"Kapan kamu nikah? Temen temen kamu bahkan udah ada yang punya dua anak. Ibu udah pengen gendong cucu."
Kata kata itu terdengar sederhana tapi selalu terngiang di otak Aurel. Dia hanya ingin mencari yang terbaik untuk hidupnya, karena baginya seorang suami adalah partner seumur hidupnya.
Seperti kisahnya lima tahun yang lalu, yang sudah terlalu yakin dengan pilihan hatinya. Tapi nyatanya hanya pengkhianatan yang ia dapat. Pria itu lebih memilih wanita yang lebih seksi dan bisa dibanggakan untuk di bawa.
Aurel hanya masih mencari, apa itu salah? Tapi bagaimana jika pemujanya sekarang adalah CEO kaya raya yang umurnya jauh lebih muda darinya? Apa itu akan menjadi cinta sejatinya? Atau hanya angin lalu yang akan lewat begitu saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lindra Ifana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Menunggu
Jam delapan pagi Adrian benar benar datang kembali ke kafe Senopati.. Di meja pojok, di kursi yang sama yang kemarin di tempati Aurel dan Dita.
Di depannya ada dua cangkir kopi less sugar dan dua iris red Velvet. Aromanya sangat menggoda selera. Satu untuknya. Satu untuk wanita galak yang sudah mengganggu hidupnya.
Untuk mengisi waktu Adrian membuka ponselnya, melihat beberapa email yang dikirim Dimas padanya. Ada beberapa tentang perusahaannya sendiri, Kata Raya Corp. Dan beberapa dari orang orang kepercayaannya di Dirgantara Group.
Selain menjadi CEO Kata Raya, dirinya juga diberi mandat ayahnya sebagai CEO di Dirgantara Group. Tak mudah memimpin dua perusahaan besar sekaligus, apalagi dia memikul tanggung jawab itu di usianya yang masih sangat muda.
Satu jam kemudian, saat jarum jam menuniuk di angka setengah sembilan. Seorang pelayan datang ke mejanya, menawarkan menu lain. Ada tatapan kasihan di mata sang waiter, kopi di depan Adrian sudah dingin . Rotinya pun masih utuh.
“Selamat pagi Mas? Ada yang bisa saya bawa lagi untuk Mas? Mungkin saya bisa ganti kopi yang sudah menjadi dingin di depan Anda. Ada juga menu baru sarapan disini."
Adrian bahkan tidak menoleh. Matanya lurus ke pintu kaca. “Dua kopi Americano less sugar, dan tolong bawa ini." Adrian menunjuk dua cangkir kopi yang sudah dingin.
Dia adalah CEO Kata Raya. Rapat board meeting bisa dia geser. Deal miliaran bisa Tapi jam delapan pagi di kafe ini, dia tidak punya kuasa apa-apa.
Karena dia menunggu.
"Masnya sedang nunggu teman bisnis atau pacar? Mereka bener bener nggak menghargai waktunya Mas."
Tapi pelayan itu langsung pergi karena sebuah tatapan tajam membuatnya mengerti. Jika tak seharusnya ia bertanya.
Adrian mulai gelisah
_Kalau gue pergi sekarang, mungkin dia datang di menit berikutnya._
_Kalau gue tunggu sampai terus, gue buang-buang waktu untuk orang yang nggak menghargai waktu._
_Gue Adrian Dirgantara. Orang orang yang biasa nungguin gue, bukan sebaliknya._
Tapi tangannya tetap di atas meja. Dengan ujung jari mengetuk permukaannya.
Adrian menghela nafasnya, jadi seperti ini rasanya menunggu. Menunggu adalah tarik ulur emosi yang sangat melelahkan.
Sementara itu kafe mulai ramai. Hanya dia yang diam, kaku, seperti patung di tengah kebisingan. Beberapa orang bahkan melihatnya dengan raut heran.
