NovelToon NovelToon
Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Cintaku Mentok Di Kapten Rex

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Showbiz / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: daehwi25

Cikar Bobrok Berjalan Juga, Kerasnya batu jika selalu diteteskan air akan Berlubang juga, Waiting Tresno Jalaran Soko
Kulino.

Itulah landasan Seorang Nadya Marlynda Sismoko Tetap menancapkan cintanya kepada si kapten tentara tampan nan gagah Rexsaka Pramuja anak dari sopir pribadi keluarganya, Meski Tidak Mendapatkan Balasan yang sama. Ditengah penolakan dan sikap profesionalnya Rexsaka yang menganggap Nadya hanya sebagai nona majikannya, berbagai sarkas yang di lontarkan Rexsaka seolah merendahkan Nadya, membuat Nadya menjauh namun tak kunjung membuat Nadya jenuh untuk menaklukkan dinginnya puncak Everest itu.

" Lo memang cegil sejati Nad, Lo tau betapa dinginnya rexsaka itu, kenapa Lo gak menyerah juga jadi bucinnya sih"

"Asal Lo tau Ris, Cegil Nama tengah gue dan bucin nama belakang gue, gue gak akan menyerah"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon daehwi25, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

​Perlahan, remang subuh menyusut berganti fajar yang merangkak naik. Rexsaka datang ke kediaman Sismoko, kini berbalut pakaian olahraga yang santai. Tepat saat rexsaka akan mengetuk pintu, Nadya keluar lengkap dengan pakaian olahraga, rambut sepunggungnya diikat kuda terlihat, sporty namun tak meninggalkan kesan feminimnya.

​"Kak Rex, ada apa pagi..."

​Kalimat Nadya terputus begitu saja. Rexsaka tak menggubrisnya, menerobos masuk tanpa permisi. Pikirannya bekerja kilat, memutar ulang rekaman CCTV dari kamar rahasia Arnold semalam, merekonstruksi angle kamera dan memperkirakan sudut pandang persis tempat wajah tidur Nadya terekam.

​Analisis instingtifnya tepat sasaran. Netra elang Rexsaka terkunci pada sebuah boneka beruang berukuran sedang di puncak rak koleksi Nadya. Menampakkan postur dominan setinggi 188 cm, Rexsaka melangkah tegas dan menjangkau boneka itu tanpa kesulitan sedikit pun.

​"Apa yang Kak Rex lakukan dengan bonekaku?" tanya Nadya dengan dahi berkerut heran.

​"Memusnahkannya," jawab Rexsaka singkat, datar, dan tak terbantahkan.

​Rexsaka tak beranjak inc pun dari tempatnya berdiri. Postur tegapnya mendominasi sudut kamar Nadya saat jemarinya membalik posisi boneka itu untuk menginspeksi jahitan di bagian belakangnya.

​"Ambilkan gunting," tuntutnya dingin tanpa mengalihkan pandangan.

​"Untuk apa gunting?!" seru Nadya panik, menatap boneka kesayangannya dengan waswas. "Jangan bilang Kakak benar-benar mau merusak boneka itu!"

​"Cepat berikan, Nadya," desis Rexsaka tegas.

​Lenyap sudah panggilan "Nona" dan batas-batas formalitas yang selama ini ia jaga rapat-rapat. Amarah implisit dari apa yang disaksikannya di layar monitor Arnold semalam benar-benar memprovokasi kesabarannya. Dan ia yakin seratus persen, sumber bahaya yang mengintai gadis ini bersarang di balik boneka yang kini berada di genggamannya.

​Nadya tersentak. Ini kali pertama Rexsaka menyebut namanya langsung, bukan dalam nada lembut yang pernah ia impikan, melainkan berupa intonasi tinggi penuh otoritas yang memerintah.

​"Nggak mau! Lebih baik Kakak keluar dari kamarku sekarang dan letakkan kembali boneka itu! Besok nggak usah kerja lagi, Kakak aku pecat!" cetus Nadya seraya mencekak pinggang, menatap lurus penuh tantangan.

​Belum juga sembuh luka di hatinya akibat sikap dingin Rexsaka kemarin, kini pria itu justru menorehkan luka baru yang kian mengikis sisa-sisa kepatuhannya. Nadya mantap mengambil keputusan, ia memilih melawan perasaan sukanya sendiri demi membendung sakit hati yang kian membakar dada.

​Namun, Rexsaka sama sekali tak peduli pada gertakan itu. Tanpa kata, ia melangkah melintasi Nadya begitu saja.

​"Hei! Kak Rex, kau tak dengar?! Aku pecat kau! Kembalikan bonekaku!" seru Nadya panik sekaligus geram, mengekor langkah pria itu.

