NovelToon NovelToon
Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Maharaja Harem: Sistem Penguasa Jagat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: RIOR

Dibuang dan dibiarkan mati di kegelapan Alas Purwo, Satria Pamungkas justru membangkitkan "Sistem Penguasa Jagat". Di dunia Nusantara Kuno yang kejam, kesaktian adalah segalanya. Satria tidak peduli pada moralitas; ia menghancurkan musuh hingga ke akar-akarnya dan melipatgandakan energinya setiap kali menaklukkan wanita-wanita paling berpengaruh di jagat raya. Dari seorang buangan, sang anti-hero bangkit menembus ranah dewa, membangun imperium harem tak terbatas, dan memaksa seluruh Dwipantara bertekuk lutut!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIOR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: Pecahnya Rahasia Agung dan Kepanikan di Muara Brantas

Kapal perang bertiang tiga yang membawa takdir kehancuran itu akhirnya memasuki wilayah perairan dangkal Muara Sungai Brantas.

Udara samudra yang asin perlahan bercampur dengan arus air tawar yang membawa lumpur kecokelatan dari daratan tengah Dwipantara.

Di sepanjang pesisir muara, hutan bakau yang lebat berdiri kokoh, menyembunyikan ratusan mata penjaga dari pos-pos penjagaan terdepan Kadipaten Janggala, wilayah bawahan Kerajaan Kediri yang bertugas mengamankan jalur logistik sungai.

Satria Pamungkas berdiri di haluan kapal, kembali mengenakan jubah hitam legam dan caping bambu yang menutupi sebagian wajah tampannya.

Aura dari Tubuh Abadi Zirah Naga Langit miliknya telah disembunyikan sepenuhnya ke dalam pori-pori kulit berkat fitur isolasi energi dari sistem.

Di mata para pendekar fana atau nelayan setempat, Satria saat ini tidak lebih dari seorang pengembara misterius yang menaiki kapal jarahan.

Namun, jika ada pendekar Ranah Raja lain yang mencoba mengkondisikan jiwa, mereka hanya akan menemukan ruang hampa udara yang dingin dan siap menyerap kesadaran mereka.

Dalam kesadarannya, sistem antarmuka hologram terus memperbarui data pergerakan di daratan.

[Bip! Memindai Radius 20 Kilometer (Wilayah Muara Brantas):]

Kultivator Deteksi: 140 Orang Ranah Wira, 25 Orang Ranah Satria, 2 Orang Ranah Senopati Tahap 1 (Pos Penjagaan Muara).

Sentimen Publik: Ketegangan meningkat 85% akibat penyebaran salinan dokumen rahasia Patih Gajah Sarkara.

Status Saldo Poin: 447.500 Poin.

Melihat data tersebut, Satria mengetahui bahwa umpan yang ditinggalkannya melalui Dyah Sekar Ayu mulai memakan korban. Sifat anti-hero -nya yang penuh tipu daya taktis selalu menikmati momen di mana musuh-musuhnya mulai saling menggigit sebelum ia sendiri turun ke medan laga untuk melakukan eksekusi akhir.

“Yang Mulia Raja,” Sekar Ayu melangkah mendekat dari ruang dalam kapal, pakaian ringkas khas pendekar wanitanya bergerak anggun mengikuti embusan angin muara. "Burung ghaib pembawa pesan baru saja kembali. Rencana Anda berjalan tanpa cacat sedikit pun. Salinan dokumen kerja sama gelap antara Patih Gajah Sarkara dan mendiang Ki Ageng Segoro telah sampai ke tangan Patih Amangkubhumi dari Kerajaan Singasari tiga jam yang lalu."

“Bagaimana reaksi tikus-tikus Singasari itu?” tanya Satria tanpa postur tubuh.

"Sesuai dugaan Anda, Yang Mulia. Patih Amangkubhumi langsung memerintahkan penarikan mundur setengah dari pasukan pengawal diplomat mereka yang berada di ibu kota Kediri," Sekar Ayu tersenyum kejam, matanya memancarkan kepuasan yang mendalam. "Mereka menuntut klarifikasi langsung dari Raja Kediri atas rahasia ini. Suasana di dalam istana di Kediri saat ini dikabarkan sangat mencekam. Faksi militer Patih Gajah Sarkara dikepung oleh tuduhan makar dan sabotase ekonomi terhadap sekutu mereka sendiri."

“Kebodohan orang-orang yang merasa diri mereka suci dan setia adalah komoditas terbaik untuk dihancurkan,” ucap Satria dengan nada suara yang rendah namun sarat akan cemoohan dingin. "Mereka sibuk berdebat tentang kehormatan dan pengkhianatan di atas kertas perkamen, sementara pedang kematian sudah berada di atas leher mereka."

Tiba-tiba, dari arah depan, tiga buah kapal patroli cepat berukuran sedang milik Kadipaten Janggala melesat keluar dari celah hutan bakau. Kapal-kapal itu digerakkan oleh dayung-dayung besar dan Prana angin tingkat rendah dari para ahli di atasnya.

Di atas geladak kapal utama mereka, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan zirah tembaga dengan lambang gurita dan tombak—tanda bahwa dia adalah salah satu perwira menengah menengah yang berafiliasi dengan jaringan militer Patih Gajah Sarkara.

Perwira tersebut, yang memiliki kekuatan Ranah kapal Senopati Tahap 1, memandang bertiang tiga milik Satria dengan menutupi yang memenuhi kewaspadaan dan kualitas tingkat tinggi.

Perintah rahasia dari ibu kota telah mengatur seluruh pos penjagaan untuk memeriksa setiap kapal yang datang dari arah Samudra Selatan, terutama setelah hilangnya kontak dari armada patroli Guntur dan Geling.

"Kapal asing di depan! Turunkan layar kalian dan bersiaplah untuk diperiksa oleh Pasukan Penjaga Muara Brantas!" teriak pegas itu menggunakan resonansi Prana yang menggetarkan permukaan air sungai. "Setiap pelanggaran akan dianggap sebagai tindakan makar terhadap Kerajaan Kediri!"

Satria tidak menggerakkan satu jari pun. Ia hanya melirik sekilas ke arah Dyah Sekar Ayu yang berdiri di sebelahnya. "Sekar Ayu, berapa lama waktu yang kau perlukan untuk membersihkan tiga kapal sampah ini?"

"Kurang dari setengah penanakan nasi, Yang Mulia," jawab Sekar Ayu dengan hormat, matanya langsung berubah menjadi sedingin es kutub.

Sreeet!

Sekar Ayu melepas sepasang belati ghaibnya yang memancarkan cahaya putih perak dari efek Mantra Cundamani . Tubuhnya melesat maju bagaikan bayangan hijau yang membelah udara, melompati jarak puluhan meter di antara kapal mereka dan kapal patroli utama musuh tanpa menyentuh udara sedikit pun.

"Lancang! Serang wanita itu!" teriak sang perwira Kediri terkejut melihat ada orang yang berani menyerang mereka secara langsung di wilayah kekuasaan mereka sendiri.

Dua puluh puluh Ranah Satria di atas kapal segera menghunus tombak mereka, melepaskan gelombang Prana yang tajam ke arah Sekar Ayu.

Namun, kecepatan dan kelincahan Sekar Ayu yang telah dibimbing oleh energi spiritual Satria berada di level yang berbeda.

Tubuhnya berputar di udara, menciptakan badai kelopak bunga cahaya putih yang tajam yang langsung memotong tombak-tombak kayu dan menembus zirah-zirah tembaga para prajurit tersebut.

Tabrakan! Tabrakan! Tabrakan!

Jerit kesakitan meledak serentak di atas geladak. Dalam hitungan detik, belasan prajurit Ranah Satria tumbang dengan luka sayatan mematikan di leher mereka, darah segar mereka mengalir membasahi papan kayu kapal dan menetes ke dalam air Sungai Brantas.

Sang petugas Ranah Senopati meraung murka melihat anak buahnya dibantai dengan begitu mudah. Ia mengangkat tombak besarnya, mengalirkan seluruh Prana miliknya ke bumi hingga tombak itu memancarkan cahaya kuning pekat, lalu menusukkannya lurus ke arah dada Sekar Ayu. "Ajian Tombak Penghancur Batu!"

DOR!

Benturan keras terjadi, namun bukan karena tombak itu mengenai Sekar Ayu. Sebuah garis energi perak tipis tiba-tiba melintas di antara mereka, memotong mata tombak tembaga tersebut menjadi dua bagian sehalus memotong mentega. Itu adalah sisa gelombang kejut dari tebasan jari ghaib Satria yang pergi dari kejauhan tanpa perlu mencabut pedangnya.

Perwira itu terbelalak, merasakan getaran energi yang begitu masif menembus lengan hingga membuat tulang-tulang pergelangan tangan retak. Sebelum ia sempat mundur untuk melarikan diri, belati Sekar Ayu telah melintasi tenggorokannya dalam satu gerakan silang yang sangat cepat.

RETAKAN!

Kepala sang pelari terlempar ke udara, matanya masih membelalak penuh ketidakpercayaan sebelum akhirnya tubuh tanpa kepalanya tumbang ke dalam sungai, memicu ketakutan total di dua kapal patroli sisa yang berada di belakangnya. Para prajurit yang tersisa langsung memutar balik kapal mereka dengan tergesa-gesa, mencoba melarikan diri kembali ke dalam perlindungan hutan bakau.

[Bip! Dyah Sekar Ayu (Pengikut Inang) telah melanjutkan Perwira Penjaga Muara (Ranah Senopati Tahap 1) dan 20 Prajurit.]

Perolehan Poin Inang: 25.000 Poin Sistem (Efek bagi hasil pengikut).

Total Saldo Poin Saat Ini: 472.500 Poin.

Satria melangkah maju saat Sekar Ayu melompat kembali ke atas geladak dengan pakaian yang bersih dari setetes darah pun. "Biarkan dua kapal itu melarikan diri, Sekar Ayu. Mereka membutuhkan saksi hidup untuk menyampaikan kabar kepada Patih Gajah Sarkara bahwa orang yang akan mencabut nyawanya telah tiba di Muara Brantas."

"Hamba mengerti, Yang Mulia. Ketakutan yang mereka sebarkan akan membuat garis pertahanan mereka di Janggala runtuh sebelum kita mencapainya," jawab Sekar Ayu dengan kepala tertunduk penuh kekaguman.

"Naikkan kecepatan kapal secara maksimal. Kita akan langsung menuju pelabuhan di Kadipaten Janggala. Aku ingin melihat seberapa kuat pasukan gajah yang dibanggakan oleh Kediri saat berhadapan dengan badai kosmik-ku," perintah Satria dingin, matanya menatap tajam ke arah aliran sungai yang mengalir menuju jantung peradaban daratan tengah Dwipantara. Tirai perpisahan di daratan telah resmi dibuka.

1
Anata diya
/Smile//Smile//Smile/
Ranah Pengangguran Bintang 5
Semangat Thor!!! Jangan Sampai Putus Ditengah Jalan....
Tante Mimi
Bagus.. ceritanya seru, tapi sayang bab-nya masih sedikit /Sob/ semangat, jangan lupa update yang banyak/Chuckle/
RIOR'CC
Jangan Lupa Follow & Like Guys 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!