"Jangan tertipu dengan kelembutan kelopak bunga, karena di balik keindahannya ada duri yang bisa menembus jantungmu tanpa suara."
Putri Arabella Costa adalah perpaduan keanggunan bangsawan dan ketangguhan jiwa modern. Terlahir kembali sebagai putri bungsu Kerajaan Costa, Bella menolak diam di istana mewahnya dan memilih hidup bebas menyamar sebagai gadis biasa. Dia memiliki ruang dimensi berisi air kehidupan yang mampu menyembuhkan segala penyakit.
Lucian Alistair sosok pria yang dingin, dominan, memiliki insting bertarung serta indra penciuman yang tajam, menguasai garis depan militer, dan memiliki harga diri setinggi langit yang tidak bisa disentuh oleh sembarang orang.
Dua karakter kuat pemilik rahasia besar ini mendadak terikat dalam pernikahan tak terencana. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Akankah kebuasan serigala bisa menaklukkan sang putri rahasia, atau justru sang Alpha yang akan bertekuk lutut di bawah kendali Arabella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERJODOHAN
Keesokan paginya, suasana di ruang makan utama Istana Kerajaan Costa terasa jauh lebih hidup.
Raja Costa sudah duduk di kursi kebesarannya dengan wajah yang tampak jauh lebih segar, didampingi oleh Ratu Soraya.
Ara melangkah masuk ke ruang makan dengan gaun pagi berwarna Bater yellow.
Begitu melihat sang Ayah sudah bisa duduk tegak dan menikmati sarapan nya, senyum Ara langsung mengembang lebar.
"Selamat pagi, Ayah! Selamat pagi, Ibu!" sapa Ara riang, langsung mengambil posisi duduk di samping Ratu Soraya.
"Selamat pagi, Putri Kecil Ayah. Wah, segar sekali melihatmu sudah berpakaian rapi seperti ini, tidak seperti kemarin yang mirip pencuri kubis," goda Raja Costa dengan kekehan ringannya.
"Ayah! Jangan mulai deh, Bella kan sudah bilang kalau itu pekerjaan terhormat!" protes Ara sembari mengerucutkan bibirnya, lalu mengambil sepotong roti panggang dengan kesal.
Tepat saat itu, Pangeran Xavier dan Pangeran Raymond masuk ke ruang makan secara bersamaan, kedua pangeran itu langsung membungkuk hormat kepada orang tua mereka sebelum duduk di kursi masing-masing.
"Selamat pagi, Ayah, Ibu," ucap Raymond singkat dan tegas seperti biasa.
"Selamat pagi semuanya. Wah, Bella, pagi-pagi wajahmu sudah ditekuk begitu. Kenapa? Masih merindukan kebun kubis mu?" celetuk Xavier, langsung mengambil sebutir apel dan menggigitnya tanpa dosa.
"Tutup mulutmu, Kak! Makan saja apel mu itu sebelum aku menyumpal nya dengan garpu!" ucap Ara melotot tajam ke arah Xavier.
Ratu Soraya menggelengkan kepala melihat kelakuan anak-anaknya yang tidak pernah berubah.
"Sudah, sudah, ayo makan dulu, setelah ini ada hal penting yang ingin Ayah sampaikan kepada kalian semua," ucap Soraya, lembut.
Mendengar ucapan ibunya, gerakan tangan Ara yang hendak mengoleskan selai ke rotinya langsung terhenti, entah kenapa perasaannya mendadak menjadi agak tidak enak.
Selesai sarapan, Raja Costa berdehem pelan, meletakkan cangkir tehnya, lalu menatap Ara dengan pandangan mata yang sangat serius namun dipenuhi rasa sayang.
"Bella, selama enam bulan kamu kabur, Ayah dan Ibu sebenarnya sangat mencemaskan masa depanmu, kamu adalah satu-satunya putri di kerajaan ini, dan usiamu sudah sangat matang untuk memikirkan masa depan," ucap Raja Costa dengan suara baritonnya yang berwibawa.
Ara menyipitkan matanya, jiwa modernnya langsung mengendus ada sesuatu yang tidak beres di balik kalimat pembuka ini.
"Masa depan? Maksud Ayah apa?" tanya Ara, firasat nya sudah tidak enak.
Sebelum menjawab pertanyaan Putri nya, Raja Costa bertukar pandang sejenak dengan Ratu Soraya sebelum kembali menatap putri nya.
"Ayah sudah menjalin komunikasi dengan Kerajaan Forest, kami sepakat untuk menjodohkan mu dengan Pangeran Zain," ucap Raja Costa, tegas.
UHUK
Xavier yang sedang mengunyah apelnya langsung tersedak keras, sementara Ara melotot sempurna hingga hampir menjatuhkan garpu di tangannya ke atas piring porselen.
"APA?! Perjodohan?!" pekik Ara, suaranya naik dua oktaf memenuhi ruang makan yang megah itu.
Raymond yang biasanya tenang pun langsung meletakkan pisaunya dengan dahi berkerut dalam.
"Ayah, bukankah ini terlalu mendadak? Mengapa harus Pangeran Zain dari Kerajaan Forest?" tanya Raymond, menatap ayah nya.
"Benar, Ayah! Kudengar Pangeran Zain itu orangnya sangat licik! Masa adik kecil kita yang cantik ini mau dijodohkan dengan pria seperti itu?" ucap Xavier ikut memprotes setelah berhasil meredakan batuknya.
Ara langsung berdiri dari kursinya, menatap kedua orang tuanya dengan wajah yang memerah padam karena emosi dan juga kecewa.
Di kepalanya, bayangan Lucian, suami rahasianya yang posesif dan menyebalkan itu langsung melintas dengan sangat jelas.
"Bella tidak mau! Bella menolak keras perjodohan ini, Ayahanda! Bella tidak kenal siapa itu Pangeran Zain, dan Bella tidak mau menikah dengan orang asing!" tolak Ara mentah-mentah dengan nada suara yang sangat tegas.
Ratu Soraya menghela napas panjang, lalu berdiri dan berjalan mendekati Ara, mengusap lembut bahu putrinya untuk menenangkan.
"Bella, dengarkan Ibu dulu, Sayang, pangeran Zain adalah pria yang baik, bertanggung jawab, dan Kerajaan Forest adalah sekutu terkuat kita, perjodohan ini juga demi kebaikanmu dan keamanan kerajaan," jelas Ratu Soraya dengan suara selembut sutra.
"Tapi tidak dengan cara menjual ku lewat pernikahan politik begini, Ibu!" bantah Ara, matanya mulai berkaca-kaca karena merasa terpojok.
"Ayah, Ibu, tolonglah... Bella bisa hidup mandiri di luar sana, Bella tidak butuh pangeran dari Kerajaan Forest atau kerajaan mana pun!" ucap Ara, menatap memohon kepada ayahnya.
Raja Costa memijat pelipisnya yang mendadak terasa pening lagi, dia sangat menyayangi Ara, namun keputusan ini sudah dibicarakan sejak lama sebelum Ara kabur dari istana.
"Bella, keputusan ini sudah disetujui oleh dua belah pihak, pangeran Zain dan rombongan dari Kerajaan Forest akan datang berkunjung ke istana sore ini untuk menemui mu secara resmi," ucap Raja Costa dengan nada tegas yang tidak bisa diganggu gugat.
Ara mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi gaunnya, dadanya naik turun menahan gejolak emosi yang membakar hatinya.
"Terserah! Kalau mereka datang, Bella akan mengunci diri di kamar atau kabur lagi sekalian!" teriak Ara kesal, lalu berbalik dan berlari meninggalkan ruang makan dengan langkah kaki yang menghentak keras.
"Arabella! Kembali!" panggil Raymond dengan suara beratnya, namun Ara mengabaikannya dan terus berlari cepat menerobos koridor istana.
"Aku sudah bilang, menjodohkan Bella itu sama saja seperti mencoba menjinakkan harimau liar," ucap Xavier hanya bisa menghela napas pendek.
Ara berlari kencang menyusuri koridor istana tanpa memedulikan tatapan bingung para pelayan yang berpapasan dengannya.
Begitu sampai di kamarnya, dia langsung membanting pintu kayu yang tebal itu hingga menimbulkan suara dentuman keras.
BRAKK
Ara mengunci pintu dari dalam, lalu melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, dia membenamkan wajahnya di bantal, berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan rasa frustrasinya.
"Akkkhhh!! Menyebalkan! Kenapa hidup di dunia ini rumit sekali sih?! Pakai acara dijodohkan segala!" ucap Ara, membalikkan badannya menatap langit-langit kamar dengan napas terengah-engah.
Tangan kanan Ara bergerak meraba balik kerah gaunnya, mengeluarkan liontin batu amber pemberian Lucian, entah kenapa, melihat kilauan batu hangat itu membuat dadanya yang sesak menjadi sedikit lebih tenang.
"Ian... kalau kamu tahu aku mau dinikahkan dengan pangeran lain, kamu bakal bagaimana, ya?" gumam Ara pelan, tersenyum kecut membayangkan wajah posesif suaminya itu.
Tok
Tok
Tok
"Bella, buka pintunya, ini Kakak," suara bariton Raymond terdengar ketukan pelan dari luar pintu.
"Tidak mau! Bella sedang tidak mau diganggu! Pergi sana, Kak Raymond!" jawab Ara mendengus malas, menyembunyikan kembali kalungnya.
"Arabella, jangan kekanak-kanakan, buka atau Kakak mendobraknya?" ancam Raymond dari luar dengan nada datar tanpa emosi, namun Ara tahu kakak kedua nya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya.
Dengan langkah kaki yang di hentakkan kasar, Ara berjalan mendekati pintu lalu memutar kuncinya dengan sentakan kesal.
tolong ksi bonchap dong