batas wajar! ]
Stella berdehem pelan, berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum ia benar-benar mati kutu oleh aura pria ini.
"Kalau kau sudah selesai dengan pujian tersembunyi mu, aku akan kembali ke lantai bawah. Timku butuh aku."
"Tunggu," Neo menahan langkah Stella saat wanita itu baru saja akan membalikkan badan.
Neo melirik jam tangan mewahnya. "Ini hampir jam makan siang. Kau dan timmu sudah bekerja sejak pagi. Aku tidak mentolerir karyawan yang jatuh sakit di gedung ku."
Pria itu menekan tombol interkom di mejanya. "Liam."
"Ya, Tuan Blake?" suara Liam terdengar cepat.
"Pesan makan siang untuk empat staf di lantai 15 dari restoran The Ivy. Lalu, minta koki di ruang makan eksekutif menyiapkan makan siang untuk dua orang. Tenderloin steak, salad sayuran segar tanpa saus asam, dan pastikan..." Neo melirik Stella sekilas.
"...tidak ada satu pun makanan laut atau aroma amis yang mendekati dapur itu. Stella akan makan siang bersamaku di sini."
Stella menatap Neo dengan alis terangkat. "Makan siang? Bersamamu?"
"Kau keberatan?" Neo menantang balik, aura predatornya kembali menguar.
"Tidak. Hanya sedikit terkejut ternyata seorang Pangeran Es bisa mentraktir makan siang," jawab Stella santai, memutuskan bahwa menolak makanan gratis dari koki eksekutif Blake Group adalah sebuah dosa besar.
Lagipula, ia dan timnya memang belum sarapan dengan benar.
"Duduklah di sofa itu. Aku akan menyelesaikan membaca draf ini dalam sepuluh menit," titah Neo mutlak.
Stella mengangkat bahu dan berjalan menuju sofa kulit hitam panjang di sudut ruangan. Ia duduk, menyilangkan kakinya, dan memperhatikan Neo yang kembali fokus bekerja.
Untuk sesaat, ruangan itu hanya diisi oleh suara ketikan keyboard Neo dan detak jarum jam. Ini adalah sebuah jeda.
Setelah malam yang penuh dengan pertarungan urat saraf, ancaman penjara, dan drama keluarga yang menguras emosi, duduk diam di sudut ruangan pria paling mematikan di London ini anehnya terasa sangat... aman.
Wangi Dark Musk dan Leather di ruangan ini tidak lagi terasa mencekik, melainkan membungkusnya seperti selimut yang melindungi.
Stella menghela napas pelan, mengistirahatkan kepalanya ke sandaran sofa.
Waktu: 12:15 PM
Ruang Makan Eksekutif, Lantai Teratas
Ruang makan khusus CEO itu sangat privat, memiliki jendela setinggi langit-langit yang menghadap langsung ke Sungai Thames.
Di atas meja bundar dari marmer putih, dua porsi hidangan mewah sudah tersaji dengan sempurna.
Daging Tenderloin yang dipanggang tanpa cela, sayuran segar yang renyah, dan tentu saja, tidak ada jejak hidangan laut jenis apa pun di atas meja tersebut.
Stella sangat mengingat larangan itu. Neo Hayes Blake membenci seafood, dan Stella tahu bahwa memancing kemarahan pria ini di saat makan adalah tindakan bodoh.
Neo duduk di seberangnya. Pria itu mengiris dagingnya dengan tenang dan elegan, gerakan tangannya begitu presisi.
"Timmu bekerja dengan sangat baik," ucap Neo memecah keheningan, suaranya mengalun rendah tanpa melihat ke arah Stella.
"Draf ini sangat bersih. Kau memotong celah korupsi sekecil apa pun dari anggaran. Sangat agresif."
"Aku sudah belajar dari kesalahan keluargaku. Memberi mereka celah sekecil jarum sama saja dengan menyerahkan nyawamu," Stella menyuapkan potongan daging ke mulutnya.
Matanya sedikit berbinar menyadari betapa enaknya makanan ini.
"Lagi pula, aku punya target yang harus dicapai. Aku butuh Rosewood Media berdiri stabil sebelum ayahku mencoba mencari cara licik lain untuk menjatuhkan ku."
Neo menghentikan gerakan pisaunya. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam mata monolid Stella.
Tatapan yang tadinya santai kini kembali berubah intens dan pekat.
"Keluargamu tidak akan berani menyentuhmu lagi," ucap Neo.
Nada suaranya datar, namun ada sebuah ancaman dingin yang mematikan di baliknya yang tidak ditujukan untuk Stella, melainkan untuk siapa pun yang berani mengganggu wanita di hadapannya ini.
"Selama kau berada di bawah proyek kerjasamaku, kau berada di wilayahku. Dan aku tidak membiarkan siapa pun merusak wilayahku."
Stella menelan makanannya perlahan. Jantungnya kembali melakukan lompatan kecil yang aneh.
Cara Neo mengatakan kalimat itu... bukan terdengar seperti janji seorang rekan bisnis biasa, melainkan lebih seperti sebuah klaim absolut dari seorang predator atas wilayah perburuannya.
50% afeksi. Angka itu terngiang di kepala Stella.
Pria ini perlahan-lahan mulai membangun tembok di sekelilingnya tanpa Stella sadari.
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Neo," balas Stella, menaikkan dagunya sedikit untuk mempertahankan ke-tengilan nya.
"Aku bukan seperti tuan putri lemah yang butuh menara perlindungan. Jika mereka datang, aku yang akan memotong kepala mereka."
Seringai tipis yang luar biasa tampan muncul di sudut bibir Neo. Mata kelamnya memancarkan persetujuan yang gelap.
"Aku tahu kau bisa. Itulah sebabnya kau duduk di meja ini sekarang, Stella."
Mendengar Neo memanggil nama depannya dengan nada serak yang selembut itu sukses membuat Stella harus buru-buru minum air mineralnya untuk menyembunyikan pipinya yang mulai memanas.
Di atas lampu gantung, Vix sedang sibuk menikmati satu kotak Macaron premium dari hadiah misi, mengunyahnya sambil menatap kedua manusia di bawahnya dengan pandangan puas.
"Makan siang yang damai," guman Vix di sela-sela kunyahannya.
"Bernafas lah selagi bisa, Nona Cegil. Karena ular kecilmu di rumah tidak akan diam saja melihatmu bahagia."
Dan tepat seperti yang Vix katakan, di saat Stella sedang menikmati jeda kemenangannya bersama Neo di tempat tertinggi kota London.
Sementara itu di tempat lain.
Chloe Rosewood baru saja menyelesaikan sebuah panggilan telepon rahasia yang akan memicu badai baru yang jauh lebih kotor dari sebelumnya.
To be Continued