Memilih acuh pada teriakan keras Nadya, Rexsaka melangkah pasti menelusuri koridor. Tangan kanannya mencengkeram leher boneka beruang pink itu tanpa belas kasihan, membawanya lurus ke arah dapur utama kediaman Sismoko.

​"Bi Siti, tolong ambilkan saya gunting atau pisau," ujar Rexsaka tajam begitu mendapati asisten rumah tangga itu di dekat meja peracikan.

​"Oh, iya Ka sebentar!" Bi Siti terperanjat pelan, lalu cekatan membongkar laci khusus perlengkapan masak premium milik majikannya. Tanpa bertanya-tanya, ia menyodorkan sebilah gunting dapur yang kokoh.

​Rexsaka menerima perkakas itu, lalu menghempaskan boneka beruang tadi ke atas meja marmer. Senyum bordir pada wajah boneka itu terasa amat ironis di tengah ketegangan yang membeku di ruangan tersebut.

Dengan gerakan cepat dan terukur, Rexsaka mengarahkan bilah gunting ke perbatasan benang di bagian mata boneka. Tepat saat ia hendak menusukkannya, jemari Nadya mendarat paksa di atas pergelangan tangannya.

​"Jangan lancang, Kak! Berani-beraninya kau merusak barangku!" seru Nadya hysteris, menahan lengan Rexsaka agar tidak menghujamkan gunting tersebut.

​Sentuhan dadakan itu tak menggoyahkan posisi Rexsaka satu milimeter pun. Otot-otot fisiknya menegang sempurna. Sambil mempertahankan ujung gunting tepat milimeter di atas mata kancing boneka, Rexsaka melirik Nadya dengan tatapan tajam berotoritas yang seketika membekukan keberanian gadis itu.

​"Diam dan jangan membantah," desis Rexsaka rendah.

​Telapak tangan besarnya lepas dari leher boneka, berpindah mencengkeram jemari mungil Nadya yang masih menahan lengannya, lalu menyingkirkannya tanpa ragu.

​Dengan gerakan cekatan dan presisi, Rexsaka menancapkan ujung gunting, membedah bagian mata kancing sang boneka. Begitu ia membalik sisinya, benda yang dicarinya tertangkap netra, sebuah kamera mini terselubung yang masih menyala redup, menempel sempurna di balik rongga mata boneka.

Iris mata Nadya melebar sempurna. Seluruh amarah dan keberaniannya lenyap berganti rasa gemetar yang melumpuhkan, mengetahui kenyataan mengerikan di balik barang kesayangannya itu.

"Non itu kamera" bik Siti yang masih tak kalah terkejutnya.

***

Nadya terperanjat mundur hingga punggungnya membentur pinggiran rak dapur. Jemari mungilnya membekap bibirnya sendiri, menahan pekikan horor sewaktu bayangan buruk berkejaran di kepalanya. Udara AC dapur yang dingin mendadak terasa kian menyiksa kulitnya, sementara genangan air mata mulai membendung di pelupuk matanya.

​"Kak... bagaimana bisa ada kamera di sana?" tanya Nadya terbata-bata, menatap benda berbahaya itu dengan pandangan bernapas liar.

​Rexsaka mengabaikan pertanyaan itu. Ia menggeledah reaksi wajah Nadya dengan tatapan tajam nan analitis, mengukur tingkat kepolosan gadis itu. Tanpa meredakan atmosfer tegang di antara mereka, Rexsaka memotong cepat.

​"Bagaimana kamu bisa mendapatkan boneka ini? Dan sejak kapan barang ini ada di dalam kamarmu?"

​Nadya menggeleng cepat, napasnya memburu tidak teratur. "A-aku... aku tidak ingat pasti sejak kapan. Tapi itu sudah lama sekali, sejak aku SMA... aku membelinya dari toko online."

​Seluruh tubuhnya seketika gemetar hebat. Kenyataan mengerikan bahwa selama ini ada mata asing yang mengintip seluruh bagian dari hidupnya merayapi tengkuknya bagai sengatan dingin. Otaknya berputar liar, mencoba memutar ulang setiap memori di dalam kamar, mengingat-ingat hal sensitif atau tak pantas apa saja yang pernah ia lakukan di hadapan boneka itu. Namun, kian keras ia berusaha menggali ingatan, pikirannya justru mendadak blank. Rasa takut yang membeku telah mengambil alih seluruh kesadarannya.

Rexsaka mengembuskan napas panjang. Ia sadar, tak seharusnya ia menginterogasi gadis yang kini sudah pias dan gemetar hebat itu di tengah kondisinya yang terguncang.

​"Bi, tolong panggilkan Pak Supri dan Mang Juki ke sini. Sekalian minta tolong ambilkan segelas air putih untuk Nona Nadya," pinta Rexsaka lembut dan sopan kepada Bi Siti yang berdiri tak jauh dari sana.