Jam sembilan lebih empat puluh lima menit, Adrian memijit pelipisnya. Tarik ulurnya paling parah di sini. Nafasnya mulai tak beraturan, hati dan otaknya mulai tidak sinkron. Antara pergi dan terus menunggu.
Otaknya berkata _Berdiri. Kamu punya perusahaan seratus dua puluh triliun untuk diurus. Ini memalukan._
Tapi dadanya bilang, _Duduk. Lima menit lagi. Siapa tahu._
Dengan kuasanya dia bisa memecat siapapun, tapi dia tidak bisa memecat rasa penasaran di kepalanya sendiri.
Dan ketika jarum pendek jam sudah menunjukkan angka sepuluh Adrian menyerah. Dia mengambil tisu dan pulpen dari saku jasnya.
Tangannya berhenti sedetik di atas kertas.
Dia tulis. Satu baris.
Sekarang aku menunggu, tapi besok akan aku kejar - AD
Adrian meletakkan tisu itu di bawah cangkir, dua jam yang sangat melelahkan. Ada rasa kecewa, tapi itu tak membuatnya payah semangat. Dia yakin suatu saat mereka akan bertemu lagi....disini.
Dia berdiri.
Akhirnya.
Tapi sebelum melangkah pergi seseorang menepuk pundaknya pelan. Adrian hafal suara orang yang baru datang menyapanya.
“Adrian?”
Dion.
Sahabatnya sejak kecil, sekarang duduk di kursi sebelah tanpa permisi. Jaketnya digantung sembarangan dan rambutnya berantakan seperti baru bangun tidur.
“Elo dari kapan duduk kayak patung di sini?” tanya Dion, langsung melirik dua cangkir kopi. “Meeting?”
Adrian mengambil jasnya. “Nggak.” Malas menjawab.
Dion menyipit. “Terus? Nunggu siapa? Investor? Menteri?”
Adrian diam, tak mungkin dia bercerita tentang Aurel. Bercerita jika dia menunggu wanita yang bahkan kemarin baru berbicara dua menit padanya.
"Cewek elo hahh? Ho hoo ternyata CEO kita sudah punya gebetan. Kenal di klub malam? Atau di medsos? Bohay pasti dia," ujar Dion sambil tertawa.
Dan diamlah yang membuat Dion berhenti bercanda.
Dion kenal Adrian sejak dirinya berumur tiga tahun. Dia tahu benar seperti apa pria di sampingnya. Dia pernah lihat Adrian memimpin meeting perusahaan dengan sangat berwibawa. Dia pernah lihat Adrian murka dan menghajar salah satu pegawai karena melakukan kesalahan fatal.
Tapi dia tak pernah melihat Adrian menunggu.
“Jam berapa elo di sini?” tanya Dion pelan.
“Jam delapan.”
Dion tertegun. “Dua jam?”
Adrian mengangguk sekali. Hatinya masih kalang kabut, antara kecewa dan masih penasaran. Kenapa Aurel tak mau datang.
Dion menatap tisu di bawah cangkir, membaca tulisan yang tertera disana, lalu menatap Adrian lagi.
“Bro,” kata Dion pelan, suaranya terdengar ngejek. “Siapa dia?”
“Tidak penting. Gue cerita juga elo belum tentu kenal."
“Bullshit.” Dion bersandar. “Kalau tidak penting, elo nggak akan duduk dua jam. Elo nggak akan nulis itu.”
"Berisik elo, pusing gue!" Adrian mulai melangkah keluar, di ikuti sahabatnya.
“Dia orang pertama,” kata Adrian akhirnya. Suaranya rendah, hampir seperti pengakuan. “Orang pertama yang membuat gue rela menunggu.”
Dion mengangguk pelan, kakinya terus mengikuti sang pewaris kaya raya itu..
CEO yang bisa membeli gedung ini.
CEO yang jadwalnya dihargai per menit.
Duduk dua jam. Untuk orang yang mungkin tidak akan pernah datang.
Dion menghela napas. “Oke. Fix dia pasti istimewa.”
Adrian tidak menjawab. Dia hanya berjalan keluar.