Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 5
Melihat tatapan gurunya yang penuh keyakinan dan tanpa keraguan, Ziyan menelan ludah. Ia menerima pil tersebut dengan kedua tangan yang gemetar. "Terima kasih atas kemurahan hati Guru. Murid tidak akan mengecewakan Anda."
Ziyan segera duduk bersila di tengah aula, memasukkan pil tersebut ke dalam mulutnya, dan mulai memejamkan mata untuk bermeditasi.
BOOM!
Begitu pil itu hancur di dalam perutnya, lautan energi yang sangat dahsyat dan liar langsung meledak, menyerbu ke seluruh jalur meridian Ziyan. Wajah gadis itu seketika memucat, dan keringat dingin bercucuran deras dari dahinya.
"Ugh..." Ziyan melenguh kesakitan. Ia merasa seolah-olah ada ribuan bilah pisau yang sedang menyayat bagian dalam tubuhnya. Energi pil itu terlalu kuat untuk tubuhnya yang rapuh. "Tubuhku... rasanya seperti akan meledak... Guru Li, aku sudah tidak sanggup. Ini rasanya sakit sekali."
"Tenangkan pikiranmu, Ziyan! Fokuskan kesadaranmu pada Dantian! Biarkan aku membantumu menstabilkan energinya!" seru Tianchen dengan suara berat yang menembus langsung ke dalam sanubari Ziyan.
Tianchen melangkah maju, menempelkan satu telapak tangannya di punggung Ziyan. Energi hangat dan kokoh tingkat Maharaja Agung mengalir masuk, langsung menjinakkan aliran energi pil yang liar, membimbingnya untuk membilas dan membangun kembali akar roh Ziyan yang hancur.
Namun, kejutan baru saja dimulai. Ketika akar roh Ziyan mulai menyatu kembali, sebuah kekuatan tersembunyi yang tertidur di dalam darahnya mendadak bangkit.
CRACK! CRACK!
Suhu di dalam aula Puncak Biru anjlok drastis ke titik beku yang mengerikan. Lantai batu giok, pilar-pilar aula, hingga udara di sekitar mereka mulai membeku menjadi kristal es biru yang tebal. Elemen es yang sangat murni memancar keluar dari tubuh Ziyan, menciptakan badai salju kecil di dalam ruangan.
"Ini... Tubuh Sakti Abadi dan Reinkarnasi Dewi Agung miliknya mulai bereaksi," gumam Tianchen dalam hati, matanya berbinar kagum. Jika dibiarkan, elemen es murni ini bisa membekukan seluruh puncak gunung dan melukai jiwanya sendiri karena kekuatannya belum terkendali.
"Gadis kecil, tekan hawa dingin itu ke dalam tulangmu! Jangan biarkan dia menguasai kesadaranmu! Jadilah penguasa atas es itu sendiri!" perintah Tianchen sambil menyalurkan Qi elemen buminya yang tebal untuk mengisolasi dan meredam hawa dingin yang keluar, melindungi tubuh Ziyan dari pembekuan internal.
Ziyan menggertakkan giginya hingga mengeluarkan darah dari sudut bibirnya. Mengikuti bimbingan Tianchen, ia menarik seluruh hawa dingin yang meledak-ledak itu, memaksanya menyatu dengan sumsum tulangnya.
HUFFF!!!
Gelombang angin es terakhir berembus kencang, lalu semuanya mendadak sunyi.
Ziyan membuka matanya. Sepasang pupil matanya kini memancarkan kilatan cahaya biru es yang dingin dan misterius. Ia mengangkat tangan kanannya, dan hanya dengan satu pikiran, udara di depan telapak tangannya mengkristal menjadi sebilah belati es yang sangat tajam dalam sekejap mata. Akar rohnya tidak hanya pulih, tetapi kini jauh lebih kuat dan sempurna dari sebelumnya!
"Aku... aku berhasil? Guru Li, akar rohku kembali!" Ziyan menatap tangannya dengan tidak percaya.
"Kau berhasil memperbaiki akar rohmu dan membangkitkan elemen esmu dengan sempurna," ucap Tianchen, meskipun wajahnya tampak sedikit lelah karena harus menahan ledakan energi dewi agung tadi. "Namun, karena tubuhmu baru saja mengalami tekanan besar dan luka dalam lama dari klan iblis belum sepenuhnya bersih, kau harus memulihkan diri. Pergilah ke kolam mata air spiritual di belakang Puncak Biru dan berendamlah di sana untuk menyelaraskan energimu. Aku akan ke perpustakaan sekte sebentar untuk mencari teknik kultivasi yang cocok untukmu."
"Baik, Guru. Terima kasih," jawab Ziyan dengan patuh, tubuhnya memang terasa sangat lelah dan membutuhkan kehangatan mata air spiritual.
Tianchen melangkah cepat menuju Paviliun Pustaka Suci milik sekte. Di antara ribuan gulungan kitab kuno berdebu, indra ilahinya memindai barisan rak dengan cepat. Akhirnya, matanya tertuju pada sebuah kitab kulit binatang purba yang memancarkan aura berat bagai gunung.
"Jurus Gajah Tempur," gumam Tianchen membaca judulnya. "Sebuah teknik kultivasi fisik tingkat kuno yang dapat memberikan kekuatan mentah setara gajah purba raksasa pada setiap jengkal otot. Ini sangat cocok untuk melengkapi Tubuh Sakti Abadi milik Ziyan. Dengan teknik ini, fisik dan elemen esnya akan menjadi kombinasi yang mematikan."
Dengan kitab di tangan, Tianchen langsung menggunakan kemampuan Teleportasi jarak pendek untuk kembali ke Puncak Biru, ingin segera memberikan kitab itu agar Ziyan bisa langsung mempelajarinya setelah selesai berendam.
Sret!
Ruang bergetar, dan tubuh Tianchen berpindah tepat di tepi kolam mata air spiritual yang dikelilingi oleh pohon bambu biru. Kabut air yang hangat mengepul tinggi, menghalangi pandangan sekilas. Namun, tepat di tengah kolam, kabut itu sedikit menipis.
Sesosok tubuh wanita yang indah bak pahatan giok sedang bersandar di tepi kolam. Air kolam yang jernih hanya setinggi dada, memperlihatkan bahu yang putih mulus dan lekuk tubuh yang sempurna di balik pakaian dalam tipis yang basah kuyup, melekat ketat pada kulitnya. Rambut hitam panjangnya basah, terurai di atas air, menciptakan pemandangan yang teramat memikat hati siapapun yang melihatnya.
Ziyan yang sedang menikmati kehangatan air mendadak merasakan riak ruang di dekatnya. Ia menoleh dengan cepat.
"Aaahhkkk!!! Guru Li... kenapa... kenapa Anda tiba-tiba muncul di sini?!" jerit Ziyan histeris. Wajahnya seketika memerah padam hingga ke leher. Dengan panik, ia langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada, mencoba menutupi area pribadinya sembari menenggelamkan tubuhnya lebih dalam ke dalam air.
Tianchen, sang Maharaja Agung yang biasanya, seketika membelalakkan mata. Jantungnya berdetak kencang seperti genderang perang, dan aliran darahnya mendadak bergejolak hebat.
"Uh—!"
Tianchen langsung membalikkan tubuhnya membelakangi kolam dengan kecepatan kilat, lalu menutup matanya rapat-rapat dengan telapak tangan kanannya. "M-Maaf! Guru tidak tahu kamu masih berendam! Guru tidak sengaja!" ucap Tianchen dengan suara yang sedikit terbata-bata, sesuatu yang belum pernah terjadi selama lima ratus tahun hidupnya.
Wajah Tianchen yang biasanya sedingin es kini memerah panas hingga ke ujung telinga. Seumur hidupnya yang dihabiskan untuk bertapa, berlatih pedang, dan menjaga sekte seorang diri, ia sama sekali belum pernah berhadapan langsung atau melihat tubuh seorang gadis dalam jarak sedekat itu. Pengalaman ini benar-benar menguji stabilitas mental Dantian-nya lebih keras daripada kesengsaraan petir kultivasi!
"Guru... Guru hanya ingin memberikan ini! Pelajari dengan baik setelah selesai!" dengan tergesa-gesa, tanpa berani menoleh sedikit pun, Tianchen melempar kitab kulit binatang itu ke belakang secara akurat hingga mendarat di atas batu kering di tepi kolam.
Wusss!
Dalam sekejap mata, Tianchen langsung mengaktifkan teknik gerakannya dan melesat pergi dari tempat itu secepat angin, menyisakan Ziyan yang masih termenung di dalam kolam dengan jantung yang berdebar tidak kalah kencang.
Setelah memastikan gurunya benar-benar pergi, Ziyan perlahan keluar dari kolam. Wajahnya masih terasa panas. Ia mengeringkan tubuhnya, lalu mengenakan jubah putihnya kembali. Ia berjalan mendekati batu dan mengambil kitab yang ditinggalkan gurunya.
"Jurus Gajah Tempur?" Ziyan membaca judulnya dengan dahi mengernyit. "Bukankah ini jurus untuk memperkuat fisik? Mengapa Guru memberikan ini padaku yang seorang wanita?"
Meskipun bingung, rasa hormat dan percayanya yang mutlak pada Tianchen membuatnya mengabaikan keraguan tersebut. Ziyan duduk bersila di tepi kolam, mulai membaca mantra-mantra misterius yang tertulis di dalamnya, dan perlahan memperagakan setiap gerakan tangan dengan serius seiring aliran Qi esnya yang mulai menyatu dengan kekuatan fisik barunya.
Sementara itu, di kamar pribadinya di puncak utama, Li Tianchen duduk bersila di atas ranjang batu gioknya. Ia menarik napas dalam-dalam beberapa kali, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan.
"Sial... ini benar-benar memalukan bagi seorang Ketua Sekte," gumam Tianchen sambil memijat pelipisnya, wajahnya masih menyisakan sedikit rona kemerahan. "Untung saja tidak ada orang lain di sekte ini, jika tidak, reputasiku sebagai Maharaja Agung akan hancur berantakan dalam sehari."
Untuk mengalihkan pikirannya yang kacau, Tianchen memutuskan untuk menyebarkan Indra Ilahinya ke seluruh area kaki Perbukitan Wuji, memantau apakah ada pergerakan mencurigakan dari sekte musuh.
Namun, baru saja indra ilahinya menyentuh area tangga batu kuno di kaki gunung, alis Tianchen mendadak bertaut.
"Seseorang sedang mendekat... tidak, dia... dia...," bisik Tianchen.
tuhh dengar apa kata guru mu ziyan ikut aja..
tenann yunnn... tuan Tian sangat tampan kokk JD nikmatin aja🤭
murid yg pintar langsung bisa tepat sasaran 🤣🤣🤣
ziyan ayo pasti bisa kamu ngelewatin ini 🤣
udah pada datang sendiri..
hanya tinggal bersatuu dan bangkit