Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Di Usir dan Di Asingkan
"Ah, sial! Gembok bodoh ini tidak bisa dibuka!" gumam Elara frustrasi, napasnya memburu saat menyadari tangannya yang lemas sama sekali tidak bisa menghancurkan besi magis itu tanpa kekuatan Siren.
"Bebaskan kami juga!"
"Keluarkan kami dari tempat terkutuk ini, Siren!"
Suara-suara riuh mendadak bersahutan dari sel-sel lain di sepanjang lorong. Kegaduhan itu membuat Elara semakin panik. Detak jantungnya berpacu cepat, takut jika para pengawal Mermen akan segera kembali karena mendengar keributan ini.
Elara berbalik, menatap sel-sel kumuh itu dengan pandangan membunuh. "Kalian bisa diam tidak?!" bentak Elara kesal, suaranya yang serak bergema penuh ancaman hingga membuat beberapa tahanan tersentak bungkam.
"Ini... aku juga sedang berusaha!" seru Elara, napasnya memburu kian memutus jarak napas di dalam air. Tangannya yang lemas terus memutar, mencengkeram, bahkan menarik-narik gembok besi itu dengan sisa tenaga yang ia miliki hingga buku jarinya memutih.
Melihat Elara yang mulai terdesak, Zephyrion ikut panik. Pria berambut perak itu melangkah mendekati jeruji besi, menatap Elara dengan tatapan memohon yang dalam. "Pergilah, Elara... Pergilah sejauh mungkin dari sini. Jangan sampai kau ketahuan oleh para penjaga."
Gerakan tangan Elara sontak terhenti. Ia mendongak, menatap Zephyrion dengan raut bingung sekaligus tak tega. "Tapi, bagaimana denganmu? Aku tidak bisa meninggalkanmu begitu saja!"
"Jangan khawatirkan aku," potong Zephyrion cepat, berusaha menenangkan sang Siren. "Aku sudah mengatakannya padamu, bukan? Aku ini seorang pangeran naga palung laut. Kerajaan ayahku pasti tidak akan tinggal diam melihat putranya ditahan oleh ras lain. Aku pasti akan segera bebas."
Elara menatap manik mata sebiru lautan dalam milik Zephyrion, mencari kebohongan di sana. "Kau yakin?"
"Sangat yakin," tegas Zephyrion, memberikan senyum tipis yang meyakinkan. "Cepatlah pergi sebelum terlambat. Jangan hiraukan teriakan para tahanan lain!"
Keraguan sempat merayapi dada Elara. Belasan tahun menderita di tempat ini sendirian membuat kehadiran Zephyrion selama seminggu terakhir menjadi satu-satunya penghibur lara. Namun, Elara tahu ini adalah kesempatan satu-satunya untuk selamat.
"Baiklah... Maafkan aku, kawan," bisik Elara dengan suara parau yang sarat akan rasa bersalah. "Selamat tinggal. Semoga takdir mempertemukan kita lagi dalam kondisi yang lebih baik."
Tanpa membuang waktu lagi, Elara membalikkan tubuh ringkihnya. Dengan sisa tenaga pada siripnya, ia buru-buru berenang membelah air, menjauhi koridor penjara yang gaduh oleh teriakan tahanan lain.
Jantung Elara berpacu luar biasa cepat, berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di dadanya saat ia tiba di depan pintu gerbang utama penjara bawah tanah. Langkah berenang Elara mendadak terhenti, napasnya seolah tertahan di tenggorokan.
Ketakutan terbesar merayapinya; jika pintu ini terbuka dan prajurit Mermen menyergapnya, ia akan kembali membusuk di dalam sel selama sisa hidupnya.
Krieeet...
Dengan tangan bergetar, Elara mendorong pintu besar itu perlahan-lahan.
Ia mengembuskan napas lega yang teramat sangat ketika menyadari tidak ada satu pun pengawal yang berjaga di pos mereka.
Elara berenang keluar dengan waspada, menyelinap di antara pilar-pilar batu bawah laut. Dari kejauhan, pandangannya menangkap pemandangan yang mengerikan sekaligus menakjubkan.
Seluruh penghuni istana dan pasukan pengawal rupanya tengah berkumpul di area altar penyiksaan. Tempat sakral klan Merman itu kini telah hancur lebur, luluh lantak menjadi puing-puing batu yang berserakan.
Elara tidak tahu apakah kehancuran dahsyat itu merupakan dampak dari gempa palung laut purba, atau justru akibat amukan mengerikan dari seseorang yang tak terduga.
Namun, Elara tidak peduli. Kekacauan mutlak ini adalah berkah sekaligus tiket kebebasannya untuk naik menuju daratan kota Blue Waves.
****
Elara terus berenang cepat membelah kegelapan, menembus kedalaman palung laut menuju batas wilayah klan Siren tempatnya berasal. Napasnya tersengal, namun tekadnya bulat.
Rencananya adalah menyelinap ke dalam gua terpencil yang dulu merupakan tempat tinggalnya untuk mengemas beberapa barang yang masih tersisa sebelum benar-benar meninggalkan lautan.
Begitu berhasil melewati celah bebatuan gua yang familier, Elara bergerak secepat yang ia bisa. Tangannya yang masih gemetar membongkar sudut tersembunyi, mengemas barang-barang seadanya ke dalam kantong kain, termasuk beberapa koin emas kuno yang berharga agar bisa ia gunakan bertahan hidup di dunia manusia nanti.
"Kurasa ini sudah cukup," gumam Elara pada diri sendiri, mengikat kantong kain itu erat-erat ke pinggangnya.
"Untuk apa kau kembali kemari lagi, Elara?"
Gema suara berat yang sarat akan otoritas mutlak tiba-tiba terdengar dari arah mulut gua. Tubuh Elara tersentak hebat. Ia menoleh patah-patah, sepasang matanya membelalak saat mendapati sesosok pria berwibawa tengah bersedekap di sana. Itu adalah Raja Liam, penguasa tertinggi ras Siren.
Elara langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam, menekan rasa takutnya. "Yang Mulia... Aku hanya ingin mengambil barang-barang milikku saja."
Raja Liam mendengus sinis, menatap Elara dengan pandangan merendahkan dari ujung rambut hingga siripnya yang terluka. "Kau tidak tahu malu dan luar biasa keras kepala. Sudah kukatakan belasan tahun yang lalu, bukan? Pria Merman pilihanmu itu tidak pernah sebaik yang kau kira!"
Hantaman kata-kata itu terasa perih di dada Elara, mengorek kembali luka lama yang berusaha ia kubur. "Maafkan saya, Yang Mulia," bisik Elara parau, suaranya bergetar menahan gejolak emosi. "Ternyata perkataan Anda benar adanya. Saya benar-benar menyesal telah mengenal dan memercayai bajingan itu."
"Semuanya sudah terlambat, Elara," potong Raja Liam dingin tanpa sedikit pun belas kasihan di matanya. "Kau yang sekarang bukan lagi bagian dari kaum kami. Kau adalah aib terbesar bagi ras Siren! Sebaiknya kau cepat angkat kaki dari teritoriku sekarang juga. Pergilah ke daratan fana itu, dan jangan pernah menampakkan wajahmu di lautan ini lagi!"
Kata-kata pengusiran itu menggantung di udara gua yang dingin. Elara terdiam, mencengkeram kantong koin emas di pinggangnya erat-erat.
Tidak ada air mata yang jatuh dari pelupuk matanya. Rasa sakit karena diasingkan oleh bangsanya sendiri justru mengeraskan hatinya yang telah hancur.
Elara menegakkan kembali punggungnya, menatap lurus ke arah sang Raja dengan binar mata yang kini dipenuhi ketangguhan mutlak. Lautan sudah tidak menyisakan tempat lagi untuknya, dan kini daratan Kota Blue Waves adalah satu-satunya takdir yang harus ia taklukkan.
"Baiklah, aku akan pergi sekarang juga!" ucap Elara tegas.
Tanpa menoleh lagi, Elara langsung melesat melewati Liam begitu saja. Elara tidak peduli, meskipun pria berwibawa itu adalah pamannya sendiri. Toh, semenjak kedua orang tuanya meninggal, Raja Liam tidak pernah benar-benar memedulikannya.
Pamannya itu tidak pernah hadir sebagai keluarga yang menyayangi di saat ia sangat membutuhkan dekapan hangat. Diasingkan atau tidak, ia memang sudah lama sebatang kara.
Raja Liam hanya berdiri mematung, menatap kepergian keponakannya dengan pandangan datar tanpa ekspresi.
Elara terus berenang cepat, menggerakkan siripnya naik menuju permukaan air dengan tujuan pesisir Pantai Blue Waves. Namun, alih-alih langsung merangkak naik ke daratan, langkahnya mendadak tertahan.
Sebagai seorang Siren yang seumur hidupnya dilarang keras oleh sang Raja untuk menginjakkan kaki di dunia atas atau menerobos teritori klan Mermaid, daratan adalah tempat asing yang mengerikan sekaligus misterius baginya.
Elara menahan diri di balik batas air. Ia hanya menyembulkan setengah kepalanya di balik riak ombak, mengintai situasi pesisir pantai yang tampak sangat ramai. Orang-orang berlalu-lalang di sepanjang hamparan pasir putih—sebagian besar adalah manusia fana yang merupakan turis asing, dan sebagian lagi adalah penduduk asli Kota Blue Waves dari klan Mermaid yang sedang menyamar.
"Aku tidak mungkin naik ke sana dalam kondisi seramai itu," gumam Elara pelan, matanya menyipit waspada. "Aku pasti akan langsung menjadi pusat perhatian mereka."
Elara tahu betul konsekuensi mistis yang harus ia hadapi. Jika ia nekat naik ke daratan dan membiarkan tubuhnya mengering, otomatis ekor dan sirip indahnya akan bermutasi secara menyakitkan menjadi sepasang kaki manusia.
Sialnya, proses itu akan meninggalkannya dalam kondisi polos tanpa sehelai benang pun.
"Bahkan aku tidak punya satu helai baju pun untuk dikenakan nanti," batin Elara frustrasi.
Menginjakkan kaki di daratan dalam kondisi telanjang bulat di tengah kerumunan massa sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri ke dalam masalah besar.
Elara pun berbalik dan kembali menyelam ke dalam air pekat. Ia memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih aman untuk bersembunyi.
Meskipun malam kian larut, Elara sadar betul bahwa pesisir Pantai Blue Waves hampir tidak pernah sepi dari hiruk-pikuk pengunjung.
Namun, tepat saat ia berenang bimbang, tiga sosok makhluk raksasa menyerupai monster Nessie melintas di hadapannya begitu saja. Monster-monster legendaris itu berenang dengan anggun, membelah arus samudera menuju wilayah barat.
Elara tahu betul ke mana arah tujuan mereka; itu adalah pantai pesisir barat, wilayah terisolasi yang sangat jarang dikunjungi oleh orang-orang karena medannya yang berbahaya.
Sebagai seorang Siren, Elara tidak merasa takut. Makhluk-makhluk purba itu tidak akan pernah menyakiti sesama makhluk air seperti dirinya.
Monster-monster itu hanya akan bertindak agresif dan menyerang ras immortal daratan atau manusia fana untuk dijadikan mangsa.
Sebuah ide taktis mendadak melintas di kepala Elara.
"Nessie! Aku ingin ikut dengan kalian!" seru Elara parau, suaranya mencoba memanggil dari balik riak air.
Ketiga monster itu seketika menghentikan gerakan mereka. Salah satu monster yang berukuran paling besar menoleh sekilas, lalu mengeluarkan suara gaungan rendah yang berat, seolah menanggapi panggilan sang Siren.
Elara berenang mendekat tanpa ragu. Ia mengulurkan tangannya yang ringkih, mengelus lembut kulit tebal nan dingin milik monster purba tersebut. Kesepian yang teramat sangat mendadak menyergap dadanya saat menyentuh makhluk itu.
"Kau tahu... aku sama sekali tidak punya teman atau siapa pun lagi di dunia ini," bisik Elara lirih, matanya menyiratkan kepedihan yang dalam. "Bahkan, aku sudah tidak memiliki tempat tujuan untuk pulang."