​Setelah Bi Siti mengangguk sigap dan berlalu, Rexsaka menuntun tangan halus Nadya dengan hati-hati. Ia membawanya keluar dari dapur menuju ruang tengah, lalu mendudukkan gadis yang masih syok itu di atas sofa dengan perlahan.

​"Berikan ponselmu," ujar Rexsaka mendadak.

​"Untuk apa, Kak?" tanya Nadya bingung. Meski begitu, jemarinya yang masih gemetar tetap merogoh saku jaket olahraganya dan menyerahkan ponsel itu. Ia sudah terlalu lelah dan pasrah, sepenuhnya menggantungkan harapan agar pria di hadapannya ini bisa menyelesaikan bahaya yang mengintainya.

​"Mengecek toko online tempatmu membeli boneka itu. Aku perlu tahu apakah kameranya memang berasal dari toko tersebut atau ada pihak lain yang sengaja memasangnya," sahut Rexsaka datar.

​Tentu ia tak menuturkan alasan sebenarnya, bahwa ia sedang memetakan benang merah antara toko tersebut dengan Arnold, serta mencari tahu bagaimana bisa pria psikopat itu menyelundupkan kamera kedalam boneka milik Nadya. Ada hal-hal rumit yang sengaja ia simpan sendiri agar tidak makin merusak mental gadis itu.

​"Ini, Nona, diminum dulu airnya," sela Bi Siti yang baru kembali, menyerahkan segelas air hangat pada Nadya. "Kalau begitu, Bibik panggil Pak Supri sama Mang Juki dulu ya, Non, Nak Saka."

​"Iya, terima kasih, Bi," jawab Rexsaka tanpa mengalihkan pandangan dari layar. Ibu jarinya terus menggeser layar, menelusuri riwayat pesanan yang telah bertahun-tahun terkubur. hingga akhirnya netra elangnya menemukan pesanan boneka beruang tersebut. Tanpa membuang waktu, ia langsung membagikan tautan toko itu ke ponsel pribadinya.

​Tak lama kemudian, Pak Supri dan Mang Juki datang dengan langkah tergesa. Keduanya mendengarkan instruksi Rexsaka dengan raut wajah tegang. Begitu Rexsaka membeberkan penemuan kamera mikro di dalam boneka, tukang kebun dan satpam kepercayaan keluarga Sismoko itu melotot terkejut. Tanpa menunda lagi, mereka langsung bergerak cepat menyisir seluruh sudut rumah untuk memeriksa apakah ada barang mencurigakan lain yang menyembunyikan alat intai serupa.

​Setelah ruangan itu kembali sepi dan hanya menyisakan mereka berdua, Rexsaka menatap Nadya yang sedang meneguk airnya pelan. "Di mana orang tuamu?"

​"Papa sama Mama sedang ke LA, Kak," sahut Nadya pelan, suaranya masih serak.

​Rexsaka terdiam sejenak. Tadinya ia berniat melaporkan ancaman serius ini secara langsung kepada Andy. Karena dia tidak disini rencananya dia akan mengabari pria paruh baya itu lewat telpon.

​Merasa urusannya di sana sudah cukup, Rexsaka menegakkan tubuhnya. Ia meletakkan kembali ponsel Nadya di atas meja, lalu berbalik hendak meninggalkan ruang tengah.

​Namun, baru saja ia mengambil satu langkah, sebuah jemari mungil menahan pinggiran pakaian olahraganya dari belakang.

​"Kak... mau ke mana?" bisik Nadya lirih, suaranya bergetar menahan tangis. Gadis itu mendongak dengan iris mata yang basah, menyiratkan ketakutan hebat yang belum juga surut dari dadanya. "Jangan tinggalkan aku sendiri... aku takut."

​Langkah Rexsaka terhenti seketika. Kain bajunya yang ditarik cengkeraman kecil itu terasa begitu berat, seolah menahan seluruh berat badan dan keputusasaan gadis di belakangnya. Pria itu menoleh pelan, menatap jemari mungil yang bergetar di bajunya sebelum beralih mengunci pandangan pada mata sembap Nadya.

​"Kenapa?" sahut Rexsaka rendah, dingin, namun sarat getaran yang tak terjelaskan. "Bukankah aku sudah kau pecat?"

Visual

REXSAKA PRAMUJA

NADYA MARLYNDA SISMOKO

1
falea sezi
uda g lanjut kah thor😕
falea sezi
ada rahasia apa
falea sezi
saka 😒 g tau diri lu ya 😒 coba ayah lu g di tolongin bisa metong dia 😒
falea sezi
bodoh bilang ke orang tua lo bego😒
